Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
perubahan kolam


__ADS_3

Setelah beristirahat untuk beberapa saat, semua orang kembali ke kamar masing-masing. Matt


pun akhirnya bisa berbaring di tempat tidur barunya dan tertidur.


Namun, kesadarannya segera memasuki Taman Peri. Dia berjalan ke lahan ginseng dan akar


Fleeceflower. Awalnya, dia tidak sadar, tetapi setelah melihat lebih dekat, tiba-tiba dia


tersentak.


'Ginseng seukuran wortel? Bagaimana bisa ada ginseng sebesar itu?' batin Matt sambil melihat


deretan ginseng sebesar wortel tersebut. "Luar biasa! Sepertinya tidak ada batas ukuran di


Taman Peri ini! Apakah ginseng ini berharga? Aku harus mencabut beberapa untuk


mengidentifikasi perubahan ginseng tersebut ketika aku punya waktu senggang."


Setelah memperhatikan deretan ginseng itu, Matt berjalan ke arah akar Fleeceflowers.


Hal yang mengejutkan barusan seharusnya sudah membuat Matt kebal. Namun, ketika dia


memeriksa akar Fleeceflower, matanya kembali membelalak."Apa-apaan ini? Bagaimana


mereka tumbuh sangat tinggi dan membentang sangat lebar? Apa ada akar Fleeceflower


sebesar ini?"


Sebetulnya, niat awal Matt hanya untuk menghasilkan uang saat menanamn tanaman herba ini.


Namun, bagaimana dia bisa memanen akar Fleeceflower yang sangat besar dan menjualnya


kepada orang lain?


"Lupakan saja. Aku baru akan memanen dan menjualnya ketika tanaman herba telah berhenti


tumbuh tinggi dan lebar. Kalau tidak, aku khawatir akan ada sesuatu yang terjadi ke depannya.


Lagi pula, orang-orang pasti curiga padaku. Bagaimana bisa ginseng dan akar Fleeceflower bisa


tumbuh sangat besar?" Setelah memutuskan demikian, Matt pun berhenti mengkhawatirkan


banyak hal.


Sebenarnya, ketika lingkungan belum tercemar seperti zaman sekarang, beberapa tanaman


herba bisa tumbuh sangat besar di bawah pengaruh energi spiritual. Bagaimanapun juga,


ginseng tumbuh dengan memiliki dahan dan cabang, jadi masuk alkal jika mereka memiliki


energi spiritual seperti manusia.


Sementara saat ini, energi spiritual di bumi semakin langka, sehingga energi yang bisa diserap


tanaman herba semakin berkurang. Dengan begitu, tentu saja tanaman herba tidak bisa lagi


tumbuh dengan ukuran besar seperti dahulu.


Jika seorang dokter pengobatan tradisional yang sudah tua melihat ginseng di Taman Peri, dia


mungkin akan bangkit kembali dari kuburannya. Bagaimanapun juga, banyak nyawa bisa


terselamatkan dengan mengonsumsi ginseng yang sangat besar itu.


Setiap Matt melangkah, dia mencium aroma semerbak buah yang mengejutkannya. "Tidak


mungkin. Apakah buah-buahan di Taman Peri juga sudah masak? Namun, ini baru sebentar.


Bukankah tingkat pertumbuhannya terlalu cepat?' batin Matt dan berjalan cepat menuju kebun


buah.


Sesampainya di sana, beberapa pohon persik dan pir telah bermekaran, bahkan ada yang sudah


berbuah. Matt belum pernah melihat pemandangan seaneh itu sebab hal itu sangat


bertentangan dengan pola alam. Ditambah lagi, musim panas saat ini akan berubah menjadi


musim gugur. Kemungkinan buah persik dan pir akan sulit ditemukan.


Namun, pohon-pohon tersebut bermekaran dan berbuah saat itu juga. Aroma buah persik yang


sangat harum menggantung di dahan, sampai-sampai aroma yang menggiurkan memenuhi


seluruh ruang Taman Peri. Matt melangkah ke sana dan memetik satu buah dengan mudah.


