
Bab 21
"Dia Siapa?" tanya Papi Hestama kepada Lili.
Kemudian Lili menceritakan, bahwa Kinasih adalah orang yang menolong Estu saat kecelakaan dari turun gunung penyebab kabut tebal waktu itu.
"Lalu di sini kepentingannya?" tanya Papi Hestama kembali.
"Kinasih untuk sementara menjadi pelayan di sini Pi," jawab Lili.
"Pelayan?" Papi Hestama belum paham.
Karena, seharusnya jika ada penambahan anggota baru di Wastu Hestama harus pengaturan Kanjeng Mami, baik itu pelayan atau yang lainnya, setelah itu diketahui dulu oleh Papi Hestama. Akan tetapi sampai hari ini pun tak ada laporan ke Papi, tenang anggota baru di rumah, atau pun karyawan.
Saat kemarin juga Kanjeng Mami sudah menjelaskan, keberadaan Kinasih mungkin hanya sementara. Karena Lili juga belum begitu paham, soalnya belum berbincang banyak dengan Estu, bagaimana keberadaan Kinasih kedepannya
Walau pun Estu anak terakhir, tapi banyak keputusan seringkali melibatkannya.
Kanjeng Mami sebenarnya cukup tertarik dengan Kinasih dari wajahnya terlihat santun baik dan bisa menyesuaikan diri. Namun, Kanjeng Mami orangnya gengsian, jadi dia tidak akan menunjukkan dirinya mudah luluh.
"Jadi kamu habis mengupas bawang?" tanya Kanjeng Papi.
Kinasih mengangguk masih dengan rasa ketakutan. Wajah Ningrat Papi Hestama, membuat Kinasih berdiri beku.
Namun kemudian Kanjeng Papi mempersilahkan mereka pergi dan minumannya tetap di sana. Kinasih pikir minumannya akan tidak diambil lagi.
Setelah keluar dari ruangan perpustakaan, Kinasih banyak tanya pada Lili tentang Kanjeng Papi. Dia jujur merasa takut saat pertama bertemu tadi, apalagi mendengar suaranya yang besar.
Lili menjelaskan bahwa Kinasih tak perlu takut, justru di rumah itu Kanjeng Papi yang paling baik, meskipun sebenarnya tidak ada yang jahat di sana. Maksudnya jika dalam sinetron atau kisah novel tidak ada antagonis.
Di Wastu Hestama hanya karakter-karakter buruk sedikit itu wajar, namanya juga manusia. Namun, mereka tidak akan sampai hati untuk merendahkan, apalagi jahat di depan umum. Setiap orang pasti ada rasa tidak suka pada orang lain, tapi mereka tidak akan menunjukkan di depan umum.
Adab Ningrat masih kental di pakai di sana. Walau zaman sudah modern. Bahkan usaha mereka juga sudah ekspor impor, bukan usaha lokalan biasa.
__ADS_1
Kinasih berpikir, harusnya dia dengan mudah diterima di keluarga itu, tapi mengapa rasanya tetap sulit. Apa yang salah?
Kalau mendengar dari cerita Lili, karakter mereka sama seperti kita orang kebanyakan. Justru mereka sepertinya membuka diri untuk orang asing, hanya masih terlihat hati-hati, mungkin wajar. Namun, Kinasih masih tetap terlalu sungkan. Apa karena dia masih kaget, ibaratnya dari keluarga biasa saja, kemudian drastis berada di keluarga yang serba ada, bahkan bisa dikatakan berlebih?
"Hei, bengong aja. Hati-hati loh, kesambet?" tegur Lili, saat keluar dari lift.
"Eh ... E-em, memang di sini banyak hantu ya?" Kinasih tiba-tiba berjalan mepet pada lili, dia memegang tangan Lili sambil menoleh, kanan kiri, melihat sekitar.
"Hahaha, ya enggaklah. Mana ada hantu di sini" Lily malah tertawa meledek.
"Ih, Mbak Lili." Kinasih cukup kesal dikerjai.
Lili suka aja melihat Kinasih yang masih begitu polos, jadi niat isengnya muncul deh. Kemudian Lili mengajak Kinasih untuk membuat bahan makanan siang.
Walaupun ini baru pukul sembilan pagi, tapi mereka sudah merencanakan membuat makan siang.
""Ini masih pagi loh. Memang makan siang jam berapa?" tanya Kinasih.
