Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
bab 9


__ADS_3

Matt, kenapa kau kembali? Cepat sekali kau pulih."


Ketika Beni membuka pintu asrama, dia melihat Matt sedang berbaring di tempat


tidur. Padahal, Matt masih terbaring di rumah sakit kemarin.


"Aku baik-baik saja sekarang dan sudah pulih sepenuhnya. Aku memang pulih


dengan cepat. Haha." Matt tertawa. Hanya Beni yang ada di sana saat itu. Tidak ada


yang tahu ke mana kedua temannya yang lain pergi.


Beni menepuk pundak Matt dan berkata, "Nah, itu bagus. Kalau Zack dan Will


kembali, kita berempat harus makan enak malam ini! Anggap saja sebagai perayaan


atas kepulanganmu ke asrama!"


"Ya, kalau begitu kita tunggu sampai mereka berdua kembali."


Matt merenung sejenak dan menyadari bahwa teman sekamarnya sudah lama tidak


bersenang-senang bersama. Sebaiknya, dia menggunakan kesempatan ini untuk


minum-minum.


Sekarang, dia tidak takut lagi jika tidak punya cukup uang, karena saat ini dia


memiliki beberapa tanaman di Taman Peri. Dia percaya bahwa tanaman-tanaman di


Taman Peri pasti akan terjual dengan harga yang bagus.


Namun, nyatanya sudah cukup lama Matt tidak berkunjung sehingga dia tidak tahu


bagaimana perkembangan kubis dan wortel di Taman Peri. Jadi, dia merasa agak


gelisah. Jika bukan karena Beni ada di asrama, dia benar-benar ingin kembali ke


Taman Peri untuk memeriksa tanamannya.


Matt kembali membaca buku di meja, sementara Beni bermain game di ranjangnya.


Hari mulai gelap, tetapi Zack dan Will belum kembali jua. Beni tidak mau menunggu


lebih lama lagi.


"Kenapa keduanya belum kembali? Aku akan menelepon mereka dan bertanya. Kita


sudah lama menunggu!"


Beni merasa agak kesal. Dia sudah menunggu lama dan sudah kelaparan. Matt pun


sudah lama menahan rasa laparnya.


"Halo, kalian di mana? Matt sudah keluar dari rumah sakit. Cepat kembali. Ayo, kita


keluar untuk makan," ucap Beni pada orang di ujung telepon dengan tidak sabar.

__ADS_1


"Apa? Kalian sedang makan? Hah, bagus sekali! Jika kita tidak sedang merayakan


kepulangan Matt, aku pasti akan membunuh kalian berdua! Katakan di mana


kalian. Aku dan Matt akan ke sana." Beni kembali meninggikan suaranya. Setelah


menutup telepon, dia berkata kepada Matt, "Matt, dua bajingan yang tidak tahu


berterima kasih itu sudah makan malam di luar. Ayo, kita ke sana bersama. Astaga!


Mereka bahkan tidak mengajak kita untuk makan malam ..."


Tidak nasalah. Aku juga tidak mengabari siapa pun saat keluar dari rumah sakit


sehingga mereka tidak tahu kalau aku sudah keluar hari ini. Omong-omong, kenapa


mereka tidak memintamu untuk bergabung dengan mereka?"


Matt merasa ada yang aneh.


Beni menghela napas. "Aku ada kencan dengan seorang gadis hari ini dan


menyuruh mereka untuk tidak menggangguku. Tak disangka, saat kami sedang


bersenang-senang dan sudah setengah jalan, gadis itu menerima telepon. Dia


mengatakan bahwa kedua orang tuanya menyuruhnya pulang. Mau tidak mau aku


juga kembali lebih awal."


Saat membicarakan hal itu, Beni terlihat agak marah. Dia merasa gadis itu jelas


"Oke, oke. Ayo, pergi, kalau begitu. Minumlah alkohol untuk menenangkan diri.


Kita akan membalas dendam pada mereka berdua nanti."


Setelah keduanya bersiap, Matt mendorong Beni keluar dari kamar.


Meskipun Beni berasal dari keluarga kaya, dia tidak pamer. Dia tidak akan


mengendarai mobil ke kampus, kecuali ada keadaan darurat.


Kedua pria itu naik taksi menuju ke tempat Zack dan Will. Tempat itu adalah truk


makanan yang sangat cocok minum-minun.


Ketika keduanya keluar dari taksi, mereka melihat dua pemuda yang sedang makan


ayam barbeku di tempat yang paling mencolok.


Matt berjalan ke arah mereka dan bertanya dengan nada seperti pelayan, "Selamat


datang. Anda ingin memesan apa?"


"Ehm, tidak..." Zack langsung menjawab bahkan tanpa mengangkat kepalanya.


"Sialan! Matt, ternyata kalian."

__ADS_1


Will pun menyadari bahwa itu adalah suara Matt.


"Matt, bagaimana kau bisa mempermainkanku? Kau baru saja keluar dari rumah


sakit, tetapi kau sudah sangat nakal! Beraninya kau mengejekku!" ucap Zack saat


mendengar perkataan Will. Dia lalu menarik Matt untuk duduk.


"Haha, aku hanya ingin menggodamu sebentar." Matt terkekeh dan bersandar di


kursi.


"Beni, ke sini dan duduklah! Berhubung Matt sudah keluar dari rumah sakit, mari


kita minum!"


Setelah Matt duduk, Zack menarik Beni untuk ikut duduk.


Beni tidak punya pilihan selain duduk dengan tenang dan bergabung dengan


mereka.


Kemudian, mereka minum bir sebanyak yang mereka mau. Meskipun bir tidak


terlalu berefek, tetap bisa membuat mereka mabuk. Saat minum-minum, Matt


memperhatikan bahwa ketiga teman di depannya sudah hampir mabuk, tetapi


sepertinya dia masih baik-baik saja.


Eh? Ada apa ini? Kenapa aku tidak merasa mabuk sama sekali? Apa aku minum


terlalu sedikit?' tanya Matt dalam hati.


Namun, setelah dipikir-pikir, dia sepertinya sudah minum sama banyaknya dengan


teman-temannnya.


'Apakah karena aku berkultivasi dengan Mantra Perkebunan Spiritual? Aku tidak


menyangka akan memiliki efek seperti itu juga,' renungnya.


Matt memikirkannya dengan begitu lama, tetapi masih tidak bisa menyimpulkan


apa yang sedang terjadi. Dia hanya bisa menghubungkannya pada teknik kultivasi,


Mantra Perkebunan Spiritual. Jika bukan itu, tidak ada lagi yang masuk akal.


"Beni, Zack, Will, bangunlah. Ayo, kita pulang." Matt menepuk wajah mereka, tetapi


ketiga orang yang tersungkur di atas meja tidak bereaksi sama sekali. Matt


seolah-olah tidak memukul wajah mereka, melainkan wajah orang lain.


Matt menghela napas dan berkata "Pada akhirnya, aku juga yang akan membereskan


mereka semua.

__ADS_1


Matt melihat ketiga temannya dan menggeleng tak berdaya.


__ADS_2