
"Namanya Matt Luham? Baik. Tania, cari tahu informasi tentang orang ini secepatnya,"
instruksi Tantowi pada sekretarisnya. Dia sebenarnya merasa kalau nama itu terdengar
familier, tetapi dia terlalu memikirkannya.
"Tunggu. Tidak perlu. Sepertinya aku mengenalnya.'
Mata Tina berbinar tidak percaya. Meskipun dia tidak tahu apakah pemuda yang dimaksud
Leman adalah Matt yang dia kenal, firasatnya berkata itu orang yang sama.
"Tina, ini terkait kesehatan kakekmu. Kamu tidak bisa bersikap keras kepala saat ini.'"
Nada bicara Tantowi terdengar mengintimidasi.
"Tuan Leman, apakah pemuda yang kamu sebutkan berusia sekitar 20 tahun dan cukup
tampan?"
Bukannya berdebat dengan ayahnya, Tina malah menatap Leman.
"Iya, iya. Dia memang seperti seorang mahasiswa. Apa benar dia temanmu, Tina?"
Leman juga sedikit bersemangat.
"Oke, benar dia. Ayah, tunggu aku di sini. Aku akan membawa ginseng berusia seabad itu untuk
menyelamatkan Kakek," ucap Tina.
"Tina, ingat, berapa pun harganya, kita bisa membayarnya. Kamu harus membawa ginseng itu.
Omong-omong, bawa juga pemuda itu kemari. Aku ingin bertemu dengannya," perintah
Tantowi.
'Aku mengerti, Ayah. Aku pasti akan membujuk Matt demi Kakek. Tunggu saja kabar baikku."
Setelah itu, Tina pun meninggalkan rumah.
Dia masuk ke dalam mobilnya dan langsung bergegas ke rumah sewa Matt. Dia tidak
menghubungi Matt terlebih dahulu, jadi Matt tidak tahu kalau Tina akan datang.
Matt sedang beristirahat saat mendengar suara ketukan pintu dan bergegas membukanya.
Ketika dia melihat orang yang mengetuk pintu adalah Tina, dia pun ingin menggodanya. Namun,
dia melihat tetes air mata di sudut matanya dan menyadari keadaan Tina sedang tidak baik. Dia
biasanya sangat ceria, tetapi hari ini dia menjadi sangat pendiam. Matt sama sekali tidak
terbiasa dengan perubahan Tina ini.
"Tina, apa ada yang bisa aku lakukan untukmu? Apakah seseorang mengganggumu?" Matt
bertanya setelah dia membiarkan Tina duduk di sofa dan menuangkan segelas air untuknya.
"Matt, Tuan Leman mengatakan bahwa kamu memiliki ginseng berusia seabad. Benarkah itu?"
Tina tidak bertele-tele dan langsung bertanya pada Matt dengan lugas. Kemudian, dia menceritakan keseluruhan cerita pada Matt dengan suara tercekat setelah
mendapat izin dari Matt. Tibalah saat dia meminta Matt untuk menjual ginseng tersebut
kepadanya, Tina menunggu respons Matt dengan cemas, takut Matt akan menolak
permintaannya.
Pada saat itu, Matt pun menyadari bahwa"Tuan Leman" yang disebutkan Tina adalah Leman,
seorang dokter pengobatan tradisional tua yang telah membantunya mengecek ginseng. Tina
sudah tidak menyembunyikan apa pun lagi tentang latar belakang keluarganya. Matt tersentuh
karena Tina sudah mau bercerita padanya.
Dia pun setuju untuk menjual ginseng berusia seabad itu kepada Tina tanpa ragu sama sekali
setelah mendengar ceritanya. Lagi pula, Tina adalah temannya dan keluarga temannya sedang
membutuhkan ginseng itu. Dia tidak punya alasan untuk menolaknya. Selain itu, dia masih
punya banyak ginseng di Taman Peri.
Oleh karena itu, Matt menganggukkan kepalanya dengan murah hati. Mengenai harganya, dia
membiarkan Tina yang memutuskannya.
Bagi Matt, puluhan juta rupiah tidak bisa dibandingkan dengan persahabatan mnereka.
"Matt, terima kasih! Omong-omong, ayahku juga mengundangmu ke rumahku. Ayo, pergi. Aku
harus segera pulang supaya ginseng ini langsung bisa digunakan untuk menyelamatkan
kakekku. Dia adalah orang yang paling mencintaiku."
__ADS_1
Tina memegang tangan Matt dan ingin berlari keluar pintu.
Namun, Matt menatapnya dengan malu dan berkata, "Menurutku, tidak pantas aku pergi ke
rumahmu dengan pakaian ini."
