Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
bab 30


__ADS_3

Jika Matt tidak begitu teliti, ia pasti akan terekspos. Tidak ada makanan sama sekali di kulkas.


Jika dia tidak membukanya barusan, dia tidak akan tahu bagaimana menjelaskannya saat Tina


tiba nanti. Dia baru merasa puas setelah mengisi kulkas dengan beberapa kubis, wortel, dan


tomat.


Kemudian, dia kembali ke Taman Peri dan berjalan menuju Sungai Taman Peri. Tak disangka,


ikan-ikan di sungai tumbuh sangat cepat. Ikan tawar tersebut memiliki berat sekitar 14 hingga


20 kilogram. Bahkan, ikan mas yang tumbuh lebih lambat memiliki berat sekitar 5 kilogram.


Melihat itu, Matt langsung bertepuk tangan dan berseru, "Sungguh bagus sekali! Mari kita coba


ikan-ikan ini."


Kemudian, Matt menangkap seekor ikan tawar dan tiga ikan mas. Dia berencana untuk


memasaknya bersama dengan beberapa hidangan lainnya nanti. Hidangan itu pasti sudah cukup


untuk mereka berdua. Namun, sepertinya dia telah melupakan beberapa orang, terlebih lagi


orang-orang tersebut adalah sekelompok orang rakus.


Untuk menghindari kecurigaan Tina padanya, dia pun meletakkan ikan-ikan tersebut di baskom


tanpa menanganinya. Setelah itu, dia meletakkan sayuran di kulkas sambil menunggu Tina


datang.


Lebih dari sepuluh menit kemudian, Tina akhirnya sampai di rumah Matt. Begitu Matt


membuka pintu, dia langsung melemparkan daging ayam ke arah Matt. Kemudian, dia masuk


ke ruang tamu tanpa melepas sepatunya, meninggalkan Matt yang masih berdiri di depan pintu


dengan linglung.


"Hei! Kenapa kamu linglung begitu? Bukankah seharusnya kamu menyajikan air minum kepada


tamu sesaat mereka tiba? Apalagi, tamumu adalah wanita cantik sepertiku." Tina duduk di sofa


dan mulai berbicara saat melihat Matt berdiri terpaku di tempatnya sambil memeluk daging


ayam.


"Oh, maafkan aku. Aku akan segera mengambil air untukmu. Tunggulah sebentar."


Setelah Tina mengatakan itu, Matt pun akhirnya tersadar dan pergi ke dapur untuk


menuangkan segelas air untuk Tina.


"Baiklah, ayo kita memasak. Aku akan membantumu."


Setelah meminum segelas air, Tina segera mendorong Matt ke dapur.


"Hm, aku ingin memasak sendirian. Kamu di ruang tamu saja, duduk di sofa sambil menonton


TV, dan menunggu untuk dilayani." Matt tersenyum pahit.


"Jangan coba-coba mengusirku. Aku ingin melihatmu memasak hari ini!"


Tina memasang raut wajah kecewa. Pada akhirnya, Matt tidak bisa lagi menolaknya.


"Baiklah. Berdiri saja di samping dan lihat. Jangan katakan apa pun dan jangan buat masalah!"


Setelah itu, Matt langsung memasang kompor listrik.


"Baik, Tuan!"


Tina pun berdiri di dekat wastafel seraya menatap Matt dengan tersenyum jenaka. Matt mengabaikannya dan mulai mencuci sayuran, mengolah daging dan ikan, dan membuat


beberapa hidangan lezat.


Tina tercengang melihat pemandangan itu. Dia sudah berencana untuk mengolok-olok Matt,


tetapi dia tidak menyangka kalau makanan yang dia masak akan sangat enak. Untungnya, dia


tidak mengatakannya dengan lantang atau dia sendiri yang akan malu.


Beberapa saat kemudian, Tina menyajikan semua masakan buatan Matt di atas meja. Ada tiga


hidangan dan semangkuk sup ikan. Ketika mereka hendak makan, terdengar suara ketukan


pintu. Matt segera berdiri untuk membuka pintu, sontak muncullah tiga kepala dari balik pintu.


"Kenapa kalian ke sini?"


Saat Matt melihat Beni dan kedua temannya yang lain, dia tidak berniat untuk membiarkan


mereka masuk.


"Ada yang ingin aku katakan padamu. Matt, biarkan kami masuk." Beni sontak berkata demikian sebab kedua temannya sudah mendorongnya untuk masuk.


Sebetulnya, Beni telah mencium aroma yang menggoda dari dalam rumah. Dia tahu bahwa Matt


sedang memasak.


"Tidak, tidak, tidak. Beri tahu di sini saja."


Matt tersenyum licik.


"Biarkan kami masuk. Hanya butuh beberapa menit. Buka pintunya!"


Beni, Zack, dan Will mengetuk pintu sambil meratap.

__ADS_1


Matt tidak tahu harus bagaimana berurusan dengan mereka. Dia takut mengganggu


tetangganya, alhasil dia membiarkan mereka masuk.


