
Takut waktunya tidak cukup, Matt berlari menuju kafetaria. Untungnya, dia masih
bisa memesan makanan teraklhir sebelunm staf kafetaria hendak membereskan
makanan itu.
"Lain kali datanglah lebih awal, Nak. Kamu tidak akan makan apa-apa kalau
terlambat semenit saja!" Staf kafetaria dengan ramah mengingatkannya.
Matt mengambil makanan itu dan membalas sambil tersenyum, "Oh. Tentu! Lain
kali saya akan datang tepat waktu!"
Dia pun duduk di salah satu meja di sana dan mulai melahap makanan siangnya.
Setelah selesai makan, dia kembali ke asrama. Hanya Will seorang di dalam kamar.
Seperti biasa, Beni dan Zack pasti pergi ke suatu tempat untuk bersenang-senang
dengan beberapa gadis.
"Matt, apa yang kamu lakukan hari ini?" Will yang duduk di meja komputer
menatap Matt sambil tersenyum.
Matt membuka laptopnya dan menjawab, "Apa lagi yang aku lakukan? Kalian tahu
persis bagaimana situasiku. Aku jomlo dan miskin."
"Hei, jangan marabhi aku karena mengatakan ini. Kita sudah di tahun kedua. Cepat
atau lambat kamu harus mencari pacar, 'kan?"
Will memandang Matt dengan agak hina. Di asrama mereka, hanya Matt yang tidak
punya pacar.
Will sudah punya pacar sejak beberapa waktu lalu yang sangat dia
bangga-banggakan. Dahulu, dia dan Matt adalah duo pria lajang di asrama.
Sekarang, hanya Matt satu-satunya yang lajang. Dia akhirnya bisa mengolok-olok
Matt dengan puas.
"Ha! Aku doakan kamu akan putus secepatnya dan kembali menjadi jomlo," goda
Matt.
"Baiklah, kamu menang!"
Wajah Will tampak penuh dengan amarah. Dia tidak menyangka Matt akan
mengatakan hal seperti itu. Will pun tidak memperpanjang masalah ini lagi dan
berbalik untuk memainkan laptopnya, mengabaikan Matt.
__ADS_1
Sementara itu, Matt segera berbaring di tempat tidur dan hendak tidur siang.
Namun, ponselnya yang akan rusak tiba-tiba berdering. Dia tidak menyangka
ponselnya yang hampir rusak dan kuno itu masih bisa menerima panggilan.
Dia melihat nomor yang tertera pada layar. Itu nomor asing dan dia tidak tahu siapa
itu. Matt pun menekan tombol jawab dan bertanya, "Halo, ini siapa?"
Tanpa disangka, orang yang menelepon Matt justru berteriak, "Ini Matt Luham,
'kan? Kamu pikir kamu sudah benar-benar pulih setelah meninggalkan rumah
sakit, ya? Kamu tidak menghubungiku sama sekali. Apa niatmu sebenarnya? Apa
kamu menyimpan dendam padaku?" Wanita di ujung telepon terus berbicara tanpa
henti. Matt baru menyadari bahwa orang yang meneleponnya saat ini adalah Tina.
"Oh, Tina! Kenapa kamu malah berpikir seperti itu? Bagaimana mungkin aku
dendam padamu? Tidak usah berpikir yang lain-lain. Aku baru saja keluar rumah
sakit dan banyak tugas yang harus dikerjakan. Saat ini, aku belajar seperti orang
gila."
Dia meregangkan lehernya seolah-olah Tina berada tepat di sampingnya.
"Oh, begitu. Aku menjadi lebibh tenang setelah mendengar kabarmu dan tidak kesal
malam." Suara hangat Tina terus terdengar di telepon.
"Baiklah. Jam berapa? Di mana? Apakah kamu akan menjemputku atau aku
langsung ke tempat saja?" Matt merenung dan berpikir sebaiknya dia
memanfaatkan makanan gratis itu.
Jika teman sekamarnya tahu bahwa dia memiliki pemikiran seperti itu ketika
seorang wanita cantik mengajaknya makan malam, mereka pasti akan berkata
dengan serempak, "Pria jomlo memang pantas mendapatkannya!"
"Mm, aku akan memikirkannya terlebih dahulu. Aku akan mengirimkan alamat dan
waktunya kepadamu nanti. Biar aku saja yang menjemputmu. Kamu tunggu di sana
saja. Akan kuhubungi kalau sudah sampai. Aku tutup, ya."
Setelah Tina menutup panggilan, Matt menghela napas lega.
Wanita ini sepertinya tidak mudah dihadapi. Dari karakter dan temperamennya
yang berapi-api, sebenarnya tidak terlalu buruk berteman dengannya. Setidaknya,
__ADS_1
Tina tidak munafik dan dia selalu jujur.
Melihat ponsel lusuhnya, sudah seharusnya Matt membeli ponsel baru setelah
berjualan sayuran selama dua hari lagi.
Ketika dia punya cukup uang, dia akan mengganti semua barang miliknya dengan
yang baru!
Tidak lama kemudian, Matt menerima pesan dari Tina. Dia kemudian meminta Will
untuk membangunkannya pada pukul lima sore selbelum berbaring.
Waktu berlalu sangat cepat. Tepat pukul lima sore, Will segera membangunkan
Matt. Dia pun bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Begitu
selesai mandi, Tina pun meneleponnya. Matt memberitahunya bahwa dia akan
segera tiba di gerbang sekolah sebelum mengenakan pakaian kasual biasa."Masuk."
Di sisi kiri gerbang sekolah ada seorang wanita muda yang tampak polos
mengendarai Ferrari 599 berwarna merah.
Matt tidak terkejut saat melilhat Ferrari itu. Mobil inilah yang membuatnya dirawat
di rumah sakit. Matt tidak berkata apa-apa dan hanya mengangguk. Kemudian, dia
membuka pintu kursi penumpang dan masuk. Belum sempat dia menikmati
bagaimana rasanya duduk di dalam mobil mewah, Tina sudah mulai mengebut.
"Duduklah dengan tenang! Aku akan mengajakmu bersenang-senang!"
Tina menjentikkan jarinya dan Matt merasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi.
Tebakannya tentu saja benar. Wanita ini sama sekali tidak berpikir panjang dengan
membawa seseorang yang sedang terluka melaju kencang!
Dia benar-benar mengebut bersama seseorang yang baru saja dia tabrak!
Yang Matt rasakan saat ini adalah dunianya berputar.
Kecepatan mobil itu pun menurun secara perlahan, tetapi semua warna telah jelas
terlukis di wajah Mat.
"Wow, kamu baik-baik saja? Maafkan aku. Aku lupa kalau kamu baru saja keluar
dari rumah sakit."
Tina menjulurkan lidahnya dengan jail saat menyadari bahwa Matt tidak
mengucapkan sepatah kata pun di sepanjang jalan.
__ADS_1
Matt melambaikan tangannya dan tidak bisa berkata apa-apa. Dia bahkan keluar
dari mobil dengan linglung.