
"Mm ...." Mata wanita itu telah berbinar-binar. Sepertinya, bukan hanya Matt saja
yang menganggap wortel hasil perke bunan Taman Peri itu lezat.
"Rasanya enak, lezat, dan tidak keras," ucap pria tua itu sebelum wanita itu sempat
berkomentar.
"Iya, saya setuju. Rasanya beda sekali dengan wortel pada umumnya. Wortel ini
sangat lezat! Awalnya aku mengira akan diare setelah memakannya. Sepertinya,
wortel ini benar-benar jenis baru," timpal wanita itu.
Saat kedua lansia itu menbicarakan tentang wortel itu, warga lainnya sontak
mengepung kios dalam sekejap.
Seorang wanita, yang sepertinya pekerja kantoran, menunjuk kubis dan berkata
kepada Matt, "Wow, kubis ini terlihat bagus dan segar. Kami akan membuat ravioli
malam ini. Kurasa untuk isinya, kami tambahkan kubis dan daging ayam saja. Anak
muda, aku akan membeli kubisnya."
"Baik! Mohon tunggu sebentar."
Matt mengambil kubis dan menaruhnya di timbangan elektronik. Berat kubis
pesanan wanita itu adalah 2 kilogram.
"Berat kubis ini adalah 2 kilogram, jadi harganya 36 ribu rupiah."
Matt memasukkan kubis ke dalam kantong plastik, lalu menyerahkannya ke wanita
pekerja kantoran itu. Wanita itu pun meninggalkan kios Matt setelah melakukan
pembayaran dan melanjutkan berbelanjanya.
Dengan awal yang bagus, orang-orang di sekitar berdatangan untuk membeli
sayur-sayuran Matt. Bagaimanapun juga, sayur-sayurannya terlihat sangat segar.
"Tolong dua kubis dan tiga wortel."
"Tuan, aku ingin lima wortel."
"Aku ingin ...
Dalam sekejap, Matt sudah sangat sibuk melayani pembelinya. Penjualannya
tampak sangat bagus sehingga pemilik kios di sekitarnya menjadi cemburu. Mereka
semua mencoba bertanya dari mana Matt mendapatkan sayur-sayurannya, tetapi
__ADS_1
tidak menemukan jawabannya sama sekali.
Masih banyak orang-orang yang mengelilingi kios Matt, tetapi dua keranjang yang
berisi sayur-sayuran sudah kosong. Matt pun berkata dengan canggung, "Ah,
maafkan saya. Semua sayur-sayuran sudah terjual habis. Jika kalian masih ingin
membeli sayurannya, kalian bsa kembali besok lusa. Saya akan membawa lebih
banyak sayur-sayuran dan menjualnya di sini. Saya mohon maafuntuk hari ini"
"Kenapa? Kenapa kamu baru bisa berjualan lagi besok lusa? Apa tidak bisa besok?
Kalau begitu, di mana kami bisa membeli sayur-sayuran seperti milikmu besok?"
tanya seorang wanita tua.
"Benar .... " Suara semua orang yang tidak sempat membeli apa pun bergema.
"Jadi begini. Sayur-sayuran ini baru bagian pertama saja. Bagian berikutnya baru
akan siap paling cepat besok lusa. Apalagi ada jenis sayuran lain yang belum masak,
jadi saya belum bisa berjualan besok," jelas Matt kepada semua orang sambil
meminta maaf.
Dia juga ingin berjualan besok, tetapi sayur-sayurannya sudah tidak ada lagi di
Taman Peri. Matt telah menanam semua benih yang dia beli terakhir kali. Jadi, dia
"Baiklah, kalau begitu. Besok lusa kamu harus datang, ya. Jangan berbohong
denganku. Sayang sekali aku tidak bisa merasakan sayuran seenak ini meskipun
harganya memang sedikit mahal," ucap wanita tua itu lagi.
Matt mengangguk dan berkata, "Tidak masalah, tidak masalah. Saya akan datang
tepat waktu besok lusa." Kemudian, Matt memasukkan barang-barang di kios ke
gerobak dan mengembalikannya ke administrator pasar. Dia juga tidak lupa untuk
memberi tahu mereka bahwa Matt akan meminjamnya lagi besok lusa.
"Fiuh, aku ingin tahu berapa banyak yang aku hasilkan hari ini."
Matt menyentuh dompetnya yang sudah menggembung, yang sebagian besar berisi
uang kertas dan recehan. Matt pasti mendapatkan untung yang banyak
sampai-sampai dompetnya mengembung seperti balon.
Matt yang penuh dengan harapan pada akhirnya mendapatkan uang lagi. Dia
__ADS_1
memutuskan untuk kembali ke asramanya supaya bisa menghitung
penghasilannya. Pasar petani tidak jauh dari kampus. Hanya melewati beberapa
blok, jadi dia cukup berjalan kaki saja sekaligus mencari angin.
Matt kembali ke asrama dengan penuh semangat. Dia pun segera menutup pintu
dan mengeluarkan semua uang di dompetnya ke tempat tidur. Melihat uang yang
begitu banyak, lantas membuat Matt menjadi sangat bersemangat.
"Hore! Ini hanya langkah pertama menuju sukses! Jika aku terus menanam
tanaman di Taman Peri, aku pasti akan menghasilkan lebih banyak uang di lagi!"
ucapnya seraya menghitung uang di atas kasur.
"Sialan! Totalnya 98o ribu rupiah! Jika mengurangi biaya.. mm, berapa modal yang
aku habiskan, ya? Ini semua adalah laba bersihnya!" serunya seraya
membentangkan uang-uang itu di atas kasur setelah melakukan perhitungan.
Tentu saja masih ada biaya modal yang sekitar beberapa rupiah untuk membelibenih. Jika dikurangi biaya modal, dia tetap saja masih menghasilkan sekitar 900
ribu rupiah.
Matt sangat bersukacita. Sekarang, yang dia butuhkan hanyalah bibit dan waktu. Dia
segera membuka laptopnya untuk memeriksa status pengiriman paketnya. Dia tidak
terlalu terburu-buru sebelumnya, tetapi sekarang, dia menjadi sedikit ketagihan.
Tertulis pada informasi logistik: "Sudah tiba di Kota Zarkara, Jayakota. Paket
ekspres saat ini sedang dikirim. Kurir XXX, nomor kontak 13.
Matt menampar meja dan berseru heboh, "Eh? Apakah pengiriman pesanan online
secepat ini sekarang? Hebat sekali! Jika aku menerima paketnya hari ini, aku bisa
menanam semua bibitnya malam ini juga dan menjualnya besok lusa. Haha! Aku
percaya suatu hari nanti, aku juga bisa menghitung uang sampai tanganku mulai
keram!"
Hari sudah mulai siang, terdengar suara keroncongan dari perutnya.
"Oh, aku lapar. Aku harus makan dahulu. Padahal, aku ingin sekali mencicipi
hidangan yang terbuat dari sayuran Taman Peri. Sayang sekali."
Matt pun keluar dari asrama dan bergegas menuju kafetaria universitas. Istirahat
__ADS_1
makan siang hampir berakhir, seharusnya masih ada makanan yang bisa untuk
disantapnya siang ini.