Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
Air peri


__ADS_3

Hm! Baguslah jika kamu sadar. Kamu telah merampas semua bisnis kami, menyebabkan


pendapatan kami menurun. Haha! Izinkan aku memberimu nasihat. Mulai besok dan


seterusnya, jangan menjual sayuran di sini lagi. Fokus pada kuliahmu terlebih dahulu karena


kamu seorang mahasiswa. Keluargamu yang seharusnya bertanggung jawab untuk


menghasilkan uang. Jangan sesekali merebut mata pencaharian kami!" ucap salah satu


pedagang dengan tatapan menyeramkan.


Matt menatap mereka satu per satu saat mendengar keluhan mereka. Mereka memang sengaja


melawannya secara berkelompok agar dia takut dan tidak akan berani datang ke pasar petani


lagi untuk berjualan. Dengan begitu, bisnis mereka akan membaik.


Alih-alih ketakutan, Matt justru tetap tenang. Tingkat kultivasinya sekarang telah mencapai


Alam Dasar. Setelah dimurnikan oleh energi spiritual, dia sekarang menjadi lebih kuat


dibandingkan dengan kebarnyakan orang. Apalagi cia juga tidak percaya orang-orang itu berlatih


seni bela diri. Sudah pasti, dia siap melawan mereka. Dia yakin bisa mengalahkan kelima pria itu


sendirian. Bagaimanapun juga, lawannya hanyalah beberapa pria yang sudah tua.


"Saya tidak bisa memaksa para pelanggan untuk membeli dagangan kalian. Kalian juga tidak


bisa menyalahkan mereka karena memilih untuk membeli sayuran saya. Faktanya, rasa


sayuran saya menmang lebih enak. Kalian bisa mencari dan menjual sayuran yang sama dengan


yang saya jual. Bukankah kalian ingin memberi saya pelajaran? Tunggu apa lagi?"


Dia mengucapkan kata-kata yang terakhir dengan arogan. Kemudian, Matt mengangkat bahu


dan tidak berkata apa-apa lagi. Bagaimanapun juga, dia percaya dengan kemampuannya dan tidak perlu takut.


"Haha! Sepertinya kamu memang ingin mati. Teman-teman, ayo kita hajar dia!"


Pemimpin pedagang melambaikan tongkat kayu di tangannya, sedangkan beberapa pria bergegas menuju Matt. Bertarung di usia lebih dari 60 tahun memang cukup menantang.


Mereka bertindak seolah-olah tidak takut akan efeknya pada tubuh mereka.


Sementara itu, Matt berdiri dengan posisi bertarung. Mantra Perkebunan Spiritual tidak


muncul dengan melakukan gerakan apa pun, tetapi bisa meningkatkan level kultivasinya. Dia


memang harus bisa mengatur posisinya sendiri. Adapun bagaimana dia akan melakukannya, itu cerita lain.


Kelima pria sepuh itu mengayunkan tongkat mereka ke arah Matt dari berbagai arah. Matt


buru-buru mundur untuk menghindari serangan mereka. Kemudian, dia dengan sigap meraih


tongkat yang paling dekat dengannya dan menariknya dengan paksa sehingga pria itu


tersandung ke depan dan jatuh ke tanalh.


Matt menggunakan cukup banyak kekuatannya dan tidak melunak pada para perundung itu,


pedagang tadi langsung berteriak dan berguling-guling di tanah kesakitan. Saat keempat pria


lainnya melihat apa yang terjadi, mereka menyadari bahwa mereka telah meremehkan Matt


dan sudah salah menilainya. Mereka semua menatap kesal pada pemimpin pedagang tersebut


dan keberanian mereka perlahan-lahan memudar.


Melihat keterkejutan di mata mereka, Matt berpura-pura menyerang ke depan untuk menguji


mereka. Keempatnya sontak sangat ketakutan sampai-sampai mereka segera berbalik dan


berlari. Sebelum melarikan diri, mereka tidak lupa menarik pria yang terbaring di tanah.


Setelah mengalahkan mereka, Matt membersihkan tangannya, merasa lega. 'Syukurlah, mereka semua pria lanjut usia, batinnya.


