Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
panen besar-besaran


__ADS_3

Matt mengucapkan salam perpisahannya kepada bos Restoran Herra. Susalh sekali


bertemu dengan orang yang baik hati seperti bosnya di masa sekarang ini. Pada


awalnya, bisnis di Restoran Herran tidak terlalu bagus. Bosnya menerimanya


bekerja di sana karena dirinya miskin. Dengan begitu, bosnya bisa membantu Matt.


Sepulang dari restoran, Matt kembali ke asrama untuk membasuh tubuhnya dan


kemudian berbaring di tempat tidur. Dia ingin memasuki Taman Peri. Lantas, dia


tercengang melihat perubahan di sana.


Saat ini, sayur-sayuran dan semangka di Taman Peri telah masak. Wortel dan kubis


yang telah ditanam di lahan seukuran 330 meter persegi tampak seperti karya seni


saat sayur-sayuran itu berbaring dengan tenang di sana. Kemudian, Matt melihat


tanaman tomat. Berhubung tidak disediakan tongkat atau sesuatu yang bisa


membuatnya merambat ke atas, tomat-tomat itu pada akhirnya tergeletak


memanjang di tanah.


Tetap saja, tomat-tomat itu terlihat sungguh menakjubkan. Apalagi, ketika Matt


mendekat, tercium aroma lembut yang membuat siapa pun ingin memakannya.


Setelah mencium aroma tomat, Matt sudah tidak tahan lagi. Dia membungkukkan


badannya untuk mengambil satu tomat. Matt langsung melahapnya tanpa


mencucinya terlebih dahulu. Dia hanya mengelapnya menggunakan bajunya.


Rasa yang menyenangkan langsung menye bar di mulut Matt. Rasa manis yang


menyegarkan memenuhi indra pengecapnya. Terlebih lagi, rasa tomat ini belum


pernah dia temukan di mana pun sejak dia lahir.


Rasanya benar-benar muni dan alami. Tomat ini hanya bisa diproduksi jika tidak


ada polusi udara. Matt yakin sekali bahwa tidak banyak orang yang pernah mencicipi


rasa tomat seperti ini. Sudah pasti, Taman Peri tidak pernalh gagal dalam


menghasilkan produk unggulan!


Matt kemudian berjalan ke lahan semangka sambil memikirkan berapa harga tomat


itu


Saat ini, semangka-semangka itu telah matang dan berukuran sangat besar.

__ADS_1


Ukurannya hampir dua kali lipat dari semangka biasa dan tampak menggiurkan.


Matt tidak mencoba semangka itu karena dia baru saja mencicipi tomat.


Matt melihat hasil panenannya dan memikirkan rencana untuk besok. "Wow,


semuanya terlihat sangat bagus. Berapa aku harus menjualnya? Harga kubis dan


wortel sudah ditetapkan, jadi tomat harus lebih mahal. Kalau semangka-semangka


ini, aku jual nanti saja."


Matt lalu melihat bambu itu. Sekarang saja ukurannya sudah sangat panjang


melebihi ekspektasinya. Bambu yang baru ditanam kemarin sudah tumbuh dengan


pesat dan tinggi. Rumah bambu Taman Peri akan segera terwujud.


Selanjutnya, Matt melihat pohon buah-buahan yang membutuhkan masa


pertumbuhan lebih lama. Pohon-pohon itu belum berkembang dan masih tumbuh.


Dia memperkirakan bahwa dia baru bisa mencicipi buah-buahan itu beberapa waktu


lagi.


Dia juga baru menyadari sesuatu, yaitu dia tidak perlu mencemaskan musim saat


menanam sesuatu di Taman Peri. Begitu juga dengan tingkat kehangatan, suhu, dan


pola pertumbuhan yang biasa terjadi di dunia nyata. Selama dia menanam benih


Matt juga merencanakan untuk mengembangkan sebidang lahan khusus pohon


buah-buahan ke depannya. Setelah tumbuh, lahan itu akan menjadi hutan


buah-buahan. Dengan begitu, dia pasti bisa bertahan hidup.


Setelah melakukan beberapa pengamatan, Matt merasa ada hal lain yang harus dia


lakukan, tetapi dia tidak dapat mengingat apa itu. Lantas, dia berjalan-jalan di tepi


kolam.


"Oh, benar. Aku belum berkultivasi dalam dua hari terakhir. Hari itu, aku hanya


melirik teknik tanpa berkultivasi."


Matt tiba-tiba tersadar. Sementara itu, Maxim tetap mengikuti Matt tanpa


mengatakan apa pun.


Berhubung sudah mengingatnya, Matt berencana untuk melakukannya sekarang


juga. Dua hari yang lalu, dia masih menyesuaikan diri dengan segalanya. Jadi malam

__ADS_1


ini, dia akan mencoba kultivasi Mantra Perkebunan Spiritual.


Menurut metode dalam Mantra Perkebunan Spiritual, pertama-tama Matt harus


berkonsentrasi pada penginderaan energi spiritual di udara Taman Peri. Baru


setelah itu, dia bisa menarik energi spiritual ke dalam inti energinya.


Dia duduk bersila di tanah dan menutup matanya untuk mulai merasakan energi


spiritual di Taman Peri.


Setelah beberapa saat, dia seperti "melihat" energi warna-warni yang melayang di


udara. Energi-energi ini berkeliaran tanpa tujuan. Dia kemudian refleks melihat


lahan-lahannya. Energi warna-warni ini tidak asal mengambang di udara, tetapi


terbang ke tanah seolah-olah mereka ditarik.


"Seharusnya ini energi spiritual yang diserap tanaman, 'kan?" Matt bertanya-tanya.


Namun, dia tidak menyangka prosesnya akan bekerja begitu cepat. Berhubung dia


bisa merasakan energi spiritual, yang perlu dia lakukan selanjutnya adalah


menyerap energi spiritual ke dalam inti energinya.


Akan tetapi, dia tidak tahu bagaimana melakukannya.


Metodenya tidak disebutkan dalam Mantra Perkebunan Spiritual, jadi Matt harus


mencoba caranya sendiri. Dia mencoba membuka mulut dan menghirup udara,


tetapi ternyata tidak berguna.


Oleh karena itu, dia hanya bisa menggunakan kesadarannya sendiri. Dia men coba


lagi menggunakan kesadarannya untuk menarik energi spiritual di udara. Kali ini,


dia berhasil. Energi spiritual mengalir ke Titik Akupunktur Kepala miliknya menuju


inti energi bawahnya. Kemudian, dia menggunakan metode yang sama untuk


memandu energi spiritual ke setiap meridian sebelum akhirnya kembali ke inti


energi.


Ini pasti orbit energi,' pikir Matt. Lantas, dia segera memulai orbit energi baru.


Setelah membuat beberapa orbit energi secara berturut-turut, dia merasa lelah dan


akhinya berhenti. Dia akan melanjutkan kultivasi lagi ketika dia pulih.


Awalnya, dia tidak merasakan perubahan apa pun di Taman Peri, tetapi tubuh asli

__ADS_1


Matt sudah berbeda sekarang. Tubuh fisiknya saat ini telah mengalami perubahan


yang tidak kentara.


__ADS_2