
Bab 40
"Itu, Pi. T-tadi waktu kepalaku masih sakit Kinasih tergesa-gesa membawa air minum, jadi tumpah dan belum sempat dibersihkan," papar Estu. Untungnya bisa mendapat alasan yang tepat dengan cepat.
"Biar saya keringkan Pi," ucap Kinasih berjalan dari wastafel.
Sengaja rambut Kinasih tidak diikat untuk menutupi tanda merah yang ada di bagian lehernya. Meskipun agak ke bawah ketutup kerah. Namun, tetap saja merasa ragu untuk beraktivitas.
"Ikat dulu rambutnya Kinasih, Nanti mengganggu kerja kamu," ucap Kanjeng Papi melihat rambut Kinasih yang panjang sepunggung, namun tergerai hingga ke depan. Karena jatuh saat Kinasih membungkuk akan mengepel lantai yang basah.
"Iya Pi," ucap Kinasih merespon, tapi tidak melakukan apa yang Kanjeng Papi perintahkan. Dia menyelesaikan dulu mengeringkan lantai, baru kembali ke wastafel untuk mencuci tangan. Tangan kotor kembali karena baru mengepel, setelah itu diikat rambutnya.
"Mas Estu, saya pulang dulu ya, Kanjeng Papi saya pulang," ucap Kinasih, pamit.
"Tapi Pak sopir udah pulang. Kamu mau pulang sama siapa?" tanya Kanjeng Papi.
Kinasih malah bingung, dia celingukan, menatap pada Estu.
"Biar kamu pulang sama kami, jika mau menunggu." Papi menawarkan.
"Kinasih, apa kamu mau di sini. Duduk di sampingku? Siapa tahu mau melihat bagaimana cara kerja orang kantor." Estu juga menawarkan agar Kinasih tidak bingung.
"Itu lebih baik. Siapa tahu kamu bisa bantu di perusahaan," ucap Kanjeng Papi.
Hal itu bukan membuat Kinasih senang, tapi malah semakin takut. Bagaimana bisa dia membantu di perusahaan? Sepertinya hal yang sulit, setiap hari bergumul dengan angka dan tulisan-tulisan panjang yang harus dibaca dan harus dipahami. Entah apa yang harus dimengerti tulisan sebanyak itu, entah membahas apa, Kinasih tidak paham. Malah pusing duluan.
Namun, Kinasih menurut saja daripada dia juga bingung, harus pulang tidak tahu jalannya. Mungkin kalau bertanya menggunakan kendaraan apa, dia masih bisa, tapi kalau ditipu bagaimana? Ternyata dibawa ke suatu tempat karena ketidaktahuan Kinasih.
Dengan sabar Kinasih melihat Estu sibuk di depan komputernya, makanan yang tadi juga sudah dihabiskan oleh Estu. Tentunya disuapin oleh Kinasih, serta sudah makan obat.
Sesekali Kinasih memijat pundak Estu, hal itu reflek ia lakukan karena kasihan melihat suaminya kelelahan. Berapa kali Estu memutarkan kepalanya dan memijat tengkuknya sendiri, sehingga Kinasih berinisiatif menggantikan tangan Estu yang memijat-mijat tengkuk serta sesekali memutarkan pinggangnya, mungkin karena terlalu lama duduk.
Tanpa Kinasih dan Estu ketahui, Kanjeng Papi menyimak apa yang dilakukan Kinasih. Begitu telaten wanita desa itu melayani putra bungsunya.
***
__ADS_1
Sementara itu di kampung.
Deswita sedang berbincang dengan ayahnya Kinasih, katanya lusa Pak Karso akan pergi ke Jakarta, dia rindu pada putrinya ingin tahu keadaan di sana.
Walaupun sejauh ini Pak Karso mendapatkan kabar dari Deswita bahwa Kinasih baik-baik saja. Namun, Pak Karso tidak tenang, setidaknya dia sebagai orang tua juga harus membantu memperjelas status rumah tangga putrinya.
Mungkin dengan Pak Karso pergi ke Jakarta, dia mengetahui situasi keluarganya Estu dan bisa mendapatkan jalan bagaimana caranya agar Kinasih bisa diterima di keluarga itu, tanpa melukai tunangan Estu.
Pak Karso tahu bawa Estu sudah memiliki tunangan, makanya tidak bisa gegabah ketika tiba-tiba keluarga yang mereka cintai kembali dari hilang dan beberapa waktu pulang sudah berumah tangga, tentu itu sesuatu yang bisa mengecewakan.
"Tapi Bapak jangan bikin aneh-aneh di sana, kasihan Kinasih loh, Pak," ucap Deswita.
