Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
sewa rumah


__ADS_3

Kamu belajar ekonomi dan manajemen, lalu kamu sering bolos. Wah, sungguh luar biasa. Apa


kamu tidak takut akan mendapatkan nilai yang jelek?"


Matt pun mulai menyantap makanannya. Dia merasa sedikit lelah setelah bermain begitu lama


dari siang sampai malam.


"Nilai bulkan masalah besar bagiku..." Tina ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi dia berhenti.


Matt segera menduga apa yang hendak diucapkan Tina mungkin sesuatu yang berhubungan


dengan latar belakangnya. Namun, Matt tidak terlalu memedulikannya dan terus mengobrol


sambil makan. Mereka semakin mengenal satu sama lain.


Pada akhirnya, Tina mengantar Matt kembali ke kampus dan mengakhiri tamasya bersama


mereka hari ini.


"Matt, kenapa kamu begitu misterius akhir-akhir ini? Kamu sering pergi pagi sekali dan kembali


larut malam. Dahulu, kamu tidak bekerja sekeras ini. Apakah bosmu mengeksploitasimu? Jika


bosmu benar-benar mengeksploitasimu, katakan saja padaku. Kami akan membantumu untuk


memberinya pelajaran."


Beni dan kedua temannya sedang beristirahat di asrama.


Begitu Matt memasuki kamar, mereka semua sontak menghujaninya dengan beberapa


pertanyaan. "Benarkah? Apa akhir-akhir ini aku bertingkah seperti itu?" tanya Matt


"Iya!" jawab mereka bertiga serempak.


"Begitu ya ... aku sudah berhenti dari pekerjaanku baru-baru ini. Aku mengundurkan diri dari


restoran.


Matt mengambil sebuah kursi dan menghampiri mereka.


"Oh, kamu sudah mengundurkan diri. Lantas, mengapa kamu masih keluar pagi sekali dan


pulang larut malam kalau begitu? Setiap kata yang kamu ucapkan selanjutnya akan


dipresentasikan sebagai bukti di pengadilan. Tentu saja, kamu juga berhak untuk tetap diam."


Zack menatap Matt dengan penuh penasaran.


"Apa kalian membuntutiku lagi? Apa yang kalian ketahui?"


Matt mengamati ekspresi teman-temannya sebelum menyadari mengapa raut wajah mereka


berubah serius begitu dia kembali.


"Kamu bisa mengeceknya sendiri."


Beni membalikkan layar laptopnya agar Matt bisa melihatnya. Pada halaman situs kampus


Universitas Jayakota, terdapat artikel yang membahas tentang Matt.


Artikel tersebut berjudul "Seorang Mahasiswa Menjadi Berondong Simpanan: Kebejatan Sifat


Alami Manusia atau Kebejatan Moral?". Di bawah judul artikel, terlampir sebuah foto yang


menampakkan Matt dan Tina sedang berjalan bersama. Namun, wajah Tina disamarkan dalam


foto tersebut.


Meskipun wajah Matt tidak terlihat jelas, sisi samping dan sisi belakang pria di foto itu mirip sekali dengan Matt. Foto tersebut diambil di Plaza Shopping Tambun. Tanpa membaca isi dari


artikel tersebut, Matt sudah bisa menebaknya. Artikel itu pasti membahas tentang citranya di


kampus dan bagaimana orang-orang tidak menyangka bahwa Matt bisa menjadi berondong


simpanan wanita. Lagi pula, jika tidak ada foto untuk membuktikan hal itu, orang lain tidak akan


mengetahui karakternya.


Matt menutup laptop, mengetukkan jari-jarinya ke meja, lalu bertanya, "Apakah kalian percaya


itu?"


Ketiga temannya menggeleng secara bersamaan. Matt terlihat sedih dan berkata, "Maafkan aku


telah mengecewakan kalian. Aku memang berondong simpanan wanita kaya berusia lebih dari


lima puluh tahun."


"Sialan!" seru Beni.


"Aku hampir pingsan!" teriak Zack.


"Kamu pasti berbohong!" pekik Will.


