
Restoran Gurih Furama? Manajer umum?"
Matt berpikir sejenak dan mengingat-ngingat tentang Restoran Gurih Furama. Ternyata,
Restoran Gurih Furama adalah salah satu restoran terbaik di Kota Zarkara, bahkan restoran
tersebut sering dikunjungi oleh orang-orang kaya. Selain itu, terdapat berbagai jenis jamuan
makanan di sana. Sudah jelas restoran tersebut pasti sangat mewah. Oleh karena itu, Matt tidak
tahu mengapa manajer umum tersebut ingin menemuinya sebab Matt sama sekali tidak
mengenalnya.
G 1000
"Ya, manajer umum restoran kami sedang mencari Anda. Apa Anda sedang senggang dan bisa
mengikuti kami ke Restoran Gurih Furama untuk berbicara dengan manajer kami?" Seorang
staf warnita memandang Matt seraya menjelaskan tujuan mereka menemuinya dengan gugup.
"Hm ... oke. Lagi pula saya tidak punya pekerjaan lain. Saya akan pergi dengan Anda."
Sebetulnya, Matt berpikir sejenak untuk menemukan alasan yang tepat untuk menolaknya,
tetapi dia tidak berhasil mendapatkannya. Berhubung mereka telah lama menunggunya dengan
tulus, dia pun menyetujuinya sekalian memperjelas semuanya.
Mendengar jawalban Matt, kedua staf tersebut akhirnya merasa lega. Salah satunya berkata,
"Oke, silakan ikuti kami!"
Matt pun mengikuti mereka keluar dari pasar petani dan menaiki sebuah mobil. Sepertinya,
mobil tersebut sering digunakan untuk mengangkut barang. Setelah Matt masuk ke dalam
mobil, mereka segera melaju ke Restoran Gurih Furama.
Sesampainya di restoran, salah satu staf tersebut langsung bergegas menuju kantor manajer
umum."Tuan Jefri, kami sudah menemukan pria tersebut," ucap staf itu sambil
menyunggingkan senyum bahagia sebab dia tidak akan jadi dipecat.
Jefri, yang sedang duduk di kursi dengan mata tertutup untuk beristirahat, langsung membuka
matanya begitu mendengarnya. Dirinya tiba-tiba berenergi.
"Benarkah? Di mana pemuda itu? Persilakan dia masuk, cepat," kata Jefri kepada staf tersebut
dengan tergesa-gesa dan menekankan kata "persilakan."
Kemudian, staf tersebut berjalan ke pintu dan mempersilakan Matt masuk. "Lewat sini,
silakan!"
Saat bertemu dengan Matt, Jefri langsung menunjukkan rasa hormat yang besar kepadanya,
yang mengejutkan staf tersebut. Setelah mengantar Matt, staf tersebut langsung keluar dari
kantor dengan penuh tanda tanya. Dia terus menebak identitas Matt dan berpikir bahwa Matt
kemungkinan anak dari beberapa direktur atau seseorang yang berhubungan dengan
manajernya.
Mereka akhirnya tiba di tempat biasanya Jefri menjamu para tamu, Matt pun duduk setelah
dipersilakan oleh Jefri.
"Halo, saya manajer umum dari Restoran Gurih Furama. Maafkan saya karena mendadak
mengundang Anda ke restoran kami." Jefri mengulurkan tangannya pada Matt.
Sontak Matt menjabat tangan Jefri dan berkata,"Halo, saya Matt Luham. Anda tidak perlu
terlalu formal. Saya tidak terbiasa. Baguslah. Saya juga berpikir begitu. Saya panggil Matt saja, kalau begitu. Haha!" Jefri tertawa
terbahak-bahak.
"Kamu pasti bingung kenapa aku mengundangmu ke sini. Jadi, aku ingin berbicara tentang
sayuran yang kamu jual. Apakah kamu ingin berkolaborasi dengan kami? Aku akan
memberikan harga yang wajar."Jefri tidak bertele-tele dan langsung mengatakan niatnya pada
Matt.
Setelah jeda singkat, Jefri melanjutkan, "Sebenarnya, aku harus berterima kasih kepada ibuku.
Ibuku membeli sayuran yang kamu jual dan kebetulan aku sedang berada di rumah. Begitu aku
memakan sayur yang kamu jual, aku tidak mau memakan sayur yang lain lagi. Itulah alasan
mengapa aku sangat ingin bertemu denganmu dan menawarkan kerja sama dengan kami."Jefri
menceritakan kebenarannya.
Sebetulnya, dalam perjalanan menuju restoran, Matt juga sudah memikirkan kemungkinan
alasannya. Dia tidak menyangka jika tebakannya itu benar. Sejujurnya, tidak terlalu sulit
baginya untuk mencari tahu alasannya. Dia mengelola sebuah restoran. Untuk apa lagi dia
mencariku kalau bukan untuk menmbeli sayur-sayuran?' batinnya.
