Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
mananam tanaman herbal


__ADS_3

Saat melihat batang pohon bambu yang sangat besar, Matt memutuskan untuk


kembali ke dunia nyata dan membeli pisau dapur. Meskipun menggunakan pisau


dapur untuk memotong bambu bukanlah hal yang lazim, namun cara itu terbukti


sangat efisien. Hanya dalam waktu beberapa jam saja, sudaah banyak pohon bambu


yang berhasil dipotongnya.


Tumpukan bambu hijau itu terlihat bagus. Setelah memangkas ranting dan daun


pada batang bambu, Matt memindahkan bilah-bilah bambu ke tepi kolam, agar bisa


langsung membangun rumah bambu impiannya.


Namun, Matt melupakan satu hal, yaitu dia sama sekali tidak tahu cara membangun


rumah bambu.


"Haruskah aku mencari tutorialnya di internet?" Matt bergumam sendiri.


Maxim yang berada tidak jauh dari Matt mendengarnya, dan dengan malu-malu dia


berkata kepada Matt, "Bos, jika kamu tidak bisa membangunnya, aku bisa!"


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi? Tidak perlu sungkan, kamu saja yang


membuat pondoknya!"


Matt memukul pelan kepala Maxim, seulas senyum menghias wajahnya. Maxim


pun langsung kabur.


Meskipun Maxim adalah roh, dia sangat jenaka dan lincah seperti anak kecil pada


umumnya. Begitu mendengar jika Maxim bisa membangun rumah bambu, Matt


langsung menyadari bahwa keahlian itu adalah salah satu keistimewaan yang ada di


Taman Peri.


Jika bukan demikian, mana mungkin Maxim yang baru berusia beberapa tahun bisa


melakukan hal-hal seperti ini.


Sebetulnya, Maxim tidak perlu berjalan kaki di Taman Peri. Bagaimanapun juga,


keberadaan roh itu sendiri adalah perwujudan lain dari Taman Peri. Maxim hanya


berjalan kaki ketika bosan, karena dia bisa pergi ke mana pun yang diinginkannya,


dalam sekejab mata.


Matt memperhatikan Maxim yang sedang sibuk membangun rumah bambu tak


jauh darinya. Tiba-tiba saja, Matt berprasangka bahwa Maxim adalah putranya.


Akan tetapi Matt segera menepis pikiran itu dari benaknya. Matt tak sanggup

__ADS_1


membayangkan dirinya menjadi ayah dari seorang bocah yang sudah berusia


beberapa tahun.


Di bawah tangan cekatan Maxim, bilah-bilah bambu itu disulap menjadi pondok.


Saat merencanakan pembangunan rumah bambu itu, Matt membayangkan bahwa


dia akan membutuhkan lahan yang luas. Apalagi dia ingin membuat bangunan dua


lantai. Maxim bekerja dengan kilat, dan tak berapa lama kemudian, di atas lahan


yang tadinya kosong itu, telah berdiri sebuah rumah bambu.


"Oh, ternyata cukup mudah. Aku akan membangun satu pondok dengan tanganku


sendiri suatu hari nanti!"


Tanpa sadar Matt mengatakan hal itu ketika melihat rumah bambu di hadapannya.


Akan tetapi, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang aneh di sekitarnya, dan membawa


kesadarannya kembali ke tubuhnya.


Matt mendapati ponselnya bergetar sejak tadi. Dia melihat nomor yang tidak dikenal


di layar ponsel, lalu menjawab panggilan itu. "Halo, ini siapa?"


"Halo, apakah ini Matt? Saya ingin mengantarkan paket Anda dan saya sudah di


bawah sekarang. Silakan turun untuk mengambilnya."


turun untuk mengambil paket itu.


Setelah menerima paket, Matt langsung membukanya. Dia sudah tahu kalau itu


adalah benih tanaman herba, yaitu ginseng dan akar Fleeceflower.


Setelah membuka paket, Matt mendapati bahwa benih ginseng itu kecil-kecil,


sedangkan benih akar Fleeceflower berwarna coklat tua dan mengkilap, seperti


kacang pinus. Matt tercengang melihat benih tanaman herba tersebut untuk


pertama kalinya, sebab dia memang tidak tahu banyak tentang tanaman herba.


"Akhirnya aku bisa menanam tanaman herba."


Matt segera kembali ke dalam kamarnya untuk memasuki Taman Peri. Dia akan


menanam benih ginseng dan akar Fleeceflower di lahan yang sudah


dipersiapkannya dengan baik. Sebenarnya, dia tidak tahu bagaimana cara


menanamnya. Meski demikian, dia akan tetap mencobanya. Matt menanam benih


satu per satu di tanah. Jarak antara setiap benih hanya sekitar 12 sentimeter.


Begitu benih-benih itu tertanam, Matt merasakan bahwa energi spiritual di

__ADS_1


sekitarnya berkumpul dan diserap oleh benih-benih tersebut. Tak disangka-sangka,


benih tanaman herba itu mulai menggelembung dan bersinar. Saat menyaksikan


fenomena ini, Matt akhirnya memahami sesuatu.


"Sepertinya energi spiritual di dunia nyata tidak cukup banyak, sehingga tanaman


herba ini tidak mendapatkan energi spiritual yang cukup untuk bisa mulai bertunas.


Benih-benih ini belum sepenuhnya terisi energi spiritual, 'kan?" Matt menarik


kesimpulan.


Perkiraannya memang benar, bumi sudah sangat tercemar. Bahkan di alam liar


sekali pun, sulit bagitanaman herba untuk mendapatkan energi spiritual yang


cukup, karena itulah mereka tidak bisa dikembang-biakkan secara sintetis. Matt


bertanya-tanya, "Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh para ilmuwan untuk meneliti tanaman-tanaman herba tersebut? Selain itu, seberapa tinggi seharusnya


kandungan nutrisi tanah agar bisa ditanami benih tanaman herba?"


Sambil memikirkan hal itu, Matt terus menanam benih dan menyiramnya dengan


air dari kolam. Setelah selesai, dia menatap bakal tanaman ginseng dan akar


Fleeceflower tersebut seraya bergumam, "Baiklah, aku sudah menanam semuanya.


Tinggal menunggu mereka bertunas. Jika aku menanamnya dengan cara yang salah,


aku bisa membeli benih lagi dan menanam ulang."


Kemudian, dia menoleh ke sisi lain lahan yang digarapnya. Tomat yang tadi pagi


dipetik sudahberbunga lagi. Sepertinya mereka akan segera berbuah dan dia pun


bisa menjualnya. Meskipun kubis akan tumbuh kembali secara alami setiap kali


dipetik, dia harus terus menanam benihnya. Dia lebih menyukai wortel, karena dia


cukup menyisakan satu wortel saja, yang akan berbunga dan menghasilkan benih


yang tidak akan rusak selama disimpan dengan hati-hati. Jadi, dia tidak perlu


membeli benih baru lagi.


"Maxim, bolehkah aku memasuki Taman Peri menggunakan tubuh asliku? Selama


ini, aku hanya bisa masuk menggunakan kesadaranku saja. Akan berbahaya jika


aku meninggalkan tubuhku terlalu lama!" Matt langsung bertanya saat masalah ini


mendadak muncul di benaknya.


"Bos, tingkat kultivasimu masih terlalu rendah, jadi kamu tidak bisa memasuki


Taman Peri menggunakan tubuhmu. Namun, kamu bisa melakukannya setelah

__ADS_1


mencapai level lima Alam Dasar."


__ADS_2