Matt adalah orang yang baik dan tulus. Dia tidak pernah membuat masalah, juga tidak pernah


terlibat dalam perkelahian. Namun, jika dia dirundung, dia tidak bisa membiarkan mereka pergi begitu saja.


"Aku seperti sedang merundung beberapa lansia hari ini, tetapi mereka yang lebih dahulu


merundungku. Bukan salahku kalau begitu. Aku seseorang yang menghargai keindahan tradisi


warga Negara Chandani, termasuk menghormati para lansia," kata Matt sambil tersenyum dan pergi.


Sesampainya di rumah, Matt masih memikirkan kejadian hari ini. Jika itu tidak terjadi, dia tidak


akan pernah tahu dampak yang dia timbulkan pada orang lain hanya karena menjual sayuran.


Apa yang dikatakan orang-orang itu memang benar. Dia sudah memonopoli pasar.


Jika aku tidak menjual sayuran di sana, aku tidak akan memiliki penghasilan. Namun, kalau aku


masih terus berjualan di sana, pedagang lain akan kehilangan bisnis mereka. Lantas, apa yang


harus aku lakukan?' Dia berpikir sejenak, tetapi dia belum menemukan ide apa pun. Dia lebih


baik membiarkannya saja untuk saat ini.


Matt pun segera berbaring di tempat tidurnya untuk memasuki Taman Peri, mungkin dia akan


mendapatkan ide. Saat ini, Matt merasa sedikit haus. Melihat tumpukan buah-buahan itu, dia


menjadi tidak berminat untuk memilikinya. Matt adalah seorang pemuda yang berhati hangat,

__ADS_1


jadi dia masih terganggu dengan kejadian tadi sore. Matt mengalihkan pandangannya ke air


yang jernih dan murni di Sungai Taman Peri, lalu dia berjongkok untuk mencedok air dengan


tangannya dan meminumnya.


Ternyata, tidak hanya sayuran dan buah-buahan di Taman Peri yang terasa lezat, tetapi airnya


juga sangat enak. Selain itu, air dari Sungai Taman Peri juga terasa sejuk dan sedikit manis.


Setelah meminumnya, Matth merasakan lelah di tubuhnya mencair seketika, lalu dia juga menyadari sesuatu.


"Aku ingin tahu apakah aku bisa membawa air ini ke dunia nyata? Air ini sangat lezat dan efektif


menghilangkan rasa lelah. Air ini sungguh luar biasa!"


Dengan begitu, Matt keluar sebentar untuk mengambil ember supaya idenya bisa langsung dia coba.


Setelah mengisi ember dengan Air Peri, dia mencoba mengeluarkannya dengan cara yang sama


seperti dia memanen sayur -sayuran itu. Dia telah membawa ember berisi air tersebut ke dunia


nyata. Kemudian, dia langsung menyesapnya, tak disangka rasanya masih sama dengan yang


dia minum sewaktu di Taman Peri.


"Jika aku bisa membawa air ini ke dunia nyata, apakah itu berarti semua yang ada di Taman


Peri juga bisa dikeluarkan?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Berhubung dirinya masih penasaran, Matt pun mencobanya lagi. Kali ini, dia mencoba


mengeluarkan tanahnya. Ketika tanah tersebut masih di tangannya saat berada di dunia nyata,


hal tersebut membuktikan bahwa dugaannya memang benar. Sepertinya, apa pun bisa dibawa


keluar dari Taman Peri.


Saat dia memikirkan Sungai Taman Peri, sebuah ide melintas di benak Matt. 'Itu adalah sebuah


sungai. Untuk apa sungai biasanya digunakan? Tidak ada apa-apa di dalamnya sekarang.


Mungkin sudah waktunya untuk membiakkan beberapa ikan!' pikirnya.


Namun, hari sudah larut dan dia telah melalui banyak hal hari ini, terutama perundungan yang


dilakukan oleh para pedagang itu. Pikirannya berantakan saat ini. Jadi, dia belum bisa membuat


rencana tentang peternakan ikan tersebut. Apalagi, kedua teman serumahnya juga sudah


kembali, dia bertugas untuk membuat makan malam. Setelah makan malam, mereka semua


kembali ke kamar masing-masing.


