
Di bawah pengawasan ketiga temannya, Matt menjual semua sayurannya hari itu. Saat sedang
dia sibuk melayani pembeli, ketiganya berdiri di samping dan menjaga kios.
Awalnya, ketika mereka melihat harga sayuran yang dijual Matt, mereka mau tidak mau
menganggap bahwa dia sudah tergila-gila pada uang. Namun, begitu kiosnya dibuka,
sekelompok besar wanita mulai berbaris dan membeli sayurannya. Barulah ketiga temannya
percaya dengan perkataan Matt.
'Ya, Tuhan! Mungkin kita harus bekerja sama dengan Matt dalam bisnis licik ini! Aku tidak
akan khawatir lagi dengan masa depanku." Will sangat kagum sampai-sampai dia hampir
menyembah Matt saat itu juga.
"Jangan konyol. Kualitas sayuran Matt sepadan dengan harganya yang mahal. Apa kamu lupa
makanan enak yang kamu makan semalam?" Beni menepuk kepala Will.
"Tidak usah repot-repot. Aku tidak mampu mempekerjakan pria tinggi dan perkasa sepertimu.
Kamu bisa bekerja di mana pun yang kamu suka. Jangan ganggu aku." Matt mengusir mereka
dengan acuh tak acuh.
"Matt, apakah kamu masih punya sisa sayurannya? Bisakah aku membelinya? Aku ingin
memberikannya kepada orang tuaku. Aku yakin mereka belum pernah merasakan makanan
lezat seperti itu dalam hidup mereka." Beni mengatakan itu karena dia sebenarnya ingin
mencicipi masakan Matt lagi. Itulah mengapa dia memberikan alasan masuk akal yang tidak
akan mengekspos keinginannya, seperti kata pepatah, sekali mendayuh, dua tiga pulau
terlampaui.
Sebetulnya, hidangan yang mereka makan semalam hanyalah masakan rumahan biasa.
Keterampilan memasak Matt juga biasa-biasa saja, tetapi masakannya sungguh luar biasa lezat.
Belum lagi, Matt mengakui bahwa dia menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi. Beni sudah
terlalu kenyang untuk menanyakan hal itu semalam, tetapi hari ini berbeda, dia rela berbohong
untuk merasakan kembali masakan Matt yang lain.
"Aku memang punya sisa sayurannya. Berapa banyak yang kamu butuhkan? Aku akan
mengemasnya untukmu kalau sudah sampai di rumah." Matt mengangguk setuju. Memberikan
sayuran sebanyak yang Beni inginkan bukanlalh masalah besar selbab Beni sudah menjaganya
selama dua tahun terakhir ini.
"Tunggu! Aku juga mau!" Setelah mendengar apa yang dikatakan Beni, Zack langsung angkat
bicara.
"Aku juga!" Will juga mengangkat tangannya.
"Oke, tidak masalah. Namun, harganya menjadi dua kali lipat.. Jika aku tahu lebih awal, aku
akan menyisakan lebih banyak sayuran," kata Matt sambil mengedipkan mata pada Beni.
Sontak Beni mengerti maksud Matt dan menyunggingkan seringai yang sama pada Zack dan
Will. Ketiganya langsung mengejar Matt yang sudah melarikan diri.
"Kalian tidak bisa menangkapku!" ucap Matt.
Zack menjadi tidak senang mendengar itu. Dia kemudian meraih tangan Will dan menyerang ke
depan.
Mereka bercanda di sepanjang perjalanan kembali ke rumah Matt. Sesampainya di sana, dia
meminta mereka menunggu di ruang tamu, sementara dirinyamengemasi sayuran di dapur.
Matt memberikan sekantong besar sayur-sayuran berupa dua kubis, dua wortel, dan empat
sampai lima tomat. Meskipun tampak kecil, tas plastik tersebut terisi penuh.
Kemudian, satu per satu dari mereka langsung permisi untuk pulang ke rumah masing-masing.
