
Kamu belajar ekonomi dan manajemen, lalu kamu sering bolos. Wah, sungguh luar biasa. Apa
kamu tidak takut akan mendapatkan nilai yang jelek?"
Matt pun mulai menyantap makanannya. Dia merasa sedikit lelah setelah bermain begitu lama
dari siang sampai malam.
"Nilai bulkan masalah besar bagiku..." Tina ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi dia berhenti.
Matt segera menduga apa yang hendak diucapkan Tina mungkin sesuatu yang berhubungan
dengan latar belakangnya. Namun, Matt tidak terlalu memedulikannya dan terus mengobrol
sambil makan. Mereka semakin mengenal satu sama lain.
Pada akhirnya, Tina mengantar Matt kembali ke kampus dan mengakhiri tamasya bersama
mereka hari ini.
"Matt, kenapa kamu begitu misterius akhir-akhir ini? Kamu sering pergi pagi sekali dan kembali
larut malam. Dahulu, kamu tidak bekerja sekeras ini. Apakah bosmu mengeksploitasimu? Jika
bosmu benar-benar mengeksploitasimu, katakan saja padaku. Kami akan membantumu untuk
memberinya pelajaran."
Beni dan kedua temannya sedang beristirahat di asrama.
Begitu Matt memasuki kamar, mereka semua sontak menghujaninya dengan beberapa
pertanyaan. "Benarkah? Apa akhir-akhir ini aku bertingkah seperti itu?" tanya Matt
"Iya!" jawab mereka bertiga serempak.
"Begitu ya ... aku sudah berhenti dari pekerjaanku baru-baru ini. Aku mengundurkan diri dari
restoran.
Matt mengambil sebuah kursi dan menghampiri mereka.
"Oh, kamu sudah mengundurkan diri. Lantas, mengapa kamu masih keluar pagi sekali dan
pulang larut malam kalau begitu? Setiap kata yang kamu ucapkan selanjutnya akan
dipresentasikan sebagai bukti di pengadilan. Tentu saja, kamu juga berhak untuk tetap diam."
Zack menatap Matt dengan penuh penasaran.
"Apa kalian membuntutiku lagi? Apa yang kalian ketahui?"
Matt mengamati ekspresi teman-temannya sebelum menyadari mengapa raut wajah mereka
berubah serius begitu dia kembali.
"Kamu bisa mengeceknya sendiri."
Beni membalikkan layar laptopnya agar Matt bisa melihatnya. Pada halaman situs kampus
Universitas Jayakota, terdapat artikel yang membahas tentang Matt.
Artikel tersebut berjudul "Seorang Mahasiswa Menjadi Berondong Simpanan: Kebejatan Sifat
Alami Manusia atau Kebejatan Moral?". Di bawah judul artikel, terlampir sebuah foto yang
menampakkan Matt dan Tina sedang berjalan bersama. Namun, wajah Tina disamarkan dalam
foto tersebut.
Meskipun wajah Matt tidak terlihat jelas, sisi samping dan sisi belakang pria di foto itu mirip sekali dengan Matt. Foto tersebut diambil di Plaza Shopping Tambun. Tanpa membaca isi dari
artikel tersebut, Matt sudah bisa menebaknya. Artikel itu pasti membahas tentang citranya di
kampus dan bagaimana orang-orang tidak menyangka bahwa Matt bisa menjadi berondong
simpanan wanita. Lagi pula, jika tidak ada foto untuk membuktikan hal itu, orang lain tidak akan
mengetahui karakternya.
Matt menutup laptop, mengetukkan jari-jarinya ke meja, lalu bertanya, "Apakah kalian percaya
itu?"
Ketiga temannya menggeleng secara bersamaan. Matt terlihat sedih dan berkata, "Maafkan aku
telah mengecewakan kalian. Aku memang berondong simpanan wanita kaya berusia lebih dari
lima puluh tahun."
"Sialan!" seru Beni.
"Aku hampir pingsan!" teriak Zack.
"Kamu pasti berbohong!" pekik Will.
