Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
profesor yang disiplin


__ADS_3

Nama profesor itu adalah Fabian Omar. Semua orang memanggilnya Profesor


Fabian. Dia telah lama mengajar di universitas ini.


Matt melihat jam dan segera bergegas bangun. Dia kemudian membangunkan tiga


teman sekamarnya yang lain, "Beni, Zack, Will, bangunlah. Kelas Profesor Fabian


akan segera dimulai. Apa kalian ingin mengulang lagi di semester depan?"


"Profesor Fabian?"


Beni adalah orang pertama yang bangun. Ketika dia mendengar nama "Profesor


Fabian," dia segera berlari ke kamar mandi.


Will dan Zack juga memiliki reaksi yang sama ketika mendengarnya. Respons ini


serupa dengan saat pertama kali mereka tiba di universitas.


Saat itu, tidak ada yang tahu apa-apa tentang para profesor. Mereka berempat


datang terlambat ke kelas pertama Profesor Fabian. Berhubung itu adalah


pelanggaran pertama mereka, Fabian memaklumi mereka dan membiarkan mereka


masuk ke kelas.


Namun, mereka masih tetap terlambat untuk kelas berikutnya.


Mereka bertiga datang ke kelas satu per satu dan memberikan alasan yang sama


sehingga memperburuk keadaan. Seandainya mereka membuat beberapa alasan


yang lebih masuk akal, mungkin Fabian akan mengizinkan mereka masuk.


Saat itu, ketika Zack berjalan ke pintu kelas, Fabian tidak bisa menahan


kesabarannya lagi. Dia bahkan takut pada dirinya sendiri jika sampai lepas kendali.


Fabian mempunyai cara unik untuk menghukum murid-muridnya, yaitu dengan


menyuruh murid yang melanggar aturan berlari tanpa memamaki busana!


Benar-benar terlanjang bulat!


Begitulah hukuman kejamnya ... dahulu, hal-hal seperti itu lumayan sering terjadi.


Hukuman fisik Fabian selalu menjadi pemandangan indah di Universitas Jayakota.


Sejak saat itu, tidak ada lagi murid yang berani membuat kesalahan di kelas Fabian


lagi.


Senjata andalan orang yang sudah tua memang semenakjubkan itu!


Jika mereka dihukum lagi, mereka pasti akan sangat terkenal di seluruh kampus.

__ADS_1


Kejadian terakhir saja masih belum mereda padahal itu terjadi di semester lalu. Jika


mereka dilhukum lagi, mereka kemungkinan akan menjadi objek pembicaraan


kampus selama setahun penuh.


Mereka berempat sedang berlari-lari menuju kelas. Jika orang-orang yang suka


"bergosip" melihat mereka berempat, mereka pasti tahu kalau Matt dan


teman-temannya sedang menuju kelas Fabian.


Bisa dibayangkan betapa terkenalnya Fabian di universitas itu.


Akhirnya, keempatnya memasuki kelas sebelum bel berbunyi. Semua murid lain


yang mengikuti kelas Fabian telah lama berada di kelas. Hanya Matt dan


teman-temannya yang baru datang.


Dengan tanpa ekspresi, Fabian memasuki kelas dan berkata, "Semuanya, mari kita


tinjau kembali topik pembelajaran kita minggu lalu." Dia tidak pernah mengabsen


sebelum pelajarannya karena tidak ada yang berani bolos.


Suara kertas menggema di kelas itu karena para murid sibuk melihat catatan


mereka. Fabian juga memiliki kekurangan lain, yaitu dia suka menunjuk murid


"Baiklah. Selanjutnya, aku akan meminta seseorang untuk menjelaskan apa yang


terakhir kita pelajari."


Dia pun kemudian melihat ke arah kelompok Matt.


Beni dan yang lainnya sontak menyusutkan leher. Tatapan mata Fabian terlalu


menakutkan. Mereka juga takut Fabian akan menunjuk mereka.


Namun, Matt justru terlihat tenang membaca bukunya dengan raut wajah yang


cukup santai. "Tunjuk saja aku. Aku sudah menghafal semuanya!' batinnya.


"Matt, bisa kamu jelaskan?" tanya Fabian setelah mengedarkan pandangannya di


kelas sekitar satu menit.


Murid-murid yang berada di dekatnya merasa lega ketika mendengar bahwa bukan


mereka yang ditunjuk. Beberapa murid yang pemalu bahkan menepuk dada mereka


untuk bernapas lega.


Hanya teman-teman sekamar Matt yang memandangnya saat ini dengan sorot mata


khawatir. Matt tidak menghadiri kelas beberapa hari ini, tetapi Fabian justru

__ADS_1


menunjuk Matt. Mereka berharap Matt akan memberi tahu yang sebenarnya pada


Fabian agar profesor itu melepaskannya.


"Baik." Matt menutup bukunya dan berdiri.


"Pelajaran terakhir berfokus pada lahan pertanian ...." Suaranya tidak kencang atau


pelan, tetapi bisa didengar oleh seluruh murid. Meskipun ekspresi Fabian terlihat


datar, beberapa orang masih bisa melihat keterkejutan di matanya.


Alasan mengapa dia memilih Matt adalabh karena dia tahu Matt tidak menghadiri


kelasnya beberapa hari ini. Dia sudah menganggap Matt sebagai murid yang baik.


Dia ingin menekan Matt untuk memberinya pelajaran supaya lebih gigih lagi dalam


menuntut ilmu. Namun, dia tidak menyangka Matt akan menjelaskan pembelajaran


terakhir dengan detail.


"Mm, bagus sekali, Matt. Kalian semua harus belajar darinya. Baiklah. Mari kita


mulai saja pembelajaran hari ini... " Saat ini, murid-murid lain memandang Matt


dengan tatapan kagum.


Teman-teman sekamar Matt bahkan mulai mengoceh. "Matt, kamu pasti seorang


dewa! Will, belajarlah darinya!"


"Apa? Zacki, kamu juga harus belajar dengan baik!"


Setelah beberapa jam, kelas akhirnya berakhir. Matt menghela napas lega dan


langsung pergi ke kafetaria. Matt dan teman-temannya buru-buru bergegas ke kelas


Fabian tanpa sarapan sama sekali. Sekarang, mereka semua kelaparan.


Setelah makan siang, Matt kembali ke asrama. Masih ada kelas mata kuliah pilihan


di sore hari yang harus dihadirinya. Dia tidak bisa bolos.


Setelah kelas di sore hari selesai, Matt tiba-tiba teringat tentang pekerjaannya di


Restoran Herra. Dia sudah lama tidak bekerja di sana dan belum memberi tahu


bosnya. Dia merasa sedikit bersalah dan memutuskan untuk menjelaskan kepada


bosnya bahwa dia tidak akan bekerja paruh waktu di sana lagi.


Pemilik Restoran Herra adalah orang yang baik, jadi dia tidak menyalahkan Matt.


Saat dia tahu Matt mengalami kecelakaan, dia mengkhawatirkan Matt. Dia bahkan


merasa bersalah karena Matt tidak bisa terus bekerja padanya lagi.

__ADS_1


__ADS_2