
"Wow, Matt, kamu sungguh luar biasa! Bagaimana kamu bisa membawa begitu banyak barang
di punggungmu? Buah persik ini baunya enak. Kenapa kamu tidak mengeluarkannya lebih awal
jika kamnu memiliki makanan yang enak-enak ?"
Beni memegang buah persik di tangannya dan melihat barang-barang yang dibawa Matt. Ada
delapan buah persik, sayuran, tenda, dan sebagainya. Matt bahkan tidak mengeluh kelelahan
sama sekali.
'Luar biasa, pikir Beni. Namun, ketika dia mengingat bagaimana Matt membantu anak culun itu
terakhir kali, dia pun percaya bahwa Matt sungguh luar biasa. Matt telah memukuli hampir
semua orang saat itu dan mereka bertiga hanya bertanggung jawab untuk melindungi Tina.
"Apa kamu akan memakannya? Jika tidak, kembalikan agar aku bisa menyimpannya!" kata
Matt sambil berpura-pura meraih buabh persik tersebut. Namun, Beni yang memegang buah
persik segera berlari ke sisi lain.
"Apakah kamu bercanda? Kamu memberikan buah yang begitu bagus, tetapi kamu ingin
mengambilnya kembali. Jangan pernah memikirkan hal seperti itu!" Beni berkata dengan puas
setelah dia menyeka buah persik tersebut hingga bersih dan menggigitnya.
Setelah melakukan gigitan pertama, dia tidak mengatakan apa-apa lagi sebab dia benar-benar
tenggelam pada kelezatan buah persik itu. Bahkan, aroma, rasa, dan teksturnya hampir
membuat Beni menelan lidahnya sendiri. Buah persik dan sayur-sayuran tersebut sungguh
enak.
Semua orang menundukkan kepala saat melahap buah persik. Awalnya, Tina mnemperhatikan
penampilannya saat makan. Namun, dia tidak memedulikannya lagi seiring berjalannya waktu
dan mulai melahap buah persik miliknya, yang membuat Matt merasa sangat bahagia.
Setelah makan buah persik, perut semua orang sedikit kembung. Bahkan, merelka tiba-tiba lupa
jika mereka baru saja makan berat dan sudah kenyang.
"Matt, ini semua salahmu! Lihat perbuatanmu!" Zack berkata pada Matt sambil menunjuk
perutnya yang bulat.
"Ckck. Padahal, aku ingin memberimu lagi kalau sudah pulang, tetapi karena kamu mengatakan
itu, aku berubah pikiran. Lebih baik aku makan sendiri saja."
Setelah mendengar apa yang dikatakan Matt, semua orang menoleh pada Zack dengan marah.
"Jangan. Maafkan aku, saudaraku tersayang. Seharusnya aku tidak menyalahkanmu dan harus
berterima kasih. Tolong tarik kembali ucapanmu dan berpura-puralah bahwa aku tidak pernah
mengatakan apa pun," kata Zack sambil mulai terisak. Namun, isak tangis itu hanyalah
pura-pura saja.
"Zack! Bagaimana kamu bisa bersikap menjijikkan seperti itu?" Jasmine menendang kakinya dan menatapnya dengan muak sebelum beranjak duduk di
samping Tina.
"Tidak! K-Kalian semua meninggalkanku! A-aku tidak tahan menanggung semua ini lagi! Aku
akan mati saja! Aku akan melompat ke sungai dan bunuh diri!" Zack berkata sambil berjalan
menuju sungai.
"Jika kamu tidak benar-benar melakukan itu, kamu adalah seorang pengecut!" kata semua
orang serempak.
"Maafkan aku, orang-orang baik hati!" Zack berbalik dan berkata dengan nada marah.
"Haha! Cucuku tersayang, aku akan memaafkanmu. Sini pijat Kakek!" Beni berkata sambil
menunjuk ke arah punggungnya.
"Tidak, tidak! Pergi saja, kumohon. Sungai itu ada di sebelah sana."
Kemudian, Will menarik Zack.
"Ah! Biarkan aku mengakhiri hidupku! Aku tidak ingin hidup lagi.
Zack berlutut sekali lagi saat melihat keduanya tidak mau melepaskannya.
"Hahaha ..." Di bawah langit malam, terlihat sebuah api unggun. Beberapa orang berkumpul
mengelilingi api sambil tertawa dan bermain game. Pada saat itu, mereka semua memiliki
pemikiran yang sama. 'Betapa indahnya jika waktu bisa berhenti saat ini selamanya.
Sayangnya, waktu tidak menunggu siapa pun. Setelah bermain-main, mereka kembali ke tenda
untuk beristirahat. Kecanggungan mulai memenuhi tenda Matt dan Tina lagi.
"Bagaimana kalau seperti ini, Tina? Kamu tidur di sisi itu dan aku akan tidur di sisi ini. Kita akan
meletakkan pakaian kita di tengah sebagai penghalang. Aku berjanji tidak akan menyentuhmu!