Buah persik yang sudah masak sedikit bulat dan mengandung banyak air, dibungkus dengan


kulit merah muda, hijau, dan putih yang tampak sangat segar. Matt tidak bisa menahan air


liurnya saat mengamati buah itu, lalu dia sontak menyekanya dari mulutnya. Dia pun segera


menggigitnya, kulit buah persik itu tipis dan bagian dalamnya cukup berair. Dia mengunyah dan


menelan gigitannya dengan cepat.


Setelah memakan dua buah persik, Matt melihat beberapa buah pir yang sudah masak. Matt


tidak tahan melihat buah yang segar itu dan segera memetik satu, lalu memakannya. Tak lama


kemudian, biji-biji buah persik dan pir sudah terlempar ke tanah.


Perhatian Matt beralih ke suasana aneh di kolam yang berada di sampingnya. Ternyata, ada


mata air di tengah kolam, yang terus-menerus mengalir keluar. Mata air yang terus mengalir

__ADS_1


tersebut belum ada beberapa hari yang lalu sehingga membuatnya terheran-heran.


Bahkan, level permukaan air perlahan naik saat itu juga.


"Maxim, kemarilah!" teriak Matt. Tidak membutuhkan waktu lama, Maxim muncul dengan


mata mengantuk, seolah-olah dia tidak tahu apa yang terjadi pada Taman Peri.


"Bos, apa yang bisa aku lakukan untukmu?"


Begitu Maxim membuka mulutnya, Matt mendapati bahwa suara Maxim sedikit berbeda dari


sebelumnya. Dia menatap Maxim dengan cermat dan merasa bahwa dia telah tumbuh.


"Hah? Beri aku waktu sebentar, Bos!" Kemudian, Maxim menghilang dari hadapan Matt.


Kejadian itu membuat Matt bertanya-tanya pada dirinya sendiri, Apakah sesuatu yang baik


telah terjadi di Taman Peri? Pasti ada sesuatu yang terjadi, bukan? Tentu saja bukan sesuatu


yang buruk yang terjadi


Beberapa menit kemudian, Maxim kembali muncul di depan Matt. Tanpa berbasa -basi lagi,


Matt langsung menanyakan apa yang terjadi. Maximn menyeringai riang mendengar pertanyaan


Matt.


"Bos, peningkatan pada kultivasimu membuat Air Peri menghasilkan mata air, bahkan tubuhku


juga telah tumbuh. Lihat saja! Aku sedikit lebilh tinggi dari sebelumnya. Omong-omong, Kolam


Taman Peri juga akan berubah, kamu bisa menyaksikan perubahannya di sini," jelas Maxim


yang kemudian menguap lagi. Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Maxim sudah


menghilang lagi dari hadapan Matt.


Pada akhirnya, Matt memahami apa yang sedang terjadi. Berhubung kultivasinya telah


meningkat, Taman Peri juga akan berubah. Maxim adalah roh Taman Peri, alhasil dia juga


berubah. Matt tidak bisa hanya duduk diam di sana dan tidak melakukan apa-apa.


"Sepertinya, kultivasi memang lebih penting. Perubahan ini terjadi tepat setelah aku meningkat


ke level dua Taman Peri. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada taman ini ketika aku


mencapai level tertinggi ke depannya." Matt meletakkan dagunya di atas tangannya dan


berfokus pada Kolam Taman Peri lagi.


Pada saat itu, mata air di Kolam Taman Peri terus-menerus menyemburkan air dan dengan segera memenuhi seluruh kolam. Tidak berhenti di situ saja. Matt sangat ingin melihat perubahan terakhir. Ketika Maxim menyebutkan perubahan tadi, Matt sempat berpikir bahwa


dia akan didorong keluar dari taman seperti terakhir kali. Namun, ketika Maxim mengatakan


Air kolam terus tumpah dan menenggelamkan tanah di sekitarnya. Kemudian, Matt bergegas


turun ke arah tertentu. Setelah beberapa saat, air sontak menyenmbur ke penghalang di


sekitarnya dan menghilang di depan mata Matt.


