
Matt masih terbaring di rumah sakit sehingga dia harus menahan rasa antusiasnya.
Matt juga harus menunggu sampai dia keluar untuk membeli semua jenis benih lalu
mencobanya.
"Berada di rumah sakit benar-benar merepotkan. Aku harus membicarakannya
dengan Tina besok. Keadaanku sudah lebih jauh lebih baik. Seharusnya aku bisa
segera keluar dari sini." Dia berbaring di ranjang dengan menyilangkan kedua
tangannya di belakang kepala. Matt tampak sangat bosan. Sebuah ide kemudian
melintas di benaknya. Maxim memberiku teknik kultivasi hari ini. Aku belum
sempat memeriksanya. Aku benar-benar merasa bosan sekarang. Lebih baik aku
periksa sekarang saja,' pikir Mat.
Jika teknik kultivasi bisa berbicara, mungkin ia pasti akan berkata, "Astaga!
Akhirnya kau mengingatku? Bagaimana mungkin aku tidak menarik bagimu saat
semua orang menginginkanku?"
Ketika Matt kembali ke Taman Peri, Maxim sedang bermain air di sebuah kolam
kecil. 'Ah, hidup seperti ini benar-benar nyaman, ' renungnya.
"Bos, Anda kembali! Ada masalah apa kali ini?"
Ketika Maxim melihat Matt kembali lagi, dia tidak bisa menahan rasa gembiranya.
Sangat membosankan baginya untuk tinggal di Taman Peri sendirian.
"Ehem, Maxim, aku ke sini untuk bertanya tentang teknik kultivasi. Aku belum tahu
cara berkultivasi."
Sulit bagi Matt untuk bertanya pada anak kecil, tetapi dia tidak punya pilihan. Dia
benar-benar tidak mengerti.
Maxim memasang tampang lucu dan terkesan menggoda, "Teknik itu ada dalam
pikiran Anda. Selama Anda memikirkannya, Anda bisa mendapatkan informasi
tentang teknik itu. Mengenai cara berkultivasi, semua catatannya ada pada segel."
Matt duduk di pinggir kolam dan menenangkan diri sesuai dengan apa yang Maxim
katakan. Sesuai harapannya, beberapa saat kemudian Matt seolah dapat melihat
__ADS_1
segel itu bercahaya di pikirannya.
Saat itu, Matt tampak seolah-olah sedang membaca sebuah dokumen. Nama teknik
kutivasi itu adalah Mantra Perkebunan Spiritual. Sama seperti teknik yang sering
digambarkan dalam novel-novel. Mantra Perkebunan Spiritual dibagi menjadi tiga
alam besar, yaitu dasar, pemula, dan ahli. Setiap alam memiliki sembilan level.
Teknik kultivasi yang dijelaskan dalam Mantra Perkebunan Spiritual dapat
memperpanjang umur seseorang, memiliki kemampuan yang tidak dapat dimiliki
orang biasa, dan yang paling penting adalah memperluas lahan Taman Peri.
Setelah melihatnya, Matt mulai berkultivasi sesuai dengan metode dalam Mantra
Perkebunan Spiritual. Ada energi spiritual yang tak ada habisnya di Taman Peri
sehingga dia tidak perlu nerasa khawatir kalau dia tidak bisa merasakan energi
spiritual apa pun.
Matt hanya duduk seperti itu untuk berkultivasi sampai fajar. Setiap kali dia
merasakan seseorang datang ke bangsal, dia akan keluar dari Taman Peri.
Ketika Matt membuka matanya, dia melihat Tina benar-benar ada di sana. Dia telah
memutuskan untuk membujuk Tina agar mengizinkannya keluar dari rumah sakit
hari ini! Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
"Matt, kamu sudah bangun? Aku sudah membelikanmu sarapan bergizi. Kamu bisa
memakannya setelah mandi," ucap Tina pada Matt saat melihatnya membuka mata.
"Ehm, aku tidak terburu-buru untuk sarapan. Tina, ada yang ingin aku diskusikan
denganmu." Matt berpura-pura tenang. "Kurasa kamu sudah mengeluarkan biaya
yang banyak untuk perawatanku, 'kan? Nah, karena kamu tidak punya uang untuk
membayar biaya pengobatanku lagi, aku bisa meninggalkan rumah sakit hari ini.
Lagi pula aku baik-baik saja sekarang... " ocehnya terus menerus.
Belum sempat Tina bereaksi, ia telah diseret ke meja administrasi oleh Matt.
"Ehm, aku ingin keluar," Matt memberitahu perawat itu, lalu meninggalkan Tina
sendirian untuk melakukan pembayaran di bagian administrasi. Tina awalnya
__ADS_1
mengira Matt sakit parah, tetapi ketika dia melihat bahwa betapa bersemangat dan
kuat Matt, Tina tidak bisa menolaknya.
Tidak banyak yang perlu Matt kemasi. Dia hanya mengganti pakaiannya di bangsal.
Setelah Tina selesai menangani semuanya, mereka pun meninggalkan rumah sakit.
Dalam perjalanan, Tina menerima telepon. Melihat Tina sedang terburu-buru, Matt
langsung merasa senang dan menyuruh Tina untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tina kemudian memberikan nomornya pada Matt dan menyuruh Matt untuk
menghubunginya besok.
Begitu Tina pergi, Matt langsung bersorak germbira, "Akhirnya aku mendapatkan
kembali kedamaianku! Aku akan menanam sayur-sayuran sekarang!"
Matt segera mencari penjual bibit sayuran. Sekarang, dia sudah tidak sabar untuk
kembali ke Taman Peri dan mulai menanam.
Setelah mencari beberapa saat, akhirnya dia menemukan beberapa bibit sayuran di
sebuah toko kelontong di daerah perumahan.
Penjualnya adalah seorang wanita berusia sekitar 50 atau 6o tahun. Matt menunjuk
kedua jenis bibit itu dan berkata, "Nyonya, saya ingin sekantong benih wortel dan kubis."
Setelah membayar, Matt memesan taksi untuk kembali ke universitas. Saat ini,
kebetulan tidak ada seorang pun di asrama. Dia kemudian berbaring di tempat tidur
dan memasuki Taman Peri dengan membawa beberapa benih sayuran.
"Maxim, kemari! Ayo, kita mulai menanam," kata Matt pada Maxim sambil
menggerakkan tubuh Maxim untuk menyadarkannya. Matt ingin membuat
beberapa lubang di lahannya sendiri. Dalam waktu singkat, Matt sudah berhasil
mewujudkannya.
Hal ini adalah salah satu kemampuan master Taman Peri yang dia ketahui.
Matt mengangguk puas. Pertama, dia ingin menanam wortel. Dia pun menaruh
beberapa benih wortel di setiap lubang, lalu menguburnya. Begitu dia selesai
menanam wortel, tiba-tiba sesuatu berubah di Taman Peri.
__ADS_1