
Joni meninggalkan Matt dan berjalan ke dapur. "Bibi Lasmi, apa yang kamu masalk? Baunya sangat harum sampai
aku meneteskan air liur.
Lasmi tersenyum, lalu dia menjawab, "Hidungmu sensitif seperti anak anjing. Sejujurnya, aku juga penasaran
mengapa hidangannya berbau sangat lezat. Mari kita tanya Matt di mana dia membeli sayuran itu nanti."
"Aku akan menanyakannya sekarang!"
Kemudian, Joni berlari ke kamar Matt. Ketika lkeduanya tiba di dapur, Lukas juga sudah ada di sana. Dia juga
terkesan dengan aroma masakannya.
"Bibi Lasmi, Paman Lukas, aku sudah menangkap pelakunya." Joni dengan bercanda menyeret Matt ke dapur.
"Matt, di mana kamu membeli sayuran yang terlihat segar dan wangi ini? Apa Ibu bisa membelinya?" tanya Lasmi.
"Seorang teman sekelasku di kampus yang memberinya padaku. Ayahnya bekerja di bidang pertanian dan
menanam sayuran ini sendiri, bahkan belum dijual di pasar. Jika menurut Ibu itu enak, aku akan membawanya
lagi saat aku pulang lain kali."'
Matt memutuskan untuk berbohong.
"Oh, lupakan saja kalau begitu. Itu terlalu merepotkan. Kamu harus berterima kasih padanya saat kembali," jawab
Lasmi.
Orang-orang pedesaan memang selalu segan untuk mengganggu orang lain, terutama orang yang tidak mereka
kenal.
"Baiklah. Semuanya, silakan tinggalkan dapur. Aku baru saja selesai menyiapkan hidangan. Aku akan memanggil
kalian saat makan malam sudah siap. Berhenti menghalangi jalanku di sini.
Pada akhirnya, Lasmi mengusir mereka semua dari dapur.
"Ayo, pergi. Kita akan mencoba makanannya jika sudah siap," ucap Joni sambil mendorong Matt keluar dari dapur.
Sekitar setengah jam kemudian, Lasmi akhirnya selesai memasak.
"Baiklah. Makan malam sudah siap. Semuanya, ingatlah untuk mencuci tangan. Pak tua, kamu juga harus
melakulkan hal yang sama!"
Begitu Lasmi mengatur hidangan-hidangan tersebut, Matt, Joni, dan Lukas segera mengelilingi meja. Lasmi tidak
punya pilihan selain menghentikan mereka yang mendelkati meja.
Ketiga pria itu segera mengilkuti perintah Lasmi. Setelah mencuci tangan, mereka pun mulai menyantap hidangan
tersebut. Rasanya tak tertandingi dengan hidangan lainnya.
"Mmm. Enak sekali. Sepertinya kemampuan memasak Bibi Lasmi telah meningkat lagi!" Joni berkata dengan suara
teredam.
"Berhentilah mencoba memujiku. Haha." Meski mengatakan itu, Lasmi tetap merasa senang mendengar pujian
Joni
"Apakah kalian ingin minum wine?"
Dengan makanan enak seperti itu, Lukas tentu saja berpikir untuk menyajikan wine yang enalk. Suasana hatinya
sedang sangat bailk untuk menikmati alkohol.
"Baiklah. Ayo kita minum wine!"Sebelum menunggu respons mereka, Lukas sudah menjangkau lemari wine. Dia bahkan pura-pura tidak melihat
tatapan tajam Lasmi.
Matt dan Joni memang selalu menyukai rasa wine. Kemungkinan hal tersebut dipengaruhi oleh keluarga mereka
masing-masing. Ketika orang dewasa sedang malkan malam, mereka akan selalu mencoba beberapa teguk wine
secara diam-diam. Namun, mereka tidak begitu tertarik untuk minum lagi setelah tumbuh dewasa.
Kedua teman masa kecil itu sudah lama tidak bertemu, jadi mereka menerimanya dengan senang hati. Selain itu,
mereka juga memiliki toleransi allkohol yang bailk. Sekarang mereka berusia dua puluhan, mereka tidak akan
mabuk semudah itu.
Setelah meneguk wine beberapa kali, hanya tersisa Matt dan Joni di meja makan. Mereka berdua berbincang
tentang sekolah dan pekerjaan. Meski mereka berada di tempat yang berbeda, tetap saja hal itu tidak memengaruhi
hubungan merelka.
"Katakan, apa rencanamu saat tinggal di desa?" tanya Matt.
Dia sangat mengenal teman masa kecilnya itu. Meskipun Matt adalah dalang di balik kejailan yang merelka lalkukan
selama masa kecil mereka, Joni juga anak yang cukup nakal. Terlebih lagi, Joni juga kadang terlibat dalam
__ADS_1
membuat rencana nakal tersebut. Berhubung Joni berencana untuk tinggal di desa lkali ini, dia pasti punya
beberapa rencana.
