Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Perintah Membingungkan


__ADS_3

Pawang 50


Estu yang memerah mukanya merasa kesal pada Kemala, dia mengingat kejadian saat di mobil. Gadis SMA itu meminta foto dengan dirinya. Namun, karena Estu menolak Kemala memaksa sudah menyodorkan ponsel di depan mereka berdua, bersiap mengambil gambar bersama.


Kemala yang sudah miring berada di samping tubuh Estu,  yang mencoba menghindar hingga semakin miring mereka berdua hingga terjatuh dalam keadaan mobil sedang berjalan. Otomatis tubuh mereka tumpang tindih di kursi namun Estu sedikit jatuh ke dasar mobil untung tangannya sempat menahan, tidak bisa dibayangkan kalau sampai Estu jatuh di dasar mobil, yang ruang geraknya sempit seperti itu kemudian Kemala di atasnya.


Mungkin saat itulah bibir Kemala yang ternyata memakai lipstik menempel pada kerah Estu, karena dia tidak begitu memperhatikan penampilan Kemala dia tidak tahu bahwa gadis itu menggunakan pemerah bibir, yang purba tahu bibirnya normal saja.


Rupanya pemerah bibir berwarna pink itu walaupun tipis, tapi kalau menempel di kemeja putih akan terlihat jelas juga. Kemala memang yang cantiknya tidak ada beda dengan, namanya juga satu keturunan walau beda ibu dan ayah, tapi biasanya satu keluarga besar kecantikannya akan membekas tidak beda jauh.


Walaupun begitu Estu tidak tertarik sama sekali.


"E... Maaf Mister Jer, ini tadi kecelakaan keponakan saya," jelas Purba secara singkat.


"Keponakan? Keponakan anda sudah menggunakan?" tanya Mr.Jer. Sebenarnya itu bukan sesuatu hal yang penting tidak perlu dipertanyakan.


"Iya dia anak dari kakak saya, memang sudah dewasa. Tadi sebelum berangkat ke sini kami sempat bercanda, jadi beginilah hasilnya. Saya tidak menyadari."  Bersyukur Estu bisa menemukan jawaban secara cepat dan tepat.


Kemala memang keponakan, ya meskipun tepatnya keponakan dari Keken. Namun, lumayan juga jika hal itu dibuat alasan sepertinya Mister Jer percaya.


Akhirnya Mister Jer benar-benar pamit. Namun, dia sungguh-sungguh ingin mencari hiburan wanita dan meminta informasi kepaada Estu. Mr Jer tidak percaya jika seorang Estu tidak tahu wanita penghibur yang bagus. Sebersihnya seorang pebisnis dia pasti pernah mencicipi hiburan seperti itu.


Estu hanya mengangguk saja dengan senyuman dan basa-basi nanti diinfokan oleh asistennya, karena kalau dia yang menjelaskan bahwa tidak pernah pergi ke tempat wanita malam, Mr. Jer pasti tidak percaya.


Kini Estu pulang ke rumah, dia ingin mengganti pakaiannya tidak mungkin dia langsung ke kantor dengan keadaan seperti itu. Jadi teringat tadi, saat dia berpapasan dengan mobilnya Bagas. Apakah dilihat oleh Kinasih kerahnya ada tanda lipstik wanita lain?


Estu merasa khawatir juga, kalau Kinasih tahu bagaimana bisa tambah masalah. Sedangkan hubungan mereka saja sedang bermasalah.


Namun, sebelum Estu sampai ke rumah ada panggilan dari sekretarisnya di kantor, katanya ada seseorang yang ingin menemuinya penting.


Maka diurungkan saja niatnya untuk pulang, karena jarak menuju rumah ke kantor dari titik saat ini keberadaan Estu lebih dekat ke kantor.


Biarlah nanti dia mengganti kemeja yang ada di kantor saja.


***


Sementara itu Keken dan Kanjeng Mami yang berbelanja kebutuhan nanti untuk syukuran, sudah selesai. Mereka menghubungi sopir lain untuk menjemput, sengaja tidak menghubungi. Mereka juga memiliki hati kasihan hanya sekedar untuk minta antar ke salon, masa meminta seseorang yang sedang bekerja.

__ADS_1


Tadi Kanjeng Mami hanya ingin saja melihat Bagas perhatian pada Kinasih, maka sengaja Kanjeng Mami tadi mengerjain Bagas agar meluangkan waktunya untuk Kinasih.


***


"Apa? Pada ke mana memangnya? Apa satpam tidak ada juga?" tanya Kanjeng Mami menerima panggilan dari rumah.


Rupanya saat Kanjeng Mami memanggil sopir untuk menjemput dia sedang ada keperluan mengantar tukang kebun untuk mencari bunga hias kemudian security tidak bisa pergi karena hanya ada satu orang di sana kalau mobil masih ada yang tidak dipakai cuman yang mengendarainya tidak ada.


