Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
bab 10


__ADS_3

Matt membayar tagihannya dan membawa ketiganya masuk ke dalam taksi satu per


satu. Ketika mereka tiba di kampus, Matt tidak punya pilihan selain melempar


mereka keluar dari taksi.


Saat itu, ketiganya akhirnya menjadi agak sadar. Setidaknya, Matt bisa membantu


mereka berjalan ke asrama dan melemparkannya ke tempat tidur masing-masing.


Kemudian, Matt juga menjatuhkan dirinya di tempat tidurnya.


Setelah berbaring di tempat tidur, dia sudah tidak sabar untuk memasuki Taman


Peri. Sekarang adalah waktu yang tepat karena tidak ada yang bisa mengganggunya.


Matt melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 23.35. Dia ingin membuktikan


rasio waktu 1:10 itu memang benar.


Begitu dia memikirkannya, Matt sudah berada di Taman Peri. Pemandangan di


Taman Peri langsung mengejutkannya. Wortel dan kubis yang dia tanam hari ini


tampak menghijau dan tumbuh dengan baik.


Matt seolah-olah sedang melihat potongan uang kertas, bukan tanaman yang


tumbuh dengan bagus. Dia berjalan ke lahan wortel dan mencabutnya dengan


mudah sebab tanahnya cukup lunak.


Wortel yang dicabut bercampur dengan sedikit tanah. Matt pun membawanya ke


kolam. Setelah membersihkannya, Matt menggigit wortel itu.


Wow, perasaan macam apa ini? Wortel itu sangat lezat dan bahkan sangat renyah


serta menyegarkan. Rasanya tidak tajam sama sekali, ' batinnya.


Matt merasa bahwa itu adalah wortel terbaik yang pernah dia makan selama


bertahun-tahun. Meskipun itu hanya wortel, dia seperti mencicipi buah.


Bagaimana mungkin tidak ada yang mau membeli wortel seperti itu?


Setelah menghabiskan seluruh wortelnya, Matt datang ke lahan kubis. Kubis-kubis


itu tampak seolah-olah diukir dari zamrud yang membuatnya terlihat sangat


sempurna. Kubis-kubis seperti ini pasti akan membuat orang-orang enggan


memakannya.

__ADS_1


"Besok, semua ini akan berubah menjadi uang dan akan masuk ke dalam


tabunganku! Hore!" Matt berteriak di lahan itu sekali lagi, "Maxim, cepat keluar!


Ayo, panen sayurannya!"


Ketika Maxim mendengar suara Matt, dia langsung muncul di langit dengan senyum


lebar di wajahnya. Dia datang ke lahan untuk memetik wortel dan kubis bersama


Matt, lalu menumpuknya di ruang terbuka.


Matt melihat wortel dan kubis itu, lalu berkata sambilmemegang dagunya,


"Sepertinya tidak boleh diletakkan begitu saja seperti ini. Aku pikir aku perlumembangun sebuah rumah. Aku bahkan tidak tahu di mana kamu biasanya tinggal


dan sayuran ini membutuhkan tempat untuk disimpan.


"Itu mudah, Bos. Selama ada bahan-bahan bangunannya, aku bisa melakukannya!"


Maxim mengangkat kepalanya dan menatap Matt dengan bangga.


Mendengar itu, Matt mengangguk dan menjawab, "Mm? Maxim, kamu yakin bisa?


Baiklah, mari kita pikirkan ini setelah menjual sayur-sayuran ini.


Sayur-sayuran itu kemungkinan bisa muat di dua keranjang. Matt kembali


mengangguk puas dan kembali ke dunia nyata.


Hanya sepuluh menit berlalu meskipun dia berada di Taman Peri begitu lama.


Dengan begitu, dia akan menghasilkan banyak uang!


Matt segera berbaring dengan tenang dan tertidur.


Di hari kedua, Matt bangun pagi sekali, lalu pergi ke pasar petani. Dia menyewa dua


keranjang, sebuah kios, dan sebuah gerobak roda tiga untuk mengangkut sayuran


dari pengelola pasar. Selanjutnya, dia berjalan ke tempat yang tidak ada orang di


sekitarnya, dengan bantuan Maxim, Matt memasukkan semua wortel dan kubis ke


dalam keranjang dalam waktu kurang dari satu menit.


Kemudian, dia mengeluarkan keranjang-keranjang itu dan menaruhnya di atas


gerobak roda tiga. Lalu, dia bergegas menuju kios yang dia sewa tadi dan meletakkan


dua keranjang itu di sana. Matt sudah mengecek harga kubis dan wortel kemarin.


Di pasar, harga kubis adalah sekitar 5 ribu rupiah per kilogram, sedangkan wortel

__ADS_1


adalah sekitar 9 ribu rupiah. Oleh karena itu, Matt menjual sayurannya seharga 15


ribu rupiah per kilogram untuk kubis dan 24 ribu rupiah untuk wortel.


Kebanyakan orang yang datang untuk membeli bahan-bahan makanan di pagi hari


adalah orang-orang tua yang keluar untuk berjalan-jalan.


"Hei, anak muda. Apakah kau baru di sini? Siapa yang akan membeli sayuranmu


jika harganya setinggi langit? Aku mengagumimu karena mau berdagang di usia


yang masih sangat muda, tetapi harga yang kau pasang sangat mahal!"


Begitu Matt menggantung harga di keranjang, seorang pria berusia sekitar 50 atau


6o tahun datang ke kiosnya. Sepertinya dia memiliki niat buruk.


Sebelum Matt sempat mengatakan apa pun, seorang wanita lain juga datang. Dia


terlihat berusia sekitar 60 atau 70 tabhun. Dilihat dari pakaiannya, wanita itu


kemungkinan berasal dari keluarga yang lumayan kaya.


"Anak muda, mengapa kubis dan wortelmu begitu mahal? Apakah ada perbedaannya? Sayura-sayuranmu terlihat sangat segar dan lezat!"


Wanita itu lebih teliti daripada pria itu dan bahkan mengamati sayur-sayuran di


keranjang.


"Saya menjual sayur-sayuran jenis baru yang tidak tersedia di mana pun, kecuali di


sini. Sayur-sayuran ini jelas berbeda dari yang lain, itulah mengapa harganya sangat


mahal. Saya tidak akan menjualnya terlalu mahal tanpa alasan," kata Matt sambil


mengambil wortel dan meminjam pisau dari warung sebelah. Dia mengupas kulit


wortel dan mengiris wortel menjadi potongan-potongan kecil, lalu menyerahkannya


kepada wanita dan pria itu.


"Wow, wortel ini sangat harumn setelah dipotong. Apakah ada zat kimia di


dalamnya?" tanya wanita itu.


"Jangan khawatir, Nyonya. Ini makanan organik! Saya jamin tidak ada yang


ditambahkan! Tidak apa-apa memakannya mentah. Lihat saja."


Matt langsung memasukkan sepotong wortel ke dalam mulutnya.


Kedua lansia itu kemudian memasukkan potongan wortel ke dalam mulut mereka

__ADS_1


dengan ragu-ragu.


__ADS_2