Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
Bulan Purnama


__ADS_3

Mereka berdua menyelesaikan kesepakatan mereka dengan suasana hati yang penuh sukacita. Mereka terus


mengobrol sambil minum. Joni baru mau pulang setelah dia tidak bisa minum lagi. Sementara Matt masih sadar


seperti sebelumnya.


"Hm, aku tidak menyangka rencanaku akan menjadi lkenyataan secepat ini. Sungguh menyenangkan


memikirkannya. Aku harus menggunakan Air Peri dari Taman Peri untuk menyirami tanah di puncak bukit


dalam dua hari. Jika tidak, investasiku akan sia-sia," gumam Matt pada dirinya sendiri.


Saat ini, Matt sedang membersihkan meja, lalu memberitahu orang tuanya bahwa dia lelah dan ingin beristirahat.


Sambil berbaring di tempat tidur, Matt memikirlkan bagaimana cara mengelola lahan itu lagi. Saat ini, dia adalah


bos dan Joni adalah karyawannya. Meskipun demikian, keuntungan yang mereka peroleh akan dibagi rata. Matt


tidak terlalu memikirkannya karena dia sudah kaya. Jika Joni bekerja dengan keras, Matt bahkan akan


memberinya lebih banyak uang di masa depan.


Sebenarnya, Matt tidak ingin memperlakukan Joni dengan tidak adil. Selain itu, Matt berpikir bahwa pendekatan


diam-diamnya terhadap kolabor asi mereka berjalan terlalu mudah. Dia tidak bisa memberi tahu orang lain bahwa


dia kaya raya. Oleh karena itu, dia masih perlu menggunalkan alasan menemulkan ginseng secara lebetulan di


Gunung Gading. Sejujurnya, Matt merasa sedikit bersalah telah berbohong selama ini.


Setelah memasuki ruang Taman Peri, Matt melihat pertumbuhan sayur-sayuran. Dia mengumpulkan beberapa


sayuran yang dia butuhkan dan menyisihkannya. Dia akan menyediakan sayuran ini untuk hotel setelah


merayakan Hari Rasa Syukur.


Matt melihat beberapa pohon buah, lalu memetik beberapa buah yang masak dan mengeluarkan beberapa sayuran.


Dia berdiri berjinjit ke dapur sebelum memasukkannya lke dalam lkulkas. Kemudian, dia mengganti semua air di


tangki dengan Air Peri dari Taman Peri.


Matt juga merasakan perubahan halus pada tubuhnya setelah meminum Air Peri. Oleh karena itu, dia juga


percaya bahwa kesehatan orang tuanya akan membailk setelah meminum air dari Taman Peri.


Setelah menyelesaikan tugasnya dengan diam-diam, Matt kembali ke kamarnya dan memasuki Taman Peri untuk


memulai kultivasi hari ini. Dia berkultivasi setiap hari sampai menjadi kebiasaan baginya dari waktu ke waktu.


Dia akan merasa tidak nyaman jika tidak berkultivasi selama sehari saja.


Keesokan harinya, Matt juga bangun pagi-pagi. Setelah sarapan, dia dan ibunya pergi ke kota untuk membuat


beberapa kue pai.


Di pedesaan, mereka lebih suka memasak kue pai sendiri. Ada tempat khusus di kota yang menyediakan tempat


untuk membuat kue pai. Tempat ini akan menjadi populer pada malam Hari Rasa Syukur sebab orang-orang dari


kota-kota dan desa-desa terdekat akan pergi ke sana untuk membuat kue pai. Terlebih lagi, kue pai buatan tangan


akan terasa lebih lezat dan tidak menghabislkan banyak uang.


Mereka cukup membeli bahan, lalu membuat kue pai daripada membeli dari toko roti yang tentunya lebih mahal.


Selain itu, ada rumnor beberapa tahun lalu bahwa toko roti telah menjual kue pai yang dibuat dengan bahan yang


sudah rusak. Sejak saat itu, orang-orang mulai waspada terhadap kue pai yang dibeli di toko setelah skandal itu.


Sebetuulnya, hidup di pedesaan memang lebih baik. Lagi pula, merelka bisa makan sayuran yang ditanam sendiri.


Selain itu, tidak ada pestisida atau semacamnya. Semuanya adalah makanan organik otentik.


Matt pun datang ke tempat itu untuk membuat kue pai. Sebetulnya, tempat ini sudah ada sejak dia masih kecil. Kue


pai kesukaannya adalah kue pai pecan. Dahulu, saat membuat kue pai, dia akan memasukkan isian yang


dibawanya ke dalam panci. Matt sering diam-diam memakan pecan di panci ketika orang dewasa tidak


menyadarinya.