__ADS_1
Jika aku menyentuhmu, aku akan menjadi cucumu!" Matt berjanji pada Tina dengan
sungguh-sungguh.
Hmp!"Apakah kamu idiot?"
Tina tersenyum. Sebetulnya, dia tidak takut lagi pada Matt seperti semalam. Bagaimanapun
juga, mereka berdua sudah menjadi sepasang kekasih.
"Jika kamu memiliki pikiran yang tidak pantas untukku, sebaiknya kamu keluar dari sini supaya
kamu digigit nyamuk !" Tina berkata dengan galak sambil mencubit lengan Matt sebelum
mereka tidur.
Tiba-tiba saja, Matt memeluk Tina dan tidak mencoba mengambil tindakan lebih. Sebaliknya,
Matt justru tertidur sambil memeluknya.
Malam yang cukup panjang dengan seorang wanita cantik di sisinya sebetulnya tidak membuat
Matt mengantuk. Dia justru memasuki ruang Taman Peri dan berkultivasi.
Sebaliknya, Tina segera tertidur dalam pelukan Matt. Pelukan Matt terasa hangat sehingga
membuatnya tidur nyenyak.
Keesokan harinya, Matt dan Tina sudah tidak merasa sungkan saat bangun di pagi buta. Mereka
justru tersenyum saat mata mereka bertemu. Ketika mereka berdua keluar dari tenda, mereka tidak melihat ada pergerakan dari tenda lainnya.
"Tina, bagaimana kalau kita melihat-lihat, mungkin kita bisa menemukan sayuran liar atau
sesuatu untuk membuat sarapan?
Mata Matt tampak berbinar. Dia selalu seperti ini saat mendaki gunung. Terkadang, dia juga
mendaki gunung untuk memetik beberapa sayuran liar dan dimasak di rumah.
"Apa? Namun, aku tidak tahu bagaimana mengidentifikasi sayuran liar," kata Tina.
"Tidak apa-apa. Aku tahu bagaimana mengidentifikasinya. Jika aku tahu bahwa kita akan
datang ke tempat ini, aku akan membawa beberapa alat sebelumnya. Aku juga tahu cara
menangkap burung pegar, kelinci, dan sebagainya. Jika kamu dibesarkan di desaku, kamu juga
pasti tahu caranya," kata Matt sambil menggenggam tangan Tina.
Saat ini, Tina sedang menatap pria yang berjalan di depannya. Tina memang harus mengakui
bahwa tidak ada yang tidak bisa Matt lakukan. Oleh karena itu, Tina memutuskan untuk tidak
membiarkan orang lain merebut pacarnya itu.
tanaman di sekitar mereka. Tina juga mengamatinya dan selalu bertanya pada Matt setiap kali
dia melihat sesuatu yang tampak seperti sayuran, yang ternyata hanyalah rumput liar.
"Matt, lihat! Ada jamur di sini."
Tina menunjuk beberapa jamur yang tersembunyi dengan baik di bawah tumpukan rumput
kering. Dia mungkin tidak menyadarinya jika dia tidak memiliki penglihatan yang baik.
"Di mana? Coba aku lihat.'
Matt menatap Tina sebelum mengikuti arah yang ditunjuk Tina. Dia memang benar, ada
beberapa jamur yang tumbuh di bawah rumput kering.
"Tina, ini adalah jamur surai singa. Sepertinya kita sedang beruntung. Aku hanya pernah
memakan jamur srai singa beberapa kali. Sup yang terbuat dari jamur ini sangat bergizi dan
rasanya sangat menyegarkan."
Matt tersenyum sambil mnemetik beberapa jamur surai singa. Banyak yang tumbuh di sana
sampai-sampai Matt harus membaginya sebagian kepada Tina untuk dipegang. Setelah
mendengar apa yang dikatakan Matt, Tina sontak merasa senang.
"Bagus! Dengan jamur surai singa ini, kita tidak perlu mengkhawatirkan tentang sarapan lagi.
Kamu sungguh luar biasa, Tina!" kata Matt senang sambil menggenggam tangan Tina.
"Ayo, pergi. Aku ingin mencicipi jamur surai singa."
Tina segera mendorong Matt ke arah tempat perkemahan mereka berada.
Matt berjalan di depan dan dengan hati-hati menyimpan jamur surai singa di Taman Peri saat
Tina tidak menyadarinya. Sekarang ini, ketika mereka menemukan jamur surai singa tad, Matt
sudah punya ide untuk menanam beberapa jamur yang bisa dimakan di Taman Peri.
Seperti itulah Matt, dia langsung melakukan setiap ide yang dimilikinya. Memang masih banyak
ruang kOsong di Taman Peri dan akan sia-sia jika tidak menanam apa pun di sana. Selain itu,taman tersebut menjadi tidak terlihat bagus jika dibiarkan kosong begitu saja.
Ketika Matt dan Tina kembali ke perkemahan, mereka melihat Will sudah bangun. Mereka
menebalk bahwa Will pasti sudah kelaparan sekarang dan khawatir tentang apa yang harus
dimakan.