Beni, Zack, dan Will benar-benar terkejut mendengar pengakuan Matt. Setelah kembali


tersadar dari keterkejutan, mereka berpikir untuk menghajar Matt saat itu juga.


"Matt, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Jika kamu memang sedang membutuhkan


bantuan, kamu bisa memberi tahu kami. Kenapa kamu melakukan itu? Jika kamu memang


membutuhkan uang, aku pasti akan memberimu setidaknya 230 juta rupiah." Beni menatap


mata Matt dalam.


Ya, aku juga. Lihatlah dirimu sekarang. Wanita itu berusia 50 tahun! 50 tahun? Aku bahkan


tidak bisa membayangkannya!" seru Zack.


"Matt, pantas saja wajahmu terlihat sangat pucat akhir-akhir ini. Hatiku sakit setiap


memikrikannya. Dengarkan aku, jangan temui dia lagi. Jika kamu diancam, kami akan


membantumu."


Will mengutarakan pendapatnya pada Matt.

__ADS_1


"Oh, sudah cukup! Kalian membuatku merinding sekarang. Kenapa kalian semua memasang


ekspresi wajah seperti itu? Apa kalian benar-benar memercayai ucapanku barusan?'" Matt


terkekeh dan menepuk pundak mereka satu persatu.


Seketika, ekspresi ketiga kawan itu sontak berubah. Tidak bisa dibiarkan begitu saja, ketiga


temannya lantas memukul Matt karena sudah mengerjai mereka.


Malam itu, waktu baru menunjukkan pukul sebelas. Bagi mereka yang suka begadang, waktu


masih terlalu dini. Matt pun mengajak ketiga kawannya keluar untuk minum sebagai


traktirannya.


Begitu mendengar ajakan Matt, mereka langsung menyeratnya keluar. Sebetulnya, mereka


semua mengetahui keadaan keluarga Mat yang tidak terlalu baik, Matt juga jarang ikut bermain


keluar dengan mereka. Karena itu, semua orang mengagumi Matt atas kegigihannya dalam


bekerja dan menghidupi dirinya sendiri. Terlebih lagi, teman-temannya tidak pernah


memaksanya untuk bergabung.


Sesampainya di truk makanan seberang kampus, Matt segera memesan ayam panggang dan


beberapa bir.


Apakah kalian masih ingat wanita yang menabrakku beberapa waktu yang lalu?"


Matt merasa tetap harus menjelaskan tentang foto itu kepada mereka, jadi dia pun mulai


menceritakan kegiatannya hari ini.


Melihat teman-temannya mengangguk, Matt melanjutkan, "Wanita di foto tadi adalah dia. Kami


berteman baik setelah kecelakaan mobil itu. Dia pernah mentraktirku makan. Lalu tadi siang,


dia mengajakku untuk menemaninya berbelanja. Berhubung aku ingin membalas traktirannya,


aku pun pergi dengannya hari ini."


Matt menghentikan ceritanya sebentar untuk menyesap bir, lalu melanjutkan kalimatnya, "Aku


tidak menyangka akan bertemu Lili di Plaza Shopping Tambun saat aku berbelanja dengan Tina.


Apakah kalian kenal Lili? Senior yang ingin menjadikanku sebagai berondong simpanannya.


Nah, dia melihatku bersama dengan Tina, lalu bertengkar dengan Tina. Setelah itu, Lili merasa


sangat marah dan pergi meninggalkan kami. Kurasa artikel ini diposting olehnya. Selain dia, aku


tidak punya musuh lain lagi. Dia pasti ingin membalas dendam padaku."


Setelah Matt menyelesaikan ceritanya, ketiga temannya sontak terkejut. Mereka tidak


menyangka hal dramatis seperti itu akan terjadi saat Matt dan Tina menghabiskan waktu


bersama.


"Hmm .., Matt, aku tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar penjelasanmu. Kejadian ini


"Aku juga berpikir begitu. Apa boleh buat? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, kan?"


Matt kembali menyesap birnya.


