
Sebetulnya, Julio dan Yudi sedang merenungkan apa yang harus dibawa jika mereka pindah.
Mereka tidak menyangka Susan berpikiran tentang sewa rumah sampai-sampai dia
menurunkan 1,2 juta rupiah dari harga avwal sewa. Meskipun 1,2 juta rupiah tidak banyak, tetap
saja uang sejumlah itu jika dibagi secara rata bisa mereka gunakan untuk membeli makan
malam.
Mereka pasti akan dicap bodoh jika tidak memanfaatkan tawaran itu.
Lantas, Julio menatap Yudi untuk memastikan jawaban akhir mereka. Dia langsung merasa
bahagia, berpura-pura merenung sebentar, lalu mengangguk.
"Oke, Nyonya Susan. Kami sangat beruntung bisa mengontrak sebuah rumah seharga 7 juta
rupiah saja. Terima kasih," ujar Julio pada Susan.
Susan sontak menjawab, "Baiklah, kita sudah sepakat! Tidak masalah. Kapan kalian akan
pindah? Namun sebelumnya, kalian harus menandatangani kontrak dan membayar seperempat
dari biaya sewa."
"Semuanya tergantung Anda. Kami bisa menandatangani kontrak dan pindah sekarang juga,'
jawab Julio. Dia sempat berpikir sejenak lalu memutuskan untuk menandatangani kontrak
secepat mungkin, dia khawatir Susan akan menarik kembali kata-katanya.
"Kalau begitu, mari kita selesaikan sekarang saja. Aku juga sedang terburu-buru untuk pergi ke
luar negeri. Setelah kalian menandatangani kontrak, aku bisa pergi hari ini. Ini dia, aku sudah
menyiapkannya."
Susan langsung mengeluarkan kontrak tersebut. Julio, Yudi, dan Matt menulis nama mereka
masing-masing, lalu seperempat dari biaya sewa akan ditransfer ke rekening bank Susan besok
pagi.
Pada akhirnya, Matt dan Julio telah berhasil menyewa sebuah rumah. Masing-masing dari
mereka mendapatkan kunci setelah menandatangani kontraknya. Selanjutnya, mereka akan
pindah hari itu juga karena Susan akan langsung pergi ke Negara Aksara.
"Matt, apa aku boleh bertanya tentang pekerjaanmu?" tanya Julio.
'Oh, tentu saja, aku lupa memberitahumu. Aku mahasiswa tingkat kedua di Universitas
Jayakota. Aku merasa kurang nyaman tinggal di asrama, jadi aku memutuskan untuk menyewa
sebuah rumah saja," jawab Matt sungguh-sungguh.
"Oh, begitu. Kamu memang terlihat seperti seorang mahasiswa. Oh ya, aku dan Yudi bekerja di
sebuah perusahaan di pusat kota. Kami baru saja lulus dari universitas dan akhirnya
mendapatkan perusahaan dengan gaji yang layak, tetapi perusahaan itu tidak menyediakan
mes, jadi kami harus menyewa rumalh. Terlebih lagi, harga sewa sebuah rumah sangat mahal
akhir-akhir ini. Di kota ini, untuk menyewa lahan saja bisa mengeluarkan 12 juta rupiah sebulan,
jadi aku tidak punya pilihan selain menyewa rumah," jelas Julio seraya mendesah.
Matt merasa lega saat mengetahui bahwa keduanya adalah pekerja kantoran. Dengan begitu,
mereka akan meninggalkan rumah lebih awal dan kembali larut malam. Matt tidak perlu
mengkhawatirkan mereka jika kamarnya tiba-tiba berisik. Setelah mengucapkan selamat
tinggal, mereka bertiga kembali ke tempat masing-masing untuk membawa barang bawaan
mereka.
Matt juga segera kembali ke asramanya dan memberi tahu teman-temannya bahwa dia akan
pindah. Hal ini membuat Beni, Zack, dan Will sangat terkejut. Mereka tahu bahwa keluarga
Matt sangat sederhana, sudah pasti mereka akan terheran-heran bagaimana Matt bisa
menyewa sebuahrumah.
