Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
terus menanam


__ADS_3

Melihat Matt yang linglung seperti ini, Tina merentangkan tangannya dan


mendekati Matt untuk menepuk punggungnya.


"Aku tidak bisa menahan diri setiap kali aku berkenderaan dengan seseorang.


Maaf!" Tina menatap Matt untuk meminta maaf.


"Tidak apa-apa. Ayo, kita makan. Omong-omong, kita mau ke mana?" Mendengar


permintaan maafTina, Matt dengan cepat mengubah topik Lagi pula, dia sudah


kelaparan, jadi dia bisa menggunakan ini sebagai alasan.


"Hehe, ada di depan. Ikuti aku."


Tina menunjuk sebuah toko kecil di depan mereka dan berjalan di depan Matt.


"Sepertinya kamu tidak berasal dari keluarga miskin. Kenapa kamu memilih tempat


makan seperti ini? Kalau aku yang melakukannya, itu masih bisa dimaklumi. Jika


kamu yang memilihnya, itu aneh sekali," komentar Matt ketika melihat toko kecil di


depan mereka.


"Makanan di restoran besar sama sekali tidak enak. Aku lebih suka makanan di


sini."


Tina berbalik dan tersenyum.


Matt tidak mengatakan apa pun lagi dan hanya mengikutinya. Ketika mereka tiba di


restoran kecil, Tina memesan beberapa hidangan khusus dengan andal dan sempat


mengobrol dengan pemilik restoran. Sepertinya dia sering mengunjungi tempat ini.


Tak perlu menunggu lama, hidangan segera disajikan. Matt merasa hidangan itu


lumayan juga. Tina hanya ingin mengajak Matt makan malam, jadi mereka tidak


melakukan apa pun setelah makan. Tina bahkan langsung mengantar Matt kembali


ke asrama.


Sudah pukul tujuh lewat saat Matt kembali ke asrama. Dia masih belum menerima


telepon dari kurir. 'Sial! Aku terlalu memuji layanan pengiriman cepat itu. Ini sudah


sangat larut dan langit telah berubah gelap, kenapa paketku masih belum datang?


Sepertinya, aku baru bisa menanam besok,' renungnya.


"Matt, dari mana saja kamu? Kupikir kamu tidak akan kembali malam ini," kata

__ADS_1


Beni.


"Aku juga berpikir begitu. Kenapa kamu kembali?" Zack menimpali.


Matt memandang Will tanpa berkata-kata. Tadi siang Beni dan Zack tidak berada di


asrama dan Matt baru saja kembali. Itulah mengapa mereka segera menanyakan hal


ini kepadanya. Sudah pasti Will telah membocorkan rahasianya.


Kenapa kamu melihatku seperti itu? Mereka kebetulan melihatmu keluar. Kenapa


kamu langsung mencurigaiku tanpa bertanya terlebih dahulu pada mereka?" Suara


Will penuh dengan kesedihan dan kemarahan.


"Begitukah? Kenapa aku merasa kamu malah mengikutiku?"


Matt menatap tajam ke arah Will. Tebakannya sudah pasti benar karena ini bukan


pertama kalinya hal seperti itu terjadi. Will juga melakukannya ketika Beni dan Zack


pergi.


"Matt, kamu benar-benar sangat mengenal Will. Dia memang mengikutimu!" Zack


memecah keheningan yang canggung.


"Ya, ya, ya. Kamu sangat mengenalnya!" Beni menyela.


"B-Beraninya kalian memfitnahku di depan Matt? Matt, ayo, kita hajar mereka!"


"Mau ke mana kamu? Masalah kita belum selesai." Matt langsung menerkam Will


yang ingin melarikan diri.


Keesokan harinya, Matt menerima telepon dari kurir pagi-pagi sekali. Dia kemudian


turun untuk menerima paket itu. Selain beberapa benih sayuran, ada juga beberapa


bibit pohon yang butuh waktu satu tahun untuk tumbub. Dia membawanya dengan


diam-diam ke kamar mandi. Di pagi hari, belum ada seorang pun yang ingin mandi,


jadi dia berhasil menyimpan semua benih dan bibit di Taman Peri.


Saat kembali ke asrama, Matt berbaring lagi. Ketiga temannya belum bangun juga,


jadi dia bisa memasuki Taman Peri dengan nyaman.


Dia telah berencana untuk menanam sayur-sayuran di sebidang lahan terlebih


dahulu, seperti lahan pertanian di rumahnya sendiri. Kemudian, dia berencana


menggunakan sebidang lahan lainnya untuk menanam buah-buahan.

__ADS_1


Dia sudah membeli berbagai bibit sayur-sayuran, seperti kubis, wortel, tonat, dan


selada. Sementara untuk buah-buahan, dia membeli bibit yang umum, seperti buah


persik, pir, dan apel. Dia hanya membeli tiga bibit untuk setiap jenis buah. Ada juga


bibit semangka dan blewah. Berhubung Matt juga ingin membangun sebuah rumah


di Taman Peri, Matt tidak lupa membeli bibit pohon bambu dan menanamnya di tepi


kolam. Sete lah tumbuh nanti, dia langsung bisa menggunakannya untuk


membangun rumah bambu.


Luas lahan kubis dan wortel telah diperluas. Setelah menanam kubis dan wortel, dia


membuka sepetak lahan lain dan menanam buah-buahan.


Meskipun tanahnya hanya 1.300 hingga 2.000 meter persegi, masih muat untuk


menanam semua sayuran dan buah-buahan.


Setelah selesai menanamnya, Matt terduduk di tanah. Maxim tidak muncul hari ini


sebab Matt bisa menanamnya sendiri. Dia tidak ingin mengganggu Maxim.


Tak lama kemudian, energi spiritual di sekitarnya memasuki semua benih yang


ditanam.


Sekarang, yang perlu Matt lakukan hanyalah menunggu "pembuat uang" ini masak.


Matt melihat tanaman yang dia tanam dengan bangga. Untungnya, dia tahu


bagaimana mengelola lahan ini. Jika dia menanamnya secara acak, tanamannya


pasti akan berantakan dan tidak enak dipandang. Tempat ini seperti taman belakang


pribadinya, jadi dia perlu membuat rencana yang bagus untuk menjaganya.


Apalagi, benih tanaman herba belum tiba. Matt hanya mengecek status pengiriman


sayur-sayuran dan buah-buahan, tetapi tidak mengecek pengiriman benih tanaman


herba karena buah-buahan dan sayur-sayuran lebih penting saat ini.


Setelah memastikan bahwa tidak ada masalah, Matt keluar dari Taman Peri dan


berpura-pura baru saja bangun. Dia merasa tidak terlalu nyaman untuk tinggal di


asrama sekarang. Meskipun dia tidak keberatan untuk berbagi hal dengan


teman-temannya, tetap saja masalah ini harus dirahasiakan.


Matt ada kelas dengan profesor yang sangat disiplin hari ini. Profesor itu adalah

__ADS_1


salah satu profesor terbaik di Universitas Jayakota. Tidak ada yang berani terlambat


masuk ke kelasnya karena hukumannya sangat tidak biasa.


__ADS_2