"Ayo bersulang! Sepertinya, kamu terus membicarakan Tina dengan penubh kasih sayang. Apa


ada sesuatu di antara kalian? Apa kamu jatuh cinta padanya?" Beni tiba-tiba bertanya sambil


tersenyum,


"Wow, Bos. Bagaimana mungkin? Kamu tidak tahu betapa pemarahnya Tina. Bagaimana


mungkin aku menyukai gadis seperti itu? Dia bukan tipeku. Tipeku adalah gadis yang lembut


dan anggun," protes Matt yang hampir tersedak birrnya.


"Haha, aku hanya bercanda. Kenapa kamu begitu gelisalh? Jika kamu benar-benar


menyukainya, kamnu harus berani mengejarnya. Aku juga akan mencarikanmu wanita yang


sesuai dengan tipemu. Jika ada yang cocolk, aku akan memperkenalkannya padamu nanti," goda


Beni pada Matt.


"Oke. Semoga aku beruntung dan bisa menemukan pacar secepatnya ! Bersulang!"


Matt mengangkat gelasnya lalu meminumnya sampai habis dalam sekali teguk. Kemudian, dia


terus minum dan melahap makanannya.


Setelah puas, mereka memutuskan untuk kembali ke asrama. Ketiganya hendak membayar


pesanan mereka, tetapi Matt menolaknya dengan kasar. Dia adalah orang yang berprinsip.


'Bagaimana bisa aku mengingkari janjiku?' batin Matt. Dia sudah berjanji akan mentraktir


mereka, jadi dia tidak bisa mengingkarinya.


Kemudian, keempat sahabat itu kembali ke asrama. Masing-masing dari mereka telah minum


terlalu banyak maka sesampainya di asrama, mereka langsung berbaring di tempat tidur


masing-masing.


Sementara itu, Matt tidak mabuk akibat kultivasinya. Alhasil, bir tidak bisa membuatnya


mabuk. Saat ini, Matt terus membolak-balikkan badannya, tidak bisa tidur. Tiba-tiba, dia


teringat dengan perkataan Beni tadi, 'Kamu membicaralkan Tina dengan penuh kasibh sayang.


Apa kamnu jatuh cinta pada wanita itu?'


Matt terus menerus memikirkan hal ini hingga dirinya menjadi semakin sadar.


'Benarkah? Apa aku jatuh cinta padanya? Sepertinya aku berpikir terlalu banyak. Bagaimana

__ADS_1


mungkin aku bisa jatuh cinta padanya? Kami baru saja saling kenal, batin Matt.


Matt dengan cepat menyangkal perasaannya dan membuang jauh-jauh pikiran itu. Berhubung


dia sudah sangat sadar selkarang, dia memutuskan untuk berkultivasi di Taman Peri.


Di rumah bambu yang berada di Taman Peri, Matt memasuki tahap berkultivasi secara


perlahan. Dia tidak beranjak dari tempat tidurnya sampai hari menjelang pagi.


Hari ini, seperti biasa, Matt pergi ke pasar petani untuk berjualan. Setelah menjual semua


sayur-sayuran miliknya, dia pergi mencari sebuah rumah di dekat kampus. Dia sudah


membulatkan niatnya dan memutuskan untuk mengontrak rumah saja. Rumah itu tentu harus


dekat dengan pasar petani dan kampus sehingga dia bisa menjual sayuran di pasar petani setiap


hari dengan nyaman, terlebih lagi, dia bisa berjalan ke kampus untuk menghadiri


kelas-kelasnya.


Berhubung Matt bisa menghasilkan lebih dari 2,3 juta rupiah per hari, dia menjadi semakin


yakin untuk mengontrak sebuah rumah. Matt berencana untuk mencari rumah yang memiliki


kamar tidur, ruang tamu, dan dapur. Bagaimanapun juga, dia ingin merasa lebih nyaman untuk


beraktivitas sebab dia tidak leluasa melakukan kegiatannya di Taman Peri jika terus tinggal di


asramna.