Ketiganya langsung teringat akan topik yang mereka bicarakan tadi malam. "Jangan-jangan,
Matt adalah berondong simpanan sungguhan? Apakah dia menjauhi kita karena dia sekarang
sudah kaya?"
"Matt, kamu serius? Kenapa kamu tampak seperti orang yang berbeda setelah kecelakaan
mobil itu? Aku tidak bisa menerima versi barumu ini," ujar Zack. Dibandingkan dengan Matt
yang dahulu, Zack merasa bahwa sikap Matt telah banyak berubah, dia tidak seceria dan
secerewet dahulu lagi.
"Benarkah? Aku merasa baik-baik saja." Matt tidak bisa memberi tahu siapa pun bahwa kini dia
memiliki sebuah Taman Peri. Lagi pula, tidak akan ada yang memercayainya, mereka mungkin
akan berpikir bahwa dia telah kehilangan akal sehatnya.
"Lantas, kenapa tiba-tiba kamu menjadi begitu kaya? Kamu telah mengganti ponsel dan
laptopmu, bahkan sekarang menyewa sebuah rumah. Ceritakan pada kami! Jika kamu tidak
memberi tahu cerita yang sebenarnya, kami tidak akan membiarkanmu pergi!" Beni
mengancam Matt dan berharap Matt akan mengungkapkan kebenarannya.
"Baiklah, baiklah. Aku akan menceritakan semuanya." Matt meletakkan kedua tangannya di
atas kepala tanda menyerah.
Selanjutnya, dia menjelaskan secara singkat bahwa selama ini dia menjual sayuran di pasar
__ADS_1
petani. Berhubung dirinya memiliki koneksi khusus, sayur-sayuran yang dijualnya menjadi
populer, jadi dia menjualnya dengan harga lebih tinggi dan mendapatkan banyak uang dalam
waktu singkat. Dia juga mengajak mereka untuk menemuinya di pasar esok hari. Setelah
penjelasan panjang dari Matt, barulah mereka memercayai apa yang dikatakan Matt serta
setuju untuk mengunjunginya besok.
Setelah memperjelas semuanya, Matt berkemas untuk pindah ke rumah barunya. Dia berkata,
"Bagaimana kalau malam ini kalian ikut ke rumah sewaku untuk merayakannya? Ini akan
menjadi pesta pindah rumah."
Untuk mnembujuk teman-temannya, Matt mengatakan bahwa sayur-sayuran dari Taman Peri
terasa sangat lezat. Berhubung ada dapur di rumah sewanya, dia menawarkan ketiga
temannnya untuk mencicipi sayuran itu malam ini.
"Baiklah. Kami akan pergi bersamamu untuk melihat rumah barumu. Melihatmu pindah dari
asrama membuatku juga ingin menyewa rumah yang jauh dari sini," komentar Beni dengan
nada penuh harapan.
Saat itulah Zack menatap Beni dan berkata, "Sama. Aku juga memikirkannya ..."
"Kalau kalian semua pindah, hanya aku seorang yang akan tinggal di asrama. Itu sama saja
dengan hidup sendiri," timpal Will dengan raut wajah kecewa.
"Ha! Itu adalah ide yang bagus. Dengan begitu, kita semua akhirnya memiliki ruang
sendiri-sendiri. Bukankah ini sempurna? Aku akan mencari rumah besok. Bagaimana
denganmu, Zack?" Beni tertawa terbahak-bahak, dia merasa ide itu cukup bagus bagi mereka.
Aku juga akan mencari rumah sewa. Ayo kita mencari rumah bersama besok," ajak Zack
seraya mengedipkan mata pada Beni.
"Oke. Selkarang, ayo kita pergi ke rumah baru Matt!" ucap Beni sambil melambaikan tangannya.
Selanjutnya, keempat kawan itu membawa barang-barang Matt dan pergi menuju rumah sewa
Matt yang baru.
Sesampainya di sana, Matt langsung mengajak mereka ke kamarnya untuk melihat-lihat.
"Tempat ini tidak buruk. Lokasi dan tata letak keseluruhan bangunannya juga lumayan bagus,"
kata Zack setelah menelusuri rumah tersebut.
