Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
Kerja Sama


__ADS_3

Restoran Gurih Furama? Manajer umum?"


Matt berpikir sejenak dan mengingat-ngingat tentang Restoran Gurih Furama. Ternyata,


Restoran Gurih Furama adalah salah satu restoran terbaik di Kota Zarkara, bahkan restoran


tersebut sering dikunjungi oleh orang-orang kaya. Selain itu, terdapat berbagai jenis jamuan


makanan di sana. Sudah jelas restoran tersebut pasti sangat mewah. Oleh karena itu, Matt tidak


tahu mengapa manajer umum tersebut ingin menemuinya sebab Matt sama sekali tidak


mengenalnya.


G 1000


"Ya, manajer umum restoran kami sedang mencari Anda. Apa Anda sedang senggang dan bisa


mengikuti kami ke Restoran Gurih Furama untuk berbicara dengan manajer kami?" Seorang


staf warnita memandang Matt seraya menjelaskan tujuan mereka menemuinya dengan gugup.


"Hm ... oke. Lagi pula saya tidak punya pekerjaan lain. Saya akan pergi dengan Anda."


Sebetulnya, Matt berpikir sejenak untuk menemukan alasan yang tepat untuk menolaknya,


tetapi dia tidak berhasil mendapatkannya. Berhubung mereka telah lama menunggunya dengan


tulus, dia pun menyetujuinya sekalian memperjelas semuanya.


Mendengar jawalban Matt, kedua staf tersebut akhirnya merasa lega. Salah satunya berkata,


"Oke, silakan ikuti kami!"


Matt pun mengikuti mereka keluar dari pasar petani dan menaiki sebuah mobil. Sepertinya,


mobil tersebut sering digunakan untuk mengangkut barang. Setelah Matt masuk ke dalam


mobil, mereka segera melaju ke Restoran Gurih Furama.


Sesampainya di restoran, salah satu staf tersebut langsung bergegas menuju kantor manajer


umum."Tuan Jefri, kami sudah menemukan pria tersebut," ucap staf itu sambil


menyunggingkan senyum bahagia sebab dia tidak akan jadi dipecat.


Jefri, yang sedang duduk di kursi dengan mata tertutup untuk beristirahat, langsung membuka


matanya begitu mendengarnya. Dirinya tiba-tiba berenergi.


"Benarkah? Di mana pemuda itu? Persilakan dia masuk, cepat," kata Jefri kepada staf tersebut


dengan tergesa-gesa dan menekankan kata "persilakan."


Kemudian, staf tersebut berjalan ke pintu dan mempersilakan Matt masuk. "Lewat sini,


silakan!"


Saat bertemu dengan Matt, Jefri langsung menunjukkan rasa hormat yang besar kepadanya,


yang mengejutkan staf tersebut. Setelah mengantar Matt, staf tersebut langsung keluar dari


kantor dengan penuh tanda tanya. Dia terus menebak identitas Matt dan berpikir bahwa Matt


kemungkinan anak dari beberapa direktur atau seseorang yang berhubungan dengan


manajernya.


Mereka akhirnya tiba di tempat biasanya Jefri menjamu para tamu, Matt pun duduk setelah


dipersilakan oleh Jefri.


"Halo, saya manajer umum dari Restoran Gurih Furama. Maafkan saya karena mendadak


mengundang Anda ke restoran kami." Jefri mengulurkan tangannya pada Matt.


Sontak Matt menjabat tangan Jefri dan berkata,"Halo, saya Matt Luham. Anda tidak perlu


terlalu formal. Saya tidak terbiasa. Baguslah. Saya juga berpikir begitu. Saya panggil Matt saja, kalau begitu. Haha!" Jefri tertawa


terbahak-bahak.


"Kamu pasti bingung kenapa aku mengundangmu ke sini. Jadi, aku ingin berbicara tentang


sayuran yang kamu jual. Apakah kamu ingin berkolaborasi dengan kami? Aku akan


memberikan harga yang wajar."Jefri tidak bertele-tele dan langsung mengatakan niatnya pada


Matt.


Setelah jeda singkat, Jefri melanjutkan, "Sebenarnya, aku harus berterima kasih kepada ibuku.


Ibuku membeli sayuran yang kamu jual dan kebetulan aku sedang berada di rumah. Begitu aku


memakan sayur yang kamu jual, aku tidak mau memakan sayur yang lain lagi. Itulah alasan


mengapa aku sangat ingin bertemu denganmu dan menawarkan kerja sama dengan kami."Jefri


menceritakan kebenarannya.


Sebetulnya, dalam perjalanan menuju restoran, Matt juga sudah memikirkan kemungkinan


alasannya. Dia tidak menyangka jika tebakannya itu benar. Sejujurnya, tidak terlalu sulit


baginya untuk mencari tahu alasannya. Dia mengelola sebuah restoran. Untuk apa lagi dia


mencariku kalau bukan untuk menmbeli sayur-sayuran?' batinnya.

