Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Bab 22 Sekolah TK


__ADS_3

Bab 22


...Kisah ini tidak terlalu berat konflik ya. Ini adalah novel lomba dengan tema Kekasih Ideal. Jadi Otor kasihnya kebanyakan sweet aja. Eh tapi, sweet bukan berarti 21++ ya ... hehe. ...


...Yang mau cerita sarat konflik, di novel satunya dengan judul - Oh ... Bunga Lain CEO - silakan mampir. ...


***


Estu seperti anak kecil saja yang mengikuti kemanapun maminya pergi. Sebenarnya dia Bukan menurut, tetapi masih sungkan. Estu merasa Mami Desi adalah orang lain. Sehingga dia harus sopan, mungkin kalau Estu sudah ingat bahwa Mami Desi adalah benar Maminya, Estu pasti akan berontak, dia tidak suka jika diatur-atur.


Rupanya Mami Desi membawa Estu, ke sebuah gedung. Terlihat murid-murid berseragam TK, tidak tahu apa tujuan Kanjeng Mami bawa Estu ke sana.


"Ayo turun," ajak Kanjeng Mami yang sudah keluar terlebih dahulu. Dia melongok dari pintu mobil yang terbuka.


Estu hanya mengernyitkan keningnya, dia melihat ke sekeliling dan bertanya dalam hatinya. Sekolah taman kanak-kanak? Untuk apa mereka ke sini? Apakah Mami Desi mengajar di sana? Atau donatur? Atau bisa juga pemilik yayasan. Bukankah keluarga Hestama kaya raya, jadi mereka banyak menyumbang dana di beberapa instansi. Itu yang ada di pikiran Estu.


Dalam penglihatan Estu, orang-orang di sana menyambut Mami Desi dengan sopan. Mereka berjabat tangan dengan sedikit membubuhkan badan dan senyum yang ramah.


Sudah jelas Mami Desi memiliki pengaruh di sini, batin Estu.


Namun, kenapa Mami Desi tidak ikut mereka ke dalam gedung? Malah mengajak Estu ke kantin.


"Aku pikir, Ibu... Em, maksudku Mami ada perlu ke sini. Tapi kenapa ke kantin?" tanya Estu.


Mami Desi menjelaskan, memang dia ada perlu di sana, tapi bukan dengan orang-orang kantor yayasan tersebut.


"Lantas?" tanya Estu penasaran.


"Udah... kamu ikut Mami aja," ajak Mami, kemudian menarik tangan Estu seperti anak kecil. Tangannya tak pernah lepas dari genggam Maminya.

__ADS_1


"Saat kita berjalan, kamu coba lihat-lihat ya sekitar sini. Amati saja," pinta Mami.


Estu hanya mengangguk saja, dia tak paham apa yang harus diamati. Namun, Estu ikut saja apa kata Maminya. Dia melihat banyak anak-anak bermain di tepi kolam ikan dan beberapa anak yang memancing di kolam itu, lalu dilepas lagi. Melihat ada anak yang berantem juga, semakin bingung ini kejadian biasa di sebuah sekolah anak kecil. Apa yang harus diperhatikan?


Kemudian Estu melihat Maminya berbicara dengan pemilik kantin dan memesan makanan. Kini Estu dan Maminya sudah duduk di kursi yang dipilihnya. Sepertinya mereka mau makan siang, tapi kenapa harus di kantin sekolah? Tidak di mall, rumah makan atau pulang aja sekalian. Itu pikiran Estu, dia sudah rindu sekali pada Kinasih. Entah bagaimana nasib istrinya itu. Takutnya Kinasih tidak nyaman, lalu dia merasa sedih.


"Ayo makan," pinta Mami Desi setelah pesanan ada di depan mereka.


"Ini apa Mi?" tanya Estu sambil mengaduk-ngaduk makanan yang ada di depannya.


"Itu adalah makanan pertama kamu saat baru masuk TK ini," jawab Mami Desi.


Estu mengernyitkan kening lagi. Apa tujuannya diberi makanan anak kecil? Sedangkan sekarang lidahnya sudah berbeda. Tentu saja tidak akan suka makanan seperti itu.


Mami Desi menjelaskan, bahwa waktu dulu pertama masuk TK, Estu tidak sempat sarapan. Namun, karena sangat antusias menjadi siswa baru, Mami Desi tetap berangkat walau sudah cukup telat.


Ternyata di sekolah kalau hari pertama tidak langsung belajar, hanya perkenalan. Sehingga masih banyak waktu untuk sekedar mengisi perutnya. Karena itu Mami Desi mengajak Estu pergi ke kantin. Saat itu usia Estu baru tahun.


