
Nama profesor itu adalah Fabian Omar. Semua orang memanggilnya Profesor
Fabian. Dia telah lama mengajar di universitas ini.
Matt melihat jam dan segera bergegas bangun. Dia kemudian membangunkan tiga
teman sekamarnya yang lain, "Beni, Zack, Will, bangunlah. Kelas Profesor Fabian
akan segera dimulai. Apa kalian ingin mengulang lagi di semester depan?"
"Profesor Fabian?"
Beni adalah orang pertama yang bangun. Ketika dia mendengar nama "Profesor
Fabian," dia segera berlari ke kamar mandi.
Will dan Zack juga memiliki reaksi yang sama ketika mendengarnya. Respons ini
serupa dengan saat pertama kali mereka tiba di universitas.
Saat itu, tidak ada yang tahu apa-apa tentang para profesor. Mereka berempat
datang terlambat ke kelas pertama Profesor Fabian. Berhubung itu adalah
pelanggaran pertama mereka, Fabian memaklumi mereka dan membiarkan mereka
masuk ke kelas.
Namun, mereka masih tetap terlambat untuk kelas berikutnya.
Mereka bertiga datang ke kelas satu per satu dan memberikan alasan yang sama
sehingga memperburuk keadaan. Seandainya mereka membuat beberapa alasan
yang lebih masuk akal, mungkin Fabian akan mengizinkan mereka masuk.
Saat itu, ketika Zack berjalan ke pintu kelas, Fabian tidak bisa menahan
kesabarannya lagi. Dia bahkan takut pada dirinya sendiri jika sampai lepas kendali.
Fabian mempunyai cara unik untuk menghukum murid-muridnya, yaitu dengan
menyuruh murid yang melanggar aturan berlari tanpa memamaki busana!
Benar-benar terlanjang bulat!
Begitulah hukuman kejamnya ... dahulu, hal-hal seperti itu lumayan sering terjadi.
Hukuman fisik Fabian selalu menjadi pemandangan indah di Universitas Jayakota.
Sejak saat itu, tidak ada lagi murid yang berani membuat kesalahan di kelas Fabian
lagi.
Senjata andalan orang yang sudah tua memang semenakjubkan itu!
Jika mereka dihukum lagi, mereka pasti akan sangat terkenal di seluruh kampus.
__ADS_1
Kejadian terakhir saja masih belum mereda padahal itu terjadi di semester lalu. Jika
mereka dilhukum lagi, mereka kemungkinan akan menjadi objek pembicaraan
kampus selama setahun penuh.
Mereka berempat sedang berlari-lari menuju kelas. Jika orang-orang yang suka
"bergosip" melihat mereka berempat, mereka pasti tahu kalau Matt dan
teman-temannya sedang menuju kelas Fabian.
Bisa dibayangkan betapa terkenalnya Fabian di universitas itu.
Akhirnya, keempatnya memasuki kelas sebelum bel berbunyi. Semua murid lain
yang mengikuti kelas Fabian telah lama berada di kelas. Hanya Matt dan
teman-temannya yang baru datang.
Dengan tanpa ekspresi, Fabian memasuki kelas dan berkata, "Semuanya, mari kita
tinjau kembali topik pembelajaran kita minggu lalu." Dia tidak pernah mengabsen
sebelum pelajarannya karena tidak ada yang berani bolos.
Suara kertas menggema di kelas itu karena para murid sibuk melihat catatan
mereka. Fabian juga memiliki kekurangan lain, yaitu dia suka menunjuk murid
"Baiklah. Selanjutnya, aku akan meminta seseorang untuk menjelaskan apa yang
terakhir kita pelajari."
Dia pun kemudian melihat ke arah kelompok Matt.
Beni dan yang lainnya sontak menyusutkan leher. Tatapan mata Fabian terlalu
menakutkan. Mereka juga takut Fabian akan menunjuk mereka.
Namun, Matt justru terlihat tenang membaca bukunya dengan raut wajah yang
cukup santai. "Tunjuk saja aku. Aku sudah menghafal semuanya!' batinnya.
"Matt, bisa kamu jelaskan?" tanya Fabian setelah mengedarkan pandangannya di
kelas sekitar satu menit.
Murid-murid yang berada di dekatnya merasa lega ketika mendengar bahwa bukan
mereka yang ditunjuk. Beberapa murid yang pemalu bahkan menepuk dada mereka
untuk bernapas lega.
Hanya teman-teman sekamar Matt yang memandangnya saat ini dengan sorot mata
khawatir. Matt tidak menghadiri kelas beberapa hari ini, tetapi Fabian justru
__ADS_1
menunjuk Matt. Mereka berharap Matt akan memberi tahu yang sebenarnya pada
Fabian agar profesor itu melepaskannya.
"Baik." Matt menutup bukunya dan berdiri.
"Pelajaran terakhir berfokus pada lahan pertanian ...." Suaranya tidak kencang atau
pelan, tetapi bisa didengar oleh seluruh murid. Meskipun ekspresi Fabian terlihat
datar, beberapa orang masih bisa melihat keterkejutan di matanya.
Alasan mengapa dia memilih Matt adalabh karena dia tahu Matt tidak menghadiri
kelasnya beberapa hari ini. Dia sudah menganggap Matt sebagai murid yang baik.
Dia ingin menekan Matt untuk memberinya pelajaran supaya lebih gigih lagi dalam
menuntut ilmu. Namun, dia tidak menyangka Matt akan menjelaskan pembelajaran
terakhir dengan detail.
"Mm, bagus sekali, Matt. Kalian semua harus belajar darinya. Baiklah. Mari kita
mulai saja pembelajaran hari ini... " Saat ini, murid-murid lain memandang Matt
dengan tatapan kagum.
Teman-teman sekamar Matt bahkan mulai mengoceh. "Matt, kamu pasti seorang
dewa! Will, belajarlah darinya!"
"Apa? Zacki, kamu juga harus belajar dengan baik!"
Setelah beberapa jam, kelas akhirnya berakhir. Matt menghela napas lega dan
langsung pergi ke kafetaria. Matt dan teman-temannya buru-buru bergegas ke kelas
Fabian tanpa sarapan sama sekali. Sekarang, mereka semua kelaparan.
Setelah makan siang, Matt kembali ke asrama. Masih ada kelas mata kuliah pilihan
di sore hari yang harus dihadirinya. Dia tidak bisa bolos.
Setelah kelas di sore hari selesai, Matt tiba-tiba teringat tentang pekerjaannya di
Restoran Herra. Dia sudah lama tidak bekerja di sana dan belum memberi tahu
bosnya. Dia merasa sedikit bersalah dan memutuskan untuk menjelaskan kepada
bosnya bahwa dia tidak akan bekerja paruh waktu di sana lagi.
Pemilik Restoran Herra adalah orang yang baik, jadi dia tidak menyalahkan Matt.
Saat dia tahu Matt mengalami kecelakaan, dia mengkhawatirkan Matt. Dia bahkan
merasa bersalah karena Matt tidak bisa terus bekerja padanya lagi.
__ADS_1