Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
Hari Rasa Syukur


__ADS_3

Matt kembali ke kehidupan normalnya beberapa hari kemudian dan menjalankan aktivitas sehari-harinya.


Matt melihat kalender dan menyadari bahwa dua hari lagi adalah Hari Rasa Syukur. Dia langsung menelepon


ibunya. "Hai, Ibu. Dua hari lagi adalah Hari Rasa Syukur. Aku akan pulang besok.


Dia mendesah saat menyadari betapa cepatnya waktu berlalu. Dia mengambil cuti beber apa bulan sebelumnya dan


itu baru mendekati Hari Rasa Syukur. Waktu sungguh mengalir dengan cepat. Matt, seorang mahasiswa yang


bekerja paruh waktu setiap hari, kini telah menabung sebesar 15 miliar rupiah. Saat dia di rumah, dia


memutuskan untuk memberikan uang itu kepada orang tuanya sehingga mereka tidak perlu bekerja terlalu keras


setiap hari. Dia belum menemukan cara yang tepat untuk menjelaskan dari mana dia mendapatkan uang itu.


Kemudian, dia menghubungi nomor manajer Restoran Gurih Furama. Matt memberi tahu bahwa dia akan pulang


ke rumahnya selama Hari Rasa Syukur dan akan memasok banyak sayuran untuk Jefri keesokan harinya sebelum


berangkat. Jefri pun langsung menyetujuinya. Sejak mereka mendapatkan pasokan sayuran dari Matt, bisnis


restoran mereka berkembang pesat, bahkan mereka selalu memiliki banyak pelanggan setiap harinya.


Alhasil, keuntungannya meningkat lebih dari dua kali lipat, sehingga dia menganggap Matt sebagai dewa


keberuntungannya. Bahkan, jika Matt tidak melakukan pemasokan selama beberapa hari, dia tidak akan


mengeluh. Lagi pula, penghasilannya hanya sedilkit lebih rendah untuk beberapa hari sampai Matt kembali.


Di Kota Zarkara, terdapat dua restoran mewah lagi yang merupakan saingan Restoran Gurih Furama, yaitu


Restoran Raja Vasa dan Restoran Enak Seafood.


Untuk beberapa hari terakhir ini, sebagian besar pelanggan memilih untuk makan di Restoran Gurih Furama.


Akibatnya, pendapatan kedua restoran tersebut menurun lebih dari 50 persen. Oleh karena itu, kedua restoran


tersebut mulai menggunakan koneksi mereka untuk mengecek hidangan tersebut setelah mengetahui bahwa


kesuksesan Restoran Gurih Furama sepenuhnya disebabkan oleh sayuran yang mereka beli dari suatu tempat.


Bahkan setelah beberapa hari, kedua restoran itu tidak dapat memperoleh informasi yang berguna. Mereka tidak


punya pilihan selain menyerah. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain mengamati tamu restoran lain


yang semakin bertambah jumlahnya, sementara tamu mereka sendiri berkurang, tetapi tidak ada yang tahu cara


untuk mengubah situasi tersebut.


Setelah menelepon Jefri, Matt segera menelepon Tina dan memberitahunya bahwa dia akan kembali ke kampung


halamannya besok untuk merayakan Hari Rasa Syukur. Tina menawarkan untuk mengantar Matt besok., tetapi


Matt menolak tawarannya. Dia tidak ingin memanfaatkan fasilitas yang dimiliki Tina.


Keesokan harinya, Matt mengemasi barang-barangnya. Bahkan, tidak banyak yang bisa dikemas. Dia hanya


membawa satu atau dua set pakaian dan memasukkannya ke dalam tasnya. Meskipun sedang libur, dua teman


serumahnya, Julio dan Yudi, tidak kembali ke rumanya masing-masing. Mereka mengatakan bahwa perusahaan


hanya memberi mereka libur satu hari sehingga mereka merayakannya di Kota Zarkara saja. Kemudian, Matt


pergi ke stasiun kereta setelah mengucapkan selamat Hari Rasa Syukur kepada mereka berdua.


