
"Bu, masakanmu masih seenak dahulu. Setiap alku makan di kampus, aku selalu teringat masakanmu. Masalkanmu
adalah yang terbaik."
Matt terus melahap makanannya.
Setelah mendengar pujian Matt, Lasmi sangat gembira. Siapa pun akan merasa senang menerima pujian seperti
itu. "Dasar bocah! Kamu menjadi pintar menggombal setelah masuk universitas, bukan?"
Keluarga itu menyantap hidangan makan malam dengan suasana hati yang gembira. Umumnya di desa, setelah
makan malam, beberapa orang akan berkumpul bersama dan saling bergosip.
Ketika Matt kembali hari itu, penduduk desa datang ke rumahnya untuk menyambutnya. Mereka tetap tinggal dan
mengobrol dengannya di halaman rumahnya. Matt juga mengeluarkan permen yang dibelinya dan
memberikannya kepada penduduk desa. Suasananya menjadi ramai dan menggembirakan.
Semua orang di desa memang seperti ini. Matt menyukai pikiran sederhana mereka di mana tidak ada yang akan
bermain kotor. Selain itu, penduduk-penduduk desa itu juga lebih tua darinya. Selain mengolok-oloknya, merelka
sama sekali tidak memiliki niat buruk lainnya. Meskipun Matt bukan satu-satunya orang di desa yang bisa kuliah,
dia adalah orang pertama yang masuk ke universitas bergengsi seperti itu.
Saat mengobrol dengan kerabatnya, mereka tentu saja membicarakan studi dan hubungan percintaan Matt.
Banyak orang bertanya apakah dia sudah punya pacar. Mereka bahkan menawarkan untuk memperkenalkannya
pada beberapa wanita. Beberapa pamannya menarilknya ke samping, mengatakan bahwa mereka akan minum
bersama suatu hari nanti dan membicarakan semuanya.
Situasi seperti ini hanya akan terjadi di desa dari keluarga yang sama. Di daerah perumahan di kota, orang-orang
hampir tidak mengenal tetangga yang tinggal di seberang merelka. Begitu pulang, merelka akan menutup pintu
tanpa berbincang dengan orang lain. Sebetulnya, lebih nyaman tinggal di pedesaan daripada di kota.
Hampir pukul sepuluh malam ketika mereka semua selesai mengobrol. Penduduk desa memang tidur lebih awal dan
bangun lebih awal. Setelah berpamitan dengan penduduk desa lainnya, Matt pun mandi. Kemudian, dia kembali ke
kamarnya untuk beristirahat setelah berbicara singkat dengan orang tuanya.
Matt melihat anggrek di dekat jendela kamar. Dia menanamnya saat masih SMP. Mungkin ibunya lupa menyiram
bunga itu akhir-akhir ini sampai-sampai terlihat kering. Kemudian, Matt langsung menyiram tanaman itu dengan
Air Peri.
Begitu air meresap ke dalam tanah di dalam pot, anggrek itu langsung berdiri tegak dan meregangkan daunnya.
Batang lain dan kuncup bunga tumbuh dengan cepat yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Sungguh luar biasa
melihat bunga-bunga tersebut bermelkaran di malam hari.
Melihat anggrek itu, Matt akhrinya menemukan cara lain untuk menghasilkan uang. 'Aku bisa membangun
sebuah gudang di rumah dan kemudian terjun ke industri bunga, khusus penjualan bibit bunga saja.
Bagaimanapun juga, aku memiliki Air Peri, yang juga merupalkan cara bagus untuk menghasillkan uang. Tetap
saja, aku harus mengesampingkan ide ini terlebih dahulu. Aku masih seorang mahasiswa. Aku tidak bisa kembali ke
kampung halaman untuk menanam bunga-bunga tersebut,' batinnya.
