Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Tidak Memiliki Peran


__ADS_3

Bab 30


Drama makan malam itu masih berlanjut, beberapa kali saat Kinasih akan membawa lauk berbarengan dengan Estu membawa lauk juga, hingga tangan mereka beradu dan itu membuat Keken cukup terganggu. Sepertinya Estu dan Kinasih seperti pasangan yang kompak. Serasi.


Tidak ada percakapan saat makan, yang terlihat justru kegugupan Kinasih serta beberapa keteledoran Estu. Saat estu menjatuhkan sendok, saat membawa satu potong ayam goreng, namun ternyata membawa yang nempel hingga jatuh salah satu saat hampir sampai piring.


Makan malam yang kacau. Namun, dimaklumi oleh Papi Hestama karena Estu belum bisa menyesuaikan kembali di rumah mereka.


Serta bagi Kinasih itu adalah makan malam yang kurang nikmat, walau hidangan- hidangannya sangat enak di lidah, tapi suasananya penuh ketegangan, hingga konsentrasi untuk menikmati makanan, jadi berkurang.


Kinasih melihat beberapa orang yang sudah selesai, sepertinya mereka selesai makan juga harus berbarengan. Dilihat dari Keken, Kanjeng Mami yang sudah selesai, tapi mereka masih tetap duduk menunggu yang lainnya. Hingga Kinasih segera menyelesaikan makannya, tidak enak jika ditunggu seperti itu.


"Baiklah, sepertinya semua sudah selesai. Mari kita ke ruang keluarga." Papi Hestama memberi komando agar mereka segera mengikuti apa kata dirinya.


Semua anggota keluarga meninggalkan kursi makannya, Kinasih yang akan berjalan mengikuti Papi, Mami dan Keken yang sudah ada di depan, malah ditarik terlebih dahulu oleh Estu. Dia tidak ingin Kinasih jalan berjauhan. Namun, konyolnya Bagas dia menyerobot berjalan di tengah antara Estu dan Kinasih.


"Kakak!" tegur Estu kaget. Karena Bagas tiba-tiba berada di tengah mereka.


"Ingat ya kalian, jangan terlalu dekat kalau tidak ingin ketahuan Mami sama Papi." Bagas membuat ultimatum.


Padahal Bagas hanya bercanda jika sampai Mami dan Papinya tahu hubungan Estu dan Kinasih, justru dia akan pasang badan untuk memberi penjelasan jika Papi dan Maminya menentang.


Kini mereka semua sudah duduk di ruang keluarga.


Obrolan dimulai oleh Papi Hestama dengan pembukaan rasa syukur, keluarga mereka sudah kembali berkumpul. Kemudian dilanjutkan tujuan diadakannya rapat keluarga. Salah satunya adalah karena kedatangan Estu yang sudah kembali dengan selamat.


Lalu tentang keberadaan Kinasih di Wastu Hestama akan seperti apa, semuanya perlu dirundingkan.


Kemudian juga tentang rencana kedepannya mengembalikan posisi Estu di perusahaan, sebagai pimpinan di salah satu cabang perusahaan ekspor impor pengadaan rempah-rempah.


Jadi seperti itulah, rencana pertama yang akan Papi laksanakan adalah adanya pesta. Mungkin tiga hari atau seminggu mendatang untuk menyambut kedatangan dan acara syukuran untuk Estu.


"Apakah akan sekalian dilangsungkan pernikahan?" tanya Papi Hestama, kalimat terakhir membuat Kinasih seakan tersengat setrum bertegangan tinggi.

__ADS_1


Tiba-tiba Kinasih terhenyak, jantungnya langsung bertalu kencang. Kinasih sudah membayangkan terombang-ambing tidak jelas keberadaannya. Siapa yang akan membelanya?


Apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan posisinya dan membuat Estu tetap sebagai suaminya?


Bagas melirik pada Kinasih, terlihat jelas gelisah pada wajah wanita yang terlihat sangat cantik malam ini.


"Mami setuju Pi. Lebih baik besok atau lusa kita bicarakan hal ini dengan keluarga Keken."


Ucapan Kanjeng Mami, menambah desiran pada setiap pori-pori kulit Kinasih. Seakan merinding mendengar ucapan yang paling tidak ingin didengarnya.


"Gimana? Yang lainnya setuju?" tanya Kanjeng Papi..


