Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
bab 16


__ADS_3

Ketika sedang melakukan kultivasi kesadaran, beberapa bercak hitam muncul di


kulit Matt. Sebetulnya, sejak kesadarannya memasuki Taman Peri, Matt tidak


menyadari perubahan pada tubuhnya. Saat ini, dia masih dalam tahap pemulihan


supaya bisa berkultivasi kembali.


Pada keesokan harinya, Matt bangun pagi-pagi sekali karena harus pergi menjual


sayur-mayur hasil panen.


Begitu kesadarannya kembali ke dalam tubuhnya, dia merasa ada yang aneh.


Sekujur tubuhnya terasa lengket, dan dia terperangkap.


"Sial! Apa yang terjadi?"


Matt sontak melihat tubuhnya yang telah dipenuhi bercak hitam berbau busuk. Dia


pun segera berlari ke kamar mandi, memutar keran air sekencang-kencangnya, dan


menggosok bercak-bercak hitam itu dengan sekuat tenaga sampai benar-benar


hilang.


"Ya ampun, Matt. Kamu kenapa? Apa yang kamu makan semalam? Baunya


menyengat sekali!"


Terdengar suara Zack dari luar kamar mandi. Matt terlalu sibuk membersihkan diri


sehingga tidak memedulikannya.


Setengah botol sabun mandi hampir habis, bercak-bercak hitam dan bau yang


menempel di tubuh Matt akhirnya menghilang. Dia pun bisa bernapas lega.


Ketika Matt keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada, tiga orang pria yang


berdiri di luar pintu menatapnya keheranan.


"Kamu makan apa, sih? Bilang saja, kamu makan apa?" desak Beni.


"Katakan sejujurnya. Jangan bohong!" Zack ikut menimpali desakan Beni.


"Kalau kamu menyantapnya lagi lain kali, kamu akan mampus!" ancam Will, begitu


juga dengan Zack.


Matt tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semua itu kepada teman-temannya.


Dia bertanya-tanya dalam hati apakah bau tubuhnya tadi memang begitu busuk.


Kurasa baunya tidak seburuk itu,' pikirnya dalam hati.


Matt mengabaikan ancaman mereka, lalu mengenakan pakaian dan berpamitan


hendak pergi Kemudian dia bergegas menuju pasar petani, tempatnya menyewa

__ADS_1


sebuah kios untuk berdagang. Dia mengendarai gerobak motor berisi tiga keranjang


barang dagangan, timbangan elektorinik, dan beberapa kantong plastik.


Seperti biasanya, Matt terlebih dahulu mengendarai gerobak motor itu ke tempat


yang sepi. Setelah memastikan tidak ada orang lain di sana, dia pun segera


memasuki Taman Peri. Kemudian dengan penuh semangat, Maxim dan Matt


mengerahkan tenaga untuk memanen sayur.


Mereka hanya memasukkan kubis, wortel, dan tomat ke dalam keranjang


masing-masing untuk dijual nanti. Sisa sayuran lainnya disimpan di Taman Peri.


Lagipula, segala tanaman yang berada di Taman Peri tidak akan pernah membusuk


dan akan selalu tampak segar.


Matt telah mempelajari tentang cara berbisnis dan kali ini dia menggunakan metode


kapitalisme monopoli. Karena itulah dia hanya menjual satu keranjang untuk


masing-masing sayuran. Biasanya, barang dagangan yang langka dan jumlahnya


terbatas akan laris manis. Meskipun harganya cukup mahal, pasti akan tetap ada


yang membelinya.


Matt kemudian mengendarai gerobak motor itu, dan akhirnya sampai di kios yang


berkerumun menunggunya di sekitar kios itu.


"Aku akan memberi tahu kalian sesuatu yang menakjubkan. Setelah membeli kubis


dari kios ini, aku membuat tumis kubis dicampur daging ayamn yang sederhana.


Cucuku yang sama sekali tidak menyukai sayuran mencicipi tumis kubis itu, dan


dengan ajaib melahapnya sampai habis. Tak henti-hentinya dia memuji kelezatan


masakanku. Ternyata, bukan hanya kita yang menganggap sayuran dari kios ini


enak," kata seorang wanita paruh baya kepada wanita di sampingnya sambil


tersenyum lebar.


"Iya, memang benar. Sepulang dari belanja di kios ini waktu itu, aku membuat


ravioli dengan isian kubis dan daging ayam. Anak-anak melahapnya sampai bersih


sebab rasanya sangat enak. Aku juga berpikir demikian, karena itu akan kubeli lebih


banyak sayuran kali ini," ujar wanita lain.


Para wanita dalam kerumunan itu mulai membicarakan sayur-mayur yang dijual


Matt. Mereka terus memuji kelezatannya, meskipun sayuran itu hanya diolah

__ADS_1


menjadi hidangan yang biasa saja.


Memang banyak orang tua yang mengeluh tentang anak-anak mereka yang tidak


menyukai sayuran dan hanya menggemari makanan ringan, minuman berSoda, dan


jenis makanan cepat saji lainnya. Tidak ada satu pun dari anak-anak mereka yang


menyukai masakan rumahan. Berhubung sayur-mayur dagangan Matt bisa


membuat anak-anak menyukai makanan sehat, para wanita itu menjadi


bersemangat untuk membelinya lagi.


Begitu Matt menarkir gerobaknya, para pria dan wanita yang tadi berkerumun kini


datang membantunya. Mereka mengeluarkan keranjang sayuran dari gerobak.


"Anak muda, kamu akhirnya datang juga. Sepertinya kamu membawa sayuran baru


lagi hari ini. Harga tomat ini cukup mahal, tetapi aku tidak mempermasalahkannya


Seorang wanita melirik sayur-mayur di keranjang dan mengeluh karena Matt datang


terlambat. Wanita itu terkejut melihat tomat yang dijual seharga 35 ribu rupiah per


kilogram.


"Ya, harganya sepadan dengan kualitasnya. Hanya ini sayuran yang bisa saya jual


untuk hari ini. Maaf karena saya tidak membawa banyak."


Sebetulnya, Matt sengaja membatasi jumlah sayuran yang dijualnya.


Awalnya, Matt merasa khawatir kerumuman itu akan menjadi ricuh setelah talhu


sayuran yang dijualnya hanya sedikit. Namun, melihat orang-orang yang mulai


mengantre dengan tertib, kekhawatirannya pun sontak sirna.


"Apakah kamu heran? Kami sudah membuat kesepakatan. Supaya semua orang


bisa mendapatkan bagian, mereka yang terlebih dahulu mengantre di depan, lain


kali akan mengantre di belakang. Selain menghemat waktu, pembagian ini juga


cukup adil. "


Aturan itu dibuat oleh seorang pria yang merupakan pengunjung pertama kios Mat.


Matt pun mengangguk setuju. Tidak ada yang membantah karena mereka ingin


menghemat waktu. Kerumunan yang sedang mengantre itu dengan senang hati


membeli sayuran dan segera menyingkir agar orang-orang di belakang juga


kebagian.


karena anakku menyukainya. Aku akan membeli lebih banyak hari ini."

__ADS_1


__ADS_2