Beni, Zack, dan Will benar-benar terkejut mendengar pengakuan Matt. Setelah kembali
tersadar dari keterkejutan, mereka berpikir untuk menghajar Matt saat itu juga.
"Matt, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Jika kamu memang sedang membutuhkan
bantuan, kamu bisa memberi tahu kami. Kenapa kamu melakukan itu? Jika kamu memang
membutuhkan uang, aku pasti akan memberimu setidaknya 230 juta rupiah." Beni menatap
mata Matt dalam.
Ya, aku juga. Lihatlah dirimu sekarang. Wanita itu berusia 50 tahun! 50 tahun? Aku bahkan
tidak bisa membayangkannya!" seru Zack.
"Matt, pantas saja wajahmu terlihat sangat pucat akhir-akhir ini. Hatiku sakit setiap
memikrikannya. Dengarkan aku, jangan temui dia lagi. Jika kamu diancam, kami akan
membantumu."
Will mengutarakan pendapatnya pada Matt.
__ADS_1
"Oh, sudah cukup! Kalian membuatku merinding sekarang. Kenapa kalian semua memasang
ekspresi wajah seperti itu? Apa kalian benar-benar memercayai ucapanku barusan?'" Matt
terkekeh dan menepuk pundak mereka satu persatu.
Seketika, ekspresi ketiga kawan itu sontak berubah. Tidak bisa dibiarkan begitu saja, ketiga
temannya lantas memukul Matt karena sudah mengerjai mereka.
Malam itu, waktu baru menunjukkan pukul sebelas. Bagi mereka yang suka begadang, waktu
masih terlalu dini. Matt pun mengajak ketiga kawannya keluar untuk minum sebagai
traktirannya.
Begitu mendengar ajakan Matt, mereka langsung menyeratnya keluar. Sebetulnya, mereka
semua mengetahui keadaan keluarga Mat yang tidak terlalu baik, Matt juga jarang ikut bermain
keluar dengan mereka. Karena itu, semua orang mengagumi Matt atas kegigihannya dalam
bekerja dan menghidupi dirinya sendiri. Terlebih lagi, teman-temannya tidak pernah
memaksanya untuk bergabung.
Sesampainya di truk makanan seberang kampus, Matt segera memesan ayam panggang dan
beberapa bir.
Apakah kalian masih ingat wanita yang menabrakku beberapa waktu yang lalu?"
Matt merasa tetap harus menjelaskan tentang foto itu kepada mereka, jadi dia pun mulai
menceritakan kegiatannya hari ini.
Melihat teman-temannya mengangguk, Matt melanjutkan, "Wanita di foto tadi adalah dia. Kami
berteman baik setelah kecelakaan mobil itu. Dia pernah mentraktirku makan. Lalu tadi siang,
dia mengajakku untuk menemaninya berbelanja. Berhubung aku ingin membalas traktirannya,
aku pun pergi dengannya hari ini."
Matt menghentikan ceritanya sebentar untuk menyesap bir, lalu melanjutkan kalimatnya, "Aku
tidak menyangka akan bertemu Lili di Plaza Shopping Tambun saat aku berbelanja dengan Tina.
Apakah kalian kenal Lili? Senior yang ingin menjadikanku sebagai berondong simpanannya.
Nah, dia melihatku bersama dengan Tina, lalu bertengkar dengan Tina. Setelah itu, Lili merasa
sangat marah dan pergi meninggalkan kami. Kurasa artikel ini diposting olehnya. Selain dia, aku
tidak punya musuh lain lagi. Dia pasti ingin membalas dendam padaku."
Setelah Matt menyelesaikan ceritanya, ketiga temannya sontak terkejut. Mereka tidak
menyangka hal dramatis seperti itu akan terjadi saat Matt dan Tina menghabiskan waktu
bersama.
"Hmm .., Matt, aku tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar penjelasanmu. Kejadian ini
"Aku juga berpikir begitu. Apa boleh buat? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, kan?"
Matt kembali menyesap birnya.