Estu sampai bertanya-tanya. Apa benar Estu kecil dahulu masih suka bubur bayi? Bukankah usianya sudah lima tahun, masih suka makanan bayi. Aneh.


Seperti halnya saat ini sebelum berangkat ke rumah sakit, tadi Mami Desi sudah mempersiapkan satu bungkus bubur bayi kacang ijo untuk di bahwa. Karena feeling dia ini nanti akan berguna.


Tadinya kalau diagnosa dokter parah, Mami Desi akan meminta Estu untuk dirawat di rumah sakit saja. Namun, ternyata hilang ingatan Itu hal normal yang biasa terjadi dalam benturan kepala karena kecelakaan


Maka Mami Desi ingin cepat memulihkan Estu, yaitu dari hal terkecil mengingatkan masa kecil Estu, makanan kesukaannya.


Masa-masa di TK itu adalah tujuan Mami Desi cara awal memulihkan ingatan Estu, meskipun terkesan seperti lucu, sih. Padahal Mami Desi tidak perlu melakukan hal itu.


Estu sudah dewasa, tentu saja untuk mengingat ingatannya yang lebih mempan adalah kenangan-kenangan yang berharga dalam hidupnya saat dewasa. Jangankan sedang hilang ingatan, kita yang normal saja kadang lupa masa kecil kita. Jika pun ingat hanya beberapa yang benar-benar berkesan dan menempel diingatan.

__ADS_1


"Tapi lidahku tidak terbiasa, Mi," ucap Estu berusaha menolak makanan itu dengan sopan.


"Itu makananmu dulu, pasti sekarang masih enak. Itu kesukaanmu banget, jika tidak ada bubur itu kamu tidak akan makan. Bahkan jajan juga nggak mau, diganti makanan lain juga nggak mau, sarapan harus pakai itu.


Coba aja sedikit, seujung lidah." Mami Desi masih tetap memaksa.


"Apakah tidak boleh makanan lain, Mi? Estu jadi lapar beneran udah siang gini," pinta Estu.


"Nah ... berarti itu kamu kangen makanan kesukaan, jadi lapar kan? Ayo makan."


Mami Desi memang benar-benar kocak. Padahal anaknya lapar itu memang hari sudah siang, bukan tergugah karena ingat saat dia kecil, merasa makanan bubur bayi itu mengingatkan selera makan yang selalu lahap jika diberi bubur bayi kacang ijo.


Itulah Mami Desi, wajahnya seperti ketus, tapi sebenarnya hatinya baik. Hanya saja dia sedikit nyeleneh dan bawel.


Mami Desi kemudian mengupas apel lalu membuatnya menjadi potongan kecil-kecil. dicoleknya pada bubur bayi kacang ijo itu, lalu dipaksanya Estu suruh makan langsung dari tangan maminya sendiri. Mau tidak mau Estu membuka mulutnya, tidak mungkin dia debat di tempat umum seperti itu.


"Tapi satu kali aja ya Mi, Estu mending jajan bakso emak-emang itu," ucap Estu, menunjuk tukang bakso yang sedang mangkal di luar gedung sekolah.


"Nah... ini nih. Kamu pernah kayak gini dulu, waktu kecil gara-gara nyobain pentol jadi tidak mau makan bubur kacang ijo ini. Kamu juga bilang gini, cobain sekali aja tapi nanti setelah itu mau jajan pentol si Mang yang di depan. Berarti ingatan kamu sudah mulai kembali. Buktinya ingat saat kamu di TK ini, kan?"


Huft... Estu menarik nafas, merasa lucu memiliki Mami seperti ini. Apakah dia Mami sesungguhnya? Estu bertanya - tanya dalam hati.


Tadi apa kata Mami Desi? Ada yang diingat? Malah tidak ada yang diingat sama sekali, bahkan ini sekolah TK pun dia nggak paham seluk-beluknya, benar-benar tidak merasa pernah ke sini. Yang pasti Estu benar-benar lapar.


Dasar Mami Desi yang aneh juga, dia seorang ibu dari dua pemuda yang sudah dewasa, tapi kelakuannya masih saja kocak.


Akan tetapi, Mami Desi tetap memenuhi keinginan Estu. Setelah satu suap apel yang dicocol pada bubur bayi kacang ijo, Mami Desi langsung beli bakso yang ada di depan gerbang sekolah tersebut.


Bedanya dulu waktu Estu TK, dia hanya meminta jajanan pentol biasa yang sering kita tahu cilok. Kalau ini bakso beneran. Pikiran Mami Desi mungkin karena beda generasi. Jadi sekarang milihnya bakso, bukan pentol lagi. Yang penting ingatan Estu sudah mulai kembali perlahan. Itu pikiran Mami Desi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2