
Matt mengucapkan salam perpisahannya kepada bos Restoran Herra. Susalh sekali
bertemu dengan orang yang baik hati seperti bosnya di masa sekarang ini. Pada
awalnya, bisnis di Restoran Herran tidak terlalu bagus. Bosnya menerimanya
bekerja di sana karena dirinya miskin. Dengan begitu, bosnya bisa membantu Matt.
Sepulang dari restoran, Matt kembali ke asrama untuk membasuh tubuhnya dan
kemudian berbaring di tempat tidur. Dia ingin memasuki Taman Peri. Lantas, dia
tercengang melihat perubahan di sana.
Saat ini, sayur-sayuran dan semangka di Taman Peri telah masak. Wortel dan kubis
yang telah ditanam di lahan seukuran 330 meter persegi tampak seperti karya seni
saat sayur-sayuran itu berbaring dengan tenang di sana. Kemudian, Matt melihat
tanaman tomat. Berhubung tidak disediakan tongkat atau sesuatu yang bisa
membuatnya merambat ke atas, tomat-tomat itu pada akhirnya tergeletak
memanjang di tanah.
Tetap saja, tomat-tomat itu terlihat sungguh menakjubkan. Apalagi, ketika Matt
mendekat, tercium aroma lembut yang membuat siapa pun ingin memakannya.
Setelah mencium aroma tomat, Matt sudah tidak tahan lagi. Dia membungkukkan
badannya untuk mengambil satu tomat. Matt langsung melahapnya tanpa
mencucinya terlebih dahulu. Dia hanya mengelapnya menggunakan bajunya.
Rasa yang menyenangkan langsung menye bar di mulut Matt. Rasa manis yang
menyegarkan memenuhi indra pengecapnya. Terlebih lagi, rasa tomat ini belum
pernah dia temukan di mana pun sejak dia lahir.
Rasanya benar-benar muni dan alami. Tomat ini hanya bisa diproduksi jika tidak
ada polusi udara. Matt yakin sekali bahwa tidak banyak orang yang pernah mencicipi
rasa tomat seperti ini. Sudah pasti, Taman Peri tidak pernalh gagal dalam
menghasilkan produk unggulan!
Matt kemudian berjalan ke lahan semangka sambil memikirkan berapa harga tomat
itu
Saat ini, semangka-semangka itu telah matang dan berukuran sangat besar.
__ADS_1
Ukurannya hampir dua kali lipat dari semangka biasa dan tampak menggiurkan.
Matt tidak mencoba semangka itu karena dia baru saja mencicipi tomat.
Matt melihat hasil panenannya dan memikirkan rencana untuk besok. "Wow,
semuanya terlihat sangat bagus. Berapa aku harus menjualnya? Harga kubis dan
wortel sudah ditetapkan, jadi tomat harus lebih mahal. Kalau semangka-semangka
ini, aku jual nanti saja."
Matt lalu melihat bambu itu. Sekarang saja ukurannya sudah sangat panjang
melebihi ekspektasinya. Bambu yang baru ditanam kemarin sudah tumbuh dengan
pesat dan tinggi. Rumah bambu Taman Peri akan segera terwujud.
Selanjutnya, Matt melihat pohon buah-buahan yang membutuhkan masa
pertumbuhan lebih lama. Pohon-pohon itu belum berkembang dan masih tumbuh.
Dia memperkirakan bahwa dia baru bisa mencicipi buah-buahan itu beberapa waktu
lagi.
Dia juga baru menyadari sesuatu, yaitu dia tidak perlu mencemaskan musim saat
menanam sesuatu di Taman Peri. Begitu juga dengan tingkat kehangatan, suhu, dan
pola pertumbuhan yang biasa terjadi di dunia nyata. Selama dia menanam benih
Matt juga merencanakan untuk mengembangkan sebidang lahan khusus pohon
buah-buahan ke depannya. Setelah tumbuh, lahan itu akan menjadi hutan
buah-buahan. Dengan begitu, dia pasti bisa bertahan hidup.
Setelah melakukan beberapa pengamatan, Matt merasa ada hal lain yang harus dia
lakukan, tetapi dia tidak dapat mengingat apa itu. Lantas, dia berjalan-jalan di tepi
kolam.
"Oh, benar. Aku belum berkultivasi dalam dua hari terakhir. Hari itu, aku hanya
melirik teknik tanpa berkultivasi."
Matt tiba-tiba tersadar. Sementara itu, Maxim tetap mengikuti Matt tanpa
mengatakan apa pun.
Berhubung sudah mengingatnya, Matt berencana untuk melakukannya sekarang
juga. Dua hari yang lalu, dia masih menyesuaikan diri dengan segalanya. Jadi malam
__ADS_1
ini, dia akan mencoba kultivasi Mantra Perkebunan Spiritual.
Menurut metode dalam Mantra Perkebunan Spiritual, pertama-tama Matt harus
berkonsentrasi pada penginderaan energi spiritual di udara Taman Peri. Baru
setelah itu, dia bisa menarik energi spiritual ke dalam inti energinya.
Dia duduk bersila di tanah dan menutup matanya untuk mulai merasakan energi
spiritual di Taman Peri.
Setelah beberapa saat, dia seperti "melihat" energi warna-warni yang melayang di
udara. Energi-energi ini berkeliaran tanpa tujuan. Dia kemudian refleks melihat
lahan-lahannya. Energi warna-warni ini tidak asal mengambang di udara, tetapi
terbang ke tanah seolah-olah mereka ditarik.
"Seharusnya ini energi spiritual yang diserap tanaman, 'kan?" Matt bertanya-tanya.
Namun, dia tidak menyangka prosesnya akan bekerja begitu cepat. Berhubung dia
bisa merasakan energi spiritual, yang perlu dia lakukan selanjutnya adalah
menyerap energi spiritual ke dalam inti energinya.
Akan tetapi, dia tidak tahu bagaimana melakukannya.
Metodenya tidak disebutkan dalam Mantra Perkebunan Spiritual, jadi Matt harus
mencoba caranya sendiri. Dia mencoba membuka mulut dan menghirup udara,
tetapi ternyata tidak berguna.
Oleh karena itu, dia hanya bisa menggunakan kesadarannya sendiri. Dia men coba
lagi menggunakan kesadarannya untuk menarik energi spiritual di udara. Kali ini,
dia berhasil. Energi spiritual mengalir ke Titik Akupunktur Kepala miliknya menuju
inti energi bawahnya. Kemudian, dia menggunakan metode yang sama untuk
memandu energi spiritual ke setiap meridian sebelum akhirnya kembali ke inti
energi.
Ini pasti orbit energi,' pikir Matt. Lantas, dia segera memulai orbit energi baru.
Setelah membuat beberapa orbit energi secara berturut-turut, dia merasa lelah dan
akhinya berhenti. Dia akan melanjutkan kultivasi lagi ketika dia pulih.
Awalnya, dia tidak merasakan perubahan apa pun di Taman Peri, tetapi tubuh asli
__ADS_1
Matt sudah berbeda sekarang. Tubuh fisiknya saat ini telah mengalami perubahan
yang tidak kentara.