__ADS_1


Matt tidak langsung memberi jawaban pada Jefri dan justru merenung sejenak. Dia masih


mempertimbangkan apakah dia perlu berkolaborasi dengan sebuah restoran. Apalagi, sayuran


yang dia tanam tidak terlalu banyak. Dia juga menanamnya di Taman Peri dan tidak tahu


bagaimana memberi tahu orang lain tentang hal itu. Sebelumnya, dia hanya berpikir untuk


menjualnya saja dan tidak memprediksi masalah seperti sekarang ini.


Setelah berpikir sejenak, Matt memutuskan untuk tidak langsung mengambil keputusan. "Boleh


aku tahu harga yang kamu tawarkan jika aku bersedia bekerja sama denganmu? Mari kita


perjelas dahulu. Jika kamu tidak dapat menerima beberapa persyaratan berikut, aku pikir kita


tidak perlu melanjutkan diskusi ini."


"Baiklah, katakan saja padaku. Kami memang telah bertindak mendadak kali ini." Jefri tampak


tidak terlalu gelisah. Hal terpenting dalam berbisnis adalah tetap tenang saat bernegosiasi


dengan orang lain.


"Pertama-tama, aku hanya bisa memasok 250 kilogram sehari. Kedua, aku hanya memiliki tiga


jenis sayuran, tetapi aku akan menanamnya dalam jumlah besar ke depannya dan tidak


sekarang. Ketiga, aku ingin harga pembelian tidak boleh lebih rendah dari harga pasar.


Keempat, aku tidak akan memberitahumu di mana sayuran ditanam." Matt mengemukakan


keempat syarat tersebut sambil menatap Jefri, lalu menunggu jawabannya.


Jefri pun mulai mempertimbangkan beberapa persyaratan tersebut. Restoran Gurih Furama


adalah sebuah bisnis besar dan dia harus mempertimbangkan semuanya dengan hati-hati.


Sekitar lima menit kemudian, dia menjawab, "Kami dapat menerima syarat tersebut! Tidak


bisakah kamu menyediakan lebih banyak? Restoran Gurih Furama memiliki banyak pelanggan


setiap hari dan jumlah pasokan akan memengaruhi bisnis kami secara signifikan."


Jefri mengertakkan giginya. Meskipun dia sudah tahu jawabannya, dia masih ingin


memastikannya lagi. Jumlah persediaan yang ditawarkan Matt terlalu sedikit untuk sebuah


restoran.


"Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya bisa menyediakan segitu dan tidak bisa menyediakan


lebih." Jawaban Matt persis seperti dugaan Jefri.


"Baiklah, karena kamu tidak dapat meningkatkan jumlabh persediaannya, kami akan membuat


sayuranmu, karena aku percaya bahwa sayuran milikmu akan memiliki pasar yang bagus.


Sebelumnya, aku sudah memutuskan harganya. Penawaran kami adalah 5o persen lebih tinggi


dari harga pasar. Bisakah kamu menerimanya?"


Jefri mengetuk meja dengan gugup. Begitu Matt setuju, Restoran Gurih Furama akan bisa


mendominasi pasar.


"Lima puluh persen lebih tinggi dari harga pasar. Oke, aku menyetujui kerja sama ini untuk


mendapatkan teman baru, Jefri." Matt memanggil Jefri dengan nama depannya, yang secara


resmi mengonfirmasi kerja sama mereka.


"Baik! Matt, kamu orang yang sangat tegas. Aku akan meminta seseorang untuk segera


menyiapkan kontrak. Setelah menandatanganinya, kita akan secara resmi memulai kerja sama


ini. Kamu bisa memasok sayur-sayuran tersebut kepada kami besok!"


Setelah itu, Jefri menyuruh Matt menunggu di sofa, sementara dia keluar untuk menyiapkan


kontrak.


Alasan mengapa Matt langsung menyetujuinya begitu cepat adalah karena kejadian beberapa


hari yang lalu. Sayurannya telah memonopoli pasar.Banyak orang yang membeli sayurannya


sehingga pedagang lainnya tidak bisa berbisnis sama sekali.


Sekarang, ada restoran yang ingin bekerja dengannya, dia sudah punya jalan keluar dari


masalah itu. Dia tidak akan menyinggung perasaan orang lain lagi, juga tidak harus pergi ke


pasar untuk berjualan. Setiap pagi, dia hanya perlu mengantarkan sayur-sayurannya dan


menerima pembayarannya.


Jefri benar-benar cepat. Hanya butuh beberapa menit untuk menyiapkan kontraknya. Matt


dengan cermat membaca persyaratan kontrak dan menandatanganinya setelah memastikan


bahwa tidak ada masalah. Dengan begitu, kerja samanya dengan Restoran Gurih Furama secara


resmi dimulai,


Setelah menandatangani kontrak, Matt tidak bisa lagi menjual sayur-sayurannya di pasar petani


sebab sudah tertera dalam kontrak bahwa Matt tidak bisa lagi menjual sayurannya di pasar

__ADS_1


begitu dia memasoknya ke restoran. Selain itu, sayur-sayuran Matt juga tidak dapat dijual ke


restoran lain. Hal ini dilakukan untuk mencegah Matt menjual produk yang sama kepada


pesaing restoran. Jika itu terjadi, Restoran Gurih Furama akan kesulitan mendominasi bisnis.