"Wow, Matt, apakah kamu sedang makan? Baguslah. Kami belum makan. Aku harap kamu


tidak keberatan jika kami bergabung denganmu. Terima kasih!" kata Zack buru-buru saat


melihat hidangan di atas meja. Kemudian, dia segera menuju dapur untuk mengambil piring.


"Hei! Berhenti! Aku hanya memasak untuk dua orang hari ini. Hidangan itu tidak cukup untuk


kalian semua!"


Matt segera menarik mereka dengan tergesa-gesa. Saat itu, Tina kebetulan keluar dari dapur


dengan membawa piring.


Melihat itu, Beni, Zack, dan Will sontak terkejut.


Saat melihat Tina memegang dua piring di tangannya, mereka langsung terdiam dan berbalik


menatap Matt dengan kesal. Mereka tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Tina di


rumah Matt.


'Mereka pasti menjalin hubungan! Pantas saja Matt ingin pindah. Ternyata dia ingin menahan


seorang wanita di rumahnya!' pikir mereka bertiga.


Tatapan kesal mereka berangsur-angsur berubah menjadi tatapan penuh arti.


Namun, Tina tidak terpengaruh. Dia menatap ketiga pria yang membeku di tempatnya, lalu


berkata, "Tidak apa-apa. Ayo, makan bersama. Lagi pula aku tidak makan banyak, hidangan ini


sepertinya cukup untuk semua orang.'


Tina malah terdengar seperti nyonya rumah.


Saat itu, Matt tidak tahan lagi melihat tatapan kesal dan penuh arti dari ketiga pria itu.


"Terserah! Kalau kalian tidak mau makan, pergi saja!" ucapnya sembari melihat ketiga pria


yang sama sekali tidak bergerak tersebut. Matt pun mengambil kedua piring tersebut dari


tangan Tina.


"Tentu saja, kamni akan makan, tetapi kami tidak akan makan banyak. Kami hanya merasa


bersalah karena telah mengganggumu. Kamni akan lebih berhati-hati lain kali. Kami akan


meneleponmu lebih dahulu!"


Beni segera berlari ke dapur, mengambil piring, dan duduk di meja makan.


"Lain kali?" Matt tidak bisa berkata-kata.


setelah menciumnya begitu lama, kecuali Matt yang terus tetap tenang. Kemudian, semua orang


pun akhirnya bisa melahap makanan tersebut, termasuk Tina.


Setelah selesai makan, Beni langsung mengajak Zack dan Will pulang, beralasan bahwa mereka


ingin pasangan itu bersenang-senang.


Matt menggerutu pada dirinya sendiri, Meskipun kami bersenang-senang, semuanya telah


hancur karena kedatangan mendadak kalian!


Tina sepertinya sangat menikmati makanannya. Khawatir dia akan salah paham, Matt segera


menjelaskan kejadian tadi, "Tina, maafkan aku. Teman-temanku memang seperti itu. Mereka


tidak tahu kamu akan datang hari ini dan aku juga tidak tahu mereka akan datang. Aku


benar-benar tidak tahu kalau mereka akan muncul.


"Kamu tidak perlu menjelaskannya. Terlihat jelas dari ekspresimu tadi kalau kamu memang


tidak tahu mereka akan datang. Jika kamu tidak menjelaskannya, aku mungkin berpikir bahwa


itu hanya kebetulan saja. Namun, setelah kamu menjelaskannya, aku menjadi sedikit curiga.


Omong-omong, masakanmu benar-benar lezat."


Tina sedang berbaring di sofa dan tidak mau beranjak setelah makan.


Mendengar perkataan Tina, Matt tidak mau menanggapinya lagi. Dia mulai menyadari bahwa semua yang dia katakan adalah jebakan untuk dirinya sendiri, dan pada akhirnya, dialah yang


akan masuk perangkap. Beberapa saat kemudian, dia mulai membereskan meja yang dibantu


oleh Tina.


Setelah meletakkan piring dan alat makan ke dapur, Matt berbalik dan hampir menabrak Tina


yang ada di belakangnya. Terdapat kulkas di belakang Tina, Matt tidak sengaja mendorongnya


ke sana.


Waktu seolah-olah berhenti saat itu juga, Matt sedang menatap wajah Tina, demikian juga Tina


yang sedang menatap wajah Matt. Kupu-kupu terasa seperti beterbangan di perut Matt yang


membuatnya ingin mencium Tina.


Saat mereka akan saling berciuman, tiba-tiba Tina mendorongnya. Wajahnya sudah semerah

__ADS_1


tomat. Tina segera berlari keluar setelah mengatakan bahwa dia akan pulang.


Matt seketika tersadar kembali dan melanjutkan kegiatan mencuci piringnya. Dia merasa sangat


menyesal karena dia baru saja bertindak terlalu impulsif. Entah mengapa, dia merasa saat ingin


menciumn Tina saat itu. Untungnya, Tina berpikir rasional dan segera mendorongnya.