Julio dan Yudi belum pulang kerja, jadi Matt memasak makanan untuk dirinya sendiri.
Matt biasanya menjual sayuran di pagi hari. Lalu, dia terkadang tidak melakukan apa-apa
sepanjang hari. Oleh karena itu, dia ingin mencoba menjual sayuran pada pukul lima sore
sekaligus mengecek apakah cuaca di sore hari sepanas di pagi hari.
Dia sudah bersiap-siap untuk berjualan di sore hari. Akan tetapi, raut wajah pedagang lain tidak
senang saat dia tiba di pasar petani. Hal tersebut dikarenakan mereka baru bisa menjual barang
dagangan setelah kios milik Matt tutup. Dahulu, mereka merasa baik-baik saja dengan
kehadiran Matt, tetapi akhir-akhir ini, penjualan barang dagangan Matt semakin banyak,
sementara penjualan mereka semakin sedikit.
Mereka sebenarnya tidak senang melihat Matt berjualan di pagi hari, tetapi mereka tidak
menyangka bahwa Matt juga akan berjualan di sore hari. Para pedagang saling memandang dan
menyimpan sayuran mereka saat itu juga. Mereka tahu bahwa dagangan mereka tidak akan
__ADS_1
laku karena hadirnya Matt.
Dua hari yang lalu, para pedagang di dekat kios Matt telah berkumpul dan mengobrol setelah
dia pergi. Kios mereka saling berdekatan, jadi mereka mengobrol saat tidak ada pelanggan.
"Menurutmu, dari mana dia mendapatkan sayuran itu? Mengapa sayuran itu begitu populer di
kalangan pelanggan?" Salah satu pedagang dengan tidak puas bertanya sambil mengembuskan
asap rokok. Dia bersama yang lainnya selalu merasa cemburu setiap kali melihat bokong Matt
yang menggembung saat meninggalkan pasar.
Pedagang lain menjawab sambil mengertakkan gigi, "Jujur saja, aku meminta sepupuku untuk
membeli sayurannya karena ingin menyelidikinya. Sepupuku sama sekali tidak menemukan
sesuatu yang salah dengan sayuran itu. Kami tidak tahu dari mana dia mendapatkan sayuran
berkualitas tinggi.'
"Duh, siapa yang bernasib lebih buruk dariku? Keluargaku selalu mati-matian mencari uang
selama ini. Meskipun sudah berusia 60 tahun, aku masih harus menjual sayuran di sini untuk
membantu ekonomi keluarga. Sebelum anak itu datang ke sini, aku punya penghasilan setiap
hari, tetapi sekarang, aku lebih ke membuang-buang waktu semenjak dia menjual sayuran di
sini." Seorang pria tua menyuarakan ketidaksenangannya.
"Semua orang mengandalkan sedikit uang yang kita dapatkan di sini untuk menghidupi keluarga
kita. Ini semua salah anak ini sehingga kita kehilangan mata pencaharian. Jika terus hidup
seperti ini, bukankah kita akan gulung tikar dan kembali ke rumah? Aku punya ide! Berhubung
anak itu masih muda dan sepertinya tidak memiliki kekuatan apa pun, mengapa kita tidak ..."
Seorang pedagang membuat sebuah gerakan memotong leher.
"Kedengarannya itu adalah ide yang kurang bijaksana. Faktanya, sayurannya memang lebih
enak dari kita. Bukankah terlalu berlebihan membunuhnya hanya karena bisnisnya lebih baik
dari kita?" tanya pedagang yang lain.
Saat itulah pedagang yang mengemukakan ide itu berkata dengan suara rendah, "Apa yang
kalian pikirkan? Aku tidak akan pernah berani melakukan pembunuhan! Aku hanya menyarankan agar kita memukulinya, jadi dia tidak akan berani menjual sayuran di sini lagi.'