Setelah menandatangani kontrak, mereka berjabat tangan sekali lagi. Jefri sepertinya sudah


bisa meramalkan keadaan Restoran Gurih Furama yang akan ramai dengan pelanggan keesokan


harinya. Senyum di wajahnya semakin lebar. Rasa frustasi yang sedari tadi dia rasakan telah


lenyap setelah bertemu Matt.


Sekarang, Matt memiliki lebih banyak tugas yang harus dilakukan karena dia harus memasok


sekitar 250 kilogram sayuran setiap hari. Biasanya, dia hanya menjual 100 kilogram sayuran di


pasar. Sekarang, dia harus bekerja lebih keras lagi untuk memastikan sayuran di Taman Peri


cukup.


Setelah meninggalkan Restoran Gurih Furama, Matt meregangkan tubuhnya dan berkata, "Aku


memang memiliki lebih banyak tugas sekarang, tetapi alku yakin hal tersebut akan jauh lebih mudah ke depannya. Ayo, bekerja kembali."


Kemudian, dia pulang naik taksi.


Sesampainya di rumah, Matt langsung memasuki Taman Peri untuk melilhat buah-buahan dan


sayur-sayuran yang tumbuh dengan baik, rasa bangga pun muncul dari lubuk hati Matt. Dia


menanam semua ini sendirian meskipun yang berperan besar adalah Taman Peri.


"Oh, aku tidak menyangka usahaku bisa berkembang sebesar ini. Namun, aku memang berniat


untuk mengembangkannya supaya aku dapat membeli rumah di Kota Zarkara dan membawa


kedua orang tuaku untuk tinggal di sini."


Dia hanyalah seorang mahasiswa di tahun kedua, tetapi dia sudah harus mempertimbangkan


begitu banyak hal. Jika itu orang lain, bekerja untuk menghidupi keluarga mereka saja sudah


cukup baik.


Kebanyakan dari mereka tidak melakukan apa-apa ketika mereka masih di universitas. Mereka


sibuk bermain game sepanjang hari, lalu tidak mendapatkan nilai yang bagus. Mereka bahkan


menghabiskan uang hasil jerih payah orang tua mereka untuk bersenang-senang.


Ketika Matt hendak menanam lebih banyak sayuran, teleponnya tiba-tiba berdering. Dia pun


berhenti dan menjawab telepon di dunia nyata. "Halo, siapa ini?


Sebenarnya, Matt merasa agak kesal karena kegiatannya di Taman Peri harus terhenti. Dia


menjawab panggilan itu tanpa memeriksa nomornya.


"Ini aku, Tina. Matt, apa aku boleh datang ke rumahmu untuk makan malam? Aku tidak ke


mana-mana malam ini." Suara Tina terdengar dari ujung telepon.


"Tentu saja. Kapan kamu akan datang? Biarkan aku bersiap-siap terlebih dahulu."


Tidak ada alasan lain yang membuat Matt bisa menolaknya.


Sudah jelas sekali bahwa Matt akan langsung menyetujuinya. Dia awalnya mengira ada


beberapa masalah lain, tetapi ternyata Tina hanya ingin berkunjung ke rumahnya sekaligus


makan malam di sana.


"Oke, aku akan ke sana sebentar lagi. Kamu tidak perlu menyiapkan apa pun. Kamu bisa mulai


memasak saat aku tiba. Sebenarnya, aku tidak percaya kamu bisa memasak, jadi tunggu aku


untuk memverifikasinya! Omong-omong, apakah kamu membutuhkan sesuatu?" Tina takut


Matt akan menipunya dengan memesan masakan yang sudah siap di restoran sekitar


rumahnya, itulah mengapa dia melarang Matt untuk langsung memasak.


"Mari kita buktikan saat kamu sudah tiba. Hm ... biar aku lihat. Tolong beli daging ayam atau


daging apa pun yang kamu suka saat datang ke sini. Aku kehabisan daging ayam."


Saat Tina bertanya, Matt pergi ke dapur dan mendapati bahwa tidak ada lagi daging yang


tersisa, jadi dia meminta Tina untuk membelinya.


"Omong-omong, apa kamu tahu cara membeli daging?" tanya Matt. Dia hampir melupakannya.


"Kamu! Apa maksudmu? Apa aku terlihat seperti orang buta? Kamu pikir aku tidak tahu


bagaimana membedakan daging ketika aku pergi ke pasar? Sekalipun aku tidak bisa


membedakannya, kamu tidak perlu mengejekku seperti itu," kata Tina dengan suara kesal.


Jelas sekali dia agak tidak senang. Oke, oke. Asal kamu tahu cara membelinya. Lagi pula, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya


bertanya saja." Matt langsung menutup telepon begitu dia menyelesaikan kata-katanya. Dia


tidak ingin terus mengobrol dengan Tina karena itu tidak akan ada akhirnya.


Berhubung Tina belum datang, Matt menggunakan kesempatan ini untuk memasuki Taman

__ADS_1


Peri lagi.


__ADS_2