"Ayo bersulang! Sepertinya, kamu terus membicarakan Tina dengan penubh kasih sayang. Apa
ada sesuatu di antara kalian? Apa kamu jatuh cinta padanya?" Beni tiba-tiba bertanya sambil
tersenyum,
"Wow, Bos. Bagaimana mungkin? Kamu tidak tahu betapa pemarahnya Tina. Bagaimana
mungkin aku menyukai gadis seperti itu? Dia bukan tipeku. Tipeku adalah gadis yang lembut
dan anggun," protes Matt yang hampir tersedak birrnya.
"Haha, aku hanya bercanda. Kenapa kamu begitu gelisalh? Jika kamu benar-benar
menyukainya, kamnu harus berani mengejarnya. Aku juga akan mencarikanmu wanita yang
sesuai dengan tipemu. Jika ada yang cocolk, aku akan memperkenalkannya padamu nanti," goda
Beni pada Matt.
"Oke. Semoga aku beruntung dan bisa menemukan pacar secepatnya ! Bersulang!"
Matt mengangkat gelasnya lalu meminumnya sampai habis dalam sekali teguk. Kemudian, dia
terus minum dan melahap makanannya.
Setelah puas, mereka memutuskan untuk kembali ke asrama. Ketiganya hendak membayar
pesanan mereka, tetapi Matt menolaknya dengan kasar. Dia adalah orang yang berprinsip.
'Bagaimana bisa aku mengingkari janjiku?' batin Matt. Dia sudah berjanji akan mentraktir
mereka, jadi dia tidak bisa mengingkarinya.
Kemudian, keempat sahabat itu kembali ke asrama. Masing-masing dari mereka telah minum
terlalu banyak maka sesampainya di asrama, mereka langsung berbaring di tempat tidur
masing-masing.
Sementara itu, Matt tidak mabuk akibat kultivasinya. Alhasil, bir tidak bisa membuatnya
mabuk. Saat ini, Matt terus membolak-balikkan badannya, tidak bisa tidur. Tiba-tiba, dia
teringat dengan perkataan Beni tadi, 'Kamu membicaralkan Tina dengan penuh kasibh sayang.
Apa kamnu jatuh cinta pada wanita itu?'
Matt terus menerus memikirkan hal ini hingga dirinya menjadi semakin sadar.
'Benarkah? Apa aku jatuh cinta padanya? Sepertinya aku berpikir terlalu banyak. Bagaimana
__ADS_1
mungkin aku bisa jatuh cinta padanya? Kami baru saja saling kenal, batin Matt.
Matt dengan cepat menyangkal perasaannya dan membuang jauh-jauh pikiran itu. Berhubung
dia sudah sangat sadar selkarang, dia memutuskan untuk berkultivasi di Taman Peri.
Di rumah bambu yang berada di Taman Peri, Matt memasuki tahap berkultivasi secara
perlahan. Dia tidak beranjak dari tempat tidurnya sampai hari menjelang pagi.
Hari ini, seperti biasa, Matt pergi ke pasar petani untuk berjualan. Setelah menjual semua
sayur-sayuran miliknya, dia pergi mencari sebuah rumah di dekat kampus. Dia sudah
membulatkan niatnya dan memutuskan untuk mengontrak rumah saja. Rumah itu tentu harus
dekat dengan pasar petani dan kampus sehingga dia bisa menjual sayuran di pasar petani setiap
hari dengan nyaman, terlebih lagi, dia bisa berjalan ke kampus untuk menghadiri
kelas-kelasnya.
Berhubung Matt bisa menghasilkan lebih dari 2,3 juta rupiah per hari, dia menjadi semakin
yakin untuk mengontrak sebuah rumah. Matt berencana untuk mencari rumah yang memiliki
kamar tidur, ruang tamu, dan dapur. Bagaimanapun juga, dia ingin merasa lebih nyaman untuk
beraktivitas sebab dia tidak leluasa melakukan kegiatannya di Taman Peri jika terus tinggal di
asramna.
