
Saat melihat batang pohon bambu yang sangat besar, Matt memutuskan untuk
kembali ke dunia nyata dan membeli pisau dapur. Meskipun menggunakan pisau
dapur untuk memotong bambu bukanlah hal yang lazim, namun cara itu terbukti
sangat efisien. Hanya dalam waktu beberapa jam saja, sudaah banyak pohon bambu
yang berhasil dipotongnya.
Tumpukan bambu hijau itu terlihat bagus. Setelah memangkas ranting dan daun
pada batang bambu, Matt memindahkan bilah-bilah bambu ke tepi kolam, agar bisa
langsung membangun rumah bambu impiannya.
Namun, Matt melupakan satu hal, yaitu dia sama sekali tidak tahu cara membangun
rumah bambu.
"Haruskah aku mencari tutorialnya di internet?" Matt bergumam sendiri.
Maxim yang berada tidak jauh dari Matt mendengarnya, dan dengan malu-malu dia
berkata kepada Matt, "Bos, jika kamu tidak bisa membangunnya, aku bisa!"
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi? Tidak perlu sungkan, kamu saja yang
membuat pondoknya!"
Matt memukul pelan kepala Maxim, seulas senyum menghias wajahnya. Maxim
pun langsung kabur.
Meskipun Maxim adalah roh, dia sangat jenaka dan lincah seperti anak kecil pada
umumnya. Begitu mendengar jika Maxim bisa membangun rumah bambu, Matt
langsung menyadari bahwa keahlian itu adalah salah satu keistimewaan yang ada di
Taman Peri.
Jika bukan demikian, mana mungkin Maxim yang baru berusia beberapa tahun bisa
melakukan hal-hal seperti ini.
Sebetulnya, Maxim tidak perlu berjalan kaki di Taman Peri. Bagaimanapun juga,
keberadaan roh itu sendiri adalah perwujudan lain dari Taman Peri. Maxim hanya
berjalan kaki ketika bosan, karena dia bisa pergi ke mana pun yang diinginkannya,
dalam sekejab mata.
Matt memperhatikan Maxim yang sedang sibuk membangun rumah bambu tak
jauh darinya. Tiba-tiba saja, Matt berprasangka bahwa Maxim adalah putranya.
Akan tetapi Matt segera menepis pikiran itu dari benaknya. Matt tak sanggup
__ADS_1
membayangkan dirinya menjadi ayah dari seorang bocah yang sudah berusia
beberapa tahun.
Di bawah tangan cekatan Maxim, bilah-bilah bambu itu disulap menjadi pondok.
Saat merencanakan pembangunan rumah bambu itu, Matt membayangkan bahwa
dia akan membutuhkan lahan yang luas. Apalagi dia ingin membuat bangunan dua
lantai. Maxim bekerja dengan kilat, dan tak berapa lama kemudian, di atas lahan
yang tadinya kosong itu, telah berdiri sebuah rumah bambu.
"Oh, ternyata cukup mudah. Aku akan membangun satu pondok dengan tanganku
sendiri suatu hari nanti!"
Tanpa sadar Matt mengatakan hal itu ketika melihat rumah bambu di hadapannya.
Akan tetapi, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang aneh di sekitarnya, dan membawa
kesadarannya kembali ke tubuhnya.
Matt mendapati ponselnya bergetar sejak tadi. Dia melihat nomor yang tidak dikenal
di layar ponsel, lalu menjawab panggilan itu. "Halo, ini siapa?"
"Halo, apakah ini Matt? Saya ingin mengantarkan paket Anda dan saya sudah di
bawah sekarang. Silakan turun untuk mengambilnya."
turun untuk mengambil paket itu.
Setelah menerima paket, Matt langsung membukanya. Dia sudah tahu kalau itu
adalah benih tanaman herba, yaitu ginseng dan akar Fleeceflower.
Setelah membuka paket, Matt mendapati bahwa benih ginseng itu kecil-kecil,
sedangkan benih akar Fleeceflower berwarna coklat tua dan mengkilap, seperti
kacang pinus. Matt tercengang melihat benih tanaman herba tersebut untuk
pertama kalinya, sebab dia memang tidak tahu banyak tentang tanaman herba.
"Akhirnya aku bisa menanam tanaman herba."
Matt segera kembali ke dalam kamarnya untuk memasuki Taman Peri. Dia akan
menanam benih ginseng dan akar Fleeceflower di lahan yang sudah
dipersiapkannya dengan baik. Sebenarnya, dia tidak tahu bagaimana cara
menanamnya. Meski demikian, dia akan tetap mencobanya. Matt menanam benih
satu per satu di tanah. Jarak antara setiap benih hanya sekitar 12 sentimeter.
Begitu benih-benih itu tertanam, Matt merasakan bahwa energi spiritual di
__ADS_1
sekitarnya berkumpul dan diserap oleh benih-benih tersebut. Tak disangka-sangka,
benih tanaman herba itu mulai menggelembung dan bersinar. Saat menyaksikan
fenomena ini, Matt akhirnya memahami sesuatu.
"Sepertinya energi spiritual di dunia nyata tidak cukup banyak, sehingga tanaman
herba ini tidak mendapatkan energi spiritual yang cukup untuk bisa mulai bertunas.
Benih-benih ini belum sepenuhnya terisi energi spiritual, 'kan?" Matt menarik
kesimpulan.
Perkiraannya memang benar, bumi sudah sangat tercemar. Bahkan di alam liar
sekali pun, sulit bagitanaman herba untuk mendapatkan energi spiritual yang
cukup, karena itulah mereka tidak bisa dikembang-biakkan secara sintetis. Matt
bertanya-tanya, "Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh para ilmuwan untuk meneliti tanaman-tanaman herba tersebut? Selain itu, seberapa tinggi seharusnya
kandungan nutrisi tanah agar bisa ditanami benih tanaman herba?"
Sambil memikirkan hal itu, Matt terus menanam benih dan menyiramnya dengan
air dari kolam. Setelah selesai, dia menatap bakal tanaman ginseng dan akar
Fleeceflower tersebut seraya bergumam, "Baiklah, aku sudah menanam semuanya.
Tinggal menunggu mereka bertunas. Jika aku menanamnya dengan cara yang salah,
aku bisa membeli benih lagi dan menanam ulang."
Kemudian, dia menoleh ke sisi lain lahan yang digarapnya. Tomat yang tadi pagi
dipetik sudahberbunga lagi. Sepertinya mereka akan segera berbuah dan dia pun
bisa menjualnya. Meskipun kubis akan tumbuh kembali secara alami setiap kali
dipetik, dia harus terus menanam benihnya. Dia lebih menyukai wortel, karena dia
cukup menyisakan satu wortel saja, yang akan berbunga dan menghasilkan benih
yang tidak akan rusak selama disimpan dengan hati-hati. Jadi, dia tidak perlu
membeli benih baru lagi.
"Maxim, bolehkah aku memasuki Taman Peri menggunakan tubuh asliku? Selama
ini, aku hanya bisa masuk menggunakan kesadaranku saja. Akan berbahaya jika
aku meninggalkan tubuhku terlalu lama!" Matt langsung bertanya saat masalah ini
mendadak muncul di benaknya.
"Bos, tingkat kultivasimu masih terlalu rendah, jadi kamu tidak bisa memasuki
Taman Peri menggunakan tubuhmu. Namun, kamu bisa melakukannya setelah
__ADS_1
mencapai level lima Alam Dasar."