__ADS_1
Matt tidak langsung memberi jawaban pada Jefri dan justru merenung sejenak. Dia masih
mempertimbangkan apakah dia perlu berkolaborasi dengan sebuah restoran. Apalagi, sayuran
yang dia tanam tidak terlalu banyak. Dia juga menanamnya di Taman Peri dan tidak tahu
bagaimana memberi tahu orang lain tentang hal itu. Sebelumnya, dia hanya berpikir untuk
menjualnya saja dan tidak memprediksi masalah seperti sekarang ini.
Setelah berpikir sejenak, Matt memutuskan untuk tidak langsung mengambil keputusan. "Boleh
aku tahu harga yang kamu tawarkan jika aku bersedia bekerja sama denganmu? Mari kita
perjelas dahulu. Jika kamu tidak dapat menerima beberapa persyaratan berikut, aku pikir kita
tidak perlu melanjutkan diskusi ini."
"Baiklah, katakan saja padaku. Kami memang telah bertindak mendadak kali ini." Jefri tampak
tidak terlalu gelisah. Hal terpenting dalam berbisnis adalah tetap tenang saat bernegosiasi
dengan orang lain.
"Pertama-tama, aku hanya bisa memasok 250 kilogram sehari. Kedua, aku hanya memiliki tiga
jenis sayuran, tetapi aku akan menanamnya dalam jumlah besar ke depannya dan tidak
sekarang. Ketiga, aku ingin harga pembelian tidak boleh lebih rendah dari harga pasar.
Keempat, aku tidak akan memberitahumu di mana sayuran ditanam." Matt mengemukakan
keempat syarat tersebut sambil menatap Jefri, lalu menunggu jawabannya.
Jefri pun mulai mempertimbangkan beberapa persyaratan tersebut. Restoran Gurih Furama
adalah sebuah bisnis besar dan dia harus mempertimbangkan semuanya dengan hati-hati.
Sekitar lima menit kemudian, dia menjawab, "Kami dapat menerima syarat tersebut! Tidak
bisakah kamu menyediakan lebih banyak? Restoran Gurih Furama memiliki banyak pelanggan
setiap hari dan jumlah pasokan akan memengaruhi bisnis kami secara signifikan."
Jefri mengertakkan giginya. Meskipun dia sudah tahu jawabannya, dia masih ingin
memastikannya lagi. Jumlah persediaan yang ditawarkan Matt terlalu sedikit untuk sebuah
restoran.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya bisa menyediakan segitu dan tidak bisa menyediakan
lebih." Jawaban Matt persis seperti dugaan Jefri.
"Baiklah, karena kamu tidak dapat meningkatkan jumlabh persediaannya, kami akan membuat
sayuranmu, karena aku percaya bahwa sayuran milikmu akan memiliki pasar yang bagus.
Sebelumnya, aku sudah memutuskan harganya. Penawaran kami adalah 5o persen lebih tinggi
dari harga pasar. Bisakah kamu menerimanya?"
Jefri mengetuk meja dengan gugup. Begitu Matt setuju, Restoran Gurih Furama akan bisa
mendominasi pasar.
"Lima puluh persen lebih tinggi dari harga pasar. Oke, aku menyetujui kerja sama ini untuk
mendapatkan teman baru, Jefri." Matt memanggil Jefri dengan nama depannya, yang secara
resmi mengonfirmasi kerja sama mereka.
"Baik! Matt, kamu orang yang sangat tegas. Aku akan meminta seseorang untuk segera
menyiapkan kontrak. Setelah menandatanganinya, kita akan secara resmi memulai kerja sama
ini. Kamu bisa memasok sayur-sayuran tersebut kepada kami besok!"
Setelah itu, Jefri menyuruh Matt menunggu di sofa, sementara dia keluar untuk menyiapkan
kontrak.
Alasan mengapa Matt langsung menyetujuinya begitu cepat adalah karena kejadian beberapa
hari yang lalu. Sayurannya telah memonopoli pasar.Banyak orang yang membeli sayurannya
sehingga pedagang lainnya tidak bisa berbisnis sama sekali.
Sekarang, ada restoran yang ingin bekerja dengannya, dia sudah punya jalan keluar dari
masalah itu. Dia tidak akan menyinggung perasaan orang lain lagi, juga tidak harus pergi ke
pasar untuk berjualan. Setiap pagi, dia hanya perlu mengantarkan sayur-sayurannya dan
menerima pembayarannya.
Jefri benar-benar cepat. Hanya butuh beberapa menit untuk menyiapkan kontraknya. Matt
dengan cermat membaca persyaratan kontrak dan menandatanganinya setelah memastikan
bahwa tidak ada masalah. Dengan begitu, kerja samanya dengan Restoran Gurih Furama secara
resmi dimulai,
Setelah menandatangani kontrak, Matt tidak bisa lagi menjual sayur-sayurannya di pasar petani
sebab sudah tertera dalam kontrak bahwa Matt tidak bisa lagi menjual sayurannya di pasar
__ADS_1
begitu dia memasoknya ke restoran. Selain itu, sayur-sayuran Matt juga tidak dapat dijual ke
restoran lain. Hal ini dilakukan untuk mencegah Matt menjual produk yang sama kepada
pesaing restoran. Jika itu terjadi, Restoran Gurih Furama akan kesulitan mendominasi bisnis.
