
Estu seketika gugup, dia baru menyadari tentang noda dikerahnya itu. Dari tadi Estu memang sengaja mencoba menjaga jarak dari Kinasih, tapi tetap saja ada sesuatu hal yang membuat dia terus dekat dengan istrinya itu dan parahnya lagi lupa akan noda yang ada pada kerahnya.
"Bagus ya, Mas Estu mencurigaiku bersama Mas Bagas. Nah, Mas sendiri ini apa?" Kinasih menunjuk pada kerah yang terdapat noda lipstik berwarna merah muda, berbentuk bibir . "Sama Mbak Keken kayaknya nggak mungkin. Aku tahu warna lipstik yang dipake Mbak Keken nggak secerah ini," imbuh Kinasih.
"Mas Estu sadar nggak sih? Sudah melukai dua wanita di sini. Itu juga kalau Mbak Keken tahu," imbuh Kinasih.
Maksudnya Kinasih adalah, itu juga kalau Keken tahu bahwa ada yang bermasalah pada baju Estu hari ini. Karena Kinasih dari tadi melihat Keken sepertinya biasa saja terhadap Estu. Apakah mungkin dia sangat pemaaf? Tetapi meskipun seorang wanita sangat bisa membuka maaf begitu besar untuk kekasihnya, sepertinya tidak semudah itu. Apalagi buktinya jelas ada kemungkinan penghianatan.
Sesabar itukah Keken?
"Kinasih, kamu sudah salah paham, ini bukan karena Keken tapi...."
Estu jadi serba salah? Dia kelabasan, yang tadinya ingin menjelaskan, malah salah bicara. Jika menyebutkan kata tapi, otomatis alasannya sudah jelas. Namun, baru terpikir kalau menjelaskan juga tetap akan salah. Karena itu berarti kecurigaan Kinasih benar, bahwa ada wanita ketiga. Dan walhasil, dua wanitalah yang jadi tersakiti pada akhirnya.
"Apalagi kalau noda itu bukan karena Mbak Keken. SepertiĀ nggak ada kerjaan yang lainnya saja. atau Karena semalam aku ab...ah sudahlah," ucap Kinasih, dia tidak ingin bahas semalam yang mengabaikan Estu.
Wanita berambut panjang itu tak ingin memperpanjang lagi masalahnya. Lelah juga rasanya jika harus selalu mencari kebenaran dari hal yang nyatanya terlihat bohong.
Meskipun Estu menjelaskan dengan secara rinci tetap saja Kinasih nggak bakal mudah percaya. Karena seorang pria selalu saja menutupi kesalahannya.
Terus kalau bukan karena bibir wanita lain, Kinasih gak bakal semarah ini. Atau setidaknya Estu jujur. Rasanya sakit kalau tidak ada yang membela. Mana keluarga jauh di kampung.
Kinasih masih muda, tapi dia sadar bahwa bagaimanapun itu adalah suaminya sendiri, dia harus lebih dewasa. Mungkin ini awal perjalanan menjadi orang yang dewasa, bukan dilihat dari usianya.
Kinasih harus lebih sabar, akan tetapi kesabaran tiap orang beda-beda. Bagi Kinasih, sabar tak perlu juga bisa bersikap seperti sebelumnya. Menerima, memaafkan mudah, tapi kembali pada keadaan sebelumnya itu sulit. Butuh waktu untuk kembali bersikap biasa saja.
__ADS_1
Rasa keseal, sakit hati pasti ada. Makanya jangan berharap buah kesabaran akan sama seperti semula, pasti akan ada saja kekurangan walau kecil, karena itu untuk menguji bagaimana pasangan kita bisa menerima atau tidak..
Apalagi antara Estu dan Kinasih mereka benar-benar sedang diuji oleh takdir. Apakah akan saling percaya dan setia walaupun lingkungan mereka terasa hambar? Belum ada dukungan dari siapa pun.
Kinasih sudah duduk lagi di depan cermin. Untuk diberi perawatan terakhir oleh Jenny, setelah itu selesai. Mereka bisa pulang.
Sedangkan Estu, dia melenggang sendiri. Sudah lupa dengan perintah maminya agar menunggu. Namun, Estu sudah terlanjur kesal, dia tidak peduli kalau nanti Maminya juga tidak ada kendaraan untuk pengantarnya pulang. Toh Maminya pegang uang, bisa pakai taksi dan sejenisnya.
