
Keesokan harinya di pagi hari, Matt meninggalkan sayuran yang cukup selama tiga hari untuk
Restoran Gurih Furama supaya dia merasa tenang selama perjalanan.
Di gerbang sekolah, enam orang sedang menunggu Matt sedari taci. Dengan kata lain,
rombongan itu terdiri dari tiga pasangan. Pada saat yang samna, Beni dan kedua temannya yang
lain juga sudah menanti untuk melihat siapa pacar Matt.
Matt dan Tina mnuncul paling terakhir. Ketika Beni dan yang lainnya melihat Matt yang
menggenggam tangan Tina, mereka sangat maralh sampai-sampai mereka langsung kehilangan
kesabaran. Sepanjang malam sebelum perjalanan, mereka bertiga terus menebak wanita mana
yang telah ditipu oleh Matt untuk menjadi pacarnya. Namun, mereka tidak menyangka kalau
wanita itu adalah Tina. Siapa sangka pacar Matt adalah Tina?
"Matt, apa kamu tahu betapa kerasnya aku berusaha untuk tidak memukul wajahmu
sekarang ?" Beni membentak dengan gigi terkatup.
Zack juga menatap Matt dengan kesal."Aku juga!"
"Aku setuju!" Will juga melakukan hal yang sama.
"Ini hanya kesalahpahaman yang luar biasa. Hahaha! Ini semua salah paham. Omong-omong,
perkenalkan, ini pacarku Tina!" Matt berkata kepada mereka sambil menunjuk ke arah Tina.
Tina langsung tersenyum saat melihat mereka, lalu menyapa, "Halo, semuanya. Namaku Tina."
Beni merasa senang mendengar sapaan Tina dan berkata kepada Matt dengan bangga, "'Matt,
aku akan melepaskanmu kali ini karena sapaan hangat Tina!"
Namun, begitu dia menyelesaikan kata-katanya, dia merasakan sakit yang tajam di
pinggangnya. Dia melihat ke bawah dan mendapati bahwa itu adalah tangan pacarnya. "Beni!
Ada apa dengan nada sok akrab barusan?"
Beni refleks meminta maaf. Apa lagi yang bisa dia lakukan? Sudah jelas kalau itu adalah
kesalahannya karena bicara tanpa banyak berpikir.
Nama pacar Beni adalah Linda Saraswati. Beni pernah menceritakan pada teman-temannya
bahwa pacarnya itu cukup pemarah. Sepertinya dia akan mudah cemburu. Semua orang
menahan tawa menyaksikan pemandangan itu. Sekarang, Beni sudah seperti "'suami-suami
takut istri."
Beni sontak mencondongkan tubuhnya ke dekat Linda dengan wajah yang pucat, lalu berbisik di
telinganya, "Linda, maafkan aku. Jangan bahas i sini. Mari kita selesaikan ini saat kita di
rumah. Bisakah kamu menyelamatkan martabatku kali ini? Jangan membuatku terlihat bodoh
di depan teman-temanku!"
"Hahaha!" Melihat perilaku Beni, semua orang mau tak mau tawa terbahak-bahak, termasuk
Matt dan Tina.Huh! Apa yang kalian tertawakan? Berhenti tertawa!"
Beni menendang kaki Zack, lalu mengejar Will dan Matt. Sementara para wanita itu sedang
asyik mengobrol di samping.
Keempat orang itu tidak berhenti sampai beberapa saat kemudian.
"Ayo, kita pergi! Yaaahoo!"
Mereka semua berjumlah delapan orang, yang dibagi pada dua mobil. Beni dan Zack memiliki
kendaraan sendiri, jadi Beni pergi bersama Will dan pacarnya di mobil yang sama. Sementara
itu, Zack dan pacarnya pergi bersama Matt dan Tina.
"Zack, ke mana kita akan pergi untuk perjalanan musim gugur ini?"
Matt duduk di kursi penumpang, sedangkan Tina dan pacar Zack duduk di belakang.
Sebetulnya, Matt tidak tahu ke mana tujuan mereka hingga saat ini.
"Apa kamu serius tidak tahu, Matt? Apa Beni tidak memberitahumu? Kita akan pergi ke gunung
di pinggiran kota. Sepertinya ada rumah desa di sana sehingga kita bisa pergi ke gunung.
Pokoknya, tempat itu dipilih oleh Beni. Ayo, kita sama-sama hajar Beni nanti kalau tempat itu
tidak asyik."
Zack membuat beberapa gerakan meninju saat mengemudi.
"Oke, mari kita lihat bagaimana keadaannya nanti."
Setelah mengatakan itu, Matt melihat ke kursi belakang. Tina dan pacar Zack, Jasmine Zuniga,
saling membisikkan sesuatu. Mereka berdua memasang senyum tipis di wajah mereka.
Sekitar satu jam kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Zack menghentikan mobilnya saat
melihat Beni juga berhenti. Matt dan lainnya turun dari mobil dan meregangkan tubuh mereka.
__ADS_1
Perjalanan itu cukup melelahkan juga.
"Ayo. Hei! Kami di sini!"
