Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Pesaing Berat


__ADS_3

Bab26


Kanjeng Mami juga menyambut Kanjeng Papi yang baru datang, dia membawa tas kerjanya lalu menggandeng Kanjeng Papi ke kamar untuk dilayani mempersiapkan mandi sorenya.


"Malam ini tidak ada acara?" tanya Kanjeng Mami.


"Tidak Mi."


"Nanti pukul setengah delapan kita kumpul di ruang keluarga, ada yang harus dibicarakan."


"Tentang apa?"


"Tentang anak kita yang baru pulang."


"Oh... dia sudah kembali?" tanya Kanjeng Papi seakan bukan sesuatu hal yang besar.


"Iya, semalam. Namun Papi belum pulang, kemudian saat Estu tidur barulah Papi pulang. Jadi Mami belum sempet menyampaikan ini."


"Bagaimana keadaannya?"


"Dia amnesia, tapi tadi Mami sudah bawa ke rumah sakit dan konsultasi sama dokter."


"Oh... jadi wanita itu adalah yang dibawa Estu dari kampung?"


Kanjeng Mami mengerti atas apa yang ditanyakan Kajen Papi, pasti membahas Kinasih. Lalu Kanjeng Mami juga bertanya apakah Kanjeng Papi sudah mengetahui Kinasih.


Papi Hestama menceritakan dia sempat bertemu tadi pagi saat akan menikmati tehnya, Kanjeng Papi langsung memuji Kinasih, katanya dia anaknya manis dan membawa aura yang menyenangkan di sini.


"Jangan berlebihan memuji wanita lain, Pi," tegur Kanjeng Mami.


"Tidak mungkin Mami cemburu kan?" Kanjeng Papi balik bertanya.


Lalu Mami Desi menjelaskan bukan perihal dia yang cemburu. Namun, di sini ada Keken, wanita sebaya Kinasih yang tentunya harus lebih butuh perhatian keluarga Hestama, karena dia adalah calon menantu mereka.


Jika Papi Hestama terlalu perhatian kepada wanita lain, takutnya menyinggung Keken dan merasa tergeser sebagai anak perempuan yang disayang di keluarga ini. Karena memang keluarga Hestama tidak memiliki anak perempuan..


"Oh.… begitu maksudnya z tenang aja. Keken kan wanita dewasa, pemikirannya tidak akan sependek itu. Dia pasti mengerti.


"Ya udah mandi dulu, udah disiapkan air hangatnya dan handuk serta piyama di dalam kamar mandi," ucap Mami Desi setelah selesai melepas sepatu Kanjeng Papi, melonggarkan dasi dan membuka kemeja.


Begitulah karakter Papi Hestama, dia bukan tak peduli atau tidak peka terhadap keluarganya. Namun, pemikirannya simple, jika sudah terjadi, ya sudah. Memandang sesuatu masalah dengan tenang.

__ADS_1


Maka saat mendengar Estu pulang pun, tidak bereaksi seakan seorang ayah yang sangat amat merindukan anaknya. Sehingga Papi Hestama harus bersikap berlebihan, terharu dan menghambur pada anaknya.


Memang benar, seorang orang tua pasti akan antusias pada anaknya yang selamat setelah kecelakaan. Akan tetapi karakter orang beda-beda.


Bagi Papi Hestama, jika anaknya udah di rumah, selamat, sehat, malah sudah Konsul ke dokter juga, ya udah. Bersyukur.


Mungkin, Papi bisa disebut kaku, tapi dia tidak jutek apalagi kasar.


***


Estu keluar dari kamarnya, dia pegal dari tadi hanya di kamar terus, makan sore dan obat pun sudah dia lakukan.


Estu ingin jalan-jalan di sekitar rumah, dia tidak tahu mana keluarganya mana asisten rumah tangga. Sebab yang sering dia temui adalah orang-orang yang berpakaian sederhana sedang melakukan aktivitas, ada yang menyapu, ada yang mengerik tembok yang sudah kena lumut, ada yang lap jendela walaupun terlihat masih bersih.


Bukan maksud membedakan para pekerja dan majikan, hanya karena pakaian yg dikenakan. Namun, maksud Estu adalah, memang terlihat kentara sekali di sini.


Pakaian yang digunakan chef adalah seragam putih.


Security putih, biru, coklat, kadang hitam. Sedangkan tukang kebun bebas, hanya biasanya mereka menggunakan sepatu boots.


