
Kemala yang mendapat omelan dari Estu, dia malah tertawa lirih, semua giginya dia tunjukkan malah merasa senang Estu bicara begitu banyak.
"Hah dasar gadis aneh," ucap Estu, dia langsung masuk pada mobilnya.
Namun, siapa sangka Kemala nekat langsung menghadang pintu yang akan ditutup oleh Estu, Untung saja Estu, belum menutupnya secara dibanting dengan keras. Coba Andai pintu itu sudah dibanting dengan keras mungkin tangan Kemala bisa memar.
Estu menarik nafas panjang dia merasa heran dengan kelakuan gadis. Dibiarkannya Kemala ikut untung atasnya masih mengenakan sweater namun begitu tetap saja kelihatan dia adalah gadis SMA karena bawahnya masih menggunakan rok abu-abu dan sepatu sekolah biasa.
***
Sementara itu Bagas sudah berada di sebuah swalayan akan menyebut Kinasih tentunya bersama Kanjeng Mami dan Keken namun Mami Desi mengkhususkan Bagas untuk menjemput.
"Memang Mami tidak ikut pulang?" tanya Bagas.
"Kamu antar dulu aja Kinasih, ke salon. Mami sama Keken masih banyak urusan di sini, nanti setelah selesai, jemput kami di sini lalu ke salon lagi."
"Apa harus bolak-balik gitu, sih Mi," protes Bagas.
Kanjeng Mami menjelaskan bahwa sebenarnya bukan tujuan bolak-balik, hanya saja karena Kinasih perawatannya harus memakan waktu lama, secara dia kan baru beberapa kali perawatan di salon, mungkin terbilang satu kali kalau perawatan full. Kemarin anggap saja hanya pemanasan, karena waktunya mepet jadi belum maksimal untuk perawatan.
Akhirnya Bagas ikut saja apa kata maminya. Dia meninggalkan Mami Desi dan Keken di swalayan tersebut, kemudian mengantar Kinasih ke salon langganan Mami Desi.
Selama perjalanan tidak ada perbincangan Kinasih dan Bagas, bukan tidak ada pembahasan karena adanya pembicaraan dari mami Desi tentang perjodohan sepihak, mereka malah jadi canggung antara Kinasih dan Bagas seakan sedang bermusuhan.
Bagas merasa tidak enak kepada Kinasih karena maminya salah paham, Kinasih juga merasa bersalah, namun entah bersalah karena apa, yang pasti sama-sama tidak enak.
Saat di sebuah pertigaan lampu merah jalanan mendadak macet karena ada mobil mogok, saat mau belok di pertigaan.
"Ini sudah dekat belum ya, Mas?" tanya Kinasih, maksudnya kalau sudah dekat lebih baik dia jalan saja.
__ADS_1
Perjalanan sudah cukup lama dari swalayan menuju salon, Kinasih pikir sudah semakin dekat ke salon. Maka, daripada menunggu macet lama dan panas lebih baik Kinasih akan turun tadinya.
Namun, Bagas mengatakan lumayan jauh apalagi dengan cuaca panas seperti ini. Akhirnya Kinasih dengan berusaha sabar menikmati kemacetan yang ada, lama-lama tidak nyaman juga, meski ada AC, tapi sejuknya berbeda, berasa kurang oksigen. Akhirnya Kinasih membuat kaca pintunya.
Tanpa disengaja Kinasih menoleh keluar. Namun, konk dengan kaca yang tertutup karena refleks menemukan sesuatu yang mengganggu. Dia melihat mobil Estu di dekatnya.
Posisi mobil Bagas dan mobil Estu hanya terhalang satu mobil lainnya, sehingga Estu tak menyadari ada mobil Bagas di sana, begitu pun Bagas tak menyadari adanya mobil sang adik.
Terlebih mobil Estu dikendarai oleh sopir, sedangkan mobil Bagas dibawa oleh sendiri, sehingga bahas tidak fokus menoleh kanan kiri, dia hanya fokus ke depan. Saat nanti jalan mulai lancar, maka akan segera melaju.
Sedangkan Estu sibuk dengan Kemala yang bawel terus.
"Mas Estu sama siapa?' batin Kinasih saat melihat Estu, seperti sedang bercengkrama dengan seseorang yang menggunakan sweater biru.
Posisi mereka, sebelah sisi Kinasih adalah Estu jadi Kinasih seharusnya bisa melihat jelas siapa wanita yang duduk bersama Estu, karena di menghadap pada sisi Kinasih. Namun, dia lupa bahwa itu Kemala. Karena saat itu tidak bertemu dengan intens.