Setelah Air Peri tenang, mnata air di tengah kolam tidak lagi menyemburkan air. Sebaliknya,


mata air tersebut menyemburkan lajur air dari tengah, membiarkan Air Peri mengalir. Lajur itu


kemudian menghujani kembali arah di mana air tersebut mernyembur keluar.


Taman Peri secara otomatis memperluas lahan kedua sisi di sekitarnya, membiarkan air yang


meluap mengalir ke ruang yang baru terbentuk. Air kolam itu terus menyembur keluar ke


sungai kecil yang berdiameter sekitar sembilan sentimeter dan panjangnya melebihi sepuluh


meter. Lajur tersebut terlihat lebih seperti sungai kecil daripada sebuah kolam.


"Jadi, ini evolusinya. Aku mengerti. Aku jadi ingin tahu perubahan apa yang akan terjadi pada


Taman Peri di masa depan," kata Matt sembari melihat sungai yang baru terbentuk.


Dia berjalan ke ujung sementara sungai dan memeriksanya menggunakan tangannya. Terdapat


sebuah penghalang seperti sebelumnya, tetapi air sungai masih terus mengalir keluar. Dia harus


meningkatkan level kultivasinya untuk menghilangkan penghalang tersebut sebelum dia bisa


menemukan seberapa jauh sungai itu mengalir.


Air sungai berangsur tenang, tanah pun sudah tenggelam, dan warna air kembali jernih.


Kemudian, Maxim muncul kembali dari kehampaan, tidak terlihat mengantuk seperti


sebelumnya. Seringai cerah menghiasi wajah kecilnya.


"Bos, peningkatan alam kultivasimu telah membawa beberapa perubahan pada Taman Peri.


Lahan telah diperluas sebanyak 91 sentimeter dan Kolam Taman Peri telah berubah menjadi


Sungai Taman Peri. Panjangnya sebesar 15 meter, lebarnya 100 sentimeter, dan kedalaman


sungai sekitar 1,5 meter. Demikian juga, energi spiritual telah meningkat sepuluh persen. Skala


waktu sekarang adalah 1:11. Aku sebagai roh taman juga tumbuh sebesar 10 sentimeter!"


Maxim melaporkan data statistik perubahan pada Taman Peri menggunakan satuan

__ADS_1


pengukuran modern.


"Ruang dan waktu telah meningkat sedikit dibandingkan sebelumnya. Woah! Aku hanya


meningkatkan level kultivasi saja, tetapi sudah memperoleh banyak manfaat. Omong-omong,


Maxim, apakah ada perbedaan antara Kolam Taman Peri dan Sungai Taman Peri?" tanya Matt.


Dia merasa bahwa Taman Peri tidak akan mengalami perubahan seperti itu jika perubahan itu


tidak diperlukan. Pada saat yang sama, dia juga merasa bahwa dia belum menguasai semua fitur


dan kemampuan dari Taman Peri yang luar biasa itu.


"Bos, satu-satunya hal yang aku tahu adalah Mantra Perkebunan Spiritual akan mengalami


perubahan seperti itu setelah mencapai level dua dari Alam Dasar. Aku tidak tahu fungsi


spesifiknya, tetapi aku tahu bahwa kemampuan Taman Peri membutuhkan pengendalinya


untuk membuka segala manfaatnya selangkah demi selangkah. Jika pengendalinya gagal


membuka kemampuan itu, aku sebagai roh taman, tidak boleh mengungkapkan apa pun.


Meskipun aku adalah roh resmi, aku tidak tahu segalanya. Konon, aku merasa beberapa


ingatanku tersegel rapat ...." Maxim terdiam beberapa saat dan tampak mencari jawaban dari


pertanyaan Matt, tetapi dia tetap tidak bisa menemukannya.Kalau begitu, biarkan aku melakukannya sendiri. Kolam telah menjadi sungai, jadi apa gunanya


sungai ini? Beternak ikan?' Matt bergumam sendiri. Tak lama kemudian, matanya tiba-tiba


berbinar. "Iya! Kenapa aku tidak memikirkan itu tadi? Aku sangat fokus menanam sayuran dan


tidak menyadari bahwa sungai ini bisa digunakan untuk beternak ikan!" Plak! Matt menepuk


pahanya dan membuat rencana lain.


