Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
bab 20


__ADS_3

Setelah mencapai level dua, Matt mulai merasa familier dengan kekuatan barunya.


Dia sontak menyadari bahwa lahan Taman Peri telah mengalami perluasan, dan


kepadatan energi spiritualnya juga cukup meningkat. Setelah naik level, Matt


menjadi lebih peka terhadap hal-hal kecil di sekelilingnya.


Sebelumnya, tubuh Matt menjadi kotor saat dia berkultivasi. Dia tidak tahu apakah


kali ini akan terjadi lagi. Benar saja, beberapa kotoran muncul di tubuhnya seperti


waktu itu, tetapi kali ini, kotoran itu tidak terlalu banyak dan baunya tidak


menyengat.


Matt bergegas lari ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya. Setelah itu, dia


melihat jam dinding dan ternyata sudah lewat pukul enam. Alih-alih tidur atau


Kembali berkultivasi, Matt memutuskan untuk mempelajari perubahan pada


tubuhnya sendiri.


Setelah mandi sebanyak dua kali, kulitnya kini menjadi sangat halus dan cerah,


tidak kalah dengan para wanita yang menggunakan banyak produk kecantikan


untuk merawat kulit mereka.


"Aku tidak ingin terlihat seperti ini... tolong singkirkan penampilan ini. Kembalikan


warna kulit asliku, oke?"


Matt merasa ingin menangis, namum air matanya tidak mengalir sama sekali.


Kulitnya menjadi begitu cerah, sehingga dia terlihat lebih tampan. Akan tetapi hal


itu juga membuatnya terlihat seperti pria yang suka jual tampang.


Karena perubahan penampilannya itu, dia bingung harus bagaimana


menjelaskannya kepada orang-orang nanti. Bagaimanapun juga, dia harus


menemukan alasan dan penjelasan yang masuk akal. Mungkin setelah dia


berjalan-jalan di kampus keesokan harinya, berita seperti ini akan muncul di situs


kampus: "Seorang pemuda berkulit mulus, berwajah tampan dan feminin terlihat di


Universitas Jayakota. Kalau saja dia berpakaian lebih gaya, pasti dia akan menjadi


pusat perhatian."


Matt menepis kekhawatirannya dan pergi ke pasar petani setelah sarapan. Dia

__ADS_1


sengaja berangkat lebih awal hari ini, karena ingin menjual lebih banyak sayuran


dari biasanya.


Waktu baru menunjukkan pukul delapan pagi, tetapi lima keranjang sayur yang


dibawanya sudah terjual habis. Ketenaran sayurannya sudah jauh melebihi dua hari


yang lalu. Begitu Matt nmengembalikan barang-barang keperluan kiosnya ke kantor


manajemen pasar petani, dia menerima panggilan telepon dari Tina sebelum sempat


menghitung uang di sakunya.


Halo, Matt? Kamu di mana sekarang?" tanya Tina penasaran ketika mendengar


suara berisik dari ujung telepon.


"Oh, aku tidak ke mana-mana kok. Ada apa?"


Matt tidak ingin orang lain tahu bahwa dia menjual sayur-mayur di pasar petani.


"Apa aku hanya boleh menghubungimu jika ada hal penting saja? Bisakah kamu


nongkrong denganku dan bersenang-senang?" tanya Tina.


"Tentu. Aku bebas hari ini. Kita mau ke mana? Aku akan mentraktirmu makan.


Matt berpikir sejenak. Hari ini tidak ada jadwal kelas di kampus, dan tidak ada


sebentar. Semenjak tiba di Jayakota, selama dua tahun terakhir ini dia selalu sibuk


mencari uang dan kuliah. Dia belum pernah keluar untuk bersenang-senang, maka


dia pun mengambil kesempatan ini.


"Mentraktirku? Ya sudah kalau begitu, kita nongkrong terlebih dahulu. Ikuti aku


saja, sebab tidak ada yang tahu tempat menarik di Kota Zarkara lebih baik dariku,"


celetuk Tina.


"Oke, datang saja ke kampusku pukul sepuluh." Matt memberi tahu Tina bahwa dia


tidak punya mobil dan dia juga tidak tahu lokasi Tina saat ini.


"Oke. Tunggu aku di sana tepat pukul sepuluh."


Tina langsung menutup telepon setelah mengatakan hal itu. Matt juga menyimpan


ponselnya sambil menggeleng. Tina memang selalu tegas dan cepat.


Matt menghitung uangnya dengan teliti. Sekarang, tabungannya hampir 23 juta


rupiah, dan dia akan menggunakannya untuk membeli ponsel dan laptop. Tetapi dia

__ADS_1


tidak ingin menghamburkan uang hanya untuk laptop dan ponsel, jadi dia hanya


membeli merek yang biasa saja. Setelah membeli semua itu, dia masih memiliki sisa


12 juta rupiah.


Tepat pukul sepuluh, Matt turun untuk menemui Tina. Saat itu Tina baru saja


sampai di gedung asrama. Begitu Tina keluar dari mobil, gadis itu langsung menjadi


pusat perhatian banyak pria. 'Kaya dan cantik... pikir mereka. Saat pertama kali


melihat Tina, tidak akan ada yang menyangka bahwa penampilannya sangat berbeda


dengan karakter aslinya. Sayangnya, Tina adalah gadis yang cantik, tetapi pemarah.


Ketika Matt masuk ke dalam mobil Tina, orang-orang itu sepertinya terkejut. Dalam


hati mereka membatin, "Benar saja, kalau kamu tampan, kamu bisa mendapatkan


segalanya.'


Pada saat yang sama, ada juga beberapa orang yang menganggap Matt sebagai


berondong simpanan, dan menganggapnya telah merusaak martabat pria.


Matt tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka, namun dia tidak ingin ambil


pusing dan segera masuk ke dalam mobil, lalu pergi.


"Matt, kenapa aku merasa kamu sangat berbeda sekarang?"


Di dalam mobil, Tina menatap wajah Matt, bahkan merasa iri padanya. Sebagai


seorang wanita, dia selalu merawat kulitnya dengan baik. Tina berpikir, 'Bagaimana


bisa kulitku terlihat sangat kasar dibandingkan dengan kulit Matt?'


"Benarkah? Kurasa tidak."


Matt menatap Tina dengan raut wajah yang kebingungan, sama sekali tidak tahu apa


maksud gadis itu.


"Kamu ini! Huh, apakah kamu melakukan operasi plastik? Kulitmu lebih bagus


daripada wanita, tapi kamu menyadarinya."


Tina terus memperhatikan kulit Matt dengan rasa iri. Semakin dilihat, semakin dia


merasa kesal.


"Oh, itu maksudmu ... Mungkin karena aku tidak pernah keluar ruangan


akhir-akhir ini."

__ADS_1


Tentu saja Matt tidak berani mengatakan yang sebenarnya.


__ADS_2