Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
berkultivasi


__ADS_3

Perkataan Maxim membuat Matt sedikit kecewa. Sebetulnya, Matt ingin tahu


bagaimana rasanya memasuki Taman Peri dengan tubuhnya. Meskipun kesadaran


sama halnya dengan tubuh aslinya, dia masih belumn merasa nyaman.


"Sepertinya aku harus berkultivasi secepatnya. Hanya setelah mendapatkan


kemajuan kultivasi yang pesat, aku akan bisa meraih banyak keuntungan. Aku bisa


memperluas lahan dan itu akan sangat berguna bagiku," ucap Matt.


"Bos, kultivasi lebih baik dilakukan selangkah demi selangkah, jangan


terburu-buru. Kamu hanya perlu berkultivasi setiap hari saja, dan tidak


memaksakan diri. Jangan jadi gegabah hanya karena ingin menaikkan level dengan


cepat. Kamu bukan hanya tidak akan mendapat kemajuan, tapi justru sebaliknya,"


Maxim mengingatkan Matt dengan suaranya yang mengalun merdu.


"Baiklah! Maxim, kamu bertugas untuk mengawasiku. Ingatkan aku jika suatu hari


aku lupa!" ujar Matt dengan tegas.


"Tenang saja, Bos. Aku janji akan melakukan tugasku dengan baik!"


Maxim yang berusia kurang dari lima tahun, memberi hormat kepada Matt layaknya


seorang prajurit. Matt tidak menyangka bahwa Maxim telah mempelajari hal ini.


Sepertinya kehidupan masyarakat modern sedikit-banyak memperngaruhi Maxim


yang berasal dari Taman Peri.


Meskipun Matt sudah cukup lama berada di Taman Peri, tetapi waktu di dunia nyata


masih berjalan lambat. Karena tidak memiliki kesibukan lain, dia meminta Maxim


untuk membuat beberapa kursi dari bambu yang tersisa. Kemudian, Matt berbaring


di lantai rumah bambu itu.


Cuaca di Taman Peri sangat cerah, matahari bersinar sepanjang hari. Karena itulah,


tanaman-tanaman yang disemainya terus tumbuh di bawah siraman energi spiritual


dan sinar matahari. Matt bisa melihat pertumbuhan tanaman dari tempatnya


beristirahan. Setelah beberapa saat, dia pun mulai berkultivasi di dalam rumah


bambu.


Seandainya ada orang lain yang dapat mengunjungi taman ini, Matt yakin dia pasti


akan segera mengabadikan pemandangan yang indah itu dengan kamera ponselnya.

__ADS_1


Rumah bambu nan menakjubkan, dikelilingi oleh beberapa jenis tanaman dan


terdapat sebuah kolam di halaman depannya. Di dalam pondok itu seorang pemuda


sedang beristirahat, memejamkan mata.


Jika para kultivator lain bisa memasuki Taman Peri, mereka pasti akan menghardik


Matt karena kurang menghargai Taman Peri yang begitu indah. Di tempat yang


menakjubkan ini, tersedia cukup banyak energi spiritual, dan tidak akan ada yang


mengganggunya. Yang paling penting adalah perbedaan waktu antara dunia nyata


dan Taman Peri. Seorang kutivator akan memiliki umur yang panjang setelah


berhasil berkultivasi. Dengan perbedaan waktu yang ada, Matt bisa mengasingkan


diri ke Taman Peri dan berkultivasi selama 100 tahun, sedangkan di dunia nyata, dia


baru menghabiskan waktu selama satu dekade. Di dunia nyata, umur adalah harta


paling berharga.


Setelah beberapa lama, Matt perlahan membuka mata karena telah selesai


berkultivasi untuk saat itu. Waktu telah banyak berlalu di Taman Peri, tetapi hanya


beberapa jam saja di dunia nyata.