"Kamu luar biasa, Bos! Kamu benar-benar cerdas. Pantas saja Taman Peri memilihmu sebagai


master!" Puji Maxim setuju dengan keputusan Matt.


"Yah, semuanya sempurna! Aku harus mengubah Taman Peri menjadi peternakan pribadiku


sekarang!" seru Matt. Kebanggaan memenuhi dadanya saat berseru. Dia sangat bersukacita dan


ingin melepaskan semua emosi yang dia rasakan saat itu juga.


Keadaan Taman Peri sudah stabil, tetapi Matt masih belum pergi. Dia malah berkultivasi di


rumah bambu. Manfaat dan imbalan kultivasi seperti menerima hadiah yang dia inginkan


setelah naik level. Hal itu memotivasi Matt untuk meningkatkan level kultivasinya lebih cepat.


Di hari kedua, Matt bangun dan membuat sarapan sederhana. Julio dan Yudi sudah pergi


bekerja saat itu. Setelah sarapan, Matt langsung pergi ke pasar petani. Penghasilan hariannya


memang sebesar biaya sewa bulanannya dan dia tidak berniat untuk tinggal di rumah sewaan


selamanya. Sejak Matt datang ke Kota Zarkara, dia telah merencanakan untuk membeli sebuah


rumah di masa depan. Kemudian, dia akan membawa kedua orang tuanya untuk tinggal


bersamanya.


Semua itu sangat sulit dia wujudkan sebelum memiliki Taman Peri. Sekarang, setelah dia


memilikinya, hidupnya akan berubah sepenuhnya. Semua yang dia inginkan sepertinya akan


bisa dia wujudkan saat itu juga.


Beni dan kedua temannya yang lain datang ke rumah Matt ketika Matt hendak keluar setelah


sarapan. Mereka terlihat sudah berdiri di sana tepat saat Matt membuka pintu utama.


Beni menjulurkan kepalanya dan bertanya, "Matt, apakah kamu sudah sarapan?"


"Ya. Kenapa kalian bangun pagi sekali?" jawab Matt sembari terkekeh.


Setelah mendengar jawaban Matt, Beni dan dua orang lainnya terlihat sedikit kecewa. Tadinya


mereka ingin sarapan bersama, tetapi mereka tidak menyangka Matt sudah sarapan terlebih


dahulu.


"Kami di sini untuk memeriksamu. Kemarin, kamu mengatakan bahwa kami boleh berkunjung


untuk melihat apakah kamu benar-benar menjual sayuran dan mendapatkan penghasilan yang


tinggi. Apa kamu lupa?" potong Zack.


"Tunggu. Kalian serius soal itu?" Matt mengusap keningnya. Dia tidak mengingat apa yang dia


katakan sehari sebelumnya. Dia pun sontak berpikir, 'Bagaimana aku bisa mengeluarkan


sayuran dari Taman Peri jika mereka sudah ada di sini sepagi ini?'


"Baiklah. Berhenti berbelit-belit. Kami belum sarapan, beri tahu saja kami di mana kiosmu, kami


akan mengunjungimu sebentar lagi," keluh Zack sambil menyentuh perutnya.


"Ha! Kenapa kalian datang menemuiku pagi-pagi sekali kalau begitu? Aku akan segera


berangkat sekarang. Kiosku berada di kios ketiga dari pintu utama pasar petani. Sampai jumpa

__ADS_1


nanti," kata Matt, lalu berjalan mendahului mereka. Untungnya, teman-temannya belum


sarapan, jadi dia bisa mengeluarkan sayuran dari Taman Peri saat mereka pergi untuk sarapan.


__ADS_2