__ADS_1
"Matt, ke mana kalian berdua pergi pagi-pagi begini?" Will bertanya sambil menguap saat
melihat Matt dan Tina kembali.
'Kami pergi mencari apa yang bisa dimasak. Lihat!" kata Matt sambil menunjukkan jamur surai
singa pada Will.
"Wow, ini makanan! Apa kamu yakin itu bisa dimakan? Bukankah jamur itu beracun?" Will
mengambil jamur surai singa dari tangan Matt. Meskipun dia berkata seperti itu, wajahnya
masih menyunggingkan senyum bahagia.
"Jangan khawatir. Aku sudah makan jamur ini sejak aku masih kecil. Jamur itu tidak beracun."
Kemudian, Matt membawa jamur surai singa itu ke sungai untuk mencucinya. Selanjutnya, dia
menyalakan api.
Bau jamur surai singa tersebut perlahan-lahan meresap ke udara, sehingga membangunkan
orang-orang yang berada di dua tenda lainnya.
"Will, Matt, apa yang kalian masak? Baunya sangat enak."
Beni adalah orang pertama yang keluar dari tenda. 'Rencanaku berhasil,' pikirnya.
Ketika mereka hendak tidur tadi malam, dia telah bersekongkol dengan Zack bahwa mereka
tidak boleh bangun terlalu pagi. Alasannya adalah jika mereka bangun pagi, mereka harus
mengurus sarapan semua orang. Tentu saja, mereka tidak mau mnelakukannya dan hanya bisa
mengandalkan Matt.
"Kalian sangat tepat waktu. Cepat keluar, bangunkan Zack dan Jasmine juga. Sarapan sudah
siap," ucap Will pada Beni seraya memutar bola matanya.
"Baiklah! Bangun, Zacki! Sudah saatnya bangun! Kenapa kamu masih tidur?"
Beni berpura-pura berjalan ke tenda Zack dengan mengantuk, lalu mengetuknya. Tak lama
kemudian, Zack merespons dari dalam dan bangun.
Sup jamur itu pun selesai dimasak tepat ketika semua orang sudah selesai mencuci muka.
Meskipun hanya ada satu jenis jamur, supnya berwarna putih susu dan memancarkan bau
harum yang menarik perhatian semua orang.
Satu suap sup saja mampu menghangatkan tubuh merelka. Mereka pun meminum kuah sup dan
memakan jamurnya. Mereka memang berencana untuk berkemah di alam liar selama satu
malam saja dan kembali di siang hari.
Setelah sarapan, mereka membereskan tenda dan beberapa kantong plastik yang tertinggal di
sana. Setelah membereskan semuanya, mereka kembali ke rumah desa.
"Sepertinya, sayuran liar digunung ini terlalu sedikit. Aku dan Tina sudah mencari-cari cukup
lama, tetapi kami tidak dapat menemukan sayuran lain lagi. Untungnya, Tina memiliki penglihatan yang baik dan menemukan jamur surai singa. Jika tidak, kita semua akan kembali
dengan perut kosong," kata Matt saat mereka berjalan menuju rumah desa.
"Kamu benar, tetapi pikirkanlah. Lagi pula, ini bukan hutan yang dalam dan dekat dengan kota.
Orang-orang sering datang ke sini untuk bersenang-senang. Seiring berjalannya waktu, semua
sayuran liar telah dipanen.'
Beni tidak terpengaruh olehnya.
"Bos, kurasa kamu tidak mengerti maksudnya. Yang ingin Matt katakan adalah jika bukan
karena Tina, kita semua pasti akan kelaparan pagi ini!
Zack menjadi pembawa kebenaran kali ini.
"Oh, jadi itu maksudmu. Astaga, ini semua salahku. Aku tidak langsung memahaminya!" Beni
menatap Matt dan Tina sebelum menggoda mereka bersama Zack.
Sekelompok orang itu sungguh berisik di dalam perjalanan pulang tersebut. Matt dan
teman-temannya sangat dekat seperti saudara kandung, yang membuat orang lain iri pada
mereka. Selain itu, pacar mereka semua juga rukun dan bahkan bertukar nomor telepon,
berjanji untuk sering bertemu dan pergi berbelanja bersama ke depannya, yang membuat Matt
dan teman-temannya merasa senang.
Ketika mereka semua tiba di rumah desa, mereka segera mandi dan kemudian berkendara
kembali ke kota. Berhubung mereka semua merasa lelah dan bersenang-senang dalam dua hari
terakhir, mereka tidak pergi ke mana-mana lagi dan justru pulang ke rumah masing-masing
untuk beristirahat. Perjalanan musim gugur berakhir dengan sempurna, hubungan antara Matt
dan Tina juga meningkat pesat. Yang membuat Matt senang adalah dia bisa tinggal di tenda
yang sama bersama Tina saat di gunung, pertanda Tina telah menerimanya.
__ADS_1