"Hei, Matt, di mana dua pria yang menyewa rumah ini bersamamu?" tanya Beni penuh
penasaran setelah menulusuri rumah dan tidak menemukan siapa pun selain mereka.
"Oh, tempat tinggal lama mereka jauh dari sini. Mungkin mereka belum selesai mengemasi
Mendengar jawaban Matt, Beni tidak bertanya lebih banyak tentang keduanya. Dia mulai
penasaran dengan menu makan malam karena waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Baiklah, kapan makan-makannya dimulai?"
"Oh, benar. Aku akan turun untuk memasak di dapur setelah merapikan barang-barangku.
Kalian bisa duduk di ruang tamu dan menonton televisi sampai makanannya siap," balas Matt
sembari membereskan barang-barangnya.
Tidak lama kemudian, Julio dan Yudi pun tiba. Lantas, Matt memperkenalkan teman-temannya
kepada mereka dan tidak lupa memberi tahu bahwa teman-temannya akan ikut makan malam.
Julio dan Yudi tidak merasa keberatan, mereka justru senang karena rumah tersebut menjadi
ramai.
Julio tampaknya memang orang yang senang bersosialisasi. Begitu dia selesai membereskan
barang-barangnya, dia segera mengajak teman-teman Matt yang berada di ruang tamu untuk
bermain kartu. Sementara itu, Matt sedang berada di dapur. Dia mengecek isi kulkas Susan dan
hanya menemukan beberapa butir telur di sana. Setelah merenung sejenak, dia memutuskan
untuk pergi ke pasar petani untuk membeli daging dan ikan seberat 1 kilogram. Sekembalinya
dari pasar petani, dia segera mengolah bahan makanan tersebut di dapur. Beruntung Susan
buru-buru pergi, dia meninggalkan banyak persediaan dapur dan Matt bisa menggunakannya,
seperti beras dan kebutuhan lainnya.
Selain itu, Matt hanya alkan menggunakan sayuran dari Taman Peri. Setelah memastikan dia
hanya sendirian di dapur dan tidak ada yang menyadarinya, dia mengeluarkan sayur-sayuran
dari Taman Peri.
Matt berencana untuk membuat sup ikan dicampur dengan tomat. Lagi pula, kebunnya
memiliki kelebihan pasokan tomat. Telur di kulkas bisa dimasaknya menjadi telur orak-arik
dicampur dengan tomat. Selain itu, dia juga bisa membuat ayam goreng dengan sup sayur
wortel dan kubis,
Hidangan pertama adalah telur orak-arik dicampur dengan tomat. Setelah menggoreng telur,
Matt memasukkan beberapa tomat ke dalam wajan, membiarkan wewangian kedua bahan
berpadu menjadi aroma yang menggiurkan.
Kelima orang yang sedang bermain kartu di ruang tamu sontak menjulurkan kepala mereka di
pıntu dapur. Mereka sudah tidak tertarık lagı dengan permanan kartu tersebut. Sebetulnya,
__ADS_1
Matt sudah menduga, tetapi tindakan mereka yang berlebihan itu di luar dugaannya.
"Matt, aku tidak pernah tahu kalau telur orak-arik dicampur dengan tomat bisa beraroma
sangat lezat seperti ini." Zack menelan ludah, dia sangat tergiur dengan telur orak-arik
dicampur dengan tomat tersebut.
"Hei, bersabarlah. Kalian harus menunggu sampai menu makan malam siap. Tidak boleh
mengintip!" Matt terkekeh.
Seperti yang diduga, hidangan yang dibuat dengan sayuran dari Taman Peri memiliki rasa yang
khas. Bahkan, sup sayur yang paling biasa pun memancarkan aroma yang memnikat.
Matt belum selesai memasak, tetapi semua orang sudah menunggunya di meja makan. Julio
terus memukul pelan mangkuk dengan sendoknya, suaranya meningkatkan konsentrasi mereka
pada aroma hidangan tersebut.
Hidangan terakhir adalah sup ikan dicampur dengan tomat yang segera tersaji di atas meja.