Beni menunjuk sebuah tempat di depan mereka, di mana ada sebuah rumah jerami yang biasa
ditempati warga pedesaan dahulu. Beberapa orang tampak sedang bersenang-senang di sana,
sepertinya mereka pengunjung juga.
"Yah, kelihatannya cukup bagus. Ayo, pergi."
Setelah Zack mengatakan itu, yang lain pun masuk lagi ke dalam mobil dan pergi ke rumah desa.
Kata-kata "Wirasana Farmstay" tersemat di sisi sebuah pondok jerami yang antik. Begitu Matt
dan yang lainnya keluar dari mobil, seorang bos wanita langsung menghampiri dan menyapa
mereka.
"Apakah kalian datang ke sini untuk melakukan perjalanan?" tanya bos wanita itu.
"Ya, kami semua berjumlah delapan orang. Kami ingin tinggal di empat kamar yang berbeda
selama tiga hari," kata Beni kepada bos wanita itu.
Ketika Beni berbicara tentang empat kamar, Matt sontak menatap Tina. Sebenarnya, Tina juga
mendengar apa yang dikatakan Beni barusan dengan jelas. Wajahnya agak memerah. Ketika dia melihat Matt yang juga menatapnya, dia pun langsung memelototinya. Namun, Matt hanya
tersenyum dan tidak berkata apa-apa.
Kemudian, mereka meletakkan barang bawaan masing-masing di kamar terlebih dahulu. Matt
memandang Tina dan berkata, "Tina, jika kamu merasa tidak nyaman, aku akan meminta Beni
untuk menyewa kamar lain atau aku juga bisa tidur dengannya, kamu bisa tidur dengan Linda."
"Tidak usah. Aku baik-baik saja ..." Wajah Tina menjadi semakin merah dan suaranya perlahan
mengecil.
"Apa kamu yakin? Hore!" Matt berkata dengan penuh semangat sambil memeluk Tina.
Mereka berdua pun keluar setelah menyimpan barang bawaan mereka. Beni melihat wajah Tina
yang memerah dan melihat ekspresi Matt yang agak aneh. Dia tidak bisa menahan tawanya
sampai terbatuk-batuk,
"Eh? Hari memang sudah siang. Namun, kenapa wajahmnu memerah di siang bolong begini? Apa
terjadi sesuatu? Ehem ..." Beni tersenyum, Zack dan Will juga ikut mesem. Sekarang, semua
orang melihat Matt dan Tina sambil terkekeh.
Linda menarik telinga Beni. Hal yang sama juga terjadi pada Zack dan Will. Melihat adegan itu,
Matt merasa bahwa pacar teman-teman asramanya memiliki karakter yang sama.
"Aduh ...." Matt yang sedang melihat mereka tiba-tiba merasakan sebuah tusukan menyakitkan
di pinggangnya. Ternyata, Tinalah yang mencubit pinggangnya, lalu menatapnya.
"Hm! Jika kamu tidak mendengarkanku di masa depan, aku akan melakukan hal yang sama!"
Tina lalu menarik tangannya dan menatap Matt dengan puas.
Matt rasanya ingin menangis, tetapi air matanya tidak keluar sama sekali. Ini semua salah
wanita-wanita itu! Aku dalam masalah sekarang,' batinnya.
"Baiklah, baiklah. Mari kita hentikan dahulu. Saatnya barbeku!"
Melihat bos wanita sudah menyiapkan bahan-bahan dan alat-alat untuk mereka, Matt langsung
memanggil teman-temannya. Kemudian, mereka langsung berjalan tergesa-gesa.
Akhirnya, malam pun tiba. Mereka telah bersenang-senang sepanjang hari dan kelelahan.
Setelah mandi, mereka semua kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Saat ini, Matt sedang menatap Tina dan berkata, "Tina, kamu bisa tidur di ranjang malam ini.
Aku akan tidur di lantai."
Tina mengangguk dan tidak menolaknya. "Aku akan memberimu matras."
Kemudian, Tina memberikan sebuah matras pada Matt, lalu membungkus dirinya dengan erat
takut Matt akan melakukan sesuatu padanya. Matt yang melihat itu tidak bisa berkata-kata.
Setelah mereka berbaring di tempat masing-masing, Matt tidak mengatakan apa pun
semalaman. Dia melirik Tina yang terbaring di ranjang. Saat itu, Tina sudah memejamkan
matanya dan tertidur, tetapi dia tidak tahu apakah Tina benar-benar tidur atau hanya
berpura-pura. Setelah melihatnya, Matt berbaring lagi dan memasuki Taman Peri. Dia melihat semua jenis buah dan sayuran yang tumbuh dengan sehat dan kemudian dia duduk di rumah
bambu untuk berkultivasi.
Keesokan harinya, mereka berdelapan tidak bangun sampai siang hari karena tidak ada yang
bisa dilakukan di pagi hari. Semua wanita, kecuali Tina, tidur dalam pelukan hangat pacarnya
masing-masing, sementara Matt terlalu larut dalam kultivasi tersebut. Sekarang, dia merasa
__ADS_1
seolah-olah telah menerobos tingkatan lagi. Setelah berkultivasi begitu lama, akhirnya dia
merasakan sedikit perubahan dalam tubuhnya.