"Bikin aneh-aneh gimana? Kamu nggak percaya sama Bapak?" ucap Pak Karso sore itu, saat Deswita sedang menghitung uang pendapatannya dari meneruskan usaha jualan kue Kinasih.
"Takutnya Bapak berbuat gegabah karena ingin cepat-cepat hubungan Kinasih dan Mas Estu diketahui oleh keluarga."
"Bapak nggak seceroboh itu, Deswita. Jangan khawatir. Justru kalau ada gelagat yang merugikan Kinasih, Bapak bisa langsung dibantu, kan? Bagaimanapun aku orang tuanya Kinasih, meskipun bukan ibunya yang katanya selalu peka adalah wanita. Tetap aja Bapak ingin tahu keadaan anak Bapak sendiri, yang baru pertama kali, jauh dari desa."
"Bapak mau ditemenin?" tanya Deswita.
"Nggak usah, nanti kalau Bapak udah tahu keadaan keluarga sana, baru Bapak ngajak kamu."
"Tuh kan, akhirnya kamu juga nggak sabar pengen ketemu dia."
Deswita nyengir kuda, dia juga sebenarnya rindu pada sahabatnya itu. Namun, malu juga karena dia dari kampung. Takutnya keluarga Estu tidak bisa menerima dengan terbuka, sama seperti bayangan Kinasih kalau orang kaya itu biasanya pilih-pilih untuk menerima kunjungan.
***
"Selamat sore anak mami yang paling ganteng!" tiba-tiba pintu terbuka dan suara ramai menyambut begitu aneh. Padahal itu hanya satu orang, tapi begitu meriah.
Mengapa aneh?
Iya lagi-lagi Kanjeng Mami menunjukkan kelakuan seperti anak kecil. Kini dia membawa dua balon terbang, ke kantor untuk Estu.
Dengan cerianya dia berjalan langsung menuju kursi Estu.
__ADS_1
Kinasih yang sedang berdiri memijat Estu di belakangnya ikut heran juga, buat apa Kanjeng Mami bawa balon warna biru dan merah?
"Anakku sayang, ini untuk kamu. Masih ingat kan kamu itu suka sekali balon kalau pulang sekolah?" Kanjeng Mami sangat lembut pada Estu, benar-benar seperti memperlakukan anak kecil.
Estu hanya terbengong melihat kelakuan Maminya, ini kan di kantor. Sebentar lagi memang Estu pulang, tapi bukan pulang sekolah.
Mungkin Kanjeng Mami akan terus mengingatkan kenangan-kenangan Estu dari masa kecilnya, sebelum Estu benar-benar dinyatakan sudah pulih ingatannya.
"Nak, kamu mau yang mana. Coba ambil," ucap Kanjeng Mami memberikan dua balon berwarna merah dan biru itu.
"Tapi buat apa Mi?" tanya Estu, dia tidak tahu harus memilih atau tidak. Karena tidak tahu harus diapakan balon itu setelah dipilih.
"Pilih aja dulu. Ini, Mami hanya ingin tahu kamu memilih yang mana."
Estu menarik nafas, akhirnya dia memilih balon dengan warna biru.
"Kenapa kamu milih warna biru?" tanya Kanjeng Mami.
"Estu juga bingung alasannya kenapa, Mi." Dia bicara sambil sedikit mengerutkan keningnya, lalu mencari alasan yang menurut dia tidak menyinggung Kanjeng Mami. Dan tiba-tiba dia memberikan warna merah pada Kinasih.
"Biar warna merah buat Kinasih aja, Mi," ucap Estu lagi.
"Nah, persis! Ini persis sekali. Ini yang kamu lakukan dulu saat masih kecil, Mami kasih balon terbang seperti ini. Kamu udah mulai ingat kan?"
Estu bingung. Sebenarnya apa yang sedang Kanjeng Mami bahas? Ingat apa lagi?"
"Mami apa-apaan sih membawa balon ke kantor?" tegur Kanjeng Papi.
Mami Desi yang berada di dekat Estu berjalan ke arah suaminya, sambil berkata. "Papi nggak tahu sih, soalnya nggak pernah nganter Estu ke sekolah dulu."
Kanjeng Mami duduk di sebelah suaminya kemudian menjelaskan. Dia sedang melakukan terapi pemulihan untuk mengembalikan ingatan Estu.
Dan Kanjeng Mami memulai terapi itu dari saat Estu masih kecil. Makanya Kanjeng Mami mengulang momen yang kira-kira berkesan untuk Estu, untuk memancing ingatannya kembali.
"Tapi apa hubungannya dengan balon? Dia udah gede, Mi. Memang dokter menyuruhnya seperti itu ya?" tanya Kanjeng Papi penasaran. Bagaimana kemarin hasil konsultasi dengan dokter?
__ADS_1
Bersambung....