Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
Untuk Kebutuhan Masa Depan


__ADS_3

Melihat dua pemuda yang masih bertingkah seperti bocah tersebut membuat orang-orang dewasa menggeleng tak


berdaya. Alih-alih melerai Matt dan Joni, orang tua keduanya malah asyik mengobrol.


Namun, Matt dan Joni tidak terlalu memedulikannya. Merelka tetap melakukan hal yang sama seperti saat mereka


masih kecil. Setelah bermain tebak kata, mereka pun berbaur dengan anak-anak kecil dari Desa Hutagama.


Keduanya menjadi pemimpin kelompok dan mulai berkeliaran di sekitar desa.


Baru pada tengah malam ketika banyak orang dewasa kembali ke rumah, anak-analk itu merasa lelah dan


memutuskan untuk pulang juga. Saat Matt kembali ke temnpat kedua orang tuanya tadi, dia mendapati mereka


juga sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Sementara orang tua Joni juga sudah kembali ke rumah mereka


sejak tadi. Orang tua mereka sama sekali tidak peduli dengan Matt dan Joni.


Mereka pun pulang untuk beristirahat. Malam ini, mereka bisa merasakan nikmatnya menjadi anak-anak lagi.


Merelka sangat yakin bahwa mereka masih akan mengalami hal ini lagi di masa depan. Matt berbaring di tempat


tidur, lalu memasuki Taman Peri untuk berkultivasi dan begitulah cara mereka menghabiskan Hari Rasa Syukur


tersebut.


Keesokan harinya, Matt datang ke rumah Joni setelah sarapan. Dia ingin pergi ke puncalk gunung di mana


pohon-pohon buah ditanam nantinya dan melihat apakah dia bisa melakukan sesuatu di sana. Joni juga sudah


bangun pagi sekali dan tidak ada kerjaan di rumah.


"Omong-omong, kapan kamu akan menyewa puncak gunung?" tanya Matt saat mereka dalam perjalanan ke sana.


Setelah mengingat perkataan Yuda, Joni menjawab, '"Aku tidak yakin apa yang telah dilakukan Yuda. Dia


mengatakan bahwa dia sedang menyusun kontrak dua hari yang lalu. Kemudian, dia akan memintaku


menandatangani kontrak dua hari lagi setelah dia menyiapkan materinya. Namun, semuanya sudah beres. Kamu


tidak perlu khawatir dia akan mengingkarinya."


"Baik. Ambil kartu ini. Saldonya sekitar 1,2 miliar rupiah. Kata sandinya adalah hari ulang tahunku, itulah


anggaran investasiku. Jika tidak cukup, kamu bisa memintaku lagi. Selain itu, kurasa sebaiknya kamu memberi


tahu Paman dan Bibi tentang hal ini secepatnya agar mereka tidak mengkhawatirkanmu.


Matt mengeluarkan sebuah kartu bank dan menyerahkannya pada Joni.


"Kamu benar-benar yang terbaik, Bung! Jangankan 1,2 miliar rupiah, aku bahkan belum pernah memiliki uang


sebesar 68o juta rupiah! Jumlah uang ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan! Aku juga berencana untuk


memberi tahu orang tua kita tentang hal itu malam ini."


Kemudian, Joni mengambil kartu itu dan menciumnya. Dia sudah siap untuk memberi tahu orang tuanya tentang


masalah ini.


"Oke, aku harus kembali dan memberi tahu orang tualku. Kalau tidak, mereka mungkin akan terlalu terkejut,"


jawab Matt.


Ketika mereka berdua berjalan ke puncak gunung tempat pohon-pohon buah ditanam, Matt mendapati bahwa


tanah di sini sangat subur. Meskipun bukan seluruh bagian tanah yang subur, bagian tanah tersebut sudah


termasuk cukup baik


"Tanahnya lumayan. Bagaimana mungkin hasil panennya selalu tidak bagus? Apa ada yang salah dengan


manajemen mereka?" gumam Matt sambil berkeliling.


