
Matt membayar tagihannya dan membawa ketiganya masuk ke dalam taksi satu per
satu. Ketika mereka tiba di kampus, Matt tidak punya pilihan selain melempar
mereka keluar dari taksi.
Saat itu, ketiganya akhirnya menjadi agak sadar. Setidaknya, Matt bisa membantu
mereka berjalan ke asrama dan melemparkannya ke tempat tidur masing-masing.
Kemudian, Matt juga menjatuhkan dirinya di tempat tidurnya.
Setelah berbaring di tempat tidur, dia sudah tidak sabar untuk memasuki Taman
Peri. Sekarang adalah waktu yang tepat karena tidak ada yang bisa mengganggunya.
Matt melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 23.35. Dia ingin membuktikan
rasio waktu 1:10 itu memang benar.
Begitu dia memikirkannya, Matt sudah berada di Taman Peri. Pemandangan di
Taman Peri langsung mengejutkannya. Wortel dan kubis yang dia tanam hari ini
tampak menghijau dan tumbuh dengan baik.
Matt seolah-olah sedang melihat potongan uang kertas, bukan tanaman yang
tumbuh dengan bagus. Dia berjalan ke lahan wortel dan mencabutnya dengan
mudah sebab tanahnya cukup lunak.
Wortel yang dicabut bercampur dengan sedikit tanah. Matt pun membawanya ke
kolam. Setelah membersihkannya, Matt menggigit wortel itu.
Wow, perasaan macam apa ini? Wortel itu sangat lezat dan bahkan sangat renyah
serta menyegarkan. Rasanya tidak tajam sama sekali, ' batinnya.
Matt merasa bahwa itu adalah wortel terbaik yang pernah dia makan selama
bertahun-tahun. Meskipun itu hanya wortel, dia seperti mencicipi buah.
Bagaimana mungkin tidak ada yang mau membeli wortel seperti itu?
Setelah menghabiskan seluruh wortelnya, Matt datang ke lahan kubis. Kubis-kubis
itu tampak seolah-olah diukir dari zamrud yang membuatnya terlihat sangat
sempurna. Kubis-kubis seperti ini pasti akan membuat orang-orang enggan
memakannya.
__ADS_1
"Besok, semua ini akan berubah menjadi uang dan akan masuk ke dalam
tabunganku! Hore!" Matt berteriak di lahan itu sekali lagi, "Maxim, cepat keluar!
Ayo, panen sayurannya!"
Ketika Maxim mendengar suara Matt, dia langsung muncul di langit dengan senyum
lebar di wajahnya. Dia datang ke lahan untuk memetik wortel dan kubis bersama
Matt, lalu menumpuknya di ruang terbuka.
Matt melihat wortel dan kubis itu, lalu berkata sambilmemegang dagunya,
"Sepertinya tidak boleh diletakkan begitu saja seperti ini. Aku pikir aku perlumembangun sebuah rumah. Aku bahkan tidak tahu di mana kamu biasanya tinggal
dan sayuran ini membutuhkan tempat untuk disimpan.
"Itu mudah, Bos. Selama ada bahan-bahan bangunannya, aku bisa melakukannya!"
Maxim mengangkat kepalanya dan menatap Matt dengan bangga.
Mendengar itu, Matt mengangguk dan menjawab, "Mm? Maxim, kamu yakin bisa?
Baiklah, mari kita pikirkan ini setelah menjual sayur-sayuran ini.
Sayur-sayuran itu kemungkinan bisa muat di dua keranjang. Matt kembali
mengangguk puas dan kembali ke dunia nyata.
Hanya sepuluh menit berlalu meskipun dia berada di Taman Peri begitu lama.
Dengan begitu, dia akan menghasilkan banyak uang!
Matt segera berbaring dengan tenang dan tertidur.
Di hari kedua, Matt bangun pagi sekali, lalu pergi ke pasar petani. Dia menyewa dua
keranjang, sebuah kios, dan sebuah gerobak roda tiga untuk mengangkut sayuran
dari pengelola pasar. Selanjutnya, dia berjalan ke tempat yang tidak ada orang di
sekitarnya, dengan bantuan Maxim, Matt memasukkan semua wortel dan kubis ke
dalam keranjang dalam waktu kurang dari satu menit.
Kemudian, dia mengeluarkan keranjang-keranjang itu dan menaruhnya di atas
gerobak roda tiga. Lalu, dia bergegas menuju kios yang dia sewa tadi dan meletakkan
dua keranjang itu di sana. Matt sudah mengecek harga kubis dan wortel kemarin.
Di pasar, harga kubis adalah sekitar 5 ribu rupiah per kilogram, sedangkan wortel
__ADS_1
adalah sekitar 9 ribu rupiah. Oleh karena itu, Matt menjual sayurannya seharga 15
ribu rupiah per kilogram untuk kubis dan 24 ribu rupiah untuk wortel.
Kebanyakan orang yang datang untuk membeli bahan-bahan makanan di pagi hari
adalah orang-orang tua yang keluar untuk berjalan-jalan.
"Hei, anak muda. Apakah kau baru di sini? Siapa yang akan membeli sayuranmu
jika harganya setinggi langit? Aku mengagumimu karena mau berdagang di usia
yang masih sangat muda, tetapi harga yang kau pasang sangat mahal!"
Begitu Matt menggantung harga di keranjang, seorang pria berusia sekitar 50 atau
6o tahun datang ke kiosnya. Sepertinya dia memiliki niat buruk.
Sebelum Matt sempat mengatakan apa pun, seorang wanita lain juga datang. Dia
terlihat berusia sekitar 60 atau 70 tabhun. Dilihat dari pakaiannya, wanita itu
kemungkinan berasal dari keluarga yang lumayan kaya.
"Anak muda, mengapa kubis dan wortelmu begitu mahal? Apakah ada perbedaannya? Sayura-sayuranmu terlihat sangat segar dan lezat!"
Wanita itu lebih teliti daripada pria itu dan bahkan mengamati sayur-sayuran di
keranjang.
"Saya menjual sayur-sayuran jenis baru yang tidak tersedia di mana pun, kecuali di
sini. Sayur-sayuran ini jelas berbeda dari yang lain, itulah mengapa harganya sangat
mahal. Saya tidak akan menjualnya terlalu mahal tanpa alasan," kata Matt sambil
mengambil wortel dan meminjam pisau dari warung sebelah. Dia mengupas kulit
wortel dan mengiris wortel menjadi potongan-potongan kecil, lalu menyerahkannya
kepada wanita dan pria itu.
"Wow, wortel ini sangat harumn setelah dipotong. Apakah ada zat kimia di
dalamnya?" tanya wanita itu.
"Jangan khawatir, Nyonya. Ini makanan organik! Saya jamin tidak ada yang
ditambahkan! Tidak apa-apa memakannya mentah. Lihat saja."
Matt langsung memasukkan sepotong wortel ke dalam mulutnya.
Kedua lansia itu kemudian memasukkan potongan wortel ke dalam mulut mereka
__ADS_1
dengan ragu-ragu.