Seorang pedagang yang lebih tua tampak sedikit khawatir dengan ide itu. "Bagaimana bisa kita,
sekelompok pria tua, sakit, dan cacat, memukuli seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun?"
"Apa yang kalian takutkan? Apakah kalian berubah menjadi seorang pengecut setelah menua?
yang pucat. Dia pasti sakit parah. Kalau tidak, untuk apa dia menjual sayuran?" Pedagang yang
mengemukakan ide itu sangat marah saat memikirkan Matt. Oleh karena itu, dia menghasut
semua orang untuk memberi pelajaran pada Matt atau dia tidak akan bisa lepas dari omelan
ibunya di rumah.
Setelah Matt berjualan di sana, pedagang itu tidak memiliki banyak pelanggan lagi di pagi hari.
Dia bukanlah satu-satunya yang menjual sayuran di pasar petani, jadi penghasilannya pun tidak
tinggi.
Ibunya telah menyebutnya tidak berguna dan menceramahinya akhir-akhir ini setiap dia
pulang. Dia tidak punya tempat untuk melampiaskan amarahnya dan justru menyalahkan Matt.
Hal itu memicu kebencian yang mendalam pada Matt saat itu juga.
Seorang pedagang yang selama ini diam saja membuang puntung rokoknya ke tanah dan
berkata, "Oke! Aku tidak masalah melakukan itu!
"Aku akan bergabung!"
"Akujuga!"
Semua orang setuju untuk memberi pelajaran pada Matt dan menakutinya agar tidak berjualan
sayur di sana lagi.
Matt, tentu saja, tidak tahu apa-apa tentang itu. Dia hanya fokus untuk menghasilkan uang dan
tidak mempertimbangkan situasi di sekitarnya atau menyadari bahwa orang-orang merasa iri
dengan sayuran yang diproduksi oleh Taman Peri tersebut.
Para pedagang telah menunggu kesempatan mereka dan berencana untuk memberi Matt
pelajaran hari itu juga. Namun, mereka tidak menyangka bahwa akan ada tiga pemuda
seumuran Matt yang mengikutinya di pagi itu. Dengan begitu, mereka harus menunda rencana
mereka.
Untungnya, Matt datang lagi di sore hari, yang tentunya memberikan kesempatan bagi mereka.
Para pedagang berencana untuk bertindak setelah dagangan Matt terjual habis. Kemudian,
mereka akan memancing Matt ke tempat sepi.
Sesuai dugaan, semua sayuran Matt habis terjual dalam waktu setengah jam. Sayuran yang
__ADS_1
diproduksi oleh Taman Peri memang sangat lezat. Pelanggan yang tadi pagi tidak kebagian
langsung bersukacita saat melihat Matt menjual sayurannya di sore hari ini.
Beberapa wanita yang lebih tua dan ibu muda berbelanja dengan gembira. Matt juga bersiul
kegirangan karena dia bisa mendapatkan jutaan rupiah dalam waktu kurang dari tiga jam
selama sore hari ini. Kemudian, dia bertanya-tanya apakah dia bisa menghasilkan jutaan rupiah
lagi jika dia menjual sayuran sepanjang hari.
Setelah melihat saku belakang celana Matt yang menggembung, para pedagang di sekitar
menelan ludah secara bersamaan. Pemimpim pedagang menatap pedagang lain dengan penuh
arti yang langsung dipahami oleh mereka. Dia pun segera mendekati Matt.
Saat ini, Matt baru saja keluar dari kantor manajemen pasar petani. Dia melihat ponselnya,
menyenandungkan sebuah lagu, dan perlahan berjalan pulang dengan suasana hati yang
gembira.
"Anak muda, apakah kamu senggang sekarang? Aku membutuhkan bantuanmu." Pedagang itu
berpura-pura tidak mengenal Matt, menghampirinyadengan ekspresi malu-malu.