Sedangkan pesan Papi Hestama untuk penjagaan tidak boleh kurang dari dua security ,makanya ada dua penjaga keamanan di sana tidak berani pergi. Apalagi jarak jauh.


Kanjeng Mami sempat kesal, sedangkan hari semakin sore meskipun baru pukul satu, hanya saja nanti Saat di salon akan makan waktu banyak lagi.


"Kalau menghubungi Mas Esti saja gimana Mi?" saran Keken.


Kanjeng Mami mengangguk, dia setuju dengan saran calon menantunya itu, akhirnya Estu dihubungi sampai nyambung. Karena rupanya sulit sekali untuk diangkat, kalau nyambung pasti tapi itu belum juga menerima panggilan maminya.


"Aduh ini anak lagi ngapain sih masa sibuk terus," gumam sang Mami. Lumayan kesal karena putranya tidak mendengar panggilannya.


Bukan Kanjeng Mami namanya jika menyerah kalau tujuannya tidak terjadi. Seperti halnya saat ini dia terus-menerus menghubungi Estu. Bahkan dikirim pesan pun sudah.


Cukup lama Estu dihubungi dan saat ini baru dibukanya pesan Kanjeng mami, saat tahu bahwa sepertinya darurat pesan itu. Maka Estu langsung menghubungi ulang dan dia belum masuk kantor, masih berada di parkiran depan.


"Kamu ke sini ya, Mami ada di swalayan. Jemput Mami!'


"Memangnya tidak ada sopir, Mi?"


"Kalau ada, nggak mungkin Mami minta kamu."


'Mas Bagas?"


"Tadi sudah nganterin Kinasih, kasihan kalau bolak-balik."


Tadinya Estu bakal protes lagi. Namun, saat mendengar ternyata tadi Bagas sudah mendapat giliran mengantar Kinasih, dia seperti memiliki rencana.


Estu mengatakan iya pada maminya. Dia menutup panggilan, langsung balik ke arah menuju swalayan yang dimaksud.


Estu melupakan tanda merah di kerahnya, dia terburu-buru ingin memanasi Kinasih. Iya, Estu ingin melihat gimana reaksi Kinasih saat itu, jika Estu begitu perhatian pada Keken.

__ADS_1


Sekalian aja Estu membuat drama meskipun orang-orang tahunya Keken adalah calon istrinya, wajar kalau Estu memperhatikannya. Namun, tujuan Estu bukanlah itu sebenarnya, tapi dia sedang perang dingin dengan istrinya.


"Lihat aja nanti, awas kalau kepanasan," ucap Estu.


Estu melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tidak begitu kencang, namun tidak pelan juga. Dia ingin segera melihat reaksi Kinasih.


Estu tidak tahu bahwa Kinasih sedang perawatan. Apakah nanti dia akan bertemu Kinasih di sana?


Estu sudah sampai di swalayan yang dimaksud, dia melihat Keken yang sedang menenteng beberapa tas belanjaan, begitu juga dengan Kanjeng Mami, malah ada dus besar entah apa isinya.


Keken dan Kanjeng Mami segera turun dari tangga swalayan, karena Estu tidak keluar dari mobil, dia hanya berhenti di parkiran dan memberi tanda pada Kanjeng Mami. Yang awalnya tidak memperhatikan kedatangan Estu.


Kanjeng Mami sengaja duduk di belakang, soalnya memberi ruang agar Keken duduk di depan di samping samping.


"Mami bawa apa sih banyak banget belanjaannya?" tanya Estu, sambil melaju perlahan, keluar dari parkiran.


"Udah... fokus aja nyetir. Laki-laki nggak perlu tahu urusan wanita," ucap Kanjeng Mami.


"Terus sekarang ke mana, Mi?"


"Ke salon. Kamu tahu kan salon langganan Mami?"


Estu tidak menjawab. Dia langsung meluncur menembus jalanan yang sudah tidak begitu macet seperti tadi.


***


Saat sampai di salon, Estu dengan sigap membuka pintu buat Keken. Meskipun Estu tidak tahu apakah Kinasih melihatnya atau tidak, setidaknya orang-orang akan melihat bahwa dia perhatian sama calon istrinya. Paling tidak menambah nilai di depan publik, syukur kalau nanti Kinasih tahu dari desas-desus orang yang bilang, bahwa keken dan Estu adalah pasangan yang serasi.


Kanjeng Mami mau membawa dus yang besar itu. Memang kesulitan, malah hampir kepalanya kepentok pintu mobil.


"Mas itu, Mami kesuli," tunjuk Keken melihat kondisi kanjeng mami


Estu hampir saja tertawa karena sanggulnya mami nyangkut kepada sela-sela pintu, mungkin yangkut pada pegangannya. Mungkin tadi Kanjeng Mami malah jadi kepentok beneran. Jadi deh sekarang malah njanhjjnh.


Ya, penampilan Kanjeng Mami lebih sering memakai pakaian rambut disanggul.


bersambung.

__ADS_1


.


__ADS_2