"Siapa yang tahu? Mungkin Yuda tidak tahu cara menanam dan merawat pohon buah-buahan."


Mendengar apa yang dikatakan Matt, mau tidak mau Joni memberitahunya tentang seseorang di desa yang pernah


berkata bahwa Yuda tidak akan bisa menanam pohon sebab dirinya selalu membawa kesialan.


"Apa kamu bodoh? Apa yang dibutuhkan untuk menanam pohon? Kenapa keberuntungan juga berperan saat


menanam pohon? Jangan dengarkan omong kosong mereka."Matt tidak bisa menahan tawa sebab itu terdengar terlalu konyol baginya.


"Aku tahu mengapa dia tidak bisa mnenanam pohon. Joni, ke sini dan lihat ini."


Matt menemukan sesuatu yang salah saat dia berjalan mengelilingi lahan.


Dia menemukan beberapa lubang serangga di beberapa pohon buah-buahan. Sepertinya ada serangga yang khusus


hidup di pohon buah-buahan tersebut. Serangga ini paling suka tinggal di pohon lengkeng, tetapi pada akhirnya


akan membunuh seluruh pohon. Oleh karena itu, banyak pekebun pohon yang membenci serangga ini.


"Oh, itu benar. Apa Yuda tidak pernah menyadari hal ini? Kenapa dia membiarkan serangga ini bertahan di sana?"


Joni juga merasa bingung. Kenapa Yuda tidalk membunuh serangga-ser angga ini saat menanam pohon?


"Apa karena serangga ini tidak bisa dibasmi? Kalau begitu, itulah keberuntungan kita."

__ADS_1


Pada akhirnya, Matt menemukan solusi.


"Apa malksudmu? Apa yang harus kita lakukan jika kita tidak bisa mengatasi masalah ini? Kalau begitu, semua


usaha kita akan sia-sia," ujar Joni dengan getir.


"Apakah kamu bodoh? Apakah kamu lupa obatku? Meskipun sedikit merepotkan untuk membuatnya, ayahku akan


senang jika kamu pergi menemuinya untuk meminta bantuan."


Matt mengerlingkan matanya pada Joni.


Ada semacam obat dalam keluarga Matt yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Obat itu bisa digunakan


terutama untuk membunuh serangga. Naktu terbaik untuk menggunakannya adalah ketika orang-orang berada di


ladang atau ketika mereka naik gunung di malam hari sebab banyak serangga, nyamuk, dan bahkan beberapa ular


yang muncul di malam hari. Jika orang-orang tidak berhati-hati, merelka pasti akan segera digigit.


Obat semacam itu dari keluarga Matt dibuat dengan menggunakan obat tradisional. Ketika dioleskan ke tubuh


seseorang, tidak akan ada ular atau serangga yang berani mendekati orang tersebut. Obat itu memang cukup


berguna.


"Ya, bagaimana aku bisa melupakan itu? Matt, kamu benar-benar luar biasa. Kamu mengagumkan!" seru Joni


sambil berusaha memeluk Matt.


"Enyahlah! Sebaiknya kamu menjauh dariku. Alku sudah tidak tahan denganmu!"


Setelah mengatakan itu, Matt segera melarikan diri. Joni tidak marah. Sebaliknya, dia justru mengejar Matt


sambil tersenyum. Mereka terus bermain sambil berlari mengejar satu sama lain.


Ketika Matt kembali ke rumah, dia sedikit gugup karena dia berencana untuk mengatakan yang sebenarnya kepada


orang tuanya.


"Ayah, Ibu, duduklah. Ada yang ingin alku katakan padamu."


Matt menyeret kedua orang tuanya dengan pelan ke ruang tengah dan meminta mereka duduk.


Kemudian, Lasmi segera duduk dan bertanya, "Kenapa kamu begitu misterius?