Kinasih datang waktu itu, saat membersihkan air dan minuman yang tumpah. Sehingga Kinasih fokus kepada perintah dan membersihkan lantai. Sehingga tidak ingat dengan Kemala.
Nah, saat Estu membekap mulut Kemala, kebetulan dilihat oleh Kinasih, seperti sepasang kekasih atau dua orang yang memiliki hubungan dekat dan begitu akrab.
'Mas ... bisa-bisanya mencuri waktu di belakangku. Kamu kepada Mas Bagas aja cemburu, tapi sendirinya malah sama orang lain, belum lagi Keken yang dikhianati kamu, Mas. Sebenarnya Mas Estu itu menjaga hati siapa sih? Menjaga hatiku atau hati Keken? Ternyata malah ada hati wanita lain sedang dipermainkan,' Kinasih merasa marah, dadanya mendidih, pikirannya kalut.
Ingin emosi tapi tidak tahu cara mengeluarkannya, yang pasti saat melihat adegan itu, Kinasih tidak bisa berpikir jernih, tiba-tiba mood-nya berubah.
Kinasih membawa air mineral satu botol yang tersedia di sana. Lalu diteguknya sampai habis.
Bagas yang melihat itu merasa keheranan. Ada apa wanita ini? Masa kehausan sampai sebegitunya, seperti di padang pasir saja, satu botol air mineral berukuran 250 ml, habis tak tersisa.
Wajah Kinasih menatap ke depan dengan sedikit ditekuk, nafasnya sedikit kasar dan ritme cepat, itu yang dilihat oleh Bagas.
__ADS_1
Bagas tidak bisa banyak bertanya pada Kinasih, dia masih persiapan fokus ke depan, takutnya jalan mulai lengang lalu dia tersalip oleh kendaraan lain di belakangnya.
Kinasih sedikit melirik ke samping, ke arah mobil Estu. Sebenarnya tidak ingin melihat. Namun, penasaran terus membujuk agar menengok lagi danagi. Tapi saat dilihat makin panas perasaan.
Kesekian kali Kinasih melirik pada sisi mobil Estu, dia melihat wanita itu keluar dari mobil Estu dan....
"Hah? Dia memakai rok abu-abu? Masih sekolah? Berani-beraninya Mas Estu, pantas saja tadi pagi pergi ke kantor lupa pamitan, ternyata dia tergesa- gesa menemui daun muda buat selingan. Masa hanya kejadian semalam, Mas Estu melampiaskan pada OSIS, nggak punya malu sungguh, nggak punya perasaan,' oceh Kinasih dalam hatinya.
"Mas Bagas, ayo!" seru Kinasih padahal kendaraan di depan baru bergerak pelan, belum saatnya mobil Bagas berjalan, bisa-bisa nubruk.
"Mas ... ayo cepetan! Iyu udah pada maju loh," ucap Kinasih sekali lagi.
Bagas semakin heran. Ada apa dengan Kinasih? Seperti yang terburu-buru, dia kan tahu kendaraan di depan saja masih bergerak perlahan.
"Ih ... lama banget, sih. Ini kan sudah bisa bergerak perlahan Mas, nanti ke salip sama mobil lain, loh," omel Kinasih lagi-lagi tak sabaran.
"Sabar ... Kinasih. Ada apa sih? Kok tiba-tiba mood-nya buruk?"
"Nggak tahu," ucap Kinasih malah makin bingung, bibirnya cemberut, kedua tangannya bersedekap, matanya menatap lurus ke depan.
Bagas bertanya-tanya dalam hatinya. Kinasih seperti yang sedang marah sama pacarnya, tapi masa iya dia marah padaku? Tapi kan aku bukan pacarnya atau suaminya pun bukan. Kenapa tiba-tiba marah? Bagas merasa kebingungan. Ada apa dengan Kinasih?
Akhirnya Bagas bisa melajukan mobilnya. Namun, baru saja beberapa meter, sebuah motor menyalip di depan hingga Bagas tidak bisa leluasa lagi untuk bergerak. Jadi motor itu ada di tengah-tengah mobil Bagas dan di depannya mobil orang lain.
"Ih... Mas Bagas lelet sih.... Dibilangin juga dari tadi suruh cepetan." Kinasih makin merasa kesal, dia menggoyang-goyang lengan Bagas seperti anak kecil
Bagas melihat ke arah Kinasih, juga ke arah tangannya yang masih menggoyang-goyang lengan dirinya. Dahi Bagas mengkerut, sungguh heran prilaku Kinasih tiba-tiba berubah. Jangan-jangan dia memiliki kepribadian ganda lagi?
"Iya-iya, sabar Kinasih. Kalau kaya gini, aku malah jadi panik nih, sama kamu di buru-buru terus."
__ADS_1
bersambung