
Bab 46
Yang belum baca novel, "Oh ... bunga lain CEO." Mampir ya, selagi nunggu judul ini tayang bab berikutnya. Makasih....
______
"Maaf," ucap Kinasih yang kini sudah menutupi tubuhnya dengan selimut.
Mereka saling diam sejenak. Mengapa Kinasih yang meminta maaf? Bukankah mereka telah menikmati bulan madu yang sempat tertunda?
Mereka sepasang suami istri, hanya karena belum ada kata persetujuan dari pihak suami, hubungan itu seakan gelap. Padahal bagi seorang lelaki bisa dikatakan sah walau menggunakan wali hakim.
Estu mengusap rambutnya secara kasar, tubuhnya yang mengkilap di tengah kamar remang terlihat, karena keringat dari usahanya untuk menjebol pertahanan yang selama ini Kinasih jaga.
Es tuh menarik nafas. Dia masi duduk di tepi ranjang, melampiaskan kecewanya.
"Sudahlah," ucap Estu singkat. Lalu memungut pakaiannya yang teronggok di lantai. Masih sempat mengenakan pakaian dan celananya sebelum keluar.
"Mas, jangan marah," ucap Kinasih sebelum Estu benar-benar keluar.
"Tidak," ucap Estu sambil berlalu, dia sempat menekan tombol lampu menyala.
Estu keluar, lalu menutup pintu dengan pelan. Dia masih sadar, di tengah rasa dongkolnya bahwa takut membangunkan seseorang jika suara pintu ia banting.
Iya, Estu sebenarnya ingin membanting pintu itu. Namun, tidak perlu ada yang disalahkan juga. Estu juga berpikir ini tidak salah, cuman hanya kebodohan saja.
Siapa yang bodoh? Mungkin keduanya.
Sementara itu di dalam kamar Kinasih menangis sesenggukan setelah kepergian Estu. Dia masih menutup tubuhnya yang tanpa pakaian dengan selimut.
"Maafkan aku Mas," hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Kinasih.
Kinasih gelisah, dia memejamkan matanya pun tidak bisa, kini tubuhnya sudah ditutup pakaian lengkap seperti semula..
Kinasih membayangkan adegan yang baru saja terjadi dengan suaminya, sesuatu hal yang indah. Namun, menyisakan kecemasan sehingga malam indah itu tidak sepenuhnya membuat bahagia.
Di tengah gelisahnya Kinasih Akhirnya bisa memejamkan mata, mungkin lelah karena menangis, hingga kantuk akhirnya menyerang.
***
Sementara itu di dalam kamar lain, sama halnya dengan Kinasih. Esu berguling ke sana kemari di tempat tidurnya, tidak bisa dengan tenang untuk beristirahat.
Padahal besok ada proyek yang mau dia kerjakan dan itu di kantor pusat, bersama seluruh direktur kantor cabang termasuk Bagas dan Papinya.
__ADS_1
"Aku bisa menerima hal ini, tapi sebagai pria tetap saja merasa harga diri ini tak ada," gumam Estu.
Berkali-kali Estu mengusap rambutnya, lalu dihempaskan tanga dengan kasar, Ingin rasanya mengulangi adegan tadi.
"Suatu saat tidak akan seperti itu lagi, aku janji sekuat tenaga akan ku ambil hakku," ucapnya.
Iya, harga diri seorang pria terutama seorang suami adalah, saat ia tidak bisa menguasai nafsu dan melampiaskannya dengan benar.
Ada yang mengatakan jika lelaki tidak bisa menuntaskan hasratnya, maka akan menjadi penyakit terutama stres berat.
***
Tok!
Tok!
Tok!
"Estu! Bangun, sudah siang, Papi sebentar lagi turun loh!" seru Kanjeng Mami, dia mengetuk pintu Estu karena masih terdengar sepi dari dalam kamarnya.
Biasanya terdengar pergerakan dari dalam. Apakah suara keran air, orang berjalan atau beberapa benda bergerak. Karena mungkin Estu sedang beraktivitas, tapi ini tidak.
Kanjeng Mami mencoba menekan handle pintu dan ternyata pintu kamar Estu tidak dikunci.
"Ya ampun.... Kenapa masih tidur?" ucap Kanjeng Mami dengan nada lembut, dia membuka gorden kamar agar matahari bisa masuk dan membantu Estu untuk bangun.
"Tapi ini sudah siang, sayang. Tidak biasanya kamu bangun siang," ucap Kanjeng Mami sambil menarik selimut dan langsung dilipatnya.