"Apa yang harus aku ceritakan? Aku tidalk tahu apakah aku bisa mencapai sesuatu dengan penuh antusiasme
sendirian. Selain itu, aku sudah berjanji kepada ayahku. Dia memberiku waktu setahun untuk menghasilkan uang.
Jika aku gagal melakukannya, aku harus mencari pekerjaan di luar desa. Sebailknya kamnu tidak menertawalkanku
sekarang atau kamu akan menghajarmu!" Joni terdengar agak lucu ketika dia sedang mabuk.
Berhubung Matt memiliki kultivasi, dia tidak akan mabuk karena alkohol. Namun, dia tetap berpura-pura mabuk
dan mengangguk setelah mendengar perkataan Joni.
"Baik! Kamu hampir seperti kakakku. Aku tidak takut meski kamu mengolok-olokku. Sebenarnya, aku berencana
untuk mengembangkan puncak bukit dengan menanam pohon buah-buahan," kata Joni.
"Menanam pohon buah-buahan? Jika kamu menanam pohon buah-buahan, kamu tidak akan mendapatkan hasil
apa pun dalam waktu satu tahun. Apa kamu sudah gila?" kata Matt sambil cemberut. Pohon buah-buahan
membutuhkan walktu tiga atau empat tahun untuk menghasillkan buah.
"Tidak. Aku tidak akan menanam sendiri pohon-pohon itu. Kamu tahu Yuda Wirawan, bukan?" Joni berkata dengan
pelan.
Matt berpikir sejenak dan mengingat nama itu. "Aku kenal Yuda. Bukankah dia bahan tertawaan desa kita?"
Tiga tahun lalu, Yuda yang juga berasal dari desa mereka mengembangkan puncak bukit dan menyewa sekelompok
orang untuk menanam banyak jenis pohon buah-buahan untulnya. Dia kemudian menjaga kebun buah milik
keluarganya setiap hari. Pohon buah-buahan akhirnya mekar setelah tiga tahun. Melihat pemandangan kebun
buah tersebut, Yuda mau tidakmau merasa puas dan mengharapkan panen yang baik.
Setelah bertahun-tahun bekerja keras, Yudi hampir mendapatkan apa yang dia inginkan. Namun, hujan tiba-tiba
mengguyur desa selama sebulan, yang merupakan kejadian langka. Bunganya tidak bisa diserbuki dan lama-lama
layu. Pada alkhirnya, bebun buah keluarganya tidak bisa panen sama sekali. Sejak saat itu, Yuda jadi bahan lelucon
di desa.
Selain itu, pada tahun kedua, pohon buah-buahan di puncak bukit memang tidak memiliki panen yang baik.
menjadi asap begitu saja. Mungkin karena nasib buruk keluarga sehingga pohon buah-buahan tersebut selalu
menjadi seperti itu selama beber apa tahun. Oleh karena itu, keluarga mereka menyerah untuk mengembangkan
pohon-pohon itu lagi.
"Ya, dia orangnya. Puncak bukit yang aku sebutkan tadi dikembangkan oleh keluarganya. Aku tidak percaya pada
talkhayul. Aku pikir aku bisa melakukan pelkerjaan yang lebih baik dari mereka."
Kemudian, Joni meneguk wine.
Joni tidak mungkin kembali ke kampungnya kalau dia tidak membuat rencana. Dia juga tidak akan kembali jika
tujuannya hanya bertani. Joni telah mendiskusikan masalah ini dengan ayahnya saat makan malam sebelumnya.
Awalnya, orang tuanya tidak setuju dengannya. Bagaimanapun juga, Yuda telah memberikan contoh buruk bagi mereka di masa lalu.
Para profesional telah gagal dalam menumbuhkan pohon-pohon itu. Berhubung Joni adalah orang awam, orang
tuanya tentu mengira dia sudah gila untuk membuat keputusan seperti itu. Oleh karena itu, merelka
menentangnya dengan keras.
Joni berhasil membujuk mereka setelah memberikan batas waktu dalam satu tahun sebagai penawarannya.
Namun, setelah mengelabui orang tuanya, Joni mengabaikan satu masalah serius, yaitu biaya.
"Orang tuaku untuk sementara telah tertipu dengan kata-kataku, tetapi masalah biaya masih belum terpecahkan.
Aku telah menyusun semuanya. Biaya kontrak untuk tanah itu adalah 6oo ribu rupiah per 650 meter persegi.
Puncak bukit itu alkan menelan biaya setidaknya 34 juta rupiah setahun. Namun, merelka hanya menyediakan
selkali kontrak yang akan berlangsung selama 20 tahun dan menelan biaya 68o juta rupiah. Aku hanya bisa
menyimpan beberapa jutaan rupiah saja setelah bekerja begitu lama. Katakan, di mana aku bisa mencari uang
sebanyakitu dalam waktu singkat?" Joni menyuarakan kekhawatirannya.
Meskipun panen di puncak bukit tidak bagus, harga investasinya begitu tinggi karena tanahnya yang mahal. "Aku
bisa menanam hal lain selain pohon buah-buahan. Siapa yang tahu jika aku akan berhasil tanpa harus menanam
pohon-pohon buah itu?" Joni bertanya-tanya.