Eatu yakin walaupun dirinya tidak bisa selalu ada untuk Maminya, nanti juga Mami Desi akan menghubungi seseorang atau Mas Bagas lagi, kan mereka bisa masuk mobil bertiga. Kinasih, Keken dan Maminya nggak harus meminta pada dirinya lagi.
Pokoknya Estu sekarang benar-benar sedang kesal.
"Eh, Estu mau ke mana?" Teriak Kanjeng Mami, tapi tidak bisa bergerak. Karena tanggung sedang treatment.
Estu benar-benar tidak peduli teriakan Maminya, Andai pintu salon itu terbuat dari pintu biasa, maka akan terdengar suara bantingan pintu dari kekesalan seorang pria berwajah tampan ini.
"Syukuran apa? Nggak ada aja syukuran. Mana ada orang syukuran menyedihkan seperti ini," gumam Estu dengan tatapannya fokus ke depan pada laju jalan.
***
Sementara itu Jenny berbincang dengan Kinasih sambil memilih pakaian yang cocok untuknya. Ada beberapa potong pakaian yang direkomendasikan Jenny dengan kerah satu leher tapi tetap modis. Pakaian itu bisa dipesan sekarang lewat online dan tidak butuh waktu lama untuk mendapatkannya.
Karena itu bukan dari olshop biasa yang tokonya jauh, biasanya di luar kota. Jenny menghubungi butik milik temannya yang sama-sama ada di Jakarta juga, makanya barang bisa cepat didapatkan walau kita belanjanya lewat online.
"Ya sudah aku mau ini aja," ucapkan nasi menunjuk pakaian yang ia suka untuk dikenakan hari ini.
__ADS_1
Otomatis beberapa hari ini Kinasih harus menggunakan pakaian atasan berkerah sampai leher. Hingga tanda merah itu terlihat pudar.
"Nanti ye kalau pulang Jangan putus-putus lagi sama Mas es tuh, kasihan tahu. Dengerin dulu penjelasannya," ucap Jenny, dia kalau perihal perasaan pasti yang paling mellow. Makanya tidak tega melihat Restu kesal seperti itu.
"Sus Jenny i tidak mengerti sih, masa ke Kakaknya sendiri cemburu. Aku kan jadi risih. Harusnya Mas Estu janjian sama Mas Bagas, untuk mencari jalan keluarnya bagaimana,"
Jenny berpikir, benar juga ya. Coba kalau Bagas sama Estu bekerja sama, untuk membuat Kanjeng Mami tahu akan hubungan yang sebenarnya.
"Eh Ses Jenny, tapi ini bisa kan nanti kalau pakai kebaya leherku tertutup?" Kinasih masih saja sanksi, karena setahu dia kebaya biasanya lehernya pada terbuka semua.
"Bisa dong. Kenapa tidak? Zaman udah modern. Kebaya tidak akan itu-itu aja modelnya. Banyak modifikasinya Mau sampai leher, mau sampai nutupin kepala juga bisa."
"Hahaha Ses Jenny bisa aja." Kinasih tertawa geli, Ses Jenny terlalu berlebihan.
"Ya, lagian kamu. Zaman segini kayak masih zaman keterbatasan aja. Lihat di Google model-model kebaya. Enggan fast gitu aja, kaya jaman baheula. Sudah tidak monoton.
Model kebaya sampai leher ada yang dalamnya seperti pakai manset, tapi kesannya tetap modern dan elegan. Saat di luarnya menggunakan brokat transparan dengan manik-manik, ada juga yang seperti kalung hanya melingkar di leher lalu sedikit bagian yang nyambung pada pakaian utamanya. Ngerti tidak aku ngomong kayak gitu?
"Hehe ... tidak terbayang." Kinasih sok polos dengan menyengir kuda.
"Ya, memang sulit kalau diomongin. Harus ngelihat sendiri terus dicoba. Biar tahu cocok apa enggaknya."
"Iya deh, iya... pokoknya aku percaya sama Ses Jenny." Kinasih tidak ingin banyak tanya lagi, tas Jenny ngamuk. Kata orang sih marahnya seorang banci akan lebih seram dari pria biasa. Hihihi....
"Nah ... kulitnya sudah mulai bagus, kan lusa aku tidak begitu repot untuk merias kamu. Karena kulitnya sudah menyesuaikan dengan produk-produk kecantikan dan sudah ada perubahan. Jadi nanti make up-nya bisa menyatu dengan kulit."
__ADS_1
Bersambung ...