
Tidak masalah! Ikut aku, Matt, biar aku perkenalkan padamu." Leon berjalan di depan dan
Matt mengikutinya di belakang.
"Ini ikan tawar dan yang itu adalah ikan mas rumput. Sementara yang lainnya adalah berbagai
jenis ikan mas. Aku menjual berbagai macam bibit ikan biasa di sini," ucap Leon sambil
menunjuk beberapa jenis bibit ikan.
"Kalau begitu biar aku pikirkan jenis ikan apa yang harus aku beli."
Matt pun berpikir sejenak. Mengingat ukuran Sungai Taman Peri, dia pun akhirnya membeli
masing-masing 100 bibit ikan tawar dan ikan mas.
"Aku akan membeli 100 ikan tawar dan 100 ikan mas," ucap Matt seraya menatap Leon.
"Baiklah ! Tunggu sebentar, temanku. Semuanya menjadi 200 bibit ikan. Tidak masalah sama
sekali. Aku akan segera mengambilkannya untukmu."
Leon langsung mengambil peralatannya dan membantu Matt untuk mengemas ikan. Berhubung
Matt hanya membeli sedikit bibit ikan, Leon mengemasnya ke dalam dua kantong plastik.
"Oke, terima kasih."
Kemudian, Matt membayar pesanannya, menerima ikan tersebut, dan meninggalkan
peternakan bibit ikan. Sebetulnya, Leon merasa khawatir beberapa ikan akan mati sebelum
Matt sampai di rumahnya karena pria itu hanya membeli 200 bibit ikan.
Namun, Matt langsung mengunci diri di kamarnya dan pergi ke Taman Peri sesampainya di
rumah. Dia langsung menjatuhkan semua bibit ikan ke Sungai Taman Peri. Berhubung dia
berencana untuk meminum air di sungai, dia mengatur ruangnya sehingga ikan-ikan itu berada
di hilir sungai. Dia menghalangi ikan-ikan tersebut mencapai area Kolam Taman Peri supaya dia
masih bisa mengambil air dari sana.
Ternyata, banyak bibit ikan yang mati akibat di kantong plastik terlalu lama. Namun, ikan-ikan
itu dengan cepat mendapatkan kembali kehidupan mereka setelah ditempatkan di Sungai
Taman Peri, mereka semua berenang dengan lincah di air. Sebetulnya, masih banyak ruang di
sungai tersebut, tetapi Matt berencana untuk membiarkan mereka tumbuh terlebih dahulu dan
bereproduksi sendiri.
Ikan-ikan besar alkan menghasilkan ikan-ikan kecil. Sementara itu, ikan-ikan kecil akan tumbuh
dan menetaskan lebih banyak ikan kecil. Setelah bereproduksi sampai batas tertentu, dia bisa
menjualnya dan akhirnya menghasilkan uang dengan jumlah yang cukup besar.
Setelah memasukkan ikan-ikan tersebut ke sungai, akhirnya semuanya sudah selesai. Matt lalu
menepuk tangannya dan berjalan ke pohon persik untuk memetik buahnya. Kemudian, dia
mengambil semangka yang dia tanam sebelumnya dan meninggalkan Taman Peri.
Semangka ini ditanam belum terlalu lama. Jika dia tidak kebetulan melihatnya, Matt pasti sudah
melupakannya. Semangka ini harus segera dimakan.
Matt kembali ke dunia nyata dan bergegas ke dapur sambil membawa sebuah semangka di
tangannya, lalu memotongnya menjadi dua bagian. Wangi semangka sontak memenuhi seluruh
dapur. Daging meralh dan biji hitam dari buah itu membuat mulutnya berair. Matt memotong semangka dengan tidak sabar dan segera menghabiskan sepotong semangka itu
dalam waktu singkat. Kemudian, dia terus melahapnya sampai dia menghabiskan setengah
semangka lagi dan baru berhenti ketika dia merasa sangat kenyang. Dia melihat jam, ternyata
hari sudah sore dan waktunya untuk pergi ke kampus karena dia ada kelas nanti. Sekarang, dia
merasa sangat kenyang dan tidak perlu makan siang lagi.
Sambil menyentuh perutnya, Matt menelepon Will dan menyuruhnya untuk memberi tahu Beni
dan Zack untuk segera pergi ke kelas sebab mereka berempat mengambil kelas yang sama.
Kalau bukan karena Matt, ketiga temannya itu tidak akan tahu jadwal kelas mereka sama sekali
selama dua tahun menempuh perkuliahan.
Setelah selesai bersiap-siap, Matt menutup pintu rumah dan kemudian pergi ke kampus.
Sesampainya di kampus, Matt melihat sebuah mobil yang tidak asing terparkir di sana. Pada
saat ini, dia tidak tahu pemilik mobil itu dan hanya menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan
langkahnyamenuju kampus.