Setelah sarapan, dia mulai mengelilingi daerah di sekitar pasar dan kampus. Setelah berkeliling


untuk beberapa saat, dia akhirnya menyadari bahwa rumah-rumah di sekitar daerah ini sangat


populer. Kebanyakan rumalh memiliki tiga kamar tidur dan satu ruang tamu. Sulit untuk


mendapatkan sebuah rumah dengan satu kamar tidur dan ruang tamu saja. Harga sewa sebuah


rumah dengan tiga kamar tidur, satu ruang tamu, dan perabot lengkap bisa mencapai 8 juta


rupiah per bulan. Kedengarannya memang bagus, tetapi dia tidak membutuhkan banyak kamar


karena ia hanya tinggal sendirian.


Matt berhenti sejenak dan merenung. Tiba-tiba, Matt melihat dua orang pria di depannya.


Mereka sedang mendiskusikan sesuatu dan terus membaca informasi tentang rumah


kontrakan. Sementara itu, Matt masih memikirkan apa yang harus dia lakukan.


"Hei, sobat, apakah kamu juga sedang mencari rumah di dekat sini?"


Salah satu dari mereka melihat Matt sedang membaca informasi rumah sewa dengan mata


berbinar. Lalu, dia pun menghampiri Matt dan bertanya.


"Ah, apakah kamu sedang berbicara padaku?"


Matt merasa sedikit terkejut karena dia lengah.


"Ya, ya, aku sedang berbicara padamu! Apa kamu ingin mencari rumah di dekat sini?" tanya


pria itu lagi.


"Iya. Ada apa?" balas Matt.


Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertanya apakah kamu tertarik untuk mengontrak


rumah bersama kami. Aku juga ingin mengontrak sebuah rumah di dekat sini, tetapi semua


rumah di sini memiliki tiga kamar tidur dan satu ruang tamu, jadi aku ingin mengontraknya


dengan orang lain. Sejauh ini, aku baru menemukan satu orang yang bersedia mengontraknya


bersamaku," jelas pria itu.


"Mengontrak bersama?"


Matt merasa bahwa itu adalah ide yang bagus. Sebuah rumah dengan tiga kamar tidur dan satu


ruang tamu akan menelan biaya 8 juta rupiah sebulan, dengan begitu setiap orang akan


membayar 2,3 juta rupiah. Uang sewa sebesar 2,3 juta rupiah hanyalah penghasilan sehari bagi


Matt. Kemudian, Matt pun berpikir, 'Aku benar-benar tidak punya pilihan. Sepertinya memang


lebih baik berbagi tempat."


"Tentu. Aku akan bergabung," ucap Matt pada pria itu setelah berpikir sejenak.


"Baiklah. Namaku Julio Warman dan dia adalah Yudi Lamoso. Siapa namamu?" Julio bertanya


sambil menjabat tangan Matt, Yudi juga terlihat senang.


"Namaku Matt. Rumah mana yang kamu incar? Kapan kamu akan membawaku melihat rumah


itu?" tanya Matt. Dia ingin menempati rumah itu secepatnya.


"Kalau begitu, ayo kita lihat!"


Dengan demikian, Julio dan Yudi berjalan bersama di depan Matt.


Terdapat banyak rumah sewa di daerah itu. Mereka bertiga hanya membutuhkan beberapa


menit untuk sampai ke sana. Rumah yang mereka incar memiliki struktur yang sama seperti


rumah-rumah yang Matt lihat sebelumnya, tidak banyak perbedaannya. Rumah tersebut


memiliki dapur, kulkas, sofa, dan perabot lainnya, serta kamar lumayan nyaman.


Pemilik rumah sewa tersebut bernama Susan, dia pun mengajak mereka berkeliling rumah itu.


Berhubung putranya tinggal di Negara Aksara, dia akan pergi ke sana untuk tinggal bersama


putranya. Susan ingin menyelesaikan segala urusan administrasi sesegera mungkin sebelum


pergi ke Negara Aksara.

__ADS_1


Melihat Julio dan Yudi masih menimbang-nimbang, Susan berkata, "Jika terlalu mahal, aku bisa


menurunkan harganya sedikit."


__ADS_2