Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
bab 17


__ADS_3

Dalam waktu singkat, ketiga keranjang itu sudah hampir kosong, tetapi antrean


masih panjang. Beberapa pembeli yang datang adalah pelanggan Matt, sedangkan


Sebagian lainnya baru pertama kali mengunjungi kiosnya berkat rekomendasi


kenalan mereka.


Matt menjual kubis terakhir yang dibawanya, dan semua sayurannya telah habis


terjual. Dompetnya sudah menggelembung, pasti dia memperoleh laba lebih banyak


kali ini.


Matt mengalihkan pandangan ke arah keranjang kosong di hadapannya, dan


berkata kepada orang-orang yang masih mengantre, "Maaf, semuanya. Semua


sayurannya sudah habis terjual Silakan kembali lagi besok."


"Hei, anak muda, sebaiknya kamu membawa lebih banyak sayuran besok, kamu


juga yang akan untung. Lihat, kami tidak kebagian untuk membeli sayuranmu hari


ini," ujar seorang wanita paruh baya.


"Sebenarnya, saya juga ingin menjual lebih banyak, tetapi sayuran yang saya tanam


belum cukup, dan saya masih berusaha memperluas lahan. Kalau sudah panen,


saya pasti membawa lebih banyak sayuran. Maafkan saya karena Anda tidak bisa


membelinya hari ini," jawab Matt dengan sopan.


"Tidak apa-apa. Kami akan datang lagi besok, dan mengantre lebih pagi."


Mereka yang tidak kebagian untuk membeli sayur-sayuran Matt, akhirnya terpaksa


beralih ke kios lainnya.


Matt yang sedang membereskan keranjang kemudian meregangkan punggungnya.


Saat itulah dia melihat beberapa orang gadis yang berpenamplan sangat anggun dan


mewah. Akan tetap, Matt sama sekali tidak tertarik padamereka.


Setelah melirik mereka sebentar, Matt meletakkan belberapa keranjang di atas


gerobak. Tiba-tiba, sebuah suara genit terdengar dari seberang jalan. "Matt? Matt,


rupanya memang kamu!"


Mendengar seseorang memanggil namanya, Matt mendongak dan mendapati bahwa


suara itu berasal dari salah satu gadis cantik barusan.

__ADS_1


Matt menatapnya, sambil mengerutkan kening dia bertanya, "Apakah kamu


mengenalku?"


Wanita itu terlihat kecewa mendengar perkataan Matt. Dia pun menghampiri Matt


dan melingkarkan tangannya di lengan kanan Matt. "Kamu bahkan tidak tahu siapa


aku? Aku seniormu, Lili Setiawan."


Matt menepis tangan Lili, dan menatapnya dengan sinis. "Maaf. Aku tidak


mengenalmu. Tolong pergi dari sini"


Ya ampun, suasana hatimu sepertinya sedang buruk, Dik Matt. Apa kamu merasa


lelah? Apa aku boleh mengiburmu?" Lili memang sangat memesona, wanita seperti


dirinya pasti sangat lihai dalam urusan asmara.


"Nona Lili, sebaiknya jaga sikapmu. Aku khawatir tidak bisa menahan emosi dan


melukai wajah cantikmu itu. Apa yang akan kamu lakukan jika itu sampai terjadi?"


ucap Matt sambil tersenyum pada Lili.


"Dasar bocah tengil! Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu? Apa kamu tidak akan


menyesal? Bukanlah lebih baik meluangkan waktu bersamaku daripada menjadi


tukang sayur?" Lili menyampaikan maksudnya dengan jelas, siapapun yang


"Hahaha .... " Para wanita lain di dekat mereka lantas mengejek Lili karena Matt


tetap bergeming tak peduli.


"Lili, menggoda seorang junior saja kamu tak becus. Apa kamu butuh bantuan


kami?" Salah satu wanita tersenyum pada Lili.


"Tidak perlu! Matt, aku pasti akan memilikimu suatu hari nanti!"


Matt hanya menunduk dan terus membereskan barang-barangnya, mengabaikan


Lili. Melihat itu, dengan kesal Lili berbalik meninggalkan Matt dan pergi bersama


teman-temannya.


Matt menghela napas lega. "Mengapa pelajar zaman sekarang begitu vulgar dan


sembrono? Aku ini adalah seorang pemuda berbudi luhur dan tidak akan pernah


melakukan hal seperti itu!"


Matt mengemasi barang-barang yang ada di kios ke dalam gerobak motor, lalu

__ADS_1


mengendarainya kembali ke kantor manajemen pasar petani. Setelah


mengembalikan barang-barang itu, dia pun pergi meninggalkan pasar.


Saat kembali ke asramanya, dia meletakkan semua uang yang didapatkannya ke atas


ranjang. Setelah menghitung sebentar, dia ternyata kali ini menghasilkan lebih


banyak uang dari sebelumnya. Total penghasilannya hari ini adalah sekitar 2,3 juta


rupiah, dua kali lebih banyak dari hasil penjualan terakhir. Jika terus seperti ini, dia


akan menghasilkan 12 juta rupiah dalam seminggu dan 23 juta rupiah dalam dua


minggu. 'Aku akan punya banyak uang!' pikir Matt.


Matanya kembali berbinar-binar. Seketika itu pula dia merasa bahwa menghasilkan


uang sangatlah mudah. Tidak ingin terlarut dalam rasa sukacitanya, Matt pergi ke


bank di luar kampus untuk menabung 2,3 juta rupiah yang baru didapatkannya hari


ini. Jika dia menjual lebih banyak sayuran, penghasilannya pasti akan melimpah.


Berhubung Matt telah membeli cukup banyak benih sayuran, dia tidak melakukan


pemesanan lagi. Benih-benih itu saja sudah cukup untuk beberapa hari ke depan.


Nantinya, dia akan menanam paprika, cabai, dan sayuran lainnya. Dia ingin


memenuhi Taman Peri dengan benih pilihan dan menjadikannya kebun sayur!


Saat ini Taman Peri masih terlihat kosong. Sayur-mayur dan buah-buahan yang


ditanamnya hanya memakan sedikit ruang. Sayang sekali jika lahan kosong yang


luas itu tidak ditanam apa pun.


Matt kembali memasuki Taman Peri. Kali ini, dia ingin melihat apakah pohon


bambunya telah tumbuh subur. Dia sangat ingin membangun rumah bambu,


karena tidak ada tempat berteduh di Taman Peri. Meskipun tempat itu tidak


berpenghuni, tetap saja tidak baik baginya untuk berada di alam terbuka sepanjang


hari.


Melihat rumpun bambu hijau yang menjulang di hadapannya, Matt baru tahu


bahwa bambu bisa tumbuh begitu tinggi. Pasti keajaiban Taman Peri yang


membuatnya bertumbuh pesat dan sangat mengagumkan.


Lahan di sekitar rumpun bambu itu sudah cukup luas bagi Matt untuk membangun

__ADS_1


sebuah rumah bambu. Dia pun segera memanggil Maxim untuk membantu


mewujudkan keinginannya di Taman Peri ini.


__ADS_2