Begitu dia memasuki kampus, Matt melihat Tina yang berbalut gaun hijau dan memakai riasan
sedang berdiri di bawah naungan pohon, seperti sedang menunggu seseorang. Berhubung mereka sudah saling kenal, Matt tidak bisa mengabaikannya begitu saja, jadi dia menghampiri
Tina untuk menyapanya.
__ADS_1
Sebelum Matt sampai di tempatnya, Tina sudah melihatnya. "Matt!"
Matt mempercepat langkahnya setelah mendengar seruan Tina.
Tina, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Matt sambil tersenyum.
"Aku sedang menunggumu. Aku tahu kamu ada kelas hari ini, jadi aku datang ke sini."
Tina tersenyumn sambil bercanda.
Pria tampan dan wanita cantik itu mengobrol dan tertawa di bawah rindangnya pohon.
Daun-daun menghalangi sinar matahari, sehingga hanya seberkas cahaya yang menyinari mereka.
"Dari mana kamu tahu aku ada kelas?"
Matt langsung menyesalinya begitu menanyakannya. 'Apa yang aku bicarakan? Tina adalah
seseorang yang bisa lulus setiap mata pelajaran meskipun tidak pernah menghadiri satu kelas
pun! Tentu saja dia bisa dengan mudah mengetahui jadwal kelasku,' pikirnya. Haha! Aku tidak punya banyak pekerjaan hari ini. Selain itu, aku sudah lama tidak masuk
kelas. Ayo, aku temani ke kelas," ucap Tina seraya mengaitkan lengannya di lengan Matt.
"Hm ..." Matt selbetulnya agak enggan. Jika Tina pergi ke kelas bersamanya, pasti akan ada
gosip lagi nanti.
Selama ini, dia selalu mengabaikan orang lain. Ketiga temannya aja sudah cukup membuatnya
tertawa dan bahagia.
"Hei! Kamu membenciku atau bagaimana? Kenapa kamu terlihat sangat enggan padahal ditanya
oleh orang cantik sepertiku?"
Tina merasa geram melihat reaksi Matt dan memukul tubuhnya pelan.
"Oh, bukannya aku tidak mau. Aku sedang berpikir, bukankah kita berdua akan terlalu
mencolok jika berjalan bersama?"
Matt mnembuat alasan.
"Dih, siapa yang peduli? Ayo, ke kelas. Ayo! Kita akan terlambat."
Pada akhirnya, Tina menggandeng tangan Matt dan berjalan menuju ruangan kuliah.
Matt menatap Tina tanpa berkata-kata dan berpikir, Hah? Apa kamu yakin takut terlambat?'
Matt menggeleng dan mempercepat langkahnya juga. Jika dia tidak berjalan cepat, sudah pasti
dia akan terlambat.
"Hei, Matt, kenapa kamu terlambat? Kemarilah."
setidaknya sepuluh menit sebelumnya, tetapi hari ini dia datang agak terlambat.
Beni dan Zack juga mengarahkan pandangan mereka pada Matt. Mereka tidak mengenali Tina
yang berjalan di sebelah Matt, mengira wanita itu hanyalah teman sekelas mereka yang sedang
lewat.
"Aku di sini. Sesuatu terjadi dalam perjalananku ke sini, jadilah aku terlambat."
Matt mnelihat mereka dan duduk di kursinya.
"Hei, pria-pria tampan. Apa kalian tidak mengingatku?"
Meskipun mereka tidak mengenali Tina, dia tidak merasa tersinggung.
"Hah? Tina, kenapa kamu di sini? Kami tidak terlalu memperhatikanmu tadi," kata Zack kepada
Tina dengan canggung dan memelototi Matt seolah-olah menyalahkannya karena tidak
mengingatkan mereka barusan.
Matt menyadari tatapan mata Zack tersebut dan mengangkat bahunya, menandakan bahwa itu
bukan urusannya.
"Matt, saat kamu mengatakan sesuatu terjadi dalam perjalanan tadi, apa maksudmu Tina?"
tanya Beni yang akhirnya mengetahui kebenarannya.
"Seperti itulah. Tina juga kuliah di kampus kita, juga satu angkatan dengan kita." Matt mengungkapkan berita yang mengejutkan ketiga temannya, sementara Tina mnemandang
mereka dengan puas.
"Apa? Dia juga kuliah di sini dan teman satu angkatan? Jangan bilang dia juga berada di jurusan
yang sama dengan kita?" Zack berseru keras.
Namun, pada saat itu, dosen telah memasuki kelas dan akan memulai pembelajaran. Zack
segera mendapatkan konsekuensi atas kegembiraannya itu. Reaksi Zack tadi telah menarik
perhatian dosen tersebut.
"Permisi, apakah kamu punya pertanyaan? Apa kelas ini membuatmu tidak puas? Jika tidak
ada masalah, tolong diam! Selkarang, kelas sudah dimulai, alku tidak ingin membuang waktuku
untuk berbicara omong kosong padamu. Tolong jaga kelakuanmu! Aku akan melepaskanmu kali
__ADS_1
ini," ucap dosen itu tegas.