"Apa ada sesuatu yang tidak bisa kamu katakan dengan baik? Kamu bersikap seolah-olah sesuatu akan terjadi


padamu," tambah Lukas sembari duduk.


"Ada yang ingin aku katakan pada kalian."


"Apa itu? Katakan cepat."


Saat ini, Lasmi sedikit gugup. Ketika Matt bertingkah seperti ini, dia merasa agak bingung. Dia lkhawatir saat


melihat Matt terlihat agakragu.


"Jangan khawatir. Pelan-pelan saja. Jilka ada sesuatu yang tidak bisa kamu atasi, katakan saja pada kami."Lukas tampak tenang, tetapi orang bisa tahu bahwa dia juga gugup.


"Ayah, Ibu, mengapa kalian begitu gugup? Ini bukanlah kabar yang buruk. Jadi begini, aku mempunyai uang


sejumlah 1,2 miliar rupiah. Kalian harus mengambilnya."


Matt mengeluarkan kartu bank lain dan menyerahkannya pada Lasmi. Ibunya bertanggung jawab atas lkeuangan


keluarga mereka, karena ayahnya tidak mau memedulikannya.


"Apa? Berapa banyak uang yang kamu katakan? 1,2 miliar rupiah? Dari mana kamu mendapatkan uangnya?"


Lasmi tidak mengambil kartu bank dari Matt tersebut. Sebaliknya, dia menatap Matt dengan tidak percaya.


"Matt, apa yang alku ajarkan padamu ketika kamu masih kecil? Seberapa miskinnya pun keluarga lkita, kita tidak


boleh melakukan perbuatan yang melanggar moral!" Lukas berkata dengan suara bergetar.


"Bukan begitu. Ayah, Ibu, jangan menyela, ya. Kenapa kalian begitu gelisah bahkan sebelum aku selesai


menjelaskannya? Apa kalian tidak mengenalku?" jawab Matt. Sebelum orang tuanya berpikir, dia segera membuat


alasan, siapa tahu mereka akan menyela lagi.


"Belum lama ini, ketika aku sedang melakukan penelitian dengan beberapa profesor di Gunung Gading, aku secara


tidak sengaja menemukan sebuah ginseng gunung. Pada awalnya, para profesor tidak melihatnya dengan jelas,


mereka juga mengatakan bahwa itu tidak berharga, jadi aku mengambilnya untuk bermain-main saja. Namun,


ketika aku membawanya ke tolko obat tradisional, aku baru mengetahui bahwa itu adalah ginseng gunung. Dokter


pengobatan tradisional yang sudah tua tersebut sangat membutuhkannya. Aku pilir tidak ada gunanya


menyimpannya, jadi aku menjualnya. Aku tidak menyangka bahwa ginseng gunung itu sangat berharga sehingga


terjual sebesar seharga 2,4 miliar rupiah."


Penjelasan Matt tersebut sebetulnya mengandung setengah kebenaran dan akan membuat orang tuanya bahagia.


"Benarkah? Kurasa kata-katamu tidak masuk akal. Bagaimana hal semacam ini mungkin terjadi?"

__ADS_1


Lasmi masih bingung.


Matt menepuk dadanya dan berkata kepada Lasmi, "Itulah kenyataannya, Bu. Aku adalah anakmu. Siapa lagi yang


bisa kamu percaya jika kamu tidak percaya padaku?"


"Nak, kamu bilang kamu menjualnya seharga 2,4 miliar rupiah? Ada 1,2 miliar rupiah di kartu ini, kan? Lalu, di


mana 1,2 miliar rupiah sisanya?"


Lukas bersikap lebih rasional daripada Lasmi.


"Justru itu yang akan aku ceritakan selanjutnya. Aku juga tidak ingin kamu menyalahkanku karena mengambil


keputusan tanpa izinmu."


Matt kemudian memberi tabhu orang tuanya tentang kerja samanya dengan Joni.