Tina juga tidur sampai larut malam. Baru setelah dia bangun, Matt pun juga terbangun. Setelah
mandi dan keluar, dia mendapati bahwa mereka berdua datang paling terakhir lagi. Wajah Tina
tanpa sadar kembali memerah. Beni ingin menggoda mereka, tetapi ketika dia memikirkan apa
yang terjadi kemarin, dia sontak mnenahan diri.
Sarapan di perkebunan tersebut adalah bubur gandum yang lembut di mulut dan terasa hangat
di sekujur tubuh setelah mereka menelannya. Matt dan Tina menyelesaikan sarapan mereka
dengan cepat dan menunggu rencana selanjutnya.
"Selanjutnya, aku sudah memutuskan untuk pergi ke gunung dan kita tidak akan kembali
malam ini. Kita akan bermalam di pegunungan!" Beni mengumumkan rencana mereka.
"Oh, ya! Kedengarannya sangat seru!" Will berseru sembari memegang tangan pacarnya.
Tidak ada yang keberatan. Mereka semua setuju dengan Beni. Anak-anak muda biasanya
memang energik dan suka berpetualang.
Tina juga menjadi sangat bersemangat saat itu. Dia suka bersenang-senang dan jarang
melewatkan kesempatan untuk pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan. Ini bukan
pertama kalinya dia menginap di pegunungan, tetapi terakhir dia melakukannya adalah setahun
yang lalu. Tentu saja dia merasa bahagia.
Mereka membagikan barang satu per satu. Para pria membawa benda berat, sementara para
wanita membawa sesuatu bahkan hampir tidak ada. Sebagian besar barang dibawa oleh para
pria tersebut di punggung mereka.
"Ikut aku. Aku tahu tempat yang bagus, tetapi agak jauh. Kalian semua harus siap mental!"
Sepertinya ini bukan pertama kalinya Beni berada di sana. Dia dan Linda memimpin jalan,
sementara yang lain mengikutinya dengan tertib.
"Beni, kenapa kita belum sampai? Ini terlalu jauh!" Zack mulai berteriak setelah sekitar satu
jam.
"Kenapa harus terburu-buru? Ini baru sepertiga dari perjalanan. Jika kamu tidak bersemangat
dan menunjukkan kepahlawanan dirimu, pacarmu mungkin akan mencampakkan ...."
Belum sempat Beni menyelesaikan kalimatnya, dia sudah mendesis kesakitan. Ternyata, Linda
kembali mencubitnya. Beni pun seketika diam.
Mereka terus berjalan kaki hingga pukul dua siang saat matahari berada di atas kepala mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Tempat itu memang bagus. Sebuah
tenda terletak di ruang terbuka dan ada sungai kecil tidak jauh dari sana. Airnya jernih dan
pemandangan di sekitarnya juga indah. Semuanya terlihat sempurna.Para wanita menyaksikan para pria mendirikan tenda-tenda. Setelah Matt dan
teman-temannya selesai mendirikan keempat tenda, semua orang sudah merasa lapar.
Mereka tampaknya lebih termotivasi saat sedang lapar. Kemudian, mereka segera menyiapkan
sebuah panci, mengambil kayu bakar, dan mencuci sayuran. Semua orang memiliki tugas
masing-masing. Panci itu dipinjam dari rumah desa dan dagingnya juga dibeli dari sana. Adapun
sayurannya berasal dari Matt yang dia petik dari Taman Peri. Berhubung peralatannya cukup
sederhana, Matt hanya bisa memasak sayuran, daging, dan air.
Namun, Matt tidak khawatir karena kubis tersebut diambil dari Taman Peri, sehingga sup yang
dimasaknya mengerluarkan aroma yang cukup harum. Semua orang mau tidak mau
mengeluarkan makanan kering mereka saat mencium baunya. Dengan begitu, mereka bisa
mengisi perut mereka dengan sup sayuran dicampur daging dan makanan kering.
Meskipun mereka hanya menyantap makanan kering dan sup, tidak ada yang mengatakan
rasanya tidak enak, juga tidak ada yang mengeluh. Sebaliknya, mereka justru merasa senang.
Matt melihat teman-temannya beserta pacar mereka, lalu berkata, "Kalian bisa datang ke
rumahku lain kali. Ada pemandangan yang indah, pegunungan, dan hutan di sana. Kalian tidak
perlu membawa apa pun saat memasuki gunung, bahkan tidak akan mati kelaparan!"
"Apakah benar-benar luar biasa seperti yang kamu katakan? Mari kita lihat sendiri lain kali!"
Zack berkata dengan cepat.
"Ayo! Saatnya pencuci mulut! Semua orang mendapat buah persik."
Matt mengeluarkan beberapa buah persik besar dari tasnya dan membagikannya kepada
semua orang. Meskipun kenyang, mereka tertarik dengan aroma buah persik tersebut
__ADS_1
seolah-olah mereka masih belum kenyang.