Setelah menandatangani kontrak, mereka berjabat tangan sekali lagi. Jefri sepertinya sudah
bisa meramalkan keadaan Restoran Gurih Furama yang akan ramai dengan pelanggan keesokan
harinya. Senyum di wajahnya semakin lebar. Rasa frustasi yang sedari tadi dia rasakan telah
lenyap setelah bertemu Matt.
Sekarang, Matt memiliki lebih banyak tugas yang harus dilakukan karena dia harus memasok
sekitar 250 kilogram sayuran setiap hari. Biasanya, dia hanya menjual 100 kilogram sayuran di
pasar. Sekarang, dia harus bekerja lebih keras lagi untuk memastikan sayuran di Taman Peri
cukup.
Setelah meninggalkan Restoran Gurih Furama, Matt meregangkan tubuhnya dan berkata, "Aku
memang memiliki lebih banyak tugas sekarang, tetapi alku yakin hal tersebut akan jauh lebih mudah ke depannya. Ayo, bekerja kembali."
Kemudian, dia pulang naik taksi.
Sesampainya di rumah, Matt langsung memasuki Taman Peri untuk melilhat buah-buahan dan
sayur-sayuran yang tumbuh dengan baik, rasa bangga pun muncul dari lubuk hati Matt. Dia
menanam semua ini sendirian meskipun yang berperan besar adalah Taman Peri.
"Oh, aku tidak menyangka usahaku bisa berkembang sebesar ini. Namun, aku memang berniat
untuk mengembangkannya supaya aku dapat membeli rumah di Kota Zarkara dan membawa
kedua orang tuaku untuk tinggal di sini."
Dia hanyalah seorang mahasiswa di tahun kedua, tetapi dia sudah harus mempertimbangkan
begitu banyak hal. Jika itu orang lain, bekerja untuk menghidupi keluarga mereka saja sudah
cukup baik.
Kebanyakan dari mereka tidak melakukan apa-apa ketika mereka masih di universitas. Mereka
sibuk bermain game sepanjang hari, lalu tidak mendapatkan nilai yang bagus. Mereka bahkan
menghabiskan uang hasil jerih payah orang tua mereka untuk bersenang-senang.
Ketika Matt hendak menanam lebih banyak sayuran, teleponnya tiba-tiba berdering. Dia pun
berhenti dan menjawab telepon di dunia nyata. "Halo, siapa ini?
Sebenarnya, Matt merasa agak kesal karena kegiatannya di Taman Peri harus terhenti. Dia
menjawab panggilan itu tanpa memeriksa nomornya.
"Ini aku, Tina. Matt, apa aku boleh datang ke rumahmu untuk makan malam? Aku tidak ke
mana-mana malam ini." Suara Tina terdengar dari ujung telepon.
"Tentu saja. Kapan kamu akan datang? Biarkan aku bersiap-siap terlebih dahulu."
Tidak ada alasan lain yang membuat Matt bisa menolaknya.
Sudah jelas sekali bahwa Matt akan langsung menyetujuinya. Dia awalnya mengira ada
beberapa masalah lain, tetapi ternyata Tina hanya ingin berkunjung ke rumahnya sekaligus
makan malam di sana.
"Oke, aku akan ke sana sebentar lagi. Kamu tidak perlu menyiapkan apa pun. Kamu bisa mulai
memasak saat aku tiba. Sebenarnya, aku tidak percaya kamu bisa memasak, jadi tunggu aku
untuk memverifikasinya! Omong-omong, apakah kamu membutuhkan sesuatu?" Tina takut
Matt akan menipunya dengan memesan masakan yang sudah siap di restoran sekitar
rumahnya, itulah mengapa dia melarang Matt untuk langsung memasak.
"Mari kita buktikan saat kamu sudah tiba. Hm ... biar aku lihat. Tolong beli daging ayam atau
daging apa pun yang kamu suka saat datang ke sini. Aku kehabisan daging ayam."
Saat Tina bertanya, Matt pergi ke dapur dan mendapati bahwa tidak ada lagi daging yang
tersisa, jadi dia meminta Tina untuk membelinya.
"Omong-omong, apa kamu tahu cara membeli daging?" tanya Matt. Dia hampir melupakannya.
"Kamu! Apa maksudmu? Apa aku terlihat seperti orang buta? Kamu pikir aku tidak tahu
bagaimana membedakan daging ketika aku pergi ke pasar? Sekalipun aku tidak bisa
membedakannya, kamu tidak perlu mengejekku seperti itu," kata Tina dengan suara kesal.
Jelas sekali dia agak tidak senang. Oke, oke. Asal kamu tahu cara membelinya. Lagi pula, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya
bertanya saja." Matt langsung menutup telepon begitu dia menyelesaikan kata-katanya. Dia
tidak ingin terus mengobrol dengan Tina karena itu tidak akan ada akhirnya.
Berhubung Tina belum datang, Matt menggunakan kesempatan ini untuk memasuki Taman
__ADS_1
Peri lagi.