Saat berbaring di tempat tidur, Matt tidak lupa untuk memasuki Taman Peri dan memetik beberapa sayuran. 'Aku
tidak sempat mengeluarkan beberapa sayuran dari Taman Peri agar Ibu dan Ayah bisa mencicipinya hari in.
Besok, aku harus membiarkan mereka mencoba sayuran, buah-buahan, ilkan, dan jamur surai singa. Oh, aku juga
harus mengganti air di rumah kami dengan Air Peri' renungnya.
Matt ingin orang tuanya menikmati semua yang dia miliki. Dia tidak peduli dengan harga sayuran yang dijual
dengan harga setinggi langit. Matt tidak akan bisa menjadi selkarang ini jika bukan karena orang tuanya, yang
telah belkerja keras selama bertahun-tahun untuknya.
Matt segera mengesampingkan pikiran itu dan memasulki Taman Peri untuk berkultivasi seperti biasa sampai
keesokan paginya.Besoknya, Matt bangun pagi-pagi sekali. Setelah mandi, dia melihat ibunya sedang membuat sarapan.
"Matt, kenapa kamu bangun pagi selkali? Kenapa kamu tidak tidur lebih lama?" Lasmi bertanya sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Bu. Aku tidak bisa tidur sekarang. Aku sudah terbiasa bangun pagi," jawab Matt.
__ADS_1
Kemudian, Matt pergi ke dapur untuk melihat apakah ada yang bisa dia bantu. Namun, Lasmi segera mengusirnya
begitu dia masuk, mengatakan bahwa Matt akan mengganggunya.
Matt mengangkat bahunya sebagai jawaban dan pergi ke halaman. EBeberapa sayuran telah tumbuh di sana dan
bisa langsung dipetik jika mereka membutuhkannya. Melihat sayuran di halaman, Matt diam-diam menyiramnya
dengan Air Peri. Begitu selesai menyiram sayuran, ibunya memanggilnya untuk sarapan. Matt segera bergegas
masuk sebelum dia bisa melihat pertumbuhan tanaman-tanaman tersebut.
Sambil menyantap sarapan, Matt berkata, "Bu, aku akan pergi ke kota nanti. Apa ada yang ingin kamu beli?"
Setelah berpilkir sejenak, Lasmi menjawab, "Hm, kamu bisa membeli lebih banyak permen dan kue. Besok adalah
Hari Rasa Syukur. Makanan-makanan seperti itu sangat diperlukan."
"Baiklah. Aku berjanji akan menyelesaikan tugasku!" kata Matt sambil tersenyum.
Keluarga itu menghabiskan sarapan merelka dengan penuh tawa. Orang tuanya tidak pergi ke ladang karena tidak
ada lagi yang bisa dilakukan di sana. Oleh karena itu, Lasmi memutuskan untuk membuat kue pai. Di desa, ada
seorang ahli yang bisa membuat kue pai. Besok adalah Hari Rasa Syukur. Jadi, dia harus membuat kue pai sebelum
terlambat.
Ketika Matt berjalan ke pintu masuk desa, dia melihat orang yang dilkenalnya dari jauh. Orang itu adalah teman
masa kecilnya, Joni Lulkman.
Joni dan Matt telah tumbuh bersama dan memiliki hubungan yang baik. Merelka bahkan sekolah di SMP dan SMA
yang sama. Namun, Joni tidak bisa kuliah setelah gagal dalam ujian masuk universitas. Dia memang biasanya
tidak memililki nilai yang bagus.
Joni tidak mengikuti ujian lagi karena keadaan keluarganya. Dia tidak punya pilihan selain belkerja di luar kota.
Matt juga mendukung pilihan temannya tersebut. Meslipun sama-sama merantau, mereka masih terus
berhubungan selama dua tahun teralhir. Ketika Matt pulang, dia tidak menyangka Joni juga akan kembali untuk
merayalkan Hari Rasa Syukur.
"Joni! Kapan kamu kembali?"
