
Matt saat ini berada dalam suasana hati yang sangat buruk!
'Bagaimana bisa ada seorang penolong yang tidak bertanggung jawab? Siapa pula
yang menyuruhnya untuk menolongku? Apakah dia sengaja melakukan ini untuk
mencelakaiku? Alih-alih memberiku air, dia nalah berlari keluar begitu saja karena
kegirangan,' gerutunya dalam hati.
Matt baru membuka sedikit kelopak matanya, jadi dia tidak melihat wajah orang itu
dengan jelas. Dia merasa sangat kecewa dan mengoceh sendiri.
Setelah beberapa saat, ketika dia hampir kehilangan kesabaran, wanita muda itu
akhirnya kembali.
"Matt, aku membawakanmu segelas air. Ini, minumlah sedikit. Aku juga sudah
memanggil dokter. Mereka akan membawamu untuk melakukan pemeriksaan
nanti,"
katanya sembari mencelupkan kapas ke dalam air dan menepuk pelan bibir
Matt. "Omong-omong, aku belum memberitahu namaku. Aku Tina Fahrezi. Pada
hari itu, aku baru saja mendapatkan SIM dan langsung mengemudi. Namun, aku
merasa terlalu gugup saat lampu lalu lintas berubah merah. Begitu aku berusaha
untuk menginjak rem, kakiku malah menginjak pedal gas..." Suaranya perlahan
mengecil saat dia menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Matt hampir tidak bisa memercayai apa yang didengarnya. 'Apa-apaan ini? Sangat
menakutkan,' pikirnya. Namun, otaknya mulai bekerja dengan cepat dan dia
menganalisis seluruh situasi yang didengarnya.
Berusia muda, SIM, Ferrari, dan mengemudikan mobil. Setelah menggabungkan
keempat variabel ini, dia bisa nmenarik satu kesimpulan, yakni wanita ini pasti
seorang wanita cantik nan kaya raya!
"Jika dia memang wanita cantik nan kaya, aku tidak perlu membayar biaya
pengobatannya sendiri, bukan?" Matt bertanya-tanya.
Matt hanya berpikir bahwa uangnya mungkin tidak cukup untuk membayar biaya
medis. Meskipun dia tidak tahu berapa banyak uang yang perlu dia tarik, dilihat dari
__ADS_1
situasinya saat ini, kemungkinan akan menelan biaya puluhan juta rupiah.
Mendengar apa yang dikatakan Tina, Matt hanya bisa membuka matanya dengan
enggan dan memutarnya untuk menunjukkan bahwa dia mengerti. Melihat ekspresi
Matt, Tina tidak bisa menahan tawa.
Seorang dokter masuk tepat pada saat itu, dia pertama-tama memeriksa mata Matt
sebelum seorang perawat nendorong tempat tidur dan membawa Matt ke ruangan
lain untuk pemeriksaan sisa efek samping dari kecelakaan kemarin.
Matt memejamkan matanya. Meski fisiknya tidak bisa bergerak, pikirannya masih
sangat sadar. Matt ingin kembali ke Taman Peri sekarang, tetapi dia tidak tahu
bagaimana cara menuju ke sana.
Matt mengingat-ngingat bagaimana biasanya masuk ke dalam sebuah novel dan
berpikir mungkin dia bisa memasuki Taman Peri dengan menyebutkan namanya
diam-diam di dalam hatinya. Setelah mencoba berkali-kali, dia tetap tidak berhasil.
'Sudah pasti semua itu hanya mimpi, 'kan?' renungnya.
Matt merasa kecewa sebab itu terasa terlalu nyata.
Setelah pemeriksaan, dokter memastikan bahwa tidak ada masalah lagi dengan
sepanjang jalan, bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan peralatan di rumah
sakit mereka. Setelah beristirahat beberapa waktu, Matt sudah bisa berbicara dengan jelas
sekarang.
Tina berjalan ke samping tempat tidur Matt dan meminta maaf lagi padanya, "Matt,
maafkan aku. Jika bukan karena aku hari itu, kamu tidak akan menjadi seperti ini.
Aku benar-benar minta maaf!"
"Tina Fahrezi, aku sudah bilang tidak apa-apa. Kamu tidak perlu terus meminta
maaf. Aku masih sama seperti sebelumnya, 'kan? Apa yang harus kamu
khawatirkan?"
Matt masih memiliki temperamen yang samna seperti sebelumnya. Dia tumbuh
dengan karakter yang baik karena didikan keluarganya.
"Kamu pasti akan sembuh total seperti sebelumnya. Percayalah padaku. Aku telah
__ADS_1
menyewa dokter elite untukmu. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan kesehatanmu,"
kata Tina ketika mendengar perkataan Matt.
'Ah, jadi begitu .... Matt merenung. Matt ragu-ragu apakah dia harus bertanya pada Tina atau tidak. Hal yang paling dia takuti sekarang adalah biaya medis.
Tina bahkan menyewa dokter terbaik. Jika dia harus membayar semua biaya medis
itu sendiri, dia mungkin lebih memilih mati saja.
Setelah berpikir sejenak, Matt memutuskan untuk bertanya. Karena menurutnya,
lebih baik bertanya langsung daripada terus-menerus mengkhawatirkannya.
"Hm, Nona Tina, eh .. " Dia tidak tahu bagaimana menyampaikan pertanyaannya.
"Panggil saja aku Tina. Ada apa?" Tina menjawab dengan ramah.
Baiklah, aku akan langsung ke intinya, kalau begitu. Tina, ehm... bukan aku yang
harus membayar biaya pengobatanku, kan?"
Butuh waktu lama bagi Matt untuk mengatakan itu. Setelahnya, dia bisa merasakan
wajahnya memerah padam.
Setelah mendengar perkataan Matt, Tina menatapnya dengan bingung.
Hah? Apa aku salah? Apa pada akhirnya aku tetap harus membayarnya semuanya
sendiri?' batin Mat.
Matt menatap Tina dan merasa semakin tertekan.
"Hahaha! Matt, jadi itu yang ingin kamu tanyakan? Kamu tidak perlu khawatir
tentang biayanya. Aku bertanggung jawab atas semua pengeluaranmu di rumah
sakit. Lagipula, ayabhku adalah... " Tina tiba-tiba berhenti berbicara. Setelah
beberapa saat, dia melanjutkan, "Pokoknya, kamu tidak perlu khawatir tentang hal
itu."
Tina tertegun sesaat sebelum tertawa terbahak-bahak. Matt merasa sangat gugup sehingga dia belum bisa menangkap apa maksudnya. Matt hanya tahu bahwa dia tidak perlu membayar biaya pengobatan. Itu saja sudah cukup.
Sebetulnya, Matt tidak ingin bersikap perhitungan, tetapi dia benar-benar tidak
punya uang. 'Sepertinya memang benar kalau orang kaya adalah raja. Lihat saja,
dokter elite, bangsal kelas atas... orang biasa bahkan terkadang tidak bisa
mendapatkan bangsal, apalagi yang dengan kondisi sebagus ini' Matt kembali
merenung
__ADS_1
Mereka berdua mengobrol sebentar. Sekarang Matt sudah siuman, jadi Tina tidak
begitu khawatir lagi.