"Aku sih setuju, Pi. Tapi...,"


Lemas sudah, ingin runtuh rasanya Kinasih mendengar keputusan tersebut. Sehingga Bagas yang menurutnya bisa dimintai bantuan nanti saat selesai kumpul keluarga, sudah tidak mungkin lagi. Karena ternyata Bagas juga setuju dengan rencana itu.


"Tapi apa?" ucap Papi Hestama.


Bagas kemudian menjelaskan bahwa Estu baru kembali bergabung bersama mereka. Ingatannya belum pulih. Seperti yang dilihat semua orang bahwa Estu merasa canggung kembali dengan Keken.


"Betul juga kata kamu," ucap Knjeng Papi setelah mendengar penjelasan dari Bagas.


"Kalau begitu Estu, segeralah kamu menyesuaikan diri," ucap Kanjeng Mami.


"Ya. Setidaknya meskipun Estu masih belum Ingat identitas dirinya, dia harus menyesuaikan diri. Meski Bukan sebagai Estu yang dulu." Bagas menambahkan.


"Benar kata kakakmu Estu," ucap Papi dan melanjutkan. "Jadi mulai besok kamu ke kantor didampingi oleh Pak Suryo, orang kepercayaan Papi."


"Bagas setuju Pi."


"Gimana Keken? Ada yang mau disampaikan tanya?" Papi Hestama.


"Tidak api. Keken ikut saja gimana baiknya."

__ADS_1


"Kalau kamu Estu?"


"Saya juga Pi, ingin mengamati dulu dan mencoba menyesuaikan. Mungkin dengan itu perlahan saya akan terbiasa sambil memulihkan ingatan secara bertahap."


Akhirnya Papi hestama memutuskan masalah Estu sudah selesai dan kini giliran Kinasih.


Sebenarnya meskipun Papi bisa membayar pekerja berapa orang pun, akan tetapi tidak bisa seenaknya menambah pekerja tanpa tujuan yang jelas. Karena semua pekerjaan sudah dapat di handle oleh pelayan yang ada.


Lagi-lagi Kinasih merasa jantungnya lebih kencang berdegup, seakan dia tidak dibutuhkan di sana, tidak ada peran sama sekali.


"Tapi Pi, dia...." Estu sebagai seorang suami tergerak hatinya untuk membela istrinya.


Namun, belum selesai dia berbicara, ucapannya sudah dipotong oleh Mami Hestama.


"Dengarkan dulu Papimu bicara, Estu."


Mami Desi tahu sekarang, Estu bisa dikendalikan seperti anak bungsu yang polos.


Makanya Mami berani menyela obrolan Estu. Kenapa Papi Hestama, Bagas dan Keken diam saat Estu akan menyala? Karena mereka masih mengingat Estu yang dulu, yang ucapannya tidak bisa dibantah sama sekali.


Tapi Kanjeng Mami seharian bersama Estu, dia merasa Estu kecilnya telah kembali. Estu yang penurut, tidak banyak mendebat dan itu dimanfaatkan oleh Kanjeng Mami untuk Estu selalu menuruti apa katanya.


"Kenapa Estu? Lanjutkan," perintah Papi Hestama.


"Tidak Pi. Silakan Papi terlebih dahulu selesaikan," ucap Estu secara sopan. Dia seperti sungkan saat merasa memang salah memotong ucapan dari orang tua.


"Tadi hanya mau bertanya. Menurut kalian bagaimana dengan Kinasih? Mau ditempatkan di mana? Atau kembali ke kampung dengan kita beri hadiah sebagai tanda terima kasih, bahwa telah merawat Estu selama ini dengan baik."


Bagai disambar petir siang bolong, lagi-lagi Kinasih perasa seperti seseorang yang tidak berharga di sana. Keluarga bukan, bagian dari karyawan juga bukan, sebagai penolong juga tidak begitu berarti di sana. Kalau hanya akan mendapat kejutan seperti ini, kenapa Kinasih harus mendengar dan ada di sana? Kenapa dia tidak langsung menerima keputusan saja?


Kinasih terus berpikir untuk menenangkan dirinya agar dia tidak lepas kontrol dan ambruk di sana. Sebenarnya tubuhnya sudah seperti orang menggigil kedinginan, tidak tahu pijakan saat mendengar bertubi-tubi ucapan Papi Hestama yang tidak mendukung adanya dia sama sekali.


Mungkin maksud Papi juga bukan tidak mendukung, karena Papi hanya berkata sesuai logika saja harus seperti apa memperlakukan Kinasih. Anggap saja Kinasih beberapa hari ini sebagai tamu kehormatan di sana.

__ADS_1


 Bersambung.


__ADS_2