Matt berjalan ke arah Joni dan menepuk pundaknya. Keduanya saling berpelukan.
tidak datang ke rumahmu. Hari ini, aku berencana membeli sesuatu di lkota, lalu pergi menemui Bibi Lasmi.
Kebetulan selkali bertemu denganmu di sini!" Joni berkata sambil tersenyum
Joni juga sudah lama tidak bertemu Matt, jadi dia tentu saja merasa senang.
"Aku akan melepaskanmu kali ini. Apa kamu akan pergi ke kota juga? Aku juga akan pergi ke sana. Kamu bisa
memberiku tumpangan gratis, kan?" Matt sedang mengendarai sepeda motor saat ini. Penduduk desa kebanyakan
menggunakan sepeda motor sebagai transportasi. Tanpa menunggu respons Joni, Matt segera masuk ke dalam mobil
Joni.
"Oke! Mari kita minum dan mengobrol setelah kita selesai berbelanja."
Dengan itu, Joni langsung pergi ke kota.
Saat mereka tiba di kota, mereka berdua mengobrol sambil berjalan. Setelah membeli beberapa barang di siang
hari, Joni tidak langsung pulang ke rumahnya. Sebaliknya, dia langsung pergi ke rumah Matt.
"Bibi Lasmi, sudah lama tidak bertemu!" Joni berteriak saat dia memasuki rumah.
Melihat Joni, Lasmi berkata dengan nada menggoda, "Oh, siapa yang datang ke sini? Ckck, Joni memang sangat
tampan sekarang sehingga aku bahkan tidak bisa mengenalinya."
"Kamu membuatku tersipu, Bibi Lasmi." Setelah itu, Joni juga menyapa ayah Matt, Lukas. Hubungan kedua keluarga itu memang selalu baik. Persahabatan antara Joni dan Matt membuat kedua keluarga itu juga semakin
dekat.
"Kamu memang pintar menggoda. Duduklah di sini. Alku akan memasak untukmu!"
Lasmi menyuruh Joni duduk di kursi dan pergi ke dapur untuk melakukan pekerjaannya.
"Bu, aku membawa beberapa sayuran kemarin. Aku sudah menaruhnya di kulkas. Kamu harus menggunakan
sayuran itu sebab berkualitas tinggi! Salah satu temanku di kampus menggunakan telnologi tinggi untuk
menumbuhkannya sehingga sangat bergizi dan lezat," Matt mengingatkan ibunya.
__ADS_1
"Kenapa kamu pulang dengan membawa sayuran?" Lasmi mengerlingkan mata padanya.
Matt hanya bisa tersenyum menanggapinya, lalu pergi menuju dapur.
Dia menuangkan segelas air untuk Joni dan mulai menyelidikinya, "Bagaimana kabarmu selama dua tahun ini?"
Setelah gagal dalam ujian masuk universitas, Joni pergi merantau ke kota lain. Saat itu, dia memberi tahu Matt
bahwa dia sedang bekerja di lokasi konstruksi bersama salah satu kerabatnya. Melihat teman lamanya itu, Matt
merasa bahwa Joni telah tumbuh dewasa.
"Kamu pasti sudah tahu keperibadianku. Aku hanya ingin menyambung hidup. Setidalknya aku bisa membawa
jutaan rupiah kali ini," jawab Joni.
Matt memang mengenal kepribadian Joni dengan baik. Dia selalu seperti ini sejak dia masih kecil. Meskipun Joni
mengatakan dia tidak peduli tentang sesuatu, dia akan tetap mencoba yang terbaik untuk melakukan semuanya
berjalan dengan mulus.
Joni memiliki nilai yang buruk saat SMP, tetapi dia mulai belajar keras untuk mengejar Matt. Setelah Matt
mengetahuinya, Joni masih dengan keras menyangkal sifat lkompetitifnya dan terus mengatakan bahwa dia hanya
bekerja keras supaya dia bisa memberi kesan yang baik pada anggota komite selkolah. Saat itu, Matt mengolok-olok
Joni sebentar karena hal ini.