Rumahnya berada di sebuah desa di kota kecil, jalan di sana juga rusak, jadi hanya beberapa orang yang mau


mengendarai mobil ke sana. Oleh karena itu, Matt hanya bisa naik kereta sampai kota, lalu mencari sopir untuk


mengantarnya pulang.


Untungnya, masih ada dua hari lagi sebelum perayaan Hari Rasa Syukur, jadi dia bisa membeli tiket kereta tepat


waktu. Tahun lalu, dia tidak bisa pulang lke rumahnya karena baru mengetahui bahwa mata kuliahnya ditunda.


Selain itu, tidak ada tiket kereta yang tersedia pada Hari Rasa Syukur.


Untungnya, kampusnya mempunyai hari-hari libur tahun itu. Sekarang ini, dia akhirnya berada di lkereta dan


duduk dengan tenang di tempatnya, bahlkan tersedia tempat tidur sehingga dia bisa berbaring. Dia akan sampai


dirumah selkitar pukul enam sore.


Matt memutuskan untuk menyimpan semua barang berharganya di Taman Peri agar dia tidak perlu khawatir


uangnya dicuri, mengingat banyaknya pencuri di kereta. Ranselnya hanya berisi dua setel pakaian, bahkan


laptopnya telah disimpan di Taman Peri.Terdapat dua pria yang cukup kuat duduk di sebelahnya. Merelka berpakaian seperti petani dan kemungkinan besar


bekerja di pedesaan. Berhubung sebentar lagi adalah Hari Rasa Syukur, kemungkinan besar mereka pulang ke


rumah untuk merayakannya bersama istri dan anak-anakmereka. Matt menjadi bosan dengan pemandangan di


luar jendela setelah beberapa saat. Sementara itu, kereta masih terus melanjutkan perjalanan ke tujuannya, Matt

__ADS_1


pun segera berbaring dan memasuki Taman Peri.


Sesampainya di sana, dia langsung memanggil Maxime karena sudah lama tidak melihatnya. Setelah bertanya


pada Maxime, Matt menyadari bahwa ruang Taman Peri telah ditingkatkan sesuai dengn peningkatan


kultivasinya. Oleh karena itu, Maxime tidak bisa keluar seperti biasa lagi. Maxime juga tidak mengetahui


alasannya.


Kemudian, Matt menyuruh Maxime melanjutkan tugasnya lagi. Segera setelah itu, Matt berpatroli di Taman Peri


dan mendapati banyak. kubis, wortel, dan tomat yang tumbuh. Meskipun jumlahnya banyak, ragamnya terbatas.


Dia sangat ingin mengisi ruang Tanan Peri dengan berbagai macam sayuran sesegera mungkin.


Ketika dia tiba di lokasi di lahan jamur surai singa di Taman Peri, dia melihat sejumlah besar jamur surai singa


telah tumbuh di tanah. Tanaman yang tidak umum di dunia nyata menjadi umum di Taman Peri. Alhasil, dia


memutuskan untuk menanam lebih banyak tanaman jamur di masa depan. Terlebih lagi, musim dingin semakin


dekat dan segala macam jamur pasti akan sangat diminati.


Matt meninggalkan Taman Peri setelah menyelesaikan patrolinya. Dia tidak sengaja mendengar percakapan kedua


petani itu begitu dia kembali ke dunia nyata. Mereka berbicara tentang bagaimana bos tertentu dari lokasi


konstruksi memberi gaji yang sedilit padanya dan sebagainya. Setelah itu, mereka membahas harga pasar dan apa


yang bisa mereka lakukan untuk menghasilkan lebih banyak uang.


Selanjutnya, mereka menyatalkan penyesalan merelka karena tidak belajar dengan gigih ketika masih muda.


Akibatnya, mereka hanya bisa bekerja sebagai petani dan tidak pernah membuat diri mereka bangga.