Matt segera bangkit dan melihat ponselnya. Baru pukul tujuh malam. Dia mengelus


semangka dari Taman Peri. Setelah menyantapnya, perutnya langsung terasa


kenyang.


Matt bersendawa dan kembali ke rumah bambu untuk berkultivasi. Di dunia nyata,


dia sama sekali tidak merasakan hal yang sama seperti yang didapatnya di Taman


Peri. Energi spiritual di dunia nyata sangat langka, bahkan hampir tidak ada,


sehingga dia tidak bisa merasakan apapun.


Perlahan-lahan, dia terus mengubah energi spiritual yang tipis menjadi lebih murni.


Butuh waktu setengah jam untuk melakukan ini di dunia nyata, sementara di


Taman Peri, dia bisa menyelesaikannya dalam sekejap mata. Sete lah setengah jam


berlalu, akhirnya Matt memutuskan untuk tidak berkultivasi lagi di dunia nyata.


Energi spiritual di Taman Peri bisa dibilang cukup murni. Matt hanya perlu


melakukan sedikit pemurnian tambahan untuk dapat menyimpannya dalam inti


energi di tubuhnya, proses yang tidak akan bisa dilakukan selancar ini di dunia

__ADS_1


nyata. Belum lagi energi spiritual di dunia sangat tidak murni, jadi cukup memakan


banyak waktu untuk menyerap dan memurnikannya.


Tomat dan semangka yang baru saja dimakan Matt tadi telah berubah menjadi


bagian kecil dari energi spiritual, yang kini tersimpan di inti energi, bercampur


dengan energi yang telah disempurnakannya. Mungkin energi spiritual yang


terkandung dalam sayuran dan buah-buahan dapat mengubah khasiat dan rasa


tanaman, sehingga menjadi lebih lezat serta bermanfaat bagi tubuh manusia.


Mungkin karena inilah banyak orang yang menyukai sayuran yang dijualnya.


Keinginan Matt untuk menyewa sebuah rumah semakin menjadi-jadi. Dia


benar-benar ingin memasak sendiri sayur-mayur yang dia tanam di Taman Peri, dan


mencicipi kelezatannya. Asalkan mau bekerja lebih keras lagi, dia pasti bisa


menyewa sebuah rumah.


Sambil terus memikirkan hal itu, Matt memasuki rumah bambunya di Taman Peri


dan kembali berkultivasi. Berdasarkan perkiraannya, dia akan sendirian di asrama


malam ini, sehingga tidak akan ada yang mengganggunya. Bahkan seandainya ada


gangguan, dia bisa kembali ke tubuhnya dengan segera.


Waktu terus bergulir, namun hari masih tetap siang di Taman Peri. Matt membuka


matanya dan berhenti berkultivasi untuk sementara waktu, karena merasa bahwa


dia sudah hampir menembus level dua Alam Dasar. Setelah sekian lama,


kemampuan kultivasinya sedikit lagi akan sampai di level lima!


Matt beristirahat sejenak sambil memejamkan mata. Dia sudah siap dan telah


menyimpan cukup tenaga untuk terus menyerap energi spiritual yang


dibutuhkannya. Energi spiritual yang telah dimurnikan itu kian menumpuk di inti


energi sampai hampir tidak terbendung lagi.


Matt telah membaca deskripsi Mantra Perkebunan Spiritual dan sangat memahami


hal ini. Dia terus menyerap energi spiritual murni dan kemudian membiarkannya


mengalir ke inti energi. Semakin banyak energi spiritual murni yang memasuki inti


energinya, maka energi spiritual itu akan terus berusaha menembus level dua Alamn


Dasar.

__ADS_1


Akan ada perubahan besar setelah energi spiritual Matt mencapai *******. Dengan penimbunan energi spiritual yang terus menerus, gerbang menuju level dua Alam Dasar akan segera terbuka. Pada akhirnya, Matt berhasil mencapai level dua Alam


Dasar!


__ADS_2