Kata-kata Matt itu membuat Tina tertawa terbahak-bahak. "Ayolah. Apa yang kamu takutkan?
Apa kamu pikir kamu akan bertemu dengan ayah mertuamu? Ayo, pergi!"
Setelah mengatalkan itu, Tina mendorongnya keluar rumah sampai masuk dalam mobl. Tak
lama kemudian, mereka tiba di rumah Tina.
Tempat tinggal Tina adalah sebuah mansion dan beberapa pengawal sedang berjaga di pintu
masuk. Matt mau tidak mau menjadi gemetar karena keamanan yang ketat.
"Tidak masalah. Ikuti saja aku." Tina memimpin jalan dan meyakinkannya.
Mendengar perkataan Tina, Matt yang masih melihat sekeliling segera mengikutinya. Dia masih
ingin berumur panjang, itulah hal yang paling penting. Jika dia melakukan kesalahan, siapa yang
tahu jika sesuatu yang buruk akan terjadi padanya?
Tak lama kemudian, mereka tiba di pintu masuk mansion. Matt pun mengikuti Tina masuk ke
dalam.
Leman yang sedang duduk di sofa memperhatikan Matt masuk di belakang Tina. Wajahnya
langsung berbinar dan tersenyum saat melihat Matt. Dia tahu bahwa teman lamanya akan
baik-baik saja begitu dia melihat Matt.
Pada saat yang sama, Matt juga melihat Leman dan mengangguk padanya. Kemudian, dia
melihat sekelompok besar orang berpakaian bagus di ruang tamu. Sepertinya keluarga Tina
adalah orang yang berkucukupan. Anggota keluarganya yang lain bekerja di bidang bisnis,sedangkan ayahnya adalah wali kota. Tidak heran Tina tampak begitu kaya.
"Tina, kamu sudah kembali. Bagaimana semuanya?" Tantowi berdiri dengan tergesa-gesa dan
bertanya pada Tina. Orang-orang di sekitarnya juga berkumpul mengelilingi Tina. Melihat
anggota keluarganya, Tina tersenyum dan mengarahkan jarinya pada Matt. Semua orang
akhirnya lega.
"Jadi kamu Matt Luham?'"
gagal mempertahankan ketenangannya dan terus menatap Matt.
"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Tuan. Betul, saya adalah Matt Luham."
Matt tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan sama sekali. Dia justru menegakkan
punggungnya dan menjawab Tantowi dengan lugas.
Tantowi jelas terkejut melihat respons Matt, tetapi dia segera kembali tenang. Reaksi Matt
benar-benar di luar imajinasinya, tetapi itu justru mengubah kesan pertamanya terhadap Matt.
"Terima kasih, Matt. Terima kasih atas bantuanmu. Aku akan segera mentransfer pembayaran
ginseng tersebut ke nomor rekeningmu. Tolong beritahu nomor rekeningmu," kata Tantowi
sekali lagi.
Berhubung sudah seperti ini, Matt tidak mengatakan apa-apa lag. Dia tidak menyatakan
harganya dan langsung memberi tahu Tantowi nomor rekening banknya. Setelah beberapa saat,
ponselnya bergetar. Dia langsung melihatnya dan ternyata Tantowi telah mentransfer 18 miliar
rupiah.
Bagi Matt, itu adalah jumlah yang sangat besar, tetapi setelah dipikir-pikir, sepertinya memang
pantas dibayar mahal. Meskipun Tantowi membayar ginseng itu dengan sangat mahal, berkat
Matt kakek Tina dapat bertahan hidup.
Tak lamna kemudian, Matt mengeluarkan ginseng yang terbungkus kain merah dan
menyerahkannya pada Leman. Leman tidak mengatakan apa pun dan kembali ke kamar kakek
Tina. Semua orang dengan cepat mengikuti di belakangnya, terlebih Leman tidak melarang
mereka masuk. Semua orang mengkhawatirkan lelaki tua di tempat tidur itu.
Setelah memotong ginseng menjadi dua bagian, Leman menyisihkan satu setengah bagian.
Kemudian, dia memotong separuh ginseng lainnya menjadi irisan yang sangat tipis dan
__ADS_1
memasukkannya ke dalam mulut lelaki tua itu. Kemudian, dia mulai melakukan akupunktur.
Napas lelaki tua itu tampak stabil dan kulitnya menjadi lebih baik seiring waktu.
"Syukurlah, teman lamaku sudah keluar dari masa kritisnya sekarang. Jangan khawatir, dia
akan bangun besok. Namun, kalian tidak boleh lengah, bahkan setelah dia bangun. Nanti akan
aku resepkan obat. Berikan padanya tiga kali sehari selama sebulan. Dia seharusnya akan pulih
saat itu," kata Leman sambil menyeka keringat di dahinya dan menatap lelaki tua, yang sedang
tidur dan bernapas dengan tenang di atas ranjang.
