
Sekarang, giliran Matt yang bertingkah sombong. Dia tahu Taman Peri pasti akan menghasilkan
ginseng berkualitas tinggi.
Ginseng tersebut tidak mungkin tidak berharga seperti ginseng yang diproduksi secara massal.
Kata-kata Leman membuat Lusi sadar bahwa dia benar-benar telah melakukan kesalahan. Hal
tersebut justru membuatnya lebih tertekan. Meskipun itu adalah ginseng berusia seabad, Lusi
tidak menunjukkan kegembiraannya sama sekali. Lagi pula, dia baru saja kalah dari Matt.
Mengetalhui bahwa itu adalah ginseng berusia seabad, Leman sedang tidak ingin
mengkhawatirkan cucunya yang berharga. Semua perhatiannya terfokus pada ginseng berusia
seabad yang dibawa Matt. Bahkan, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari ginseng,
seolah-olah dia mau melihatnya selama sisa hidupnya.
Butuh waktu lama bagi Leman untuk tersadar kembali. Dia meminta maaf kepada Matt dan
berkata, "Aku minta maaf karena menatap ginsengmu begitu lama. Aku benar-benar minta
maaf. Alku belum pernah melihat ginseng tua seperti itu selama bertahun-tahun."
Lusi sontak terkejut mendengar ucapan kakeknya sebab dia tahu bahwa kakeknya tidak akan
pernah berbohong. Sebelumnya, dia mengira ginseng itu memiliki kualitas yang rendah karena
Matt membawanya ke sana hanya dengan kantong plastik. Namun, semua yang Leman katakan
hari ini sungguh mengejutkannya.
"Tidak apa-apa, Tuan Leman. Kamu bisa melihatnya selama yang kamu mau. Aku tidak
terburu-buru. Haha."
Matt tidak keberatan.
Sebaliknya, ketika dia mendengar bahwa Leman tidak pernah melihat ginseng berusia seabad
selama bertahun-tahun, dia sangat senang karena dia masih memiliki banyak ginseng dengan
usia yang sama di Taman Peri.
Apalagi, tanaman herba yang langka seharusnya lebih mahal. Kata-kata Leman secara tidak
langsung menyiratkan bahwa ginseng Matt sungguh berharga.
"Aku benar-benar minta maaf. Cucuku Lusi begitu ceroboh dan memfitnah ginseng ini. Aku
minta maaf padamu atas namanya," ucap Leman.
"Tolong jangan berkata seperti itu, Tuan Leman. Namaku Matt Luhamn. Kamu bisa
memanggilku Matt saja. Dia masih muda sama sepertiku. Aku tidak akan menyalahkannya. Aku
yakin kamu tidak sengaja melakukannya, 'kan, Nona Lusi?" jawab Matt seraya menatap Lusi.
Siapa pun pasti bisa menebak maksudnva.
Matt hanya ingin menunjukkan bahwa dia lebih sopan daripada Lusi dan juga pemaaf.
Itulah maksud perkataannya tadi. Mendengar perkataan kakeknya dan Matt, Lusi sontak merasa sangat cemas hingga air mata
menggenang di matanya. Dia mengerucutkan bibirnya dan memalingkan muka tanpa
mengatakan apa pun.
Setelah itu, Leman membawa Matt masuk lebih dalam di balai pengobatan tersebut. Ada
halaman kecil dan dua ruangan di belakang balai pengobatan. Di tengah halaman, ada meja
dengan secangkir kopi di atasnya. Mungkin Leman baru saja minum kopi.
"Matt, duduklah. Apa kamu keberatan jika aku menyita waktumu?"
Leman menunjuk sebuah kursi dan Matt pun segera duduk di hadapannya.
'Tentu saja aku tidak keberatan. Suatu kehormatan bagiku bisa mengobrol denganmu, Tuan
Leman," kata Matt menyanjung.
Mendengar itu, Leman tertawa dan menuangkan secangkir kopi untuk Matt.
"Minumlah kopi ini. Apa kamu sering minum kopi?"
Leman tidak terburu-buru. Dia menuangkan secangkir kopi untuk Matt, lalu menceritakan
sejarah tentang kopi. Dia bahkan tidak melihat ginseng itu lagi, apalagi membahas hal lain. Dia
hanya berbagi informasi tentang kopi dengan Matt.
Setelah beberapa waktu, Matt mulai merasa kepalanya berputar, barulah Leman berbicara
langsung ke intinya.
"Dengan segala hormat, Matt, bolehkah aku menanyakan apakah ginsengmu itu dijual?
Akhir-akhir ini aku sangat membutuhkan ginseng dan kebetulan aku bertemu denganmu hari
ini. Kurasa itu talkdir," komentar Leman sermbari menatap mata Matt.
"Aku benar-benar minta maaf, Tuan Lenman. Aku hanya punya satu, itu juga aku dapatkan
__ADS_1
secara tidak sengaja. Aku datang ke sini hari ini untuk memastikan apakah itu ginseng tua. Aku
tidak berencana menjualnya." jawab Matt seraya menatap mata Leman.
"Aku sudah menduga itu, tetapi jika aku bersedia membayar 50% lebih besar dari harga pasar,
apakah kamu bersedia menjualnya? Terkahir kali, ginseng berusia seabad dijual seharga 12 juta
rupiah di sebuah pelelangan di Hantawon," ujar Leman.
Mendengar itu, Matt membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka ginseng berusia seabad
tersbeut bernilai 12 juta rupiah. Hal yang membuatnya lebih terkejut adalah kata-kata Leman
yang bersedia menaikkan harganya 50%, ginseng itu bisa dijual seharga 17 juta rupiah.
Leman tampak senang melihat reaksi Matt. Dia berharap Matt setuju untuk menjual ginseng
itu, tetapi dia langsung kecewa saat Matt menolak lagi.
"Aku dengan tulus meminta maaf, Tuan Leman. Bukannya aku tidak ingin menunjukkan rasa
hormat kepadamu, tetapi aku benar-benar tidak ingin menjualnya.'
Setelah ditolak sekali lagi, Leman tidak memberikan penawarannya lagi pada Matt.
"Berhubung kamu benar-benar tidak ingin menjualnya, bolehkah aku mengajukan permintaan?
Bisakah kamu memberiku salah satu akar ginseng? Apa kamu akan menyetujui ini, Matt?"
Leman menatap Matt penmuh harap saat mengatakan permintaannya. Tentu. Aku akan memberikan salah satu akarnya. Kuharap kamu tidak kesal lagi."
Matt berpikir bukanlah masalah besar jika ginseng itu kehilangan salah satu akarnya. Selain itu,
dia merasa Leman adalah pria tua yang baik. Dia juga percaya bahwa pertemuan mereka sudah
ditakdirkan, jadi dia menyetujui permintaan itu.
"Oke, oke. Terima kasih, Matt. Aku akan memotongnya sekarang juga!"
Setelah mengatakan itu, Leman berlari ke kamar seperti anak kecil, mengeluarkan kain merah,
memotong salah satu akar ginseng, dan dengan hati-hati meletakkannya di atas kain merah.
Selanjutnya, dia membungkus ginseng Matt dengan kain merah lainnya dengan hati-hati. "Aku
belum pernah melihat orang lain menyimpan ginseng dalam kantong plastik. Kamulah
satu-satunya."
Leman merasa sangat senang mendapatkan akarnya.
"Haha. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk menyimpannya."
"Kamu harus menyimpannya dengan benar ketika kamu pulang. Jika kamu tidak bisa
melakukannya, tinggalkan saja di sini, aku akan menyimpannya untukmu.'
Leman menatap Matt yang sedang minum kopi sambil tersenyumn licik.
"Prut!" Matt menyemburkan kopi yang baru saja diminumnya. Seperti perkiraannya,
kebijaksanaan memang benar-benar muncul seiring bertambahnya usia. Dia sama sekali tidak
sebanding dengan Leman.
"Hahaha. Lihat betapa ketakutannya dirimu. Aku hanya bercanda. Akan lebih berbahaya jika
kamu menyimpannya di sini." Suasana hati Leman sedang baik sehingga dia bercanda dengan
Matt.
Kemudian, Matt pun pamit untuk pergi setelah meminum beberapa cangkir kopi. Namun, Lusi
menghentikannya begitu Matt melangkah ke balai pengobatan. Matt menatapnya dengan
bingung, tidak tahu apa maksudnya.
"Lusi, apa yang kamu lakukan?"
Leman menatap Lusi dengan agak marah.
"Kakek, pembohong ini berjanji akan membayar biaya pengecekan barusan. Kita tidak bisa
membiarkannya pergi begitu saja."
Lusi terus bersikeras mengatakan bahwa Matt adalah pembohong.
"Nona Lusi, mengapa aku menjadi pembohong? Tidakkah menurutmu agak tidak pantas
mengatakan itu?"
Matt mengerutkan alisnya.
"Kamu ... hm! Aku tidak peduli! Jika kamu ingin pergi, kamu harus membayar biaya
pengecelkan!"Lusi menatap Matt sambil berkacak pinggang.
"Baik. Aku akan membayar biaya pengecekan. Maukah kamu melepaskanku jika aku
membayarnya?"
Matt menatap Lusi dengan pasrah.
"Iya! Totalnya 7 juta rupiah!"
__ADS_1
Lusi berpikir sejenak dan mengulurkan tangannya pada Matt.
"7juta rupiah? Itu seperti perampokan di siang hari."
Matt terkejut mnendengarnya.
"Apa ada yang salah? 17 juta rupiah sudah termasuk murah. Apa kamnu tahu kalau kakekku ..."
Belum sempat Lusi menyelesaikan kalimatnya, Leman segera memotongnya.
"Lusi, Matt baru saja memberiku akar ginseng berusia seabad itu. Dia tidak perlu membayar
biaya pengecekan apa pun. Bahkan, aku mendapat manfaat dari perdagangan ini."
Leman memelototi cucunya.
"Kakek! Hm! Kalian berdua bersekongkol untuk merundungku!"
Lusi mengentakkan kakinya dan berlari kembali ke halaman.
"Matt, tidak usah masukkan ke dalam hati. Aku memang terlalu memanjakan cucuku. Dia sudah
seperti ini sejak masih kecil. Maaf," ucap Leman.
Matt mengangguk untuk menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak tersinggung. Setelah itu, dia
meninggalkan Balai Pengobatan Musim Semi.
Beberapa saat kemudian, Matt sudah sampai di rumahnya. Sementara itu, Leman yang masih
berada di balai pengobatannya, lalu menerima sebuah panggilan telepon. Setelah menutup
teleponnya, dia buru-buru mengambil peralatan obatnya dan akar ginseng yang diberikan Matt
barusan. Dia meminta Lusi untuk tetap di balai pengobatan dan kemudian berangkat dengan
mobil yang sudah diparkir di dekat pintu masuk.
Di sebuah mansion, seluruh keluarga sudah menunggu dengan cemas. Dua atau tiga menit
kemudian, Leman akhirnya muncul. Saat dia tiba, dia langsung dibawa ke sebuah ruangan.
Seorang pria tua seusia Leman sedang berbaring di tempat tidur. Pria tua itu tampak sangat
tidak nyaman dengan berbagai alat medis dan botol oksigen yang melekat padanya.
Di samping pria tua itu duduk seorang wanita muda. Ternyata, wanita muda itu adalah Tina. Dia
sedang terisak saat itu dan wajahnya berlinang air mata. Pria tua yang terbaring di ranjang
adalah kakeknya. Malam sebelumnya, dia menerima telepon dari ibunya, yang memberi tahu
bahwa kakeknya tiba-tiba jatuh sakit.
Setelah menerima panggilan telepon tersebut, Tina bergegas pulang ke rumah. Ketika tiba di
rumah, dia melihat bahwa semua anggota keluarganya dari seluruh negeri sudah berada di sana.
"Tuan Leman, tolong periksa ayahku. Kenapa dia tiba-tiba jatuh sakit?" Seorang pria paruh
baya yang tampak bermartabat berkata kepada Leman. Pria paruh baya itu adalah Tantowi Fahri, wali kota Zarkara.
"Jangan khawatir. Dia akan baik-baik saja."
Leman meminta semua orang keluar sebelum memeriksa denyut nadi pria tua yang terbaring di
ranjang.
Sekitar satu jam kemudian, dia keluar dari kamar.
"Dia baik-baik saja sekarang. Untungnya, aku mendapat akar ginseng berusia seabad dari
seorang pemuda hari ini. Jika tidak, Tuan Wade tidak akan bisa terselamatkan.'
Leman sedang menjelaskan betapa serius situasinya.
"Tuan Leman, kapan ayahku akan sembuh?" Tantowi bertanya.
"Kondisinya sangat buruk. Aku berhasil membuatnya bertahan dengan menggunakan akar
ginseng berusia seabad itu. Untuk pemulihan total, dia membutuhkan ginseng berusia seabad
bersama dengan obat yang aku resepkan," jawab Leman.
"Tuan Leman, dari mana kamu mendapatkan akar ginseng berusia seabad itu? Aku ingin
membelinya dari orang itu," kata Tantowi.
Sambil tersenyum pahit, Leman berkata, "Aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk
berbicara dengan pemuda itu hari ini. Aku bersedia membayarnya dengan harga tinggi, tetapi
dia tidak mau menjualnya, jadi aku tidak punya pilihan selain meminta akarnya saja."
"Siapa namanya? Aku akan berbicara dengannya secara langsung. Selain itu, beri tahu semua
orang untuk mencari ginseng berusia seabad."
Bagian pertama kalimat Tantowi ditujukan pada Lenman, sedangkan bagian kedua ditujukan
kepada sekretarisnya.
"Namanya Matt Luham."
Leman pun menyebutkan nama lengkap Matt.
__ADS_1