Sebelumnya, Zack sedang berdiri. Setelah dosen tersebut menyelesaikan kata-katanya, Zack
diminta untuk duduk bahkan sebelum dia bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Begitu dosen memulai kelas, tidak ada lagi yang berani berbicara. Tina juga tampak fokus di
kelas. Terkadang, dia memang tampak seperti gadis yang kuat. Satu jam pun berlalu dan
perkuliahan hari ini sudah selesai.
Saat kelimanya keluar dari kampus, mereka tidak sengaja melihat sekitar belasan pemuda
berandalan sedang menindas seorang mahasiswa baru tidak jauh dari sana. Mahasiswa baru itu
terlihat kurus dan lemah, dia juga memakai kacamata dan memegang beberapa buku di
pelukannya. Penampilannya khas seorang mahasiswa yang baik dan tampaknya akan kembali
ke kampus setelah membeli beberapa buku dari toko buku terdekat.
Matt tidak bisa mentolerir pemandangan seperti itu. Dia tidak suka melihat orang yang kuat
menindas yang lemah, kemudian dia refleks bergegas menghampiri mereka. Namun, Zack
menariknya kembali. "Matt, kamu mau ke mana?
"Ada yang sedang dirundung di sana dan sepertinya orang itu adalah junior kita. Sebagai senior,
aku tidak bisa diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Aku tidak akan mentolerir tindakan ini
dan aku paling benci orang seperti ini!" kata Matt penuh amarah sambil menepis tangan Zack.
"Apakah kamu bercanda? Jumlah mereka lebih dari sepuluh, dan kita hanya berlima, belum lagi
hanya empat yang bisa bertarung. Lihatlah orang lain yang berjalan di sekitar mereka. Tidak
ada yang berani melerainya."
Zack menunjuk orang-orang yang lewat dan mendesak Matt untuk tidak ikut campur dalam
masalah ini.
Bukannya teman-temannya tidak ingin terlibat, tetapi berkelahi dengan mereka tidak akan
menyelesaikan ini dengan mudah. Pihak lain memiliki banyak anggota, bahkan mereka semua
memegang tongkat dan pisau. Matt dan teman-temannya tidak bisa bertindak gegabah untuk
menyelamatkan junior tersebut dan kemungkinan mereka yang akan terluka.
Tina tidak mengatakan apa pun karena dia ingin melihat apa yang akan dilakukan Matt.
"Tidak apa-apa. Percayalah padaku. Ayo, kita bantu ia."
Matt tidak menganggap serius perkataan Zack. Dia tahu jika bocah itu tidak memberikan
uangnya pada para perundung itu, dia akan dipukuli habis-habisan oleh mereka. Selain itu, para
berandal itu juga terlalu sombong, jadi mereka harus membayar tindakan mereka. Ketiganya saling memandang dan mereka semua melihat ketidakberdayaan di mata
masing-masing. Karakter Matt sedikit keras kepala. Apa yang sudah dia putuskan tidak dapat
diubah, tapi mereka masih ada perasaan loyalitas, kalau Matt mau membantu, maka mereka
akan membantu!
Mereka berlima berjalan menghampiri para berandal itu yang langsung menarik perhatian
mereka. Tatapan mereka bukan tertuju pada Matt yang ingin melawan mereka, tetapi pada
Tina.
Tentu saja kedatangan Matt dan teman-temannya akan menjadi berita buruk bagi mereka.
Namun, saat mereka melihat Tina yang cantik, semua perhatian mereka menjadi terfokus
padanya.
"Apa yang kamu lihat, dasar bajingan?" Tina membentak mereka. Dia merasa tidak nyaman
ditatap oleh banyak orang sekaligus.
"Wow, aku tidak menyangka dia begitu galak. Dia persis seperti tipe gadis yang aku suka.
Haha!"
Pemimpin berandalan itu tidak menganggap serius omelan Tina. Terlebih ini bukan pertama
kalinya dia melakukan hal seperti itu.
"Hm! Kamu terlalu sombong," kata Matt sambil mengerutkan keningnya.
"Hei, dari mana kamu datang, bocah? Apakah kamu ingin mati? Beraninya kamu ikut campur
dalam urusanku? Apakah kamu tahu siapa aku? Aku Chandra Sharma!"
"Jika kamu berani menyentuhnya, kamu yang akan mati," jawab Matt acuh tak acuh.
"Hei, memangnya wanita ini siapamu? Kenapa kamu begitu mengkawatirkannya?" Chandra
bertanya dengan nada penuh sarkasme.
"Dia adalah pacarku!"
__ADS_1
Matt memelototi Chandra dengan ekspresi merengut. Baginya, orang-orang seperti itu
seharusnya tidak ada di dunia ini.