"Baiklah, Tuan Leman, terima kasih. Bagaimana perasaanmu saat ini? Apakah kamu lelah? Aku
akan membawamu keluar agar kamu bisa beristirahat."
Meskipun menjadi wali kota, Tantowi tidak bersikap angkuh. Sebaliknya, dia cukup ramah dan
mudah didekati. Namun, Leman melambaikan tangannya dan menatap Matt, lalu berkata, "Matt, sejujurnya,
alasan mengapa aku ingin membeli ginseng tersebut hari ini adalah karena keadaan teman
lamaku. Awalnya, aku ingin menggunakan ginseng berusia seabad ini untuk merawat tubuhnya,
tetapi aku tidak menyangka dia akan jatuh sakit begitu kamu pergi. Untungnya, kamu mengenal
Tina, kalau tidak, temanku akan dalam bahaya."
"Tuan Leman, aku tidak tahu kalau kamu ingin membeli ginseng itu untuk kakek Tina. Jika aku
tahu, aku akan langsung setuju tanpa ragu," jawab Matt sambil tersenyum pahit.
"Ini semua salahku. Waktu itu aku tidak menjelaskannya. Aku sudah semalkin tua!"
Setelah mengatakan itu, Leman keluar dari kamar itu untuk beristirahat.
Matt juga hendak pergi setelah melihat semuanya baik-baik saja, tetapi Tina ingin ditemani
berjalan-jalan. Sudah pasti dia tidak bisa menolak permintaan seorang wanita cantik.
Tidak ada orang di sekitar mansion. Saat ini, Tina sedang menceritakan masa kecilnya saat
mereka sedang berjalan-jalan kepada Matt.
Dia bercerita bahwa kedua orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaan mereka sejak dia masih
kecil dan tidak punya banyak waktu untuk menemaninya. Jadi, orang terdekatnya adalah
kakeknya yang sangat menyayanginya sejak dia masih kecil. Dia merasa sangat bahagia dan
sembuh dari depresi saat bersama kakeknya.
Tidak peduli seberapa tidak rasional dan nakalnya dirinya, kakeknya akan selalu membelai
kepalanya dengan penuh kasih. Kakeknya juga akan selalu menyetujui permintaannya.
Mendengar kakeknya jatuh sakit, dia langsung panik sekali.
"Matt, saat aku tahu Kakek sakit, kupikir dunia akan kiamat. Aku tidak tahu mengapa aku
begitu takut Kakek akan meninggalkanku. Sebetulnya, aku takut tidak ada lagi yang akan
memanjakan dan menyayangiku seperti yang Kakek lakukan setelah dia meninggalkanku."
Tina tak kuasa menahan tangisnya saat menceritakan masa kecilnya. Matt hanya bisa menepuk
pundaknya dan menghiburnya, lalu berkata, "Tina, tidak apa-apa. Kakekmu sudah lebih baik
sekarang dan aku percaya bahwa dia akan berumur panjang. Jangan sedih. Sekarang dia sudah
membaik, kita seharusnya bahagia, bukan?'"
Namun, Tina malah terisak lebih keras lagi. Matt pun bingung harus berbuat apa. Dia juga tidak
tahu harus berkata apa untuk menghiburnya. Matt sebenarnya tidak terlalu pandai dalam
berbicara dan tidak tahu harus berbuat apa dalam situasi seperti itu. Pada akhirnya, dia hanya
bisa terus menepuk pundak Tina dengan pasrah.
"Matt, terima kasilh. Jika bukan karena kamu, kakekku mungkin tidak akan bisa selamat.
Terima kasih. Sekali lagi, terima kasih banyak.
Tina mengangkat kepalanya menatap Matt. Hidungnya masih merah dan matanya masih
berkaca-kaca. Melihat itu, Matt merasakan sentakan di hatinya dan sontak ingin memeluknya.
Kemudian, Matt pun memeluk Tina dan berkata, "Gadis konyol, kita berteman. Lagi pula, aku
sudah jatuh cinta padamu."
Pikiran Matt mendadak menjadi kosong saat mengatakan itu. Dia belum pernah mengatakan hal
__ADS_1
seperti itu sebelumnya. Sementara Tina, tubuhnya bergetar saat mendengar pengakuan Matt.
Dia mencoba mendorong Matt menjauh, tetapi bukannya melepaskannya, Matt malah memeluk Tina lebih erat lagi. Pada akhirnya, Tina berhenti melawan dan membalas pelukan Matt.