Ketika Matt berseru bahwa makan malam sudah siap, mereka semua, termasuk Matt sendiri,
buru-buru memegang piring masing-masing. Sebenarnya, Matt ingin sekali mencicipi
masakannya, tetapi dia berusaha menalhannya. Bahkan, perutnya sudah protes sepanjang
waktu.
"Matt, sup kubis ini enak sekali. Bagaimana kamu memasaknya? Aku belum pernah merasakan
sayur kubis seenak ini! Dahulu, aku akan muntah setiap melihat kubis di piringku," gumam Will
sambil menyuap sesendok makanan ke mulutnya.
"Haha, tidak, tidak. Aku memasaknya seperti kebanyakan orang. Bagian terpenting saat
memasak adalah bahan-bahannya. Ini adalah sayur-sayuran yang aku katakan pada kalian tadi.
Aku menjualnya baru-baru ini di pasar petani," kata Matt dengan jujur.
"Apa kamu tahu aku ingin menghajarmu sampai babak belur sekarang? Beraninya kamu
merahasiakan makanan seenak ini dari kamni! Apa kamu tidak tahu bahwa seseorang tidak akan
menghargai sesuatu sampai mereka mencobanya? Aku tidak mungkin mengabaikan makanan
lezat seperti ini lagi!" Will berbicara dengan galak sebelum memasukkan suapan besar satu
sendok kubis ke dalam mulutnya untuk menunjukkan kemarahannya.
Sementara itu, yang lainnya tidak mengatakan apa pun. Mereka hanya sibuk melakukan dua hal
pada saat itu. Yang pertama adalah mengangkat kepala untuk memilih hidangan mana yang
akan dimakan dan yang kedua adalah menundukkan kepala untuk memakannya. Begitu Will
mengarahkan pandangannya pada teman-temannya, dia tidak lagi menggerutu dan malah
meniru sikap mereka untuk menghargai makanan yang sangat lezat itu.
"Astaga, kalian tidak perlu terlalu fokus begitu. Ini bukan kesempatan terakhir kalian untuk
mencicipi masakanku."
Sebetulnya, Matt jarang sekali mengolok-olok mereka.
Setelah mendengar perkataan Matt, semua orang seketika menghentikan apa yang mereka
lakukan dan mendongak menatapnya, mengabaikan makanan enak di tangan mereka untuk sesaat,
"A-Apa kamu serius?" tanya mereka serempak.
Beni bertanya setelah mnenelan makanan di mulutnya sambil menyunggingkan senyum cerah.
Apa aku bermimpi?" Yudi menyentuh pipinya sembari bertanya pada Julio.
"Aku masih di sini, jadi ini nyata! Kamu tidak sedang bermimpi," jawab Julio yang begitu
bersemangat hingga hampir menangis.
Pada saat itu, Zack meletakkan alat makannya dan sontak memegang kedua tangan Matt
dengan penuh semangat, lalu berkata, "Kami alkan sering mengunjungimu mulai sekarang!"
"Oh, hentikanlah! Kalian akan makan atau tidak? Kalau tidak mau memakan hidangannya lagi,
aku akan membuangnya," ancam Matt seraya menunjuk piring-piring di meja makan.
"T-Tidak! Jangan pedulikan kami. Kami akan memakan semuanya. Mari kita nikmati makanan
ini, teman-teman!" Setelah itu, yang terdengar hanya suara mereka yang sedang menikmati
semua makanan itu. Beberapa menit kemudian, semua piring sudah kosong. Sup sayur bahkan
sudah habis.
Groaak!
Setelah makan malam, keenam orang itu berbaring di sofa. Seseorang bersendawa dengan
keras, tetapi tidak ada yang berani mnenegurnya karena mereka juga pasti akan bersendawa.
"Sial! Seharusnya aku makan lebih banyak!" Beni berseru pada dirinya sendiri. Dia masih
merasa belum puas.
"Benar se ...."
Groaak!
Zack yang sedari tadi berpura-pura bahwa bukan dia yang bersendawa, kembali bersendawa
dan malah mengekspos dirinya.
Tidak ada yang mengatakan apa pun karena semua orang terlalu kenyang saat ini. Semua orang
justru duduk di sofa seperti tumpukan mayat.
__ADS_1