Sambil merapikan beberapa barang di kamar Estu, Kanjeng Mami mengomel meskipun omelannya bukan seperti ibu-ibu pada umumatau yang harus berteriak atau pun sambil marah-marah.
"Mami tidak habis pikir, kamu tidur jam berapa semalam? Mami ke sini kamu tidak ada. Tidur di mana?"
Kicauan seperti itulah masih berlanjut saat Mami Desi berada di kamar mandi, menyiapkan air untuk Estu, mulutnya tak pernah berhenti bersuara.
Dilanjutkan mengambil pakaian untuk Estu, apalagi ini hari sudah siang, jangan sampai semakin terlambat karena lama dalam mempersiapkan.
"Ya ampun... belum bangun juga," tegur Mami Desi. Dia menghampiri anaknya dan membuat anaknya bangun dengan cara mengecup pipinya berkali-kali.
Alhasil Estu merasa risi, karena mendapat kecupan bertubi-tubi dari Maminya, bukan perkara menjijikkan atau tidak nyaman dicium oleh maminya sendiri, hanya saja dia merasa itu terlalu berlebihan. Dirinya bukan anak kecil lagi.
"Kamu mirip sekali saat kamu SMP, susah bangun. Mami cium kayak gitu, kamu langsung menepis-nepiskan tangan."
Mami Desi mulai menghubung-hubungkan kebiasaan Estu sejak kecil, yang menandakan bahwa ingatan Estu sudah semakin pulih.
__ADS_1
Estu akhirnya bangun, dia segera menyambar handuk yang tergantung di samping pintu menuju kamar mandi.
Kanjeng Mami hanya geleng-geleng kepala, selagi Estu mandi dia menyiapkan tas kerja anak bungsunya. Kanjeng Mami tahu perlengkapan apa yang harus dibawa. Maka Kanjeng Mami mengeceknya, sehingga Estu nanti benar-benar langsung berangkat ke kantor tanpa persiapan lagi.
Kanjeng Mami Memang tidak mengurus pekerjaan kantor, tapi dia tahu dengan detail urusan kantor, karena sering berbincang dengan suaminya.
"Semalam Kamu tidur di mana, Estu?" anya Kanjeng Mami, saat Estu sudah keluar dari kamar mandi.
"Di sini, Mi. Di mana lagi?" jawab Estu, sambil mengenakan pakaiannya.
"Mami waktu semalam ke kamar, tidak ada."
"Aku hanya mencari angin segar saja mah di atas, lalu balik lag ke sini." Dengan asal, Estu menjawab.
Maksud Estu dia pergi ke lantai dua, di balkon tempat gym untuk menghirup udara segar.
"Ya udah ayo, Papi pasti sudah ada di meja makan."
Kanjeng Mami menggandeng tangan Estu untuk bersama-sama ke meja makan, sarapan seperti biasa.
Di sana sudah terlihat Kinasih. Namun, penampilannya sungguh berbeda, dia menggunakan .
Kanjeng Mami menegurnya, seperti di kutub utara saja, kenapa harus menggunakan syal?
Kinasih menjelaskan bahwa dia sedang tidak enak badan kemarin pulang kesorean langsung mandi ditambah sekarang cuacanya juga mendung kebetulan sekali buat Kinasih untuk mendukung alasannya.
"Ya sudah tidak apa-apa, kamu tetap berangkat ikut Mami," ucap Kanjeng mami.
Estu hanya melirik pada Kinasih, dia tidak menyapanya. Terlebih tempat duduknya memang jauh. Maksudnya Kinasih duduk berseberangan dengan baris kursi yang ditempati oleh Bagas.
Namun, tetap saja Estu tidak suka. Karena sudah ada cangkir teh di depan Bagas. Estu pikir pasti Kinasih yang membuat.
Dan meskipun di samping Kinasih kursinya kosong, tapi Estu tidak duduk di sana. Dia duduk di samping Bagas, sedangkan Kanjeng Mami di samping Kinasih.
"Nanti kamu ikut Mami ke butik, biar tahu fashion. Jika kamus sedang tidak enak badan, tidak harus pakai syal kaya gitu, kaya nenek-nenek saja."
Lagi-lagi ucapan Kanjeng Mami yang menusuk hati, tapi memang benar adanya.
"Bagas, nanti jemput Kinasih ya, saat makan siang."
Uhuk!
Uhuk!
__ADS_1
"Pelan-dong Estu, makanya." Kanjeng Mami beranjak, menepuk-nepuk punggung anaknya, yang sebenarnya tersedak karena ucapan Mami Desi lada Bagas, untuk Kinasih.
Bersambung....