Setelah sarapan, dia mulai mengelilingi daerah di sekitar pasar dan kampus. Setelah berkeliling
untuk beberapa saat, dia akhirnya menyadari bahwa rumah-rumah di sekitar daerah ini sangat
populer. Kebanyakan rumalh memiliki tiga kamar tidur dan satu ruang tamu. Sulit untuk
mendapatkan sebuah rumah dengan satu kamar tidur dan ruang tamu saja. Harga sewa sebuah
rumah dengan tiga kamar tidur, satu ruang tamu, dan perabot lengkap bisa mencapai 8 juta
rupiah per bulan. Kedengarannya memang bagus, tetapi dia tidak membutuhkan banyak kamar
karena ia hanya tinggal sendirian.
Matt berhenti sejenak dan merenung. Tiba-tiba, Matt melihat dua orang pria di depannya.
Mereka sedang mendiskusikan sesuatu dan terus membaca informasi tentang rumah
kontrakan. Sementara itu, Matt masih memikirkan apa yang harus dia lakukan.
"Hei, sobat, apakah kamu juga sedang mencari rumah di dekat sini?"
Salah satu dari mereka melihat Matt sedang membaca informasi rumah sewa dengan mata
berbinar. Lalu, dia pun menghampiri Matt dan bertanya.
"Ah, apakah kamu sedang berbicara padaku?"
Matt merasa sedikit terkejut karena dia lengah.
"Ya, ya, aku sedang berbicara padamu! Apa kamu ingin mencari rumah di dekat sini?" tanya
pria itu lagi.
"Iya. Ada apa?" balas Matt.
Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertanya apakah kamu tertarik untuk mengontrak
rumah bersama kami. Aku juga ingin mengontrak sebuah rumah di dekat sini, tetapi semua
rumah di sini memiliki tiga kamar tidur dan satu ruang tamu, jadi aku ingin mengontraknya
dengan orang lain. Sejauh ini, aku baru menemukan satu orang yang bersedia mengontraknya
bersamaku," jelas pria itu.
"Mengontrak bersama?"
Matt merasa bahwa itu adalah ide yang bagus. Sebuah rumah dengan tiga kamar tidur dan satu
ruang tamu akan menelan biaya 8 juta rupiah sebulan, dengan begitu setiap orang akan
membayar 2,3 juta rupiah. Uang sewa sebesar 2,3 juta rupiah hanyalah penghasilan sehari bagi
Matt. Kemudian, Matt pun berpikir, 'Aku benar-benar tidak punya pilihan. Sepertinya memang
lebih baik berbagi tempat."
"Tentu. Aku akan bergabung," ucap Matt pada pria itu setelah berpikir sejenak.
"Baiklah. Namaku Julio Warman dan dia adalah Yudi Lamoso. Siapa namamu?" Julio bertanya
sambil menjabat tangan Matt, Yudi juga terlihat senang.
"Namaku Matt. Rumah mana yang kamu incar? Kapan kamu akan membawaku melihat rumah
itu?" tanya Matt. Dia ingin menempati rumah itu secepatnya.
"Kalau begitu, ayo kita lihat!"
Dengan demikian, Julio dan Yudi berjalan bersama di depan Matt.
Terdapat banyak rumah sewa di daerah itu. Mereka bertiga hanya membutuhkan beberapa
menit untuk sampai ke sana. Rumah yang mereka incar memiliki struktur yang sama seperti
rumah-rumah yang Matt lihat sebelumnya, tidak banyak perbedaannya. Rumah tersebut
memiliki dapur, kulkas, sofa, dan perabot lainnya, serta kamar lumayan nyaman.
Pemilik rumah sewa tersebut bernama Susan, dia pun mengajak mereka berkeliling rumah itu.
Berhubung putranya tinggal di Negara Aksara, dia akan pergi ke sana untuk tinggal bersama
putranya. Susan ingin menyelesaikan segala urusan administrasi sesegera mungkin sebelum
pergi ke Negara Aksara.
__ADS_1
Melihat Julio dan Yudi masih menimbang-nimbang, Susan berkata, "Jika terlalu mahal, aku bisa
menurunkan harganya sedikit."