"Ya, namanya juga keluarga ningrat. Untuk persiapannya harus sempurna," respons Lily. "Mereka biasa makan siang, pukul satu, nanti ada sopir yang mengantar makanan ke kantor, untuk mas Bagas, Mba Keken, dan Mbak Cesil," imbuh Lily.
"Tidak. Kanjeng Mami tidak mengizinkan keluarga banyak mengkonsumsi makanan fast food. Kamu tidak tahu kami ini save terlatih? Jangan karena hanya memasak di rumah biasa, kami seperti pelayan biasa.
Semua tukang masak di sini pernah belajar beberapa jenis masakan termasuk masakan luar. Makanya kalau ada acara di rumah ini, kami yang menghandle. Paling hanya meminta beberapa tambahan dari komunitas chef atau dari restoran untuk membantu."
Kinasih mengangguk menyimak apa kata Lily. Keren juga keluarganya Estu, sepertinya tidak tanggung-tanggung jadi orang kayanya. Itu yang dipikirkan Kinasih.
Namun begitu tidak terkesan sombong juga. Entahlah, mungkin ini hanya penglihatan Kinasih sementara. Nggak tahu nanti, semakin lama biasanya karakter orang akan semakin terlihat sisi buruknya.
Lily mengajak terlebih dahulu membuat makanan bekal untuk Keken. Sebelum memasak untuk makan siang.
"Saya boleh coba Mba?" tanya Kinasih yang melihat Lili membuat makanan di hias.
"Boleh, tapi jangan sekarang ya. Soalnya ini ditungguin Mbak Keken. Nanti kalau waktunya luang, kamu saya ajarin," papar Lili, sambil tangannya masih fokus menghias kotak makanan.
__ADS_1
Kinasih mangut-mangut, dia paham. Pelayan di sini sepertinya profesional sekali. Memperhatikan kwalitas kerja untuk majikannya.
Selagi menunggu Lili masih membuat bekal buat Keken, Kinasih kembali berpikir yang tidak-tidak.
Entah mengapa setiap membahas tentang Keken, rasa berdesir di hati Kinasih. Seakan Keken adalah saingannya. Terus terang Kinasih merasa minder jika berada di dekat Keken, wanita yang sempurna secara fisik juga kepribadian.
Padahal kalau orang lain menilai, secara fisik, Kinasih lebih unggul dari Keken, hanya saja Kinasih produk lokal yang belum dipoles, sehingga masih terlihat redup cahayanya.
Kinasih adalah sosok yang terlalu minder, cukup sensitif, mudah terbawa perasaan, overthinking , mungkin karena pendidikan juga memengaruhi wawasan seseorang terbuka dan tidaknya.
***
Sementara itu...
Di rumah sakit, Nyonya Desi sedang di ruang Dokter untuk mendengarkan penjelasan setelah Estu diperiksa.
Kanjeng Mami dengan seksama mendengarkan arahan Dokter. Dia cukup senang bahwa hilang ingatan Estu kemungkinan besar pulih total. Hanya saja butuh perawatan secara konsisten dan dibantu beberapa obat-obatan untuk meringankan dan mempercepat pemulihan.
Namun, secara umum orang dengan amnesia perlu lebih banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung kaya asam folat, lemak baik, protein, dan antioksidan lain, misalnya ikan berlemak, buah berry, brokoli, kacang-kacangan, cokelat, dan sebagainya.
Sedangkan untuk pantangan, tidak mengkonsumsi kandungan garam berlebihan dan lemak jahat.
Perlakuan khusus juga harus diberikan pada penderita amnesia, karena ini menyangkut mental. Jangan terlebih dahulu mendapatkan tekanan. Sehingga selain dokter saraf, psikiater juga dibutuhkan.
***
Sekitar tiga jam, Kanjeng Mami berada di rumah sakit. Selain pemeriksaan, konsul dan penjadwalan cek up untuk pemeriksaan berikutnya.
“Kamu ikut Mami, jangan dulu pulang,” ucap Kanjeng Mami saat keluar dari gedung rumah sakit.
“K-kemana Bu,” ucap Estu, masih saja canggung untuk menyebut Mami.
“Huft ... Estu, masih saja panggil Ibu. Memangnya Mami ibu kita Kartini. Hem, Hem, biasakan panggil Mami, dong,” rengek Kanjeng Mami Seperti anak kecil.
__ADS_1
“M-maaf, Ma-mi,” ralat Estu meski sedikit terbata.
Bersambung....