Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
bab 12


__ADS_3

Takut waktunya tidak cukup, Matt berlari menuju kafetaria. Untungnya, dia masih


bisa memesan makanan teraklhir sebelunm staf kafetaria hendak membereskan


makanan itu.


"Lain kali datanglah lebih awal, Nak. Kamu tidak akan makan apa-apa kalau


terlambat semenit saja!" Staf kafetaria dengan ramah mengingatkannya.


Matt mengambil makanan itu dan membalas sambil tersenyum, "Oh. Tentu! Lain


kali saya akan datang tepat waktu!"


Dia pun duduk di salah satu meja di sana dan mulai melahap makanan siangnya.


Setelah selesai makan, dia kembali ke asrama. Hanya Will seorang di dalam kamar.


Seperti biasa, Beni dan Zack pasti pergi ke suatu tempat untuk bersenang-senang


dengan beberapa gadis.


"Matt, apa yang kamu lakukan hari ini?" Will yang duduk di meja komputer


menatap Matt sambil tersenyum.


Matt membuka laptopnya dan menjawab, "Apa lagi yang aku lakukan? Kalian tahu


persis bagaimana situasiku. Aku jomlo dan miskin."


"Hei, jangan marabhi aku karena mengatakan ini. Kita sudah di tahun kedua. Cepat


atau lambat kamu harus mencari pacar, 'kan?"


Will memandang Matt dengan agak hina. Di asrama mereka, hanya Matt yang tidak


punya pacar.


Will sudah punya pacar sejak beberapa waktu lalu yang sangat dia


bangga-banggakan. Dahulu, dia dan Matt adalah duo pria lajang di asrama.


Sekarang, hanya Matt satu-satunya yang lajang. Dia akhirnya bisa mengolok-olok


Matt dengan puas.


"Ha! Aku doakan kamu akan putus secepatnya dan kembali menjadi jomlo," goda


Matt.


"Baiklah, kamu menang!"


Wajah Will tampak penuh dengan amarah. Dia tidak menyangka Matt akan


mengatakan hal seperti itu. Will pun tidak memperpanjang masalah ini lagi dan


berbalik untuk memainkan laptopnya, mengabaikan Matt.

__ADS_1


Sementara itu, Matt segera berbaring di tempat tidur dan hendak tidur siang.


Namun, ponselnya yang akan rusak tiba-tiba berdering. Dia tidak menyangka


ponselnya yang hampir rusak dan kuno itu masih bisa menerima panggilan.


Dia melihat nomor yang tertera pada layar. Itu nomor asing dan dia tidak tahu siapa


itu. Matt pun menekan tombol jawab dan bertanya, "Halo, ini siapa?"


Tanpa disangka, orang yang menelepon Matt justru berteriak, "Ini Matt Luham,


'kan? Kamu pikir kamu sudah benar-benar pulih setelah meninggalkan rumah


sakit, ya? Kamu tidak menghubungiku sama sekali. Apa niatmu sebenarnya? Apa


kamu menyimpan dendam padaku?" Wanita di ujung telepon terus berbicara tanpa


henti. Matt baru menyadari bahwa orang yang meneleponnya saat ini adalah Tina.


"Oh, Tina! Kenapa kamu malah berpikir seperti itu? Bagaimana mungkin aku


dendam padamu? Tidak usah berpikir yang lain-lain. Aku baru saja keluar rumah


sakit dan banyak tugas yang harus dikerjakan. Saat ini, aku belajar seperti orang


gila."


Dia meregangkan lehernya seolah-olah Tina berada tepat di sampingnya.


"Oh, begitu. Aku menjadi lebibh tenang setelah mendengar kabarmu dan tidak kesal


malam." Suara hangat Tina terus terdengar di telepon.


"Baiklah. Jam berapa? Di mana? Apakah kamu akan menjemputku atau aku


langsung ke tempat saja?" Matt merenung dan berpikir sebaiknya dia


memanfaatkan makanan gratis itu.


Jika teman sekamarnya tahu bahwa dia memiliki pemikiran seperti itu ketika


seorang wanita cantik mengajaknya makan malam, mereka pasti akan berkata


dengan serempak, "Pria jomlo memang pantas mendapatkannya!"


"Mm, aku akan memikirkannya terlebih dahulu. Aku akan mengirimkan alamat dan


waktunya kepadamu nanti. Biar aku saja yang menjemputmu. Kamu tunggu di sana


saja. Akan kuhubungi kalau sudah sampai. Aku tutup, ya."


Setelah Tina menutup panggilan, Matt menghela napas lega.


Wanita ini sepertinya tidak mudah dihadapi. Dari karakter dan temperamennya


yang berapi-api, sebenarnya tidak terlalu buruk berteman dengannya. Setidaknya,

__ADS_1


Tina tidak munafik dan dia selalu jujur.


Melihat ponsel lusuhnya, sudah seharusnya Matt membeli ponsel baru setelah


berjualan sayuran selama dua hari lagi.


Ketika dia punya cukup uang, dia akan mengganti semua barang miliknya dengan


yang baru!


Tidak lama kemudian, Matt menerima pesan dari Tina. Dia kemudian meminta Will


untuk membangunkannya pada pukul lima sore selbelum berbaring.


Waktu berlalu sangat cepat. Tepat pukul lima sore, Will segera membangunkan


Matt. Dia pun bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Begitu


selesai mandi, Tina pun meneleponnya. Matt memberitahunya bahwa dia akan


segera tiba di gerbang sekolah sebelum mengenakan pakaian kasual biasa."Masuk."


Di sisi kiri gerbang sekolah ada seorang wanita muda yang tampak polos


mengendarai Ferrari 599 berwarna merah.


Matt tidak terkejut saat melilhat Ferrari itu. Mobil inilah yang membuatnya dirawat


di rumah sakit. Matt tidak berkata apa-apa dan hanya mengangguk. Kemudian, dia


membuka pintu kursi penumpang dan masuk. Belum sempat dia menikmati


bagaimana rasanya duduk di dalam mobil mewah, Tina sudah mulai mengebut.


"Duduklah dengan tenang! Aku akan mengajakmu bersenang-senang!"


Tina menjentikkan jarinya dan Matt merasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi.


Tebakannya tentu saja benar. Wanita ini sama sekali tidak berpikir panjang dengan


membawa seseorang yang sedang terluka melaju kencang!


Dia benar-benar mengebut bersama seseorang yang baru saja dia tabrak!


Yang Matt rasakan saat ini adalah dunianya berputar.


Kecepatan mobil itu pun menurun secara perlahan, tetapi semua warna telah jelas


terlukis di wajah Mat.


"Wow, kamu baik-baik saja? Maafkan aku. Aku lupa kalau kamu baru saja keluar


dari rumah sakit."


Tina menjulurkan lidahnya dengan jail saat menyadari bahwa Matt tidak


mengucapkan sepatah kata pun di sepanjang jalan.

__ADS_1


Matt melambaikan tangannya dan tidak bisa berkata apa-apa. Dia bahkan keluar


dari mobil dengan linglung.


__ADS_2