Ketika Matt mendengarnya, dia menghela napas dalam-dalam. Mereka baru mengucapkan kata-kata itu setelah


menyadari semuanya sudah terlambat. Mereka tidak bekerja keras pada saat itu, jadi yang bisa mereka pikirkan


hanyalah kesalahan mereka.


Setelah beberapa saat, Matt merasa bahwa mendengarkan percakapan orang lain tidallah sopan, jadi dia berbaring


di tempat tidur dan memasuki Taman Peri lagi untuk berkultivasi.


Pukul lima sore, kereta akhirnya tiba di kota. Matt merasakan perasaan familier itu saat melihat sebuah papan


yang bertuliskan Kota Flaburi.


bergegas menuju sopir di pedesaan yang secara lkhusus bertanggung jawab untuk menjemput orang lain sebagai


mata pencaharian mereka, dia menanyakan harga perjalanan ke Desa Hutagama, lalu meminta sopir untuk


mengantarnya ke sana.


Begitu mereka tiba di pintu masuk desa, Matt keluar dari mobil. Dia berjalan ke sana dengan membawa tas dalam


jumlah besar setelah membayar sopir tersebut.


Takjauh dari sana, seorang pria tua mendekati Matt sambil membawa cangkul di bahunya. Dia tampak sedang


dalam perjalanan untuk bekerja di ladang.


"Matt, kamu sudah kembali!" seru pria sepuh itu seraya mendekati Matt.


"Halo, Tuan Gani. Apakah kamu sudah makan? Mengapa kamu bekerja selarut ini?"


Matt mengenali Gani Daril. Dia berteman baik dengan Gani.


"Senang bertemu denganmu lagi! Aku sudah kehabisan air selama beberapa hari, itulah mengapa aku di sini, aku


harus segera mendapatkan air untuk dialirkan ke ladangku," kata Gani sambil menepuk bahu Matt.


"Baillah. Datanglah ke rumahlku saat kamu senggang nanti malam," ucap Matt tak ingin membuang waktu Gani.


"Oke, nanti malamn aku ke sana!" Gani tersenyum sambil berjalan pergi.


Matt kemudian melanjutkan perjalanan ke rumahnya. Dia mengenali hampir semua orang yang dilihatnya di


desa. Mereka sudah lama tinggal di desa, tetapi tidak ada yang berubah. Sambil berjalan,


lan dia bertukar salam


dengan mereka dan mengundang mereka untuk datang dan menemuinya nanti untuk mengobrol. Mereka semua


mengangguk dengan gembira.Rumah Matt berada di ujung desa, yang merupakan rumah beton satu lantai. Dana keluarga mereka terbatas dan


kedua orang tuanya memerlukan biaya untuk menyokong pendidikan perguruan tinggi Matt, jadi merelka tidak


punya cukup uang untuk menambah lantai. Mayoritas rumah di desa hanya memiliki satu tingkat, bahkan


beberapa rumah mnemiliki atap genteng.


Saat Matt membuka pintu, dia melihat ibunya sedang bekerja di dapur, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan

__ADS_1


ayahnya.


"Ibu, aku sudah pulang!" Matt meletaklkan barang-barang di tangannya dan berlari menghampiri ibunya, yang


sedang sibuk di dapur.


"Matt, akhirnya kamu pulang juga!"


Ibu Matt, Lasmi, menghentikan apa yang dia lakukan, mengelap tangannya, dan bergegas memegang kedua


tangan Matt


"Apa kamu lapar? Tunggu sebentar, ya. Makan malam akan siap sebentar lagi. Kamu bisa istirahat dahulu."


Kemudian, Lasmi mengambil ransel Matt dan kembali ke dapur setelah mengatakan itu.


Ketika Matt masuk ke kamarnya, ternyata ibunya telah membersihkan dan merapikan tempat tidurnya. Mata


Matt tiba-tiba berlinang, ibunya selalu mengutamakan kepentingannya.


"Bu, di mana Ayah?"


Matt menyeka air mata dari sudut matanya dan pergi ke dapur.