"Uang bukan masalah. Masalahnya justru apalkah kamu memiliki keterampilan untuk bertani kalau mendapatkan
__ADS_1
kontrak itu? Apa kamu berencana nelakukannya sendiri atau menyewa beberapa orang untuk membantumu?
tanya Matt.
Memang uang bukanlah masalah. Sebagai jutawan rahasia, Matt mengatakan yang sebenarnya.
Bukannya mengkhawatirkan biayanya, dia lebih mengkhawatirkan kemampuan Joni dalam mengelola lahan itu
dengan baik. Jika Joni tidak bisa melakukan pekerjaan dengan baik, tanah yang dia kontrak selama 20 tahun
hanya alkan membuang-buang uang saja.
"Keterampilan? Apalkah kamu melupakan ayahlku? Dia sudah biasa melalkukan ini. Aku bisa belajar darinya. Tidak
masalah."
Dahulu, ayah Joni bekerja di perkebunan dan berfolkus untuk merawat pohon buah-buahan.
"Oh, benar juga. Bagaimana aku bisa melupakan hal itu? Kalau begitu, semuanya sudah beres." Matt menampar
lkeningnya sendiri.
"Apanya yang beres? Apa kamu mabuk? Masalah paling kritis yang aku sebutkan barusan belum selesai," ucap Joni.
"Hanya 68o juta rupiah saja. Uang bukanlah masalah. Aku sudah menemnukan solusinya dan akan
memberitahumu sekarang juga."
Matt menatap Joni dengan berseri-seri.
Melihat ekspresi Matt, Joni tahu bahwa temannya sudah menemukan solusinya. "Trik apa yang sudah kamu buat
kali ini? Ceritakan padaku."
"Begini, aku masih seorang mahasiswa 'kan? Kalau begitu, kamu akan tinggal di desa dan melakukan penanaman.
Aku ingin berinvestasi untuk lahanmu itu. Aku akan membayar biayanya dan kamu akan mengelola kebun
untukku. Ini hanya kerja sama. Haruskah kita membagi keuntungan menjadi dua? Atau mnungkin kita bisa
membaginya dengan rasio 6o:40? Atau kita alkan melakukan apa pun yang kamu katalkan," jelas Matt.
Saat ini, Matt sedang mendapatkan sebuah ide. Berhubung dia tidak bisa memberi tahu orang tuanya tentang
kekayaannya, dia lebih baik membantu Joni saja
"Matt, apa lkamu bercanda? Harganya 68o juta rupiah. Aku bilang 68o juta rupiah! Lupakan saja. Memangnya
kamu dapat uang dari mana?" Joni sangat bersemangat sehingga dia secara tidak sengaja meninggikan suaranya.
"Kecillkan suaramu. Jangan sampai orang tuaku mendengarmu. Teralkhir kali, aku melakukan karyawisata
pertanian ke Gunung Gading. Aku berhasil menemukan selbuah ginseng yang sudah cukup tua, lalu dibeli oleh
perusahaan farmasi."
Matt tidak memberi tahu Joni bahwa dia memiliki Taman Peri. Dia bahkan tidak memberitahu orang tuanya
tentang hal itu, apalagi teman masa kecilnya dan pacarnya. Namun, Matt akan mengungkapkan rahasianya saat
waktunya tepat. Sial! Kenapa kamu begitu beruntung? Bagaimana lkamu bisa menemukan hal seperti itu?" Joni menatap Matt tak
percaya.
Matt melengkungkan alisnya dan berkata dengan angkuh, "Tentu saja. Lihat saja aku. Aku sangat beruntung telah
menemukan hal seperti itu. EBagaimana? Jadi, apakah kamu ingin melakukannya atau tidak? Aku dapat
memberitahumu selkarang jika kamu mengikuti instruksiku, kamu akan mendapatkan banyalk uang di masa
depan!"
"'Persetan denganmu! Masih belum jelas apakah kamu akan menghasilkan uang sebanyalk itu." Joni meninju Matt.
Dia menambahkan, "Bagaimanapun, kamu adalah seorang mahasiswa yang paling cerdas di sini. Aku akan
melakukan apa pun yang kamu katakan. Jika kita tidak berhasil satu tahun kemudian, lkamulah yang akan
kehilangan uang, bukan aku."
Joni menyetujui kerja sama itu meskipun dia sedikit malu untuk mengatakannya.
"Oke, mari kita buat kesepakatan. Aku akan membayarnya dan kamu yang akan bekerja. Lalu, kita akan membagi
keuntungan secara merata."
Matt membuat keputusan dengan cepat.
"Silakan, aku rela memberimu 60 persen, apalagi pembagian 5o-50," ucap Joni sambil tersenyum. Kemudian,
kedua pria itu mendentingkan gelas untuk merayakan kerja sama mereka.
"Ayo kita ke puncak bukit setelah merayakan Hari Rasa Syukur."
Matt sangat merasa percaya diri saat ini. Dia yakin bisa mengembangkan gunung tersebut dengan bantuan Taman
Peri.
__ADS_1