
Dalam waktu singkat, ketiga keranjang itu sudah hampir kosong, tetapi antrean
masih panjang. Beberapa pembeli yang datang adalah pelanggan Matt, sedangkan
Sebagian lainnya baru pertama kali mengunjungi kiosnya berkat rekomendasi
kenalan mereka.
Matt menjual kubis terakhir yang dibawanya, dan semua sayurannya telah habis
terjual. Dompetnya sudah menggelembung, pasti dia memperoleh laba lebih banyak
kali ini.
Matt mengalihkan pandangan ke arah keranjang kosong di hadapannya, dan
berkata kepada orang-orang yang masih mengantre, "Maaf, semuanya. Semua
sayurannya sudah habis terjual Silakan kembali lagi besok."
"Hei, anak muda, sebaiknya kamu membawa lebih banyak sayuran besok, kamu
juga yang akan untung. Lihat, kami tidak kebagian untuk membeli sayuranmu hari
ini," ujar seorang wanita paruh baya.
"Sebenarnya, saya juga ingin menjual lebih banyak, tetapi sayuran yang saya tanam
belum cukup, dan saya masih berusaha memperluas lahan. Kalau sudah panen,
saya pasti membawa lebih banyak sayuran. Maafkan saya karena Anda tidak bisa
membelinya hari ini," jawab Matt dengan sopan.
"Tidak apa-apa. Kami akan datang lagi besok, dan mengantre lebih pagi."
Mereka yang tidak kebagian untuk membeli sayur-sayuran Matt, akhirnya terpaksa
beralih ke kios lainnya.
Matt yang sedang membereskan keranjang kemudian meregangkan punggungnya.
Saat itulah dia melihat beberapa orang gadis yang berpenamplan sangat anggun dan
mewah. Akan tetap, Matt sama sekali tidak tertarik padamereka.
Setelah melirik mereka sebentar, Matt meletakkan belberapa keranjang di atas
gerobak. Tiba-tiba, sebuah suara genit terdengar dari seberang jalan. "Matt? Matt,
rupanya memang kamu!"
Mendengar seseorang memanggil namanya, Matt mendongak dan mendapati bahwa
suara itu berasal dari salah satu gadis cantik barusan.
__ADS_1
Matt menatapnya, sambil mengerutkan kening dia bertanya, "Apakah kamu
mengenalku?"
Wanita itu terlihat kecewa mendengar perkataan Matt. Dia pun menghampiri Matt
dan melingkarkan tangannya di lengan kanan Matt. "Kamu bahkan tidak tahu siapa
aku? Aku seniormu, Lili Setiawan."
Matt menepis tangan Lili, dan menatapnya dengan sinis. "Maaf. Aku tidak
mengenalmu. Tolong pergi dari sini"
Ya ampun, suasana hatimu sepertinya sedang buruk, Dik Matt. Apa kamu merasa
lelah? Apa aku boleh mengiburmu?" Lili memang sangat memesona, wanita seperti
dirinya pasti sangat lihai dalam urusan asmara.
"Nona Lili, sebaiknya jaga sikapmu. Aku khawatir tidak bisa menahan emosi dan
melukai wajah cantikmu itu. Apa yang akan kamu lakukan jika itu sampai terjadi?"
ucap Matt sambil tersenyum pada Lili.
"Dasar bocah tengil! Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu? Apa kamu tidak akan
menyesal? Bukanlah lebih baik meluangkan waktu bersamaku daripada menjadi
tukang sayur?" Lili menyampaikan maksudnya dengan jelas, siapapun yang
"Hahaha .... " Para wanita lain di dekat mereka lantas mengejek Lili karena Matt
tetap bergeming tak peduli.
"Lili, menggoda seorang junior saja kamu tak becus. Apa kamu butuh bantuan
kami?" Salah satu wanita tersenyum pada Lili.
"Tidak perlu! Matt, aku pasti akan memilikimu suatu hari nanti!"
Matt hanya menunduk dan terus membereskan barang-barangnya, mengabaikan
Lili. Melihat itu, dengan kesal Lili berbalik meninggalkan Matt dan pergi bersama
teman-temannya.
Matt menghela napas lega. "Mengapa pelajar zaman sekarang begitu vulgar dan
sembrono? Aku ini adalah seorang pemuda berbudi luhur dan tidak akan pernah
melakukan hal seperti itu!"
Matt mengemasi barang-barang yang ada di kios ke dalam gerobak motor, lalu
__ADS_1
mengendarainya kembali ke kantor manajemen pasar petani. Setelah
mengembalikan barang-barang itu, dia pun pergi meninggalkan pasar.
Saat kembali ke asramanya, dia meletakkan semua uang yang didapatkannya ke atas
ranjang. Setelah menghitung sebentar, dia ternyata kali ini menghasilkan lebih
banyak uang dari sebelumnya. Total penghasilannya hari ini adalah sekitar 2,3 juta
rupiah, dua kali lebih banyak dari hasil penjualan terakhir. Jika terus seperti ini, dia
akan menghasilkan 12 juta rupiah dalam seminggu dan 23 juta rupiah dalam dua
minggu. 'Aku akan punya banyak uang!' pikir Matt.
Matanya kembali berbinar-binar. Seketika itu pula dia merasa bahwa menghasilkan
uang sangatlah mudah. Tidak ingin terlarut dalam rasa sukacitanya, Matt pergi ke
bank di luar kampus untuk menabung 2,3 juta rupiah yang baru didapatkannya hari
ini. Jika dia menjual lebih banyak sayuran, penghasilannya pasti akan melimpah.
Berhubung Matt telah membeli cukup banyak benih sayuran, dia tidak melakukan
pemesanan lagi. Benih-benih itu saja sudah cukup untuk beberapa hari ke depan.
Nantinya, dia akan menanam paprika, cabai, dan sayuran lainnya. Dia ingin
memenuhi Taman Peri dengan benih pilihan dan menjadikannya kebun sayur!
Saat ini Taman Peri masih terlihat kosong. Sayur-mayur dan buah-buahan yang
ditanamnya hanya memakan sedikit ruang. Sayang sekali jika lahan kosong yang
luas itu tidak ditanam apa pun.
Matt kembali memasuki Taman Peri. Kali ini, dia ingin melihat apakah pohon
bambunya telah tumbuh subur. Dia sangat ingin membangun rumah bambu,
karena tidak ada tempat berteduh di Taman Peri. Meskipun tempat itu tidak
berpenghuni, tetap saja tidak baik baginya untuk berada di alam terbuka sepanjang
hari.
Melihat rumpun bambu hijau yang menjulang di hadapannya, Matt baru tahu
bahwa bambu bisa tumbuh begitu tinggi. Pasti keajaiban Taman Peri yang
membuatnya bertumbuh pesat dan sangat mengagumkan.
Lahan di sekitar rumpun bambu itu sudah cukup luas bagi Matt untuk membangun
__ADS_1
sebuah rumah bambu. Dia pun segera memanggil Maxim untuk membantu
mewujudkan keinginannya di Taman Peri ini.