Matt tidak langsung tidur, dia justru membaca buku sebentar. Setelah selesai, Matt berbaring di


Taman Peri dibandingkan dengan dunia nyata. Setiap kali dia ingin berkultivasi, dia akan


melakukannya di Taman Peri. Dia tidak hanya bisa menyerap lebih banyak energi spiritual,


tetapi juga memungkinkan dirinya untuk mempercepat kultivasi.


Keesokan harinya, Matt tidak bangun pagi untuk berjualan sayuran di pasar petani seperti


biasanya. Dia ingin beristirahat. Sebetulnya, Matt masih bimbang kapan dia akan menjual


sayur-sayuran itu lagi. Uang yang dia miliki saat ini memang masih cukup untuk menyokong


kebutuhannya selama beberapa bulan.


Hari ini adalah hari Kamis, dia hanya memiliki satu kelas di sore hari. Matt bangkit dari tempat


tidurnya di saat dia ingin melakukan sesuatu saja. Setelah makan siang, dia berjalan menuju


balkon di mana ada beberapa tanaman Susan di sana. Matt pun mengecek tanaman-taman


tersebut yang berupa anggrek, bunga matahari, dan beberapa bunga lain yang Matt tidak tahu


namanya. Bunganya layu semua pertanda bunga-bunga itu sudah lama tidak disiram.


Mungkin Susan terlalu sibuk mengurus perjalanannya ke Negara Aksara sehingga tidak ingat


untuk menyiramnya. Melihat bunga-bunga layu tersebut, Matt segera pergi ke dapur untuk


mengambil seember air dan menyiramnya. Alhasil, bunga-bunga tersebut tampak terlihat jauh


lebih baik setelah disiram.


Setelah beberapa saat, bunga-bunga dan tanaman-tanaman tersebut seperti hidup kembali.


Daun-daun yang semula layu telah terbuka dan terlihat bernyawa. Beberapa bunga yang mulai


bertunas kini sudah mekar


Matt yang baru saja kembali dari dapur setelah mengambalikan embernya pun terkejut dengan


pemandangan yang terjadi. "Wow, apa ini sungguhan? Apakah bunga-bunga ini berubah secara


ajaib? Mengapa perubahannya mencolok sekali?"


Matt larngsung memeriksanya dan dia tidak menemukan keanehan sama sekali. Dia bahkan


berbicara dengan bunga-bunga tersebut yang tentunya tidak ada balasan. Melihat tanah yang


basah, dia sepertinya menyadari sesuatu. Dia kemudian berlari ke dapur dan dugannya ternyata


benar.

__ADS_1


Air yang baru saja dia gunakan untuk menyiram tanaman adalah Air Peri yang dia keluarkan


dari Taman Peri tadi malam. 'Pasti air ini yang menjadi penyebabnya mengapa bunga-bunga


dan tanaman-tanaman tersebut tumbuh sangat cepat, pikir Matt.


Kemudian, dia membawa ember berisi air tersebut kembali ke balkon dan membagi


bunga-bunga tersebut menjadi dua kelompok. Dia tidak akan menyiram kelompok pertama,


sedangkan dia akan terus menyiram kelompok kedua dengan Air Peri. Untuk memastikan


keakuratan percobaannya, alih-alih tidak menyiram kelompok bunga pertama, dia alkan


menyiraminya dengan air biasa saja.


Setelah menyiram tanaman-tanaman tersebut, Matt langsung bisa menyimpullkan bahwa


kelompok tanaman yang disiram dengan Air Peri dari Taman Peri tumbuh jauh lebih cepat daripada kelompok lain, bahkan kecambah baru tumbuh di pot mereka.


Suasana hati Matt yang tadinya suram sontak pudar setelah mengetahui hal ini. Dia


mengesampingkan semua yang dia khawatirkan dan fokus mempelajari Air Peri. Ternyata, Air


Peri dapat mempercepat pertumbuhan tanaman. Kemudian, Matt membawa sebuah tanaman


anggrek ke kamarnya.


