
Matt tidak terlalu marah pada Tina tentang masalah ini. Sebaliknya, Tina sangatlah
cantik sehingga Matt sama sekali tidak berniat untuk memarahinya.
Ketika Tina keluar untuk membeli makan malam untuk Matt, Matt berpura-pura
tertidur, yang sebenarnya hanya tipu muslihatnya saja.
Setelah situasi di sekitarnya tenang, Matt mencoba memasuki Taman Peri lagi. Dia
juga tidak tahu apa yang mendorongnya untuk melakukan itu. Matt hanya ingin
mencoba dan tidak akan berhenti sampai dia berhasil memasuki Taman Peri
tersebut.
Kali ini, dia akhirnya berhasil memasuki Taman Peri, tetapi semuanya tampak
berbeda sekarang. Semua pemandangan indah tadi telah menghilang.
Sekarang, hanya ada hanyalah sebidang tanah luas yang berwarna hitam. Danau
jernih di tengah daratan masih ada, tetapi tanah kosong itu membuat Matt merasa
tidak nyaman.
"Master!" Suara anak kecil tiba-tiba terdengar. Matt segera menoleh dan melihat
seorang anak laki-laki berusia sekitar lima atau enam tahun, hanya mengenakan
pakaian dalam, muncul di hadapannya.
Matt menatap anak kecil di depannya dan bertanya, "Wow... apa yang terjadi
padamu, Jin? Apakah ini perubahan Taman Peri yang kamu sebutkan?"
Namun, anak itu masih terlalu kecil dan hanya menatap Matt dengan mata
berkaca-kaca. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Matt.
"Master, siapa itu Jin? Kamu belum memberiku nama." Ketika anak laki-laki itu
mempermasalahkan namanya, Matt seketika merasa sangat sedih, dia merasa
seolah-olah anak kecil itu adalah anak Matt.
Meskipun Matt tidak tahu apa yang terjadi setelah Taman Peri menekan
kesadarannya, dia juga tidak terlalu peduli.
__ADS_1
Matt memegang dagunya, berpikir sejenak, dan bertanya, "Hmm, sebuah nama?
Biar kupikirkan .... Bagaimana kalau kamu kuberi nama Maxim Luham? Bagaimana
menurutmu?"
"Aku menyukai nama apa pun yang kamu berikan, Master!"
Maxim terlihat lebih menggemaskan, yang membuat Matt mau tidak mau mencubit
pipi gemuk anak kecil itu.
Matt terus berjalan mengelilingi Taman Peri. Sebidang tanah ini sangat luas dan tak
terbatas. Namun, dia menemukan sebuah masalah, yaitu satu-satunya lahan yang
bisa dia gunakan hanya sekitar 1.300 hingga 2.000 meter persegi.
Selama dia melampaui jangkauan ini, dia tidak akan bisa keluar. Oleh karena itu,
Matt bahkan harus mengitari pinggiran tempat mereka berada. Dia tidak berhenti
sampai dia menyadari bahwa itu benar-benar nyata.
Tiba-tiba, Maxim mendatangi Matt dan menjelaskan, "Master, saat ini kamu hanya
bisa menggunakan tanah di dalam area ini. Kita dapat mengembangkannya setelah
dewasa sesuai peningkatanmu.
Dasarnya adalah kultivasimu harus meningkat. selain itu, tanah yang kamu miliki sekarang bisa digunakan untuk menanam apa
pun asalkan sebuah tanaman. Tentu saja, kamu juga bisa memelihara hewan di
Sini.
"Oh, baiklah. Omong-omong, Maxim, jangan panggil aku Master mulai sekarang.
Panggil saja aku Bos." Matt mengangguk. Dia merasa risih tiap kali Maxim
memanggilnya Master, jadi dia meminta Maxim untuk mengubah penuturannya.
"Ya, Bos!" Maxim cemberut. Meskipun dia masih kecil, Maxim berbicara seolah-olah
sudah dewasa.
Matt membelai kepala Maxim. Matt belum memikirkan apa yang bisa dia lakukan
dengan tanah ini sekarang. Setelah mendengar apa yang dikatakan Maxim, sebuah
__ADS_1
ide yang belum matang perlahan-lahan muncul di benaknya.
"Eh? Maxim, apa kamu baru saja mengatakan sesuatu tentang levelku? Apa
maksudmu dengan kultivasi?" Matt tiba-tiba teringat kata-kata Maxim barusan.
Tingkat kultivasinya dapat memengaruhi luas tanah Taman Peri dan pertumbuhan
Maxim. Matt tidak bisa menahan rasa penasarannya. "Mungkinkah itu novel baru
lagi?' gumamnya terheran-heran. Bagaimanapun juga, Matt tidak akan terkejut
dengan hal-hal unik lainnya yang akan terjadi, pandangannya terhadap dunia sudah
berubah secara drastis semenjak mengetahui tentang Taman Peri.
Maxim memukul dahinya sendiri dan berkata dengan menyesal, "Bos, kamu baru
saja mengingatkanku. Aku hampir lupa! Benar saja, umur yang terlalu muda
memengaruhi kinerja kerjaku. Ini adalah te knik kultivasi yang dibuat dengan
bantuan Taman Peri untuk mendukung kultivasi. Kultivasi itu diciptakan oleh
master pertama yang membangun Taman Peri. Hanya seseorang dengan kultivasi
yang kuat yang bisa membuka lebih banyak lahan."
Saat sinar cahaya melintas, sebuah gulungan giok muncul di tangan Maxim.
Begitu Maxim mengulurkan tangannya, gulungan giok itu terbang ke arah Matt
dengan suara mendesing dan langsung memasuki kepala Mat.
Matt yang belum sempat bereaksi tiba-tiba berdiri tegak. Saat itu, tubuhnya yang
terbentuk oleh kesadarannya sedang menerima isi dari teknik kultivasi.
Dengan begitu, teknik itu akan benar-benar membekas dalam pikiran Matt dan dia
tidak akan bisa melupakannya seberapa keras pun dia mencoba. Mattperlahan-lahan akan merasa nyaman ketika dia mengkultivasikannya di ma
depan.
seperti sebuah segel, teknik itu segera disegel langsung ke otak Mat.
sampai satu menit, Matt sudah menyelesaikan prosesnya.
"Maxim, kamu harus mengabariku tentang hal semacam ini kedepannya!"
__ADS_1
kepada Maxim setelah menerima teknik itu dan bangkit kembali.
"Oh ... aku mengerti!" jawab Maxim.