Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Dikerjai Suami


__ADS_3

Bab29


Estu menguntit kepergian Bagas dan Kinasih, dia berjalan perlahan, tapi sampai agak jauh dari ruangan itu dia bingung. Kakaknya pergi ke mana? Soalnya di sana ada beberapa pintu lagi, entah kamar yang mana yang dimasuki oleh Bagas.


Daripada pusing, Estu kembali ke meja makan. Meskipun belum ada siapa-siapa, dia duduk di sana.


Bagas ternyata menuju kamar Keken.


Tok!


Tok!


"Sebentar!" seru Keken, saat tahu ada yang mengetuk pintu.


"Mas Bagas?" tanya Keken, saat membuka pintu.


"Aku mau minta tolong pinjamin baju untuk Kinasih," ucap Bagas.


Kinasih, terdiam sejenak. Sungkan dengan Keken, dia juga terkejut pada tindakan Bagas.


"Eh, tidak usah Mas, Mba Keken, aku ada baju sendiri." Kinasih merasa malu jika harus meminjam baju pada Keken.


Selain itu, dia takut Keken tidak mau meminjamkan, secara dia kan saingannya untuk mendapatkan Estu. Pasti Keken tidak ingin ada yang menyaingi kecantikannya, penampilannya juga.


"Oh... itu, tenang saja. Ayo Kinasih masuk." Keken menarik tangan Kinasih untuk masuk ke kamarnya.


Sungguh tak diduga oleh Kinasih, sebaik itu Keken padanya. Oh iya lupa, yang selalu menganggap saingan kan Kinasih. Mungkin Keken memang tidak tahu Kinasih adalah istrinya, jadi Keken menerima Kinasih ya hanya sebagai tamu atau orang yang telah menyelamatkan calon suaminya.


Sehingga Keken juga harus memperlakukan Kinasih dengan baik.


"Oh ya, jangan lupa permak sedikit," ucap Bagas sebelum dia benar-benar pergi.


"Siap, beres pokoknya," cap Keken dengan mantap.


Bagas kembali ke meja makan, ternyata di sana sudah ada Estu, dia duduk tanpa berkata apa pun.


Dengan wajah Estu yang muram, Bagas mengerti bahwa ada sesuatu, makanya Bagas hanya memainkan ponselnya saja.


"Kakak dari mana?" tanya Estu, pada akhirnya.


"Dari belakang," jawab Bagas santai.


"Dengan Kinasih?"


Bagas hanya mengangguk atas pertanyaan Estu, tapi Bagas merasa aneh perasaannya.


Apakah mungkin tadi Estu melihat saat Bagas menarik Kinasih? Dalam hatinya dia akan ngerjain adiknya itu.


"Lalu, Kinasih mana?" tanya Estu lagi.

__ADS_1


"Di belakang, dia katanya ingin pindah kamar."


"Pindah kamar? Kenapa?"


"Mungkin karena takut di pojok sendirian atau biar lebih dekat sama kamarku." Jawaban yang disengaja oleh Bagas, untuk membuat adiknya itu kesal.


"Nggak mungkin, Kinasih nggak seperti itu," protes Estu, maksudnya Kinasih bukan wanita penakut dan pilih pilih.


Bagas tak tahan ingin tertawa. Dia pura-pura fokus pada HP, padahal ingin terpingkal melihat wajah Estu yang masam, wajah bucin itu tampak menyedihkan.


Kemudian datang Kanjeng Mami dan Papi. Bagas menyenggol tangan Estu dengan lirikan mata pada Papi, itu pertanda Estu harus memberi salam pada Papinya.


Namun, saat Estu beranjak dari tempat duduknya, dia akan menghampiri Papi Hestama, sang Papi juga menghampiri Estu dan mereka bersalaman lalu berpelukan.


"Gimana kabarmu? Baik* kan?" tanya Papi Hestama sambil menepuk-nepuk punggung.


"Alhamdulillah baik Pak."


"Hah? Kok manggil Bapak? Papi kamu ini. Terus kamu memanggil Mamimu apa? Mami kan?" Papi Hestama, syok mendengar panggilan anak bungsu kepadanya.


"Iya Pi, dia juga memanggil aku awalnya Ibu. Jadi manggil kamu juga Bapak." Mami Desi, menjelaskan.


"Panggil papi saja biar terbiasa," ucap Papi Hestama, sebenarnya dia tahu bahwa Estu hilang ingatan, makanya Papi mengatakan hal seperti itu agar Estu terbiasa.


"Ayo - ayo, duduk. Sudah jam 07.00 kita langsung saja makan, nanti lanjut di ruang keluarga. Oh ya, ke mana Keken dan siapa satu lagi? Temanmu Estu?" tanya Papi.


"Kinasih P-pi." Estu masih menyesuaikan untuk memanggil Papi.


Papi Hestama manggut-manggutz dia ngobrol dengan Kanjeng Mami. Namun, tidak begitu jelas terdengar oleh Estu, mereka entah membahas apa sambil menunggu Kinasih dan Keken datang.


"Itu mereka datang. Ayo bersiap," ucap Papi.


Keken dan Kinasih baru saja datang, mereka berjalan berdampingan seperti adik kakak. Kalau dibilang anak kembar, wajah mereka berbeda, tapi sama-sama cantik.


Kinasih dibuat berbeda oleh Keken, meskipun dengan sedikit sentuhan lipstik berwarna bibir, bulu mata lebih lentik karena diberi maskara, eyeliner tipis di ujung mata sana, lalu sedikit bedak.


Keken tidak berani memberikan foundation atau alas bedak kepada Kinasih, karena wajah dia benar-benar polos, takutnya pemakaian pertama malah akan merubah wajah naturalnya.


Lalu Kinasih mengenakan celana hitam dengan atasan blus warna coklat, dengan hiasan tali senada di pinggang.


Sedangkan Keken memakai celana putih dengan atasan hijau tosca bergaris putih.


Awalnya Kinasih tidak mau pakaian itu, katanya seperti wanita kantor, terlalu formal. Padahal itu masih pakaian santai biasa, meskipun kesannya kalau ke kantor juga bisa.


Karena Kinasih tidak pernah memakai pakaian dewasa, merasa terlalu istimewa mengenakan pakaian yang menurutnya seperti ke kantor atau seperti seragam pramugari.


Padahal kalau pakai dress bunga-bunga seperti anak kecil, padahal Kinasih usianya sudah 22 tahun. Dengan tubuh Kinasih yang tinggi, lebih elegan menggunakan celana dengan atasan blus atau kemeja, bisa juga model rajut.


Estu tak henti-hentinya memandang Kinasih. Begitu pun dengan Papi dan Mami, tak tertinggal Bagas. Baru dipoles sedikit aja, sudah kelihatan perubahan bagusnya, apalagi benar benar dirawat.

__ADS_1


Meja makan itu ada 8 kursi. Tiga kursi sebelah kiri, tiga kursi sebelah kanan, dan dua satu ujung dan ujung.


Karena Estu duduk di bagian sisi, dia berpikir pasti sebelahnya adalah Keken. Maka Estu sengaja berdiri dulu mau mengambil sesuatu. Biarkