Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
bab 21


__ADS_3

Tina tentu saja tidak percaya, tetapi dia tidak bertanya lagi ketika melihat ekspresi wajah Matt.


Sepertinya, Matt memang tidak berbohong sebab raut wajahnya memang tampak biasa saja.


"Kita mau ke mana?"


Matt bertanya seraya menatap Tina. Wanita itu belum memberi tahu tujuan mereka.


"Aku punya beberapa rencana. Pertama-tama, kamu temani aku membeli baju, selanjutnya kita


akan pergi ke taman hiburan. Nah, setelah itu kamu bisa mentraktirku makan. Tidak boleh


protes karena sudah diputuskan," kata Tina sambil tersenyum licik.


"Oke, tidak masalah!"


Sebetulnya, Matt tahu makna dibalik senyum Tina. Dia akan mengikuti Tina berkeliling dan


membawa tas belanjanya. Matt tidak merasa khawatir karena mengingat kondisi fisiknya saat


ini, membawa beberapa tas hanyalah hal kecil baginya.


'Oke, kamu sudah berjanji padaku, ya. Tidak bisa ditarik lagi," ujar Tina sambil mempercepat


laju mobilnya.


Huruf-huruf yang tertulis besar di pintu pusat perbelanjaan sudah terlihat, pertanda rencana


pertama Tina akan segera terlaksana. Mereka telah sampai di Plaza Shopping Tambun untuk


membeli beberapa pakaian dari pusat perbelanjaan tersebut.


"Aku sudah lama tidak membeli pakaian. Aku akan membeli lebih banyak kali ini.'


Tina menggoda Matt untuk melihat reaksi pria itu, tetapi justru membuatnya kecewa. Matt


tidak bereaksi sama sekali dan tetap terlihat santai. Tina pun berhenti menggodanya dan


bergegas menuju toko pakaian, sementara Matt mengekor di belakangnya.


Plaza Shopping Tambun merupakan pusat perbelanjaan dengan jumlah pelanggan yang besar.


Mereka menjual berbagai jenis pakaian dengan variasi harga yang berbeda-beda pula, biasanya


pakaian-pakaian mahal ditempatkan di bagian belakang.


Begitu mereka memasuki Plaza Shopping Tambun, seorang pramuniaga segera menghampiri


mereka dan menanyakan apa yang mereka butuhkan. Dengan begitu, mereka dapat membantu


pelanggan untuk menemukan barang yang mereka beli dengan cepat. Tina ingin berbelanja


sembari berjalan-jalan, jadi dia menolak tawaran itu.


Pramuniaga itu adalah seorang gadis berusia dua puluhan. Saat dia melihat pakaian Tina dan


penampilan Matt, dia sepertinya mengerti mengapa Tina tidak membutuhkan bantuannya.


Pramuniaga itu memandang Matt dengan tatapan aneh, tetapi tentu saja Matt mengabaikannya.


Tina sepertinya juga menyadari hal ini, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa dan malah terus


berialan sambil tersenyum.


"Kenapa kamu suka berbelanja di tempat yang ramai? Aku rasa kamu tidak berasal dari


keluarga yang sederhana. Sepertinya kamu juga tidak perlu berhemat, bukan? Jadi, untuk apa


kita ke tempat ini?" tanya Matt pada Tina.


"Kamu tahu apa? Kita harus tetap bersikap rendah hati pada orang lain di zaman ini! Apa kamnu


tidak pernah bersikap rendah hati pada orang lain?" Tina mengerlingkan matanya pada Matt.


Matt tidak mengerti dunia fesyen, jadi dia mengalbaikan kerlingan mata Tina. Mereka terus


berjalan masuk ke dalam Plaza.


Tina baru berhenti berjalan ketika mereka sampai di sebuah toko pakaian. Dia dengan


bersemangat melihat-lihat semua jenis pakaian yang ada di sana.


Tina meraih sebuah gaun berwarna merah jambu lalu bertanya pada Matt, "Bagaimana dengan yang ini ?"


"Kelihatannya bagus!"


Matt menjawab pertanyaan Tina dengan jujur, tetapi Tina malah memonyongkan bibirnya lalu


memilih gaun lain seraya bertanya lagi pada Matt, "Bagaimana dengan yang ini?"


"Itu juga kelihatan bagus!" Matt menmberikan jawaban yang sama dengan sebelumnya.


"Duh, sepertinya aku sudah masuk ke dalam perangkap. Setiap kali aku bertanya, selain menjawab itu kelihatan bagus, saran apa lagi yang bisa kamu berikan?"


Tina memprotes seraya memutar bola matanya sebab dia tidak menerima jawaban Matt yang singkat.


"Oh, apa lagi yang bisa aku katakan selain bagus? Kamu cantik, pakaian apa pun akan terlihat


bagus. Kamu tidak perlu bertanya kepadaku." Kata-kata tulus Matt membuat Tina tersipu.


"Apakah itu benar?"


Tentu saja seorang wanita akan merasa senang setelah dipuji, bahkan sebenarnya, setiap wanita


selalu ingin dipuji.


"Tentu saja. Aku tidak membohongimu." Matt kembali mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu benar-benar bodoh! Kamu tidak tahu bagaimana cara memujiku dengan benar."

__ADS_1


Tina terus mengerlingkan matanya pada Matt. Dia merasa bahwa Matt tidak memiliki selera


humor yang bagus dan itu membuat Tina jengkel.


Ketika Matt hendak membalas ucapan Tina, seseorang tiba-tiba nmemotongnya dan berkata,


"Hei, bukankah kamu juniorku? Aku bertanya-tanya mengapa kamu tidak menyukaiku. Pantas


saja, ternyata kamu punya teman wanita seperti itu."


Suara sarkastik itu datang dari samping.


Matt dan Tina berhenti berdebat, lalu menoleh ke samping secara bersamaan. Orang yang


berbicara tadi adalah seorang wanita yang memakai sepatu hak tinggi dan pakaian modis,


wajahnya dipenubhi riasan sampai-sampai orang tuanya pun mungkin tidak akan mengenalinya.


Setelah terdiam beberapa saat, Matt akhirnya mengingat wanita itu. Mereka pernah bertemu di


pasar petani dan wanita itu meminta Matt untuk pergi bersamanya. Namun, Matt lupa namanya dan sedang berusaha mengingat-ingat.


'Oh, aku ingat, namanya Lili Setiawan!' batinnya dalam hati.


Tina yang berada di samping Matt menatap Lili dari atas ke bawah, lalu menoleh pada Matt. Dia


menatap mereka dengan penuh minat.


Aku tidak menyangka kamu ada di sini. Apa kamu sedang berbelanja sesuatu?" tanya Matt


acuh tidak acuh begitu mengingat siapa Lili.


"Tidak penting apa yang sedang aku cari. Yang terpenting bagiku adalah juniorku mau


menemaniku berbelanja." Lili mengerling pada Matt penuh arti.


"Tunggu! Kamu bicara apa? Matt adalah milikku. Jangan coba-coba merebutnya!" Tina sontak


menyela saat mendengar perkataan Lili, tetapi dia sepertinya menyadari kalau dirinya asal


berbicara, jadi dia langsung mengoreksi ucapannya, "Akulah yang mengajak Matt terlebih dahulu."


"Oh, begitu. Siapa kamu? Aku Lili Setiawan. Dilihat dari penampilanmu, sepertinya aku lebih


muda darimu." Lili terkekeh saat menatap Tina dengan raut wajah tidak ramah sambil


mengulurkan tangannya kepada Tina.


"Namaku Tina Fahrezi. Oh, benarkah? Aku tidak yakin apakah kamu lebih muda dariku atau


tidak. Kamu justru terlihat setua bibiku.'


Tentu saja Tina mengerti apa maksud dari perkataan Lili barusan.


Kedua wanita itu saling mnemandang dengan penuh permusuhan. Hawa-hawa kemarahan


"Beraninya kamu mengatakan aku mirip bibimu! Aku tidak setua itu! Bagaimana bisa kamu


berkata seperti itu? Dasar wanita jelek!"


Setelah mendengar sindiran tajam Tina, Lili berhasil masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh Tina.


"Haha, kamu tidak hanya tua, tetapi juga jelek. Kalau tidak, kenapa Matt selalu menolakmu dan


malah bersamaku saat ini?


Seraya berkata, Tina meletakkan tangannya di bahu Matt. Matt harus mengakui bahwa Tina memiliki lidah yang tajam.


"Kamu! Cih! Minggir!"


Lili seketika naik pitam begitu melihat sikap Tina dan Matt yang berubah secara tiba-tiba. Dia


menatap Matt dan Tina dengan kesal lalu pergi meninggalkan mereka berdua dengan marah.


"Bagaimana menurutmu? Apakah aku pandai berakting? Pengalamannya masih belum cukup


untuk bersaing denganku. Beraninya dia mengatakan aku tua!" Tina bertepuk tangan dan


berkata pada Matt dengan ekspresi sombong.


"Hebat! Aku mnengagumimu!


Matt benar-benar tidak bisa berkata-kata. Dia tidak talhu apa yang akan orang lain pikirkan


tentangnya begitu omong kosong Tina tadi menyebar. Namun, ucapan Tina barusan juga cukup


membantunya untuk menyingkirkan Lili.


"Iya! Kamu tidak perlu terlalu berterima kasih. Cukup traktir aku makan."


Tina melanjutkan kegiatan berbelanjanya dan terus memilih beberapa pakaian dengan


bersemangat. Apa yang terjadi barusan hanyalah masalah kecil baginya dan sama sekali tidak


memengaruhinya. Matt menggelengkan kepala dan terus mengikutinya. Bagaimanapun juga, dia


telah menyetujui semua rencana Tina.


Tina benar-benar gemar berbelanja. Begitu Matt tersadar, Tina sudah membeli banyak barang.


Alhasil, kedua tangan Matt penuh dengan banyak tas belanja, kotak besar, dan kotak kecil.


Bahkan sebuah tas belanja menggantung di lehernya. Ketika Matt sudah hampir merasa tidak


tahan lagi, Tina akirnya memutuskan untuk menyudahi kegiatan berbelanjanya lalu mereka


melangkah keluar dari Plaza Shopping Tambun.


"Bagaimana menurutmu? Sekarang kamu tahu bahwa wanita memang pandai berbelanja, 'kan?"

__ADS_1


Tina menatap Matt dengan puas. Semakin banyak barang yang dia beli, semakin dia merasa


bersemangat. Sebelumnya, Matt berpikir bahwa dia hanya perlu mengandalkan fisiknya ketika


berbelanja dengan wanita, tetapi nyatanya, berbelanja dengan wanita terasa begitu sulit.


Matt akhirnya memercayai rumor yang mengatakan bahwa wanita tidak akan pernah kelelahan


setelah berbelanja. Selama uangnya cukup, dia percaya bahwa wanita bisa berbelanja dari pagi


hingga sore. Tentu saja, dengan syarat mereka butuh seorang pacar untuk membantu mereka


membawa semua tas belanjaan.


"Aku mengaku kalah. Akhirnya aku melihat betapa kuatnya dirimu. Apakalh ini bakat


bawaanmu? Kenapa kamu malah semakin bersemangat?" Matt sedang memegang banyak


barang di tangannya dan merasa tidak berdaya.


"Baguslah. Aku hanya ingin kamu mengaku kalah. Tunggu aku di sini, aku akan membawa


mobilku ke sini. Terima kasih!" Tina menepuk bahu Matt lalu dengan segera membawa


mobilnya ke tempat Matt menunggu.