"Ada apa?" tanya Matt. Dia langsung bersedia membantunya sebab suasana hatinya sedang
baik, padahal lawan bicaranya sedang menatapnya dengan curiga.
"Jadi begini. Aku punya anak perempuan yang kedua matanya buta. Tadi pagi, aku memberli
sayuranmu. Nah, anakku memakannya dan langsung menyukainya. Berhubung dia tidak bisa
melihat, dia ingin mengundangmu ke rumahku. Dia ingin melihat genius seperti apa yang
mampu menanam sayuran yang begitu luar biasa." Pria tua itu menjelaskan dengan
sungguh-sungguh.
Bahkan, nada suara pria tua itu terdengar begitu tulus. Meskipun Matt merasa ada yang janggal,
dia tetap sungkan menolak permintaan seorang pelanggan.
'Pelanggan itu mengatakan bahwa putrinya buta. Mungkin dia sangat mengagumiku sehingga
dia berharap suatu hari nanti bisa menanam sayuran yang begitu lezat juga.' Matt merenung
sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Dia menatap pedagang itu dan berkata, "Oke. Silakan
Anda pimnpin jalannya.
Sebetulnya, pedagang itu hanya mengarang. Dia memang punya anak perempuan, tetapi tidak
buta. Mereka hanya terpikirkan dengan kebohongan seperti itu. Berhubung Matt terlalu
berpikiran sederhana dan baik hati, dia tidak menyadari ada sesuatu yang tidak beres, jadi dia
setuju saja.
"Terima kasih. Putriku pasti akan sangat bahagia. Namun, maafkan aku karena rumahku sedikit
jauh, tolong ikutlah denganku." Setelah itu, pedagang tersebut berjalan di depan dan memimpin
jalan untuk Matt.
Sesampainya di tempat terpencil, Matt yang mengikuti pedagang tua tersebut dari belakang
tanpa mnerasa curiga sama sekali, karena pedagang itu memang sudah mengatakan bahwa
rumahnya agak jauh. Keduanya bahkan sempat berbincang di sepanjang jalan.
Pedagang itu juga mencoba menyelidiki Matt di sepanjang perjalanan, menanyakan bagaimana
Matt menanam sayurannya dan apakah Matt memiliki perantara untuk menjual lebih banyak
sayuran. Matt tertegun sejenak, tetapi dengan cepat mentertawakan topik itu. Ketika pedagang
itu melihat Matt tampak sangat berhati-hati, dia tidak mengajukan pertanyaan seperti itu lagi.
Terdapat sebuah pabrik tua dan kumuh di depan mereka, tidak ada lagi yang tinggal di sana.
Sekelilingnya juga terlihat sangat sepi. Setelah memperhatikannya, Matt merasa ada yang
janggal dan bertanya-tanya apakah pria tua itu memang tinggal di sana.
'Apa dia berasal dari keluargan miskin? Matt bertanya dalam hati.
"Tuan, apa kita sudah dekat dengan rumah Anda?" Matt akhirnya bertanya sambil melihat
pedagang itu berjalan menuju pabrik.
"Ada di depan sana. Tolong jangan tersinggung dengan keadaan dan kondisi keluargaku yang
tidak sebaik kebanyakan orang!
Kemudian, pedagang itu tersenyum malu-malu dan berhenti di pintu gerbang pabrik.
Selanjutnya, empat pria tiba-tiba keluar dari sana.
"Ha! Anak muda, sayuranmu cukup populer di kalangan pelanggan, ya?" Pemimpid pedagang
tersebut terkekeh sambil menyeringai pada Matt.
"Ha! Penjualan saya biasa saja. Saya merasa tersanjung jika menurut Anda memang begitu,"
jawab Matt. Dia telah menyadari apa yang sedang terjadi pada saat itu. Para pedagang itu telah
memancingnya ke sana sebab bisnisnya berkembang pesat dibandingkan dengan bisnis mereka.
__ADS_1