"Jadi, kebun buah di puncak gunung itu juga milik kita?"


Lukas mengerti maksud Matt.


"Bisa juga dibilang begitu. Aku dan Joni akan membaginya hasilnya dengan sama rata."


Matt menatap Lukas dengan gugup, takut ayahnya akan menyalahkannya karena mengambil keputusan seperti


itu.


"Bagus, bagus. Jika keluarga kita kaya, aku pasti sudah menyewa gunung itu sebelum Yuda. Aku juga ingin


berkebun buah di sana."


Perkataan Lukas justru mengejutkan Matt. Dia juga merasa direstui karena itu berarti dia telah membuat


keputusan yang tepat.


"Ya, ayahmu merasa menyesal cukup lama ketika Yuda menyewa gunung itu," kata Lasımi.


"Kalau begitu, kalian tidak menyalahkanku, 'kan?" tanya Matt sambil tersenyum.


"Dasar angsa lkecil konyol!"Lasmi menusuk kepala Matt dengan penuh kasih.


"Kita tidak bisa membiarkan Joni menangani semuanya sendirian begitu saja. Aku harus membantunya. Mulai


sekarang, keluarga kita akan mengelola lkebun buah itu bersama."


Lukas menawarkan bantuan kepada Joni. Sebetulnya, Matt sama sekali tidak terkejut dengan hal ini. Ayahnya


pernah ingin mengambil keputusan yang sama sebelumnya. Sekarang, dia punya kesempatan untuk


melakukannya, dia tidak akan melepaskannya begitu saja.


"Baguslah, Ayah. Dengan bantuanmu, Joni akan merasa lebih mudah menanganinya. Namun, aku pikir kamnu


harus memberinya satu atau dua nasihat dan biarkan dia melakukan pekerjaan itu. Aku tidak ingin kamu bekerja


lebih keras lagi karena ini.!


Matt awalnya tidak ingin orang tuanya terlibat dengan hal ini dan membiarkan Joni saja yang melakukan


pelkerjaan berat itu.


"Jangan khawatir. Aku tahu apa yang aku lakukan."


Lukas tertawa dan segera berdiri untuk menuju rumah Joni.


"Bu, kamu harus memegang uangnya. Dengan uang ini, kita bisa melunasi semua utang kita. Tidak akan ada yang


akan bergosip tentang kita lagi."


Matt memberikan kartu itu pada Lasmi.


"Matt, kamu telah memberiku begitu banyak uang. Sebetulnya, kamulah yang membutuhkan lebih banyak uang


di luar sana. Bawalah sisa uangnya bersamamu setelah kita melunasi utang kita."


Lasmi berpikir bahwa apa yang dikatalkan Matt cukup masuk akal. Untuk membiayai perkuliahan Matt, keluarga


itu harus menumpuk utang selama bertahun-tahun. Meskipun utang ini berasal dari kerabat, mereka masih perlu


membayarnya kembali.


"Bu, aku tidak butuh banyak uang. Bahkan di kampus sekali pun, aku tidak butuh banyak uang. Ambil saja uang


ini. Aku ingin membuat kalian bekerja tidak terlalu keras. Aku hanya ingin kalian hidup dengan baik di rumah."


Sebetulnya, Matt masih memiliki puluhan juta rupiah lagi. Bagaimana bisa dia mengambil kembali uang yang dia


berikan pada ibunya?


"Baiklah. Aku akan menyimpan uang ini untukmu. Kamu akan membutuhkan uang untuk menikah dan memiliki


bayi di masa depan."


Tiba-tiba, air mata mengalir di wajah Lasmi saat dia mengucapkan kata-kata ini. Dia pun memutuskan untuk


berhenti membicarakan topik ini.


"Ayo, kita ke rumah Joni dan melihat keadaan mereka."

__ADS_1


Matt pun mengajak ibunya ke rumah Joni.


__ADS_2