"Ayahmu lagi bekerja di ladang. Akhirnya, ada air untuk ladang, jadi dia harus menyiram jagung, yang telah layu


karena kekurangan air akhir-akhir ini," jawab ibunya.


"Kalau begitu, aku pergi membantu Ayah saja. Kami alkan segera kembali setelah kami selesai."


Matt kemudian mengganti pakaiannya dan berlari ke luar dapur. Melihat itu, ibunya tersenyum senang.


"Aku lupa bertanya pada Ibu ladang yang mana. Banyak selkali ladang di sini. Mana yang harus aku datangi?" Matt


menyadari masalahnya saat dia berjalan menuju ladang. Setelah mempertimbangkannya selama beberapa detik,


dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke ladang terdelkat saja.


Matt, seperti yang diduga, memilih ladang yang tepat. Dia memperhatikan ayahnya yang sedang menggali ladang


dengan cangkul agar air mengalir ke ladang jagung. Matt kemudian mendekatinya.


"Matty, kamu kembali. Kenapa kamu tidak beristirahat di rumah? Serahkan pekerjaan beratnya padaku. Kamu


pulang saja."


Ayah Matt tentu saja senang melihat kedatangan putranya, tetapi dia pilkir Matt harus beristirahat di rumah


setelah perjalanannya.


Tidak apa-apa, Ayah. Aku sudah cukup beristirahat saat di kereta. Biarkan aku membantumu."


Kemudian, Matt mengambil cangkul dari ayahnya sembari berbicara. Lagi pula, ini bukanlah pertama kalinya dia


melakukannya.


Dia sudah biasa melakukan tugas-tugas seperti itu. Bahkan, dia pernah melakukannya ketika ladang benar-benar


kering sebab jagung yang mereka tanam dengan susah payah akan layu.


Matt menyuruhn ayahnya beristirahat. Kemudian, Matt diam-diam menuangkan Air Peri dari Taman Peri ke


ladang jagung saat ayahnya tidak memperhatikannya. Dia perlahan membungkuk dan membiarkan air mengalir


dari tangannya ke ladang jagung tersebut.


Setelah itu, Matt menunggu dan memperhatikan bahwa jagung di daerah sekitarnya tampak lebih segar setelah Air


Peri dari Taman Peri mengaliri ladang .


Matt hanya membiarkannya mengalir sebentar. Dia takut ayahnya akan merasa curiga jika jagung-jagung itu


langsung berkembang pesat setelah menerima air, jadi dia tidak berani menuangkan Air Peri terlalu banyak ke


ladang jagung tersebut.Matt terus belkerja untuk sementara waktu, akhirnya, air menutupi seluruh ladang. Dia kemudian membawa


cangkul ke tempat ayahnya beristirahat.


"Ayah, sudah selesai. Ayo, kita pulang," kata Matt pada ayahnya.


Ketika ayahnya melihat jagung di ladang, dia memperhatikan bahwa jagung mereka memiliki sedikit perbedaan


dengan milik orang lain. Jika dibandingkan, jagung di ladang mereka tamnpak lebih segar. Dia merasa ada yang


aneh, tetapi dia tidak mengungkapkannya. Dia hanya mengira bahwa jagung-jagung itu akhirnya tumbuh pesat


setelah dialiri air. Lalu, dia kembali ke rumah bersama putranya.


Namun, Matt langsung mengenali perbedaannya. Jagung-jagung yang telah dialiri Air Peri tumbuh lebih pesat


daripada jagung petani lainnya. Meskipun senang dengan hasilnya, dia tetap merahasialkannya dari ayahnya.


Lasmi baru saja selesai menyiapkan makan malam ketika mereka berdua kembali ke rumah. Tidak ada hidangan


istimewa dan semuanya sama seperti biasanya. Mengingat ada hidangan daging dan ikan, Matt menggoda dengan

__ADS_1


mengatakan bahwa ibunya sengaja memasalk hidangan tersebut karena dirinya pulang.


__ADS_2