Para pelayan di Wastu Hestama memang sangat loyalitas, meskipun sudah sore mereka tidak leha-leha. Karena dalam aturan waktu kerja itu dari pukul 07.00 sampai pukul 04.00.


Namun, dari pukul empat sampai waktu tidur jika para karyawan tetap bekerja, loyalitas dan tetap akan ada uang tambahan. CCTV memang terpasang di mana-mana bukan untuk mengontrol para pelayan kerja, tapi untuk keamanan tentunya.


Makanya pelayan merasa tidak rugi jika kerja di sana, sedikitpun kelebihan waktu mereka pasti akan dihargai entah itu dari uang tambahan, entah itu dari hadiah barang. makanya rumah itu selalu terlihat rapi, bersih kinclong, seakan tak ada debu satupun menempel di dinding kaca, tembok, tanaman hias, bahkan taman pun seakan tidak berubah diterpa angin.


Batu kerikil yang masih di tempatnya, tanaman-tanaman pot yang selalu berdiri, tidak miring. Jika ada yang jatuh selalu langsung di perbaiki, cat-cat yang sudah memudar langsung dicat kembali. Seperti itulah kurang lebih aktivitas para karyawan di sana.


"Tuan. Kenapa keluar? Nanti kotor kena cipratan lumut," ucap Kang kebun yang sedang mengerik tembok karena lumutnya sudah tebal.


"Tidak apa-apa Pak. Pengen lihat aja," ucap Estu yang berdiri dekan Kang kebun.


Tukang kebun tersebut jadi canggung kalau dilihat seperti itu oleh majikannya. Dahulu Estu tak pernah keluar cuma-cuma seperti itu. Kegiatannya memang benar-benar dari kamar ke kantor - kamar ke kantor - kamar ke kantor, seperti itu melulu. Ruangan lain tidak pernah dia injak jika tidak ada perlu banget.


***


"Mbak. Tahu suami saya?" tanya Keken kepada para chef di dapur, termasuk Kinasih yang ada di sana ikut menoleh.


Kinasih langsung bergumam, "Suami?" Namun, sayangnya gumamnya terdengar.


"Iya Kinasih, Den Estu itu calon suaminya Dajeng Keken," ucap Marni memberitahukan.

__ADS_1


"Benar kata Mbak Marni, Kinasih. Mas Estu itu calon suami saya. Biar terbiasa aja manggil suami dari sekarang," ucap Keken dengan senyum memesona.


Tutur Keken memang sangat lembut, tidak berhak sepatunya Kinasih untuk membencinya karena menjadi rival merebutkan Estu.


Meskipun sebenarnya Kinasih tadi bergumam suami, bukan merasa heran. Karena tentunya bukan hal aneh lagi di rumah itu semua sudah tahu bahwa Keken ada calon istri dari Estu.


Tadi Kinasih refleks saja, secara pribadi terkejut. Bahwa suaminya disebut suami oleh wanita lain.


"Tadi sepertinya keluar Dajeng," ucap Mbak Marni.


"Keluar ke mana sore-sore begini?"


"Tadi sih saya lihat ke samping rumah, mungkin melihat-lihat beberapa hewan di sana," jawab Marni lagi.


"Baiklah, makasih Mbak," ucap Keken dengan senyum tak pernah lepas dari bibirnya, dia sepertinya orang yang selalu ceria. Pantas saja orang-orang bakal nyaman jika dekat dengannya.


Kinasih terus melihat kepergian Keken, tanpa sadar para pelayan memperhatikannya.


"Eh, Kinasih ada apa? Jatuh cinta ya sama Mbak Keken?" kami juga aneh, suka sekali kalau melihat Mbak Keken, adem dilihat.


"Loh kok gitu?" tanya Kinasih.


"Iya, Mbak Keken memang cantik, ngobrolnya lembut, ceria, pintar lagi. Kami itu senang kalau melihat wajah Mbak Keken, terpancar cahaya gtu, bikin kurang betah memandang."


"Oh...." Kinasih manggut-manggut.


"Kok responnya gitu? Nggak suka ya?"


"Enggak apa-apa. Kenapa harus nggak suka? Cuman baru tahu aja karakter Mbak Keken. Kan aku di sini baru beberapa hari," kilah Kinasih.


Keken melanjutkan pekerjaannya membantu menyiapkan makan untuk nanti pukul 07.00 malam. Namun dalam pikirannya masih terbayang keresahan takut Estu berpaling darinya.


'Wanita aja nyaman jika dekat Keken, apalagi pria?' pikiran Kinasih mulai ke mana-mana.


Bersambung


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2