Sementara itu, kedua orang tua Matt suka memakan kue pai kranberi, yang berhubungan dengan situasi


keluarganya.Matt masih ingat bahwa di suatu tahun, ketika ayahnya salit, dia hampir menghabiskan tabungan keluarga. Pada


Hari Rasa Syukur tahun itu, mereka tidak punya uang untuk menikmati makanan yang layalk. Oleh karena itu,

__ADS_1


mereka hanya mampu membuat kue pai kranberi. Tahun itu, Matt membuat keributan karena ingin sekali


memakan kue pai pecan kesukaannya.


Orang tuanya tidak punya pilihan lain, selain membuat kue pai pecan. Untuk menyenangkan Matt, mereka


alkhirnya membeli pecan agar dia bisa menikmati kue pai kesulkaannya. Selanjutnya, orang tua Matt bahlkan tidak


memakan sepotong kue.


Setiap Matt memikirkan masalah ini, dia selalu malu pada dirinya sendiri dan menyesal karena dia bertindak


terlalu tak terduga saat itu. Sekarang, dia menjadi lebih bijaksana dan rendah hati seiring bertambahnya usia dan


tahu bagaimana merawat orang tuanya.


Ketika Matt tiba di tempat pembuatan kue pai, dia mengamati sekitar dan mendapati bahwa beberapa orang sedang


berbaris di depannya. 'Kupikir aku sudah datang cukup pagi, tetapi sepertinya beberapa orang bahkan datang lebih


awal dariku, renungnya.


Setelah menunggu bersama Lasmi beberapa saat, akhirnya sampai giliran mereka. Ini bukan pertama kalinya Matt


membuat kue pai. Sama seperti yang mereka lakukan di masa lalu, merelka segera membuat kerak pai dan


isiannya. Kemudian, mereka memasukkan kue pai ke dalam oven untuk dipanggang.


Sambil menunggu kue pai, Matt dan Lasmi pergi berbelanja di kota untuk melihat apakah Lasmi punya sesuatu


untuk dibeli. Sambil berjalan, Matt menyadari bahwa pakaian ibunya sudah usang. Oleh karena itu, dia membawa


ibunya ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa pakaian.


Awalnya, Lasmi tidak mau pergi mencari pakaian bersama Matt. Namun, pada akhirnya dia tidak bisa menolak


permintaan Matt dan mengilkutinya ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa pakaian.


Saat berbelanja, Matt tahu bahwa Lasmi tidak ingin menghabiskan terlalu banyakuang, jadi dia tidak


memaksanya untuk membeli pakaian mahal. Dia masih belum memberi tahu Lasmi bahwa dia kaya.


Atas permintaan Matt yang berulang kali, Lasmi alhirnya setuju untuk membeli dua setel pakaian baru. Dia juga


membeli dua setel pakaian lain yang cocok untuk Lukas. Matt membayar semua barang belanjaan itu. Kemudian,


keduanya kembali ke toko roti tempat kue pai dipanggang setelah berbelanja. Waktunya sungguh pas. Ketika


Kemudian, mereka membeli beberapa buah lagi. Matt berjalan di belakang Lasmi dengan kue pai di tangannya. Dia


akan membayar apa pun yang dibeli Lasmi. Lagi pula, dia hanya menghabiskan sekitar 450 ribu rupiah.


Begitu mereka sampai di rumah, Lasmi meletakkan barang-barang di tangannya dan memanggil Lukas. "Lukas, ke


sini dan lihatlah. Matt membelikan kita masing-masing dua setel pakaian."


Lukas yang mendengar perkataan Lasmi pun segera keluar. "Kenapa kamu membeli pakaian di kota? Selkarang


bukan Tahun Baru."


Meskipun terdengar mengeluh, dia sebenarnya senang menerima pakaian baru itu.


Lasmi membalas, "Hei, Matt yang membayar palkaian ini. Sini dan cobalah. Jilka tidak cocok, kita bisa


menukarnya."


Kemudian, Lukas dan Lasmi kembali ke kamar mnereka untuk mencoba pakaian mereka sendiri.


Begitu mereka berdua keluar, Matt memperhatikan mereka dengan mulut ternganga. Orang tuanya sama sekali


belum menua. Merelka hanya terlihat berusia sekitar tujuh puluhan karena belkerja terlalu keras selama


bertahun-tahun. Sekarang, mereka terlihat jauh lebih muda dengan pakaian baru.


"Ibu, Ayah, kalian tidak perlu ganti baju, kan? Kalian terlihat lebih cemerlang sekarang."


Matt berjalan mengelilingi mereka seolah-olah dia telah kembali ke masa lkecilnya. Dia selalu melompat-lompat di


selitar orang tuanya dan mengobrol dengan mereka setiap kali dia tidak punya pekerjaan lain ketilka dia masih


kecil. Terlepas dari perjuangan mereka saat itu, Matt masih memiliki masa kecil yang bahagia yang diciptakan oleh


orang tuanya.