Untungnya, mereka baru saja pindah dan belum selesai menjelajahi bagian-bagian rumah ini,


jadi dia tidak perlu takut jika ada orang yang menemukan tanaman-tanaman tersebut. Lagi


pula, dia bisa mengatakan bahwa Susanlah yang merawat tanaman-tanaman tersebut sebelum pergi.


Dia meletakkan tanaman anggrek tersebut di samping jendela kamarnya dan mnenaburkan


beberapa tanah yang dia ambil dari Taman Peri. Kemudian, anggrek tersebut tumbuh dengan


cepat, bahkan menghasilkan daun-daun baru. Kemudian, sebuah tangkai tumbuh dari tengah


pot dan kuncup bunga mulai muncul. 'Apa-apaan ini? Siapa sangka tanaman bisa tumbuh


secepat ini?' batin Matt dengan terkagum-kagum.


Setelah mengonfirmasi teorinya, Matt membiarkan anggrek itu mekar di bawah sinar matahari.


Berhubung dia ingin beternak ikan di Sungai Taman Peri, dia berencana untuk mencari bibit ikan.


Sebelumn pergi, dia menyalakan laptopnya untuk mencari tahu penjual bibit ikan, dia pun


akhirnya menemukannya di Daerah Denai dan segera pergi ke sana.


Dia sebenarnya cukup asing dengan Daerah Denai. Meskipun dia telah berada di Kota Zarkara


selama hampir dua tahun, dia jarang pergi ke daerah ini. Bisa dibilang, dia bahkan tidak pernah


pergi ke Daerah Denai, jadi dia tidak terlalu mengenalnya. Setelah keluar dari mobil, dia


mengikuti peta di ponselnya dan mendatangi tempat yang menjual bibit ikan tersebut.


Tempat itu terlihat seperti rumah besar dengan sebuah tanda pengenal di sampingnya yang


bertuliskan: "Menjual Bibit Ikan!"


Kata-kata tersebut cukup sederhana dan jelas. Dari luar, Matt bisa melihat banyak kolam


dengan ukuran berbeda di dalam sana, dia pun langsung masuk.


Seorang pria berusia empat puluhan tampak sedang berbicara dengan seseorang di sampingnya.


Sepertinya, pria tersebut adalah pemilik toko, jadi Matt segera menghampirinya.


"Tentu, Tuan Arkan. Luangkan waktumu untuk memikirkannya. Jika kamu yakin ingin


membelinya, katakan saja kepadaku, aku akan mengatur pengiriman ke mana pun yang kamu


inginkan. Kamu boleh memikirkannya selagi aku melayani pelangganku yang lain," ucap pemilik


toko kepada pria di sampingnya sambil tersenyum. Kemudian, dia menghampiri Matt.


"Halo, bagaimana aku bisa menyapamu? Namaku Leon Surya. Orang-orang biasa memanggilku


Leon. Apa ada yang bisa aku bantu?" ucap Leon dengan nada profesional sambil mengulurkan


tangannya untuk menjabat tangan Matt.


"Halo, Tuan Leon. Namaku Matt. Aku ingin membeli beberapa bibit ikan," balas Matt. Dia


melihat timbangan toko dan berpikir untuk menanyakan terlebih dahulu sebelum bertransaksi.


"Aku ingin tahu apakah kamu menjualnya dalam jumlah keil?" tanya Matt hati-hati. Lagi pula,


dia hanya berencana membeli beberapa ratus ikan.


"Haha! Matt, temanku tersayang, kamu pria yang lucu! Kuantitas tidak menjadi masalah. Bisnis


tetaplah bisnis!"


Leon tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Matt. Jawaban Leon tadi membuat Matt


semakin menyukainya, apalagi Leon memanggil Matt sebagai teman.


"Baiklah, kalau begitu. Aku akan berterima kasih terlebih dahulu. Apa kamu keberatan untuk


memperkenalkan bibit-bibit ikan tersebut, Leon?


Matt tidak tahu banyak tentang hal ini. Dia sebenarnya belum tahu bibit ikan apa yang ingin dia beli.

__ADS_1


__ADS_2