Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
laba bersi


__ADS_3

"Mm ...." Mata wanita itu telah berbinar-binar. Sepertinya, bukan hanya Matt saja


yang menganggap wortel hasil perke bunan Taman Peri itu lezat.


"Rasanya enak, lezat, dan tidak keras," ucap pria tua itu sebelum wanita itu sempat


berkomentar.


"Iya, saya setuju. Rasanya beda sekali dengan wortel pada umumnya. Wortel ini


sangat lezat! Awalnya aku mengira akan diare setelah memakannya. Sepertinya,


wortel ini benar-benar jenis baru," timpal wanita itu.


Saat kedua lansia itu menbicarakan tentang wortel itu, warga lainnya sontak


mengepung kios dalam sekejap.


Seorang wanita, yang sepertinya pekerja kantoran, menunjuk kubis dan berkata


kepada Matt, "Wow, kubis ini terlihat bagus dan segar. Kami akan membuat ravioli


malam ini. Kurasa untuk isinya, kami tambahkan kubis dan daging ayam saja. Anak


muda, aku akan membeli kubisnya."


"Baik! Mohon tunggu sebentar."


Matt mengambil kubis dan menaruhnya di timbangan elektronik. Berat kubis


pesanan wanita itu adalah 2 kilogram.


"Berat kubis ini adalah 2 kilogram, jadi harganya 36 ribu rupiah."


Matt memasukkan kubis ke dalam kantong plastik, lalu menyerahkannya ke wanita


pekerja kantoran itu. Wanita itu pun meninggalkan kios Matt setelah melakukan


pembayaran dan melanjutkan berbelanjanya.


Dengan awal yang bagus, orang-orang di sekitar berdatangan untuk membeli


sayur-sayuran Matt. Bagaimanapun juga, sayur-sayurannya terlihat sangat segar.


"Tolong dua kubis dan tiga wortel."


"Tuan, aku ingin lima wortel."


"Aku ingin ...


Dalam sekejap, Matt sudah sangat sibuk melayani pembelinya. Penjualannya


tampak sangat bagus sehingga pemilik kios di sekitarnya menjadi cemburu. Mereka


semua mencoba bertanya dari mana Matt mendapatkan sayur-sayurannya, tetapi

__ADS_1


tidak menemukan jawabannya sama sekali.


Masih banyak orang-orang yang mengelilingi kios Matt, tetapi dua keranjang yang


berisi sayur-sayuran sudah kosong. Matt pun berkata dengan canggung, "Ah,


maafkan saya. Semua sayur-sayuran sudah terjual habis. Jika kalian masih ingin


membeli sayurannya, kalian bsa kembali besok lusa. Saya akan membawa lebih


banyak sayur-sayuran dan menjualnya di sini. Saya mohon maafuntuk hari ini"


"Kenapa? Kenapa kamu baru bisa berjualan lagi besok lusa? Apa tidak bisa besok?


Kalau begitu, di mana kami bisa membeli sayur-sayuran seperti milikmu besok?"


tanya seorang wanita tua.


"Benar .... " Suara semua orang yang tidak sempat membeli apa pun bergema.


"Jadi begini. Sayur-sayuran ini baru bagian pertama saja. Bagian berikutnya baru


akan siap paling cepat besok lusa. Apalagi ada jenis sayuran lain yang belum masak,


jadi saya belum bisa berjualan besok," jelas Matt kepada semua orang sambil


meminta maaf.


Dia juga ingin berjualan besok, tetapi sayur-sayurannya sudah tidak ada lagi di


Taman Peri. Matt telah menanam semua benih yang dia beli terakhir kali. Jadi, dia


"Baiklah, kalau begitu. Besok lusa kamu harus datang, ya. Jangan berbohong


denganku. Sayang sekali aku tidak bisa merasakan sayuran seenak ini meskipun


harganya memang sedikit mahal," ucap wanita tua itu lagi.


Matt mengangguk dan berkata, "Tidak masalah, tidak masalah. Saya akan datang


tepat waktu besok lusa." Kemudian, Matt memasukkan barang-barang di kios ke


gerobak dan mengembalikannya ke administrator pasar. Dia juga tidak lupa untuk


memberi tahu mereka bahwa Matt akan meminjamnya lagi besok lusa.


"Fiuh, aku ingin tahu berapa banyak yang aku hasilkan hari ini."


Matt menyentuh dompetnya yang sudah menggembung, yang sebagian besar berisi


uang kertas dan recehan. Matt pasti mendapatkan untung yang banyak


sampai-sampai dompetnya mengembung seperti balon.


Matt yang penuh dengan harapan pada akhirnya mendapatkan uang lagi. Dia

__ADS_1


memutuskan untuk kembali ke asramanya supaya bisa menghitung


penghasilannya. Pasar petani tidak jauh dari kampus. Hanya melewati beberapa


blok, jadi dia cukup berjalan kaki saja sekaligus mencari angin.


Matt kembali ke asrama dengan penuh semangat. Dia pun segera menutup pintu


dan mengeluarkan semua uang di dompetnya ke tempat tidur. Melihat uang yang


begitu banyak, lantas membuat Matt menjadi sangat bersemangat.


"Hore! Ini hanya langkah pertama menuju sukses! Jika aku terus menanam


tanaman di Taman Peri, aku pasti akan menghasilkan lebih banyak uang di lagi!"


ucapnya seraya menghitung uang di atas kasur.


"Sialan! Totalnya 98o ribu rupiah! Jika mengurangi biaya.. mm, berapa modal yang


aku habiskan, ya? Ini semua adalah laba bersihnya!" serunya seraya


membentangkan uang-uang itu di atas kasur setelah melakukan perhitungan.


Tentu saja masih ada biaya modal yang sekitar beberapa rupiah untuk membelibenih. Jika dikurangi biaya modal, dia tetap saja masih menghasilkan sekitar 900


ribu rupiah.


Matt sangat bersukacita. Sekarang, yang dia butuhkan hanyalah bibit dan waktu. Dia


segera membuka laptopnya untuk memeriksa status pengiriman paketnya. Dia tidak


terlalu terburu-buru sebelumnya, tetapi sekarang, dia menjadi sedikit ketagihan.


Tertulis pada informasi logistik: "Sudah tiba di Kota Zarkara, Jayakota. Paket


ekspres saat ini sedang dikirim. Kurir XXX, nomor kontak 13.


Matt menampar meja dan berseru heboh, "Eh? Apakah pengiriman pesanan online


secepat ini sekarang? Hebat sekali! Jika aku menerima paketnya hari ini, aku bisa


menanam semua bibitnya malam ini juga dan menjualnya besok lusa. Haha! Aku


percaya suatu hari nanti, aku juga bisa menghitung uang sampai tanganku mulai


keram!"


Hari sudah mulai siang, terdengar suara keroncongan dari perutnya.


"Oh, aku lapar. Aku harus makan dahulu. Padahal, aku ingin sekali mencicipi


hidangan yang terbuat dari sayuran Taman Peri. Sayang sekali."


Matt pun keluar dari asrama dan bergegas menuju kafetaria universitas. Istirahat

__ADS_1


makan siang hampir berakhir, seharusnya masih ada makanan yang bisa untuk


disantapnya siang ini.


__ADS_2