Di era di mana uanglah yang berkuasa saat ini, Matt tidak mengeluh lagi tentang apa pun. Tanpa uang, dia


mungkin tidak akan bisa kembali ke pedesaan untuk merayakan Hari Rasa Syukur bersama orang tuanya. Jika

__ADS_1


Matt tidak kaya raya, dia tidak akan bisa membantu Joni atau membelikan pakaian baru untuk orang tuanya.Sambil memegang tangan Matt, Lasmi menasihatinya, "'Kami tidak akan berganti pakaian. Palkaian ini sangat cocok


dengan kami! Namun Matt, kamu harus menabung untuk dirimu sendiri. Kami bekerja di ladang setiap hari, jadi


tidak perlu memakai pakaian mahal. Selain itu, kamu masih seorang mahasiswa. Kamu tidak boleh terlihat buruk


di depan siswa lain. Mengerti"


"Bu, kenapa kamu mengatakan itu? Lihat aku. Apakah ada sesuatu tentang diriku yang tidak bisa dibandingkan


dengan orang lain? Kamu tahu kalau analkmu ini yang terbaik," canda Matt dengan sengaja untuk mencairkan


situasi ini dan mengalihkan topik.


"Ya, memang. Matt yang terbaik!" Lasmi menjawab saat air mata mulai mengalir di matanya. Dia tidak


mengatakan apa-apa lagi tentang topik berat itu.


"Baiklah, Bu. Aku lapar sekarang. Aku yalkin Ayah juga lapar. Ayo, masak!" Matt sengaja menyentuh perutnya dan


membawa Lukas bersamanya. Setelah mendengar kata-kata Matt, Lasmi segera mengganti pakaiannya dan pergi


memasak dengan gembira.


Tradisi Matt dan keluarganya selama Hari Rasa Syukur adalah makan di luar ruangan. Mereka memilih ruang


terbuka di mana mereka bisa menikmati pemandangan di malam hari dan menyiapkan meja dengan kue pai,


buah-buahan, dan hidangan lainnya.


Selanjutnya, merelka juga menyiapkan hidangan seperti lkentang tumbuk dan lkue pai labu untuk merayakan


musim panen.


Saat ini, seluruh keluarga duduk mengelilingi sebualh meja, menikmati pemandangan sambil mengobrol. Jika ada


tetangga atau kerabat, merelka bisa membawa beberapa hidangan mereka dan duduk bersama untuk menikmati


makanan tersebut.


Beberapa orang juga mengundang kerabat dan teman mereka untuk minum-minum pada malam ini. Kemudian,


mereka duduk bersama, minum, dan bermain game sebanyak yang mereka inginkan. Selain Tahun Baru, Hari


Rasa Syukur adalah hari libur paling meriah.


Setelah makan, baik anak-anak maupun orang dewasa akan bermain tebak kata. Penduduk desa juga mendekorasi


rumah mereka dan menerangi desa di malam hari. Pemandangan semarak seperti itu hanya bisa dilihat di


pedesaan atau tempat yang lebih terpencil.


Tidak ada festival atau suasana liburan di kota. Seringkali, orang-orang alkan berkeliaran dengan teman-teman


mereka dan meninggalkan orang tua mereka di rumah.


Sekitar pukul delapan malam, Matt menata meja dan mengeluarkan barang-barang yang sudah dia siapkan.


Setelah meletakkan semuanya di atas meja, dia memindabhkan beberapa kursi dan menyisihkannya.


Saat Matt sedang mengatur meja, Joni dan orang tuanya datang berkunjung ke rumahnya. Joni dan keluarganya


tidak tinggal jauh dari rumah keluarga Matt. Oleh karena itu, merelka bisa berkunjung kapan saja.


"Matt, alku di sini. Kenapa kamu tidak menyambut kami?" Joni berteriak sambil meletaldkan barang-barang yang


dibawanya di atas meja.


"Apa itu hantu? Dari mana suara berisik ini berasal? Sepertinya, kamnu harus kembali ke rumahmu. Kamu tidak


boleh membiarkan ibumu khawatir tentang kepergianmu!" Matt selalu mengolok-olok Joni di setiap kesempatan.


"Oh, kebetulan selkali! Ibuku juga ada di sini!" Joni menarik ibunya.


"Bibi, Paman! Tolong ambil kembali monyet nakal ini. Dia terlalu menyebalkan!" canda Matt setelah menyalami


orang tua Joni.


"Aku juga merasa begitu. Anak kecil ini harus pulang ke rumah," jawab ibu Joni sambil tersenyum.


Lasmi dan Lukas juga keluar saat itu. Orang tua dari kedua keluarga senang bertemu satu sama lain. Sudah


beberapa tahun mereka tidak bisa merayakan Hari Rasa Syukur. Tidak mungkin mereka tidak berpapasan di desa.


Meskipun demikian, itu lebih berarti bagi orang tua untuk merayakan Hari Rasa Syukur saat anak-anak mereka


kembali ke rumah.

__ADS_1


Di ruang terbuka, para orang dewasa duduk dan mengobrol. Di seberang, baik Matt maupun Joni sibuk menyiapkan


kartu untuk bernmain tebalk kata.


__ADS_2