"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Apa kamu sudah memikirkan rencana ke depannya?" tanya Matt.
Joni berkata sambil melihat Matt, "Matt, aku tidak takut kamu akan menertawakanku. Aku sudah mengambil
keputusan sejak aku kembali. Aku tidalk ingin pergi ke sana lagi. Kurasa kehidupan kota tidak lebih baik dari di desa
kita. Aku tidak cocok menjalani kehidupan yang bejat."
Mata Matt berbinar saat mendengar perkataan Joni. Mereka memang mirip satu sama lain. "Itukah yang kamu
rencanakan? Sejujurnya, aku juga berpikir demikian. Aku juga tidak suka kehidupan kota. Aku memilih jurusan
pertanian agar aku bisa kembali ke desa setelah lulus. Namnun, aku tidak tahu bagaimana berbicara dengan orang
tuaku tentang rencanaku tersebut." Matt berkata dengan jujur.
Setelah mendengar kata-kata Matt, Joni menjadi gelisah. Dia menunjuk Matt dan berkata dengan tidak jelas,
"Kamu! Apakah kamu kuliah supaya kamu dapat kembali ke desa dan bertani? Apakah kamu bodoh? Aku tidak lulus
ujian, tetapi lkamu berhasil melakukannya. Kamu harus fokus mencari nafkah di kota!"
Matt hampir menutup mulut Joni. "Kenapa kamu begitu gusar? Kecillkan suaramu. Jangan sampai orang tualku
mendengarmu. Aku belum tahu harus berkata apa pada mereka. Jangan bersuara. Kamu satu-satunya orang yang
mengetahui ini."
"Oke, oke. Aku tidak akan memberi tahu siapa pun. Namun, kamu tetap tidak boleh melakukan itu. Paman Lukas
dan Bibi Lasmi akan sedih jika kamu melakukannya,' ucap Joni dengan cemas.
Matt melirik Joni, lalu berkata, "Apakah menurutmu mudah mencari nafkah di kota? Selain itu, alku sudah
menemukan cara menanam tanaman-tanaman itu di rumah. Selama kamu menjaga rahasiaku, alku yakin bisa
melakukannya dengan baik."
"Kamu punya rencana seperti apa?" Joni menatap Matt penasaran. Dia mulai tertarik mendengar cerita Matt.
Joni tahu tentang sisi licik Matt. Saat mereka masih kecil, Matt selalu memberikan banyak ide dan Joni yang
bertanggung jawab menjalankan ide-ide tersebut. Oleh karena itu, banyak orang luar yang mengira Joni adalah
pembuat onar, sedangkan Matt adalah anak yang baik. Terlepas dari pendapat orang lain, Joni tahu Matt
merencanakan sesuatu.Melihat eltspresi cemas Joni, Matt menjawab, "Tidalk, aku tidak akan memberitahumu untuk saat ini. Aku akan
memberitahumu jika waktunya tepat."
Sebetulnya, itulah yang dinginkan Matt. Sekarang, dia telah menarik minat Joni, lalu dia menolak untuk
mengungkapkan rencananya. Matt hanya ingin membuat Joni penasaran saja
"Sial! Dasar bocah tengil!" Joni mengumpat dan menerkam Matt. Untuk sementara waktu, mereka terlibat baku
hantam persahabatan.
Saat mereka sedang berkelahi, tiba-tiba Joni mencium sesuatu yang sangat harum. Dia pun melepaslkan tangan
Matt dan bertanya, "Bau apa ini? Apakah aku kelaparan?"
__ADS_1
Tanpa menunggu respons Matt, Joni langsung berjalan mencari sumber aroma tersebut, sementara Matt yang
berada di dalam rumah kebingungan melihat tingkah Joni.