"Mungkinkah aku telah jatuh cinta pada Tina?"


Saat dia mengingat apa yang baru-baru ini Beni katakan padanya, Matt mulai mempertanyakan


apakah dia benar-benar jatuh cinta pada Tina.


Perasaan barusan adalah sesuatu yang tidak pernah dia miliki selama 20 tahun terakhir.


Tatapan mereka penuh gairah dan kasih sayang.


Tak lama kemudian, Matt memutuskan untuk menahan perasaannya dan menyerahkan


semuanya pada semesta. Dia percaya semuanya akan baik-baik saja. Jika dia benar-benar jatuh


cinta pada Tina, dia akan merenungkannya kembali ketika perasaan yang sama muncul lagi di


masa depan.


Setelah mandi, akhirnya Matt punya waktu untuk memasuki Taman Peri. Dia masih harus


menanam, jadi dia memiliki hal-hal yang berbeda untuk dilakukan setiap hari. Setelah


memperoleh Taman Peri, dia merasa hidupnya benar-benar banyak berubah.


Sementara itu, Tina yang sedang berada di kamarnya, pikirannya tiba-tiba menjadi kosong. Dia


mengira Matt akan menciumnya tadi, jadi dia segera mendorongnya. Setelah memikirkannya


lagi, dia bertanya-tanya apakah Matt akan merasa terganggu akibat tindakannya tadi.


Rona di wajah Tina masih belum memudar. Sambil berbaring di ranjang, dia mencoba


menenangkan dirinya dan berhenti memikirkan Matt. Namun, selama dia menutup matanya,


sOsok Matt dan caranya memandang Tina tadi terus muncul di benaknya, wajahnya sontak


memerah lagi.


"Apa aku jatuh cinta pada Matt?"


Tina menutup wajahnya yang memerah dan memaksa irinya untuk tidak memikirkan Matt


lagi. Jika dia terus memikirkan Matt, wajahnya pasti akan semerah apel yang sudah matang.


"Tidak, tidak, tidak. Aku harus mandi dan segera tidur. Matt, bajingan! Ini semua karenamu.


Dasar bajingan! Ahhh! Aku harus tenang! Tenang!" Tina terus membolak-balikkan badannya di


tempat tidur.


Sementara itu, Matt perlahan-lahan sudah melupakan apa yang terjadi barusan sebab dia sibuk Sementara itu, Matt perlahan-lahan sudah melupakan apa yang terjadi barusan sebab dia sibuk


bekerja di Taman Peri. Masih ada lebih dari 1.00o meter persegi lahan kosong di Taman Peri.


Dia sedang merenung apakah dia akan menanam kubis, wortel, dan tomat atau menanam


sayuran lainnya.


Dia segera menyangkal gagasan itu. Ada banyak lahan kosong di sana. Dia takut jika dia hanya


menanam beberapa jenis sayuran di seluruh lahan, ia akan bergidik ngeri melihatnya di masa


depan.


Dia pun melanjutkan kegiatannya menanam sayuran. Kemudian, dia memanen sayuran yang


diperlukan untuk besok. Setelah mengumpulkan sekitar 25o kilogram tomat, wortel, dan kubis,


dia pun berhenti. Jika dia tidak menanam sayur-sayuran hari itu, dia hanya bisa memasok


sayur-sayuran untuk Restoran Gurih Furama sekali. Untungnya, dia tidak membuang terlalu


banyak waktu hari itu, jika tidak, dia tidak akan punya cukup waktu untuk menanam sayuran.


Kemudian, dia meletakkan sayur-sayuran itu di samping rumah bambu setelah memanennya.


Ada sekitar 50 kilogram untuk setiap jenis sayuran, sehingga membutuhkan ruang yang cukup


besar. Berhubung tidak memiliki alat pengemasan, dia terpaksa meletakkannya di tanah. Dia


berencana untuk membeli beberapa wadah lagi keesokan harinya dan menempatkannya di


Taman Peri supaya bisa digunakan di masa depan.


Matt menepuk kedua tangannya, sekarang pandangannya tertuju pada tanaman herba di


sampingnya. Dia melihat ginseng sudah bermekaran dan bunga berwarna ungu muda muncul


dari bagian atas ginseng. Tanaman itu tampak seperti seseorang yang memiliki rumput yang


sedang tumbuh di kepalanya.


Kemudian, dia mendekati lahan ginseng tersebut dan mendapati beberapa kecambah di tanah


sekitar ginseng itu. Dia menduga bahwa itu pasti kecambah ginseng. Suasana hati Matt sontak


menjadi baik setelah melihatnya. Berhubung ginseng bisa bereproduksi, dia tidak perlu membeli


benih lagi ke depannya. "Jika ginseng bisa bereproduksi, akar Fleeceflower juga pasti bisa,

__ADS_1


kan?" Dia bertanya-tanya.


Melihat ginseng-ginseng tersebut, dia pun menemukan sebuah ide.


__ADS_2