
Ketika sedang melakukan kultivasi kesadaran, beberapa bercak hitam muncul di
kulit Matt. Sebetulnya, sejak kesadarannya memasuki Taman Peri, Matt tidak
menyadari perubahan pada tubuhnya. Saat ini, dia masih dalam tahap pemulihan
supaya bisa berkultivasi kembali.
Pada keesokan harinya, Matt bangun pagi-pagi sekali karena harus pergi menjual
sayur-mayur hasil panen.
Begitu kesadarannya kembali ke dalam tubuhnya, dia merasa ada yang aneh.
Sekujur tubuhnya terasa lengket, dan dia terperangkap.
"Sial! Apa yang terjadi?"
Matt sontak melihat tubuhnya yang telah dipenuhi bercak hitam berbau busuk. Dia
pun segera berlari ke kamar mandi, memutar keran air sekencang-kencangnya, dan
menggosok bercak-bercak hitam itu dengan sekuat tenaga sampai benar-benar
hilang.
"Ya ampun, Matt. Kamu kenapa? Apa yang kamu makan semalam? Baunya
menyengat sekali!"
Terdengar suara Zack dari luar kamar mandi. Matt terlalu sibuk membersihkan diri
sehingga tidak memedulikannya.
Setengah botol sabun mandi hampir habis, bercak-bercak hitam dan bau yang
menempel di tubuh Matt akhirnya menghilang. Dia pun bisa bernapas lega.
Ketika Matt keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada, tiga orang pria yang
berdiri di luar pintu menatapnya keheranan.
"Kamu makan apa, sih? Bilang saja, kamu makan apa?" desak Beni.
"Katakan sejujurnya. Jangan bohong!" Zack ikut menimpali desakan Beni.
"Kalau kamu menyantapnya lagi lain kali, kamu akan mampus!" ancam Will, begitu
juga dengan Zack.
Matt tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semua itu kepada teman-temannya.
Dia bertanya-tanya dalam hati apakah bau tubuhnya tadi memang begitu busuk.
Kurasa baunya tidak seburuk itu,' pikirnya dalam hati.
Matt mengabaikan ancaman mereka, lalu mengenakan pakaian dan berpamitan
hendak pergi Kemudian dia bergegas menuju pasar petani, tempatnya menyewa
__ADS_1
sebuah kios untuk berdagang. Dia mengendarai gerobak motor berisi tiga keranjang
barang dagangan, timbangan elektorinik, dan beberapa kantong plastik.
Seperti biasanya, Matt terlebih dahulu mengendarai gerobak motor itu ke tempat
yang sepi. Setelah memastikan tidak ada orang lain di sana, dia pun segera
memasuki Taman Peri. Kemudian dengan penuh semangat, Maxim dan Matt
mengerahkan tenaga untuk memanen sayur.
Mereka hanya memasukkan kubis, wortel, dan tomat ke dalam keranjang
masing-masing untuk dijual nanti. Sisa sayuran lainnya disimpan di Taman Peri.
Lagipula, segala tanaman yang berada di Taman Peri tidak akan pernah membusuk
dan akan selalu tampak segar.
Matt telah mempelajari tentang cara berbisnis dan kali ini dia menggunakan metode
kapitalisme monopoli. Karena itulah dia hanya menjual satu keranjang untuk
masing-masing sayuran. Biasanya, barang dagangan yang langka dan jumlahnya
terbatas akan laris manis. Meskipun harganya cukup mahal, pasti akan tetap ada
yang membelinya.
Matt kemudian mengendarai gerobak motor itu, dan akhirnya sampai di kios yang
berkerumun menunggunya di sekitar kios itu.
"Aku akan memberi tahu kalian sesuatu yang menakjubkan. Setelah membeli kubis
dari kios ini, aku membuat tumis kubis dicampur daging ayamn yang sederhana.
Cucuku yang sama sekali tidak menyukai sayuran mencicipi tumis kubis itu, dan
dengan ajaib melahapnya sampai habis. Tak henti-hentinya dia memuji kelezatan
masakanku. Ternyata, bukan hanya kita yang menganggap sayuran dari kios ini
enak," kata seorang wanita paruh baya kepada wanita di sampingnya sambil
tersenyum lebar.
"Iya, memang benar. Sepulang dari belanja di kios ini waktu itu, aku membuat
ravioli dengan isian kubis dan daging ayam. Anak-anak melahapnya sampai bersih
sebab rasanya sangat enak. Aku juga berpikir demikian, karena itu akan kubeli lebih
banyak sayuran kali ini," ujar wanita lain.
Para wanita dalam kerumunan itu mulai membicarakan sayur-mayur yang dijual
Matt. Mereka terus memuji kelezatannya, meskipun sayuran itu hanya diolah
__ADS_1
menjadi hidangan yang biasa saja.
Memang banyak orang tua yang mengeluh tentang anak-anak mereka yang tidak
menyukai sayuran dan hanya menggemari makanan ringan, minuman berSoda, dan
jenis makanan cepat saji lainnya. Tidak ada satu pun dari anak-anak mereka yang
menyukai masakan rumahan. Berhubung sayur-mayur dagangan Matt bisa
membuat anak-anak menyukai makanan sehat, para wanita itu menjadi
bersemangat untuk membelinya lagi.
Begitu Matt menarkir gerobaknya, para pria dan wanita yang tadi berkerumun kini
datang membantunya. Mereka mengeluarkan keranjang sayuran dari gerobak.
"Anak muda, kamu akhirnya datang juga. Sepertinya kamu membawa sayuran baru
lagi hari ini. Harga tomat ini cukup mahal, tetapi aku tidak mempermasalahkannya
Seorang wanita melirik sayur-mayur di keranjang dan mengeluh karena Matt datang
terlambat. Wanita itu terkejut melihat tomat yang dijual seharga 35 ribu rupiah per
kilogram.
"Ya, harganya sepadan dengan kualitasnya. Hanya ini sayuran yang bisa saya jual
untuk hari ini. Maaf karena saya tidak membawa banyak."
Sebetulnya, Matt sengaja membatasi jumlah sayuran yang dijualnya.
Awalnya, Matt merasa khawatir kerumuman itu akan menjadi ricuh setelah talhu
sayuran yang dijualnya hanya sedikit. Namun, melihat orang-orang yang mulai
mengantre dengan tertib, kekhawatirannya pun sontak sirna.
"Apakah kamu heran? Kami sudah membuat kesepakatan. Supaya semua orang
bisa mendapatkan bagian, mereka yang terlebih dahulu mengantre di depan, lain
kali akan mengantre di belakang. Selain menghemat waktu, pembagian ini juga
cukup adil. "
Aturan itu dibuat oleh seorang pria yang merupakan pengunjung pertama kios Mat.
Matt pun mengangguk setuju. Tidak ada yang membantah karena mereka ingin
menghemat waktu. Kerumunan yang sedang mengantre itu dengan senang hati
membeli sayuran dan segera menyingkir agar orang-orang di belakang juga
kebagian.
karena anakku menyukainya. Aku akan membeli lebih banyak hari ini."
__ADS_1