
Setelah mencapai level dua, Matt mulai merasa familier dengan kekuatan barunya.
Dia sontak menyadari bahwa lahan Taman Peri telah mengalami perluasan, dan
kepadatan energi spiritualnya juga cukup meningkat. Setelah naik level, Matt
menjadi lebih peka terhadap hal-hal kecil di sekelilingnya.
Sebelumnya, tubuh Matt menjadi kotor saat dia berkultivasi. Dia tidak tahu apakah
kali ini akan terjadi lagi. Benar saja, beberapa kotoran muncul di tubuhnya seperti
waktu itu, tetapi kali ini, kotoran itu tidak terlalu banyak dan baunya tidak
menyengat.
Matt bergegas lari ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya. Setelah itu, dia
melihat jam dinding dan ternyata sudah lewat pukul enam. Alih-alih tidur atau
Kembali berkultivasi, Matt memutuskan untuk mempelajari perubahan pada
tubuhnya sendiri.
Setelah mandi sebanyak dua kali, kulitnya kini menjadi sangat halus dan cerah,
tidak kalah dengan para wanita yang menggunakan banyak produk kecantikan
untuk merawat kulit mereka.
"Aku tidak ingin terlihat seperti ini... tolong singkirkan penampilan ini. Kembalikan
warna kulit asliku, oke?"
Matt merasa ingin menangis, namum air matanya tidak mengalir sama sekali.
Kulitnya menjadi begitu cerah, sehingga dia terlihat lebih tampan. Akan tetapi hal
itu juga membuatnya terlihat seperti pria yang suka jual tampang.
Karena perubahan penampilannya itu, dia bingung harus bagaimana
menjelaskannya kepada orang-orang nanti. Bagaimanapun juga, dia harus
menemukan alasan dan penjelasan yang masuk akal. Mungkin setelah dia
berjalan-jalan di kampus keesokan harinya, berita seperti ini akan muncul di situs
kampus: "Seorang pemuda berkulit mulus, berwajah tampan dan feminin terlihat di
Universitas Jayakota. Kalau saja dia berpakaian lebih gaya, pasti dia akan menjadi
pusat perhatian."
Matt menepis kekhawatirannya dan pergi ke pasar petani setelah sarapan. Dia
__ADS_1
sengaja berangkat lebih awal hari ini, karena ingin menjual lebih banyak sayuran
dari biasanya.
Waktu baru menunjukkan pukul delapan pagi, tetapi lima keranjang sayur yang
dibawanya sudah terjual habis. Ketenaran sayurannya sudah jauh melebihi dua hari
yang lalu. Begitu Matt nmengembalikan barang-barang keperluan kiosnya ke kantor
manajemen pasar petani, dia menerima panggilan telepon dari Tina sebelum sempat
menghitung uang di sakunya.
Halo, Matt? Kamu di mana sekarang?" tanya Tina penasaran ketika mendengar
suara berisik dari ujung telepon.
"Oh, aku tidak ke mana-mana kok. Ada apa?"
Matt tidak ingin orang lain tahu bahwa dia menjual sayur-mayur di pasar petani.
"Apa aku hanya boleh menghubungimu jika ada hal penting saja? Bisakah kamu
nongkrong denganku dan bersenang-senang?" tanya Tina.
"Tentu. Aku bebas hari ini. Kita mau ke mana? Aku akan mentraktirmu makan.
Matt berpikir sejenak. Hari ini tidak ada jadwal kelas di kampus, dan tidak ada
sebentar. Semenjak tiba di Jayakota, selama dua tahun terakhir ini dia selalu sibuk
mencari uang dan kuliah. Dia belum pernah keluar untuk bersenang-senang, maka
dia pun mengambil kesempatan ini.
"Mentraktirku? Ya sudah kalau begitu, kita nongkrong terlebih dahulu. Ikuti aku
saja, sebab tidak ada yang tahu tempat menarik di Kota Zarkara lebih baik dariku,"
celetuk Tina.
"Oke, datang saja ke kampusku pukul sepuluh." Matt memberi tahu Tina bahwa dia
tidak punya mobil dan dia juga tidak tahu lokasi Tina saat ini.
"Oke. Tunggu aku di sana tepat pukul sepuluh."
Tina langsung menutup telepon setelah mengatakan hal itu. Matt juga menyimpan
ponselnya sambil menggeleng. Tina memang selalu tegas dan cepat.
Matt menghitung uangnya dengan teliti. Sekarang, tabungannya hampir 23 juta
rupiah, dan dia akan menggunakannya untuk membeli ponsel dan laptop. Tetapi dia
__ADS_1
tidak ingin menghamburkan uang hanya untuk laptop dan ponsel, jadi dia hanya
membeli merek yang biasa saja. Setelah membeli semua itu, dia masih memiliki sisa
12 juta rupiah.
Tepat pukul sepuluh, Matt turun untuk menemui Tina. Saat itu Tina baru saja
sampai di gedung asrama. Begitu Tina keluar dari mobil, gadis itu langsung menjadi
pusat perhatian banyak pria. 'Kaya dan cantik... pikir mereka. Saat pertama kali
melihat Tina, tidak akan ada yang menyangka bahwa penampilannya sangat berbeda
dengan karakter aslinya. Sayangnya, Tina adalah gadis yang cantik, tetapi pemarah.
Ketika Matt masuk ke dalam mobil Tina, orang-orang itu sepertinya terkejut. Dalam
hati mereka membatin, "Benar saja, kalau kamu tampan, kamu bisa mendapatkan
segalanya.'
Pada saat yang sama, ada juga beberapa orang yang menganggap Matt sebagai
berondong simpanan, dan menganggapnya telah merusaak martabat pria.
Matt tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka, namun dia tidak ingin ambil
pusing dan segera masuk ke dalam mobil, lalu pergi.
"Matt, kenapa aku merasa kamu sangat berbeda sekarang?"
Di dalam mobil, Tina menatap wajah Matt, bahkan merasa iri padanya. Sebagai
seorang wanita, dia selalu merawat kulitnya dengan baik. Tina berpikir, 'Bagaimana
bisa kulitku terlihat sangat kasar dibandingkan dengan kulit Matt?'
"Benarkah? Kurasa tidak."
Matt menatap Tina dengan raut wajah yang kebingungan, sama sekali tidak tahu apa
maksud gadis itu.
"Kamu ini! Huh, apakah kamu melakukan operasi plastik? Kulitmu lebih bagus
daripada wanita, tapi kamu menyadarinya."
Tina terus memperhatikan kulit Matt dengan rasa iri. Semakin dilihat, semakin dia
merasa kesal.
"Oh, itu maksudmu ... Mungkin karena aku tidak pernah keluar ruangan
akhir-akhir ini."
__ADS_1
Tentu saja Matt tidak berani mengatakan yang sebenarnya.