"Oke, rencana pertama selesai. Selanjutnya, kita akan pergi ke taman hiburan. Duduklah dengan


tenang!"


Begitu Matt meletakkan semua tas belanja itu, Tina langsung menginjak pedal gas dan melaju.


"Bisakah kamu menyetir dengan aman?"


Matt mengusap kepalanya yang terbentur pintu mobil.


"Oke, oke. Kamu adalah laki-laki, tetapi kamu sangat penakut. Aku akan mengemudi dengan


perlahan. Sebetulnya, tidak seru mengemudi seperti ini. Kamu harus merasakan jantungmu


yang berdetak dengan cepat." Melihat raut wajah Matt yang enggan, Tina pun menurunkan


kecepatan mobilnya.


Matt memintanya untuk mengemudi secara perlahan demi keselamatan. Matt mengeluh dalam


hati, 'Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi, kan? Bisa saja seorang anak kecil


tiba-tiba berlarian di jalan, lalu dengan tidak sengaja mobil ini menabraknya!"


Setelah beberapa saat, mereka akhirnya tiba di taman hiburan. Begitu Tina dan Matt


melangkah masuk, seketika mereka menarik perhatian banyak orang karena perpaduan


kecantikan dan ketampanan mereka berdua. Banyak orang mengira mereka adalah pasangan.


Waktu berlalu dengan cepat. Mereka berdua telah menaiki semua wahana di taman hiburan,


seperti bianglala, roller coaster, kapal bajak laut, dan wahana lainnya. Mereka tidak keluar dari


taman hiburan sampai semua wahana telah mereka naiki.


Matt benar-benar terkesiap melihat energi Tina yang tidak ada habisnya. Tina tampak tidak mengenal rasa lelah samna sekali. Perjalarnan ke pusat perbelanjaan dan taman hiburan saja


sudah cukup untuk mereka bermain sampai malam.


Setelah meninggalkan taman hiburan, mereka tidak lantas beristirahat. Tina langsung


melajukan mobilnya ke tempat terakhir kali mereka makan bersama dan memesan banyak


hidangan. Setelah hidangan disajikan, Tina menyantapnya dengan gembira.


Matt menatap Tina yang sedang melahap makanan dengan rakus lalu bertanya, "Tina, apa


pekerjaanmu? Kamu sepertinya seumuran denganku. Apakah kamu tidak kuliah?" Matt telah


menyimpan pertanyaan ini dalam pikirannya untuk waktu yang lama, sekarang, akhirnya dia


memiliki kesempatan untuk mengutarakannya.


"Aku juga seorang mahasiswa. Aku alkan memberitahumu sebuah rahasia. Sebenarnya, aku juga


kuliah di Universitas Jayakota dan berada di tahun yang sama denganmu. Namun, aku sudah


lama tidak pergi ke kampus, aku lebih suka bermain."


Tina memiringkan kepalanya dan berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Matt. Dia


tampak seolah-olah sudah lama berada di universitas.


"Benarkah? Kamu berada di tahun yang sama denganku? Kenapa aku tidak pernah melihatmu


selama ini?" Matt tidak memercayai ucapan Tina sama sekali.


"Sudah kubilang, aku jarang pergi ke kampus. Aku menghabiskan sebagian besar waktuku


untuk bermain di luar." Tina kembali mengerlingkan matanya pada Matt, dia terlihat tidak


sabar menghadapi sikap Matt.


Matt yang telah menghabiskan satu hari penuh dengan Tina, mulai terbiasa dengan sikapnya.


"Lantas, kamu berada di jurusan apa?" tanya Matt lagi.


"Aku mengambil jurusan ekonomi dan manajemen. Kamu berada di jurusan pertanian, bukan?"


Tina berpikir sejenak. Dia telah meminta ayahnya untuk menyelidiki Matt sejak kecelakaan itu,


jadi dia mengetahui beberapa informasi tentang pria itu.

__ADS_1


__ADS_2