
Matt menyebut ginseng yang tumbuh dari benih yang dibelinya sebagai generasi pertama. Lalu,
dia pun berencana untuk menggali ginseng generasi pertama tersebut.
Ketika dia hendak menggalinya, tanah di sekitar ginseng menjadi lunak. Akar ginseng semuanya
utuh tanpa ada tanah yang menempel.
Biasanya, ginseng memiliki ukuran yang sama dengan wortel dan dipenuhi banyak akar. Akar
yang lebih besar biasanya seukuran dengan akar pohon, sedangkan akar yang lebih kecil hanya
setebal benang.
Sebetulnya, Matt tidak tahu bagaimana menghitung usia ginseng. Itulah alasan mengapa dia
menggali ginseng supaya dia bisa menanyakan berapa umur ginseng tersebut kepada
orang-orang. Dengan begitu, dia bisa mengidentifikasi usia ginseng lainnya di masa depan.
Matt dengan santai melemparkan ginseng tersebut ke tanah sebab tidak akan rusak. Jika para
dokter pengobatan tradisional yang berusia sudah tua melihat tindakannya, mereka pasti akan
memaralhi Matt karena terlalu ceroboh. Seluruh ginseng di lahan tersebut terpelihara dengan
baik. Tidak peduli berapa umurnya, ginseng tersebut seharusnya disimpan dalam kotak yang
bagus.
Ginseng dengan alkar yang masih bagus sangar jarang ditemukan. Bahkan, orang-orang yang
menggali ginseng liar sangat berhati-hati supaya tidak merusak akarnya. Adapun ginseng yang
digali Matt memiliki akar yang sangat tebal.
Namun, Matt tidak peduli tentang itu. Pertama, dia tidak tahu banyak tentang ginseng. Kedua,
dia tidak tahu harga ginseng. Terakhir, dia sama sekali tidak peduli karena dia memiliki ginseng
dengan berbagai ukuran di lahannya.
Awalnya, dia ingin menggali akar Fleeceflower, tetapi mengingat ukuran akar Fleeceflower, dia
akhirnya menyerah. Untuk saat ini, dia hanya akan mengecek ginseng terlebih dahulu dan
kemudian merencanakan bagaimana mengurusnya.
Beberapa saat kemnudian, dia berjalan ke rumah bambu untuk berkultivasi seperti hari-hari
sebelumnya. Ginseng malang itu diletakkan di samping Matt.
Keesokan harinya, setelah Matt bangun, dia memeriksa sedikit perkembangan yang dia buat
dalam kultivasinya dan hendak membawa sayuran itu. Sebelumnya, dia belum memberi tahu
staf Restoran Gurih Furama lokasi bertemu mereka, dia telah mengabaikan masalah itu.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benaknya.
Matt teringat dengan sebuah pabrik kumuh, tempat di mana para pedagang tersebut membawanya terakhir kali. Tidak ada orang di sekitarnya dan dia bisa menunggu mereka di
sana. Matt pun memutuskan untuk pergi ke sana terlebih dahulu, mengeluarkan sayur-sayuran
dari Taman Peri, dan kemudian menelepon Jefri untuk meminta stafnya menuju ke sana.
Setelah mengambil keputusan, Matt langsung menelepon Jefri untuk memberitahunya tempat
di mana dia memberikan sayur-sayuran tersebut hari ini dan seterusnya. Jika tidak
menyusahkan, mereka juga dapat meninggalkan wadah untuk sayuran di sana sehingga mereka
langsung bisa memuat sayuran ke dalam mobil keesokan harinya. Jefri tidak
mempermasalahkannya dan langsung menyetujuinya.
Matt kemudian mengakhiri panggilan tersebut dan menunggu mereka. Tak berapa lama, suara
klakson mobil terdengar di pintu masuk pabrik ketika dia baru saja selesai mengeluarkan
sayuran dari Taman Peri. Matt pun keluar dan meminta mereka untuk meletakkan semua
sayuran di tanah ke dalam keranjang anyaman. Kemudian, mereka menimbang empat
keranjang sayuran tersebut yang memiliki berat total sekitar 250o kilogram.
Dua karyawan Restoran Gurih Furama yang bertugas untuk membawa sayur-sayuran tersebut
pun tidak lupa meninggalkan empat keranjang anyaman untuk Matt sebelum pergi. Sesuai
perintah Jefri, lain kali saat mereka datang ke sini lagi, mereka bisa langsung memasukkan
sayuran tersebut ke dalam mobil, bahkan tidak perlu menimbang sayuran lagi. Mereka bersedia
melakukannya karena lokasi transaksi kali ini jauh lebih dekat daripada transaksi sebelumnya.
Mereka tidak merasa aneh sama sekali dengan sayuran Matt yang disimpan di pabrik kumuh.
Mereka mungkin bertanya-tanya, tetapi Jefri meminta mereka untuk tidak menyinggungnya.
Mereka hanya perlu menjemput sayuran tersebut dan membawanya kembali ke restoran.
Lebih dari sepuluh menit kemudian, telepon Matt tiba-tiba berdering, mengingatkannya bahwa
sejumlah uang telah ditransfer ke nomor rekeningnya. Dia mau tidak mau kagum dengan
ketangkasan Jefri. Sayuran dengan berat sekitar 250 kilogram tersebut, bernilai lebih dari 2,3
__ADS_1
juta rupiah. Kemudian, dia mengirim pesan kepada Jefri bahwa dia telah menerimanya sebelum
kembali ke rumah.
Sesampai di rumah, Matt pun mengistirahatkan badannya dan tertidur. Dia baru bangun saat
hari sudah siang. Hari itu, dia tidak ingat apa yang ingin dia lakukan sampai dia selesai memasak
dan makan siang.
"Bagaimana aku bisa begitu ceroboh dan melupakan sesuatu yang begitu penting?"
Dia segera membereskan meja makan dan mengetuk kepalanya. Sebetulnya, semakin hari,
tugasnya semakin sedikit. Dia tidak perlu bekerja seharian seperti sebelumnya dan dia juga
tidak ada kelas setiap hari.
Dia sungguh puas melanjutkan hidup dengan cara seperti itu. Hidup santai dan tetap bisa
menghasilkan uang dengan mudah. Kalau begitu terus, dia bisa mencapai tujuan hidupnya dalam
satu atau dua tahun.
Namun, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin suatu hari nanti, dia akan kehilangan Taman Peri. Ketika itu terjadi, dia perlu membuat rencana lain.
Dia secara acak mengambil sebuah kantong plastik hitam dan memasukkan ginseng ke
dalamnya. Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan rumah dan pergi menuju Jalan
Cendrawasih di Kota Zarkara. Alih-alih mendirikan kios untuk menjual ginseng di Jalan
Cendrawasih, dia justru pergi ke balai pengobatan tradisional terkenal di sekitar Jalan
Cendrawasih.
Balai pengobatan tradisional tersebut sangatlah popular sebab seorang dokter pengobatan
tradisional yang sudah tua memiliki keterampilan medis yang sangat baik di sana. Warga-warga
di sekitar daerah tersebut akan mengunjungi dokter tradisional berusia tua tersebut jika
mereka merasakan ada yang salah dengan tubuh mereka. Kemudian, mereka alkan sehat
kembali setelah meminum obat yang diresepkan oleh dokter pengobatan tradisional tua selama
beberapa hari.
Balai pengobatan tradisional secara bertahap mendapatkan ketenaran karena hal itu. Tidak
berlebihan untuk menyebutkan bahwa dokter pengobatan tradisional yang sudah tua tersebut
adalah seorang dokter ajaib. Matt berpikir bahwa dokter tersebut pasti tahu dan bisa
mengidentifikasi tentang ginseng yang dibawanya. Jadi, dia pergi ke sana untuk mencoba
peruntungannya.
paling maju sekalipun, cuaca panas tersebut sepertinya bisa memasak telur di tanah. Matt pun
segera memanggil taksi menuju balai pengobatan tradisional tersebut.
Tak berapa lama, dia telah sampai di Jalan Cendrawasih. Matt pun keluar dari taksi dan
berkeliling untuk mencari balai pengobatan tradisional tersebut. Meskipun cuacanya panas,
masih banyak orang yang berlalu-lalang di Jalan Cendrawasih itu. Dia tidak punya waktu untuk
mengamati hal-hal di sekitarnya karena dia ingin menemukan balai pengobatan tersebut
sesegera mungkin.
Syukurlah, dia menemukannya sebelum menderita sengatan panas. Balai pengobatan yang tidak
terlalu besar dan kecil tersebut terletak di sebelah toko barang antik. Butulh beberapa saat
untuk menemukannya.
Plakat di pintu bertuliskan: "Balai Pengobatan Musim Semi." Melihat empat kata itu, Matt
langsung masuk. Suasana di dalam dan di luar balai pengobatan sangat berbeda. Di luar cukup
riuh dan panas, sedangkan di dalam balai pengobatan tersebut terasa sejuk, tenang, dan aroma
pengobatan tradisional memenuhi ruangan.
Matt melihat seorang gadis berusia dua puluhan duduk di kursi sambil membaca buku.
"Bukankah mereka bilang dokter pengobatan tradisional tersebut sudah tua? Kenapa dia masih
sangat muda?" Dia tidak melihat dokter pengobatan tradisional yang sudah tua seperti yang dia
bayangkan dan sebutkan sebelumnya.
Meskipun suaranya sangat pelan, balai pengobatan tersebut sangat sunyi. Wanita itu
kemungkinan telah mendengar apa yang dia katakan. Wanita itu pun mengangkat kepalanya dan menatap mata Matt.
"Hai." Matt merasa malu. Saat pertama kali masuk, dia tidak menyapa bahkan menyela
bacaannya.
"Halo, apakah tubuhmu menunjukkan beberapa gejala? Atau kamu merasakan
ketidaknyamanan di mana saja?"
Gadis itu menutup buku di tangannya dan menatap Matt sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Tidak, tidak. Aku ke sini untuk hal lain." Matt hendak menjelaskan tujuannya saat disela oleh
gadis itu.
"Kenapa kamu ke sini jika kamu tidak sakit? Aku sangat sibuk. Aku tidak punya waktu untuk
menghiburmu.'
Ekspresi gadis itu menjadi muram dalam sekejap seraya mengerutkan kening. Matt bahkan
melihat ekspresi muak di wajahnya.
Namun, Matt merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.
Matt justru mengangkat kantong plastik yang dia bawa dan berkata, "Aku datang ke sini untuk
menunjukkan sebuah ginseng. Aku tidak bermaksud apa-apa lagi."
Ketika gadis itu melihat kantong plastik di tangan Matt, raut wajahnya menjadi tenang kembali.
"Oh, maaf aku bereaksi berlebihan."
Tidak masalah. Tentang ginseng ini ..." Matt tidak tersinggung sama sekali. Dia hanya
menduga bahwa gadis itu mungkin pernalh mengalami beberapa pengalaman tidak
menyenangkan sebelumnya.
"Biar aku lihat. Omong-omong, namaku Lusi Sucipto. Dokter pengobatan tradisional berusia tua
yang kamu sebutkan tadi adalah kakekku, Leman Sucipto. Aku sebagai cucunya juga memiliki
mata yang tajam. Kamu harus berurusan denganku terlebih dahulu sebelum bertemu kakekku."
Setelah menjelaskan semuanya, dia mengambil kantong plastik hitamn dari tangan Matt.
Dia membukanya dengan penuh harapan, tetapi dia langsung kecewa ketika melihat ginseng di
dalamnya. Dia bisa mengatakan bahwa ginseng itu ditanam secara buatan dan bukan ginseng
liar berharga, saat melihat ukurannya yang begitu besar. Ginseng yang ditanam secara buatan
ditanam seperti wortel dan tidak memiliki berharga.
Merasa sedikit kecewa, dia menutup kantong plastik dan berkata, "Tuan, ginseng milikmu ini
hanyalah ginseng biasa yang ditanamn secara buatan. Itu sama sekali tidak berharga. Kupikir
kamu akan membawa ginseng liar. Apa kamu menggalinya di suatu tempat?"
"Kamu bisa memanggilku Matt saja. Aku tidak menggali ginseng ini secara sembarangan. Maaf,
tapi aku tidak bisa memercayaimu. Aku ingin Dokter Leman yang melihatnya langsung."Tentu saja, Matt tidak akan mudah percaya bahwa ginseng dari Taman Peri akan setidak
berharga itu.
"Baik! Berhubung kamu tidak percaya padaku, aku akan meminta kakekku untuk
membuktikannya padamu, tetapi kamu perlu membayar biaya pengecekannya nanti!" Lusi
membalas dengan marah saat mendengar kata-kata Matt.
Setelah beberapa saat, Lusi keluar bersama seorang pria tua yang tampak berusia delapan
puluhan. Sekilas Matt tahu bahwa dia adalah kakek Lusi, Leman Sucipto.
Lusi memegang lengan Leman dan bertingkah seperti anak manja. "Kakek, itu dia. Dia tidak
percaya padaku. Dia kesal karena aku bilang ginsengnya adalah sejenis ginseng yang tidak
berharga dan ditanam secara buatan. Kakek, kamu harus menilai siapa yang benar dan yang
salah."
"Oke, oke, aku akan membantumu!" kata Leman sembari menatap Lusi penuh kasih.
Kemudian, dia menatap Matt meminta maaf dan berkata, "Maaf, anak muda. Cucuku memang
seperti ini. Tolong jangan tersinggung. Biarkan aku melihat ginsengnya."
Tidak apa-apa. Tuan Leman, silakan lihat!"
Matt segera menmbuka kantong plastik dan mengeluarkan ginseng.
Seketika, mata Leman berbinar dan langsung mengambil alih ginseng itu. Matt punya firasat
bahwa ginsengnya mungkin berkualitas tinggi.
"Hm..." Leman sedikit bersemangat. Dia memeriksa ginseng dan memperhatikan bahwa
akarnya sungguh terawat dengan baik. "Aku belum pernah melihat ginseng seperti ini selama
bertahun-tahun! Meskipun akarnya terpelihara dengan baik ...
Belum sempat Leman menyelesaikan kata-katanya, Lusi sudah menatap Matt dengan sombong.
Matt mengerutkan keningnya dan berpikir, 'Apakah ginseng yang ditanam di Taman Peri
benar-benar tidak berharga seperti yang dikatakan Lusi tadi?'
"Tunggu! Sepertinya aku sudah semakin tua dan telah mengabaikan detailnya. Akar ginseng ini
terawat dengan baik dan ada beberapa tanda di tubuh ginseng. Ini jelas fitur sebuah ginseng tua!
Ginseng ini seharusnya sebuah ginseng berusia seabad!" Leman tiba -tiba menjadi bersemangat.
Dia melihat ginseng di tangannya dan berseru dengan penuh antusias.
__ADS_1
Mendengar itu, Lusi yang tadinya sangat bersemangat tiba-tiba menjadi kesal dan menatap
kakeknya dengan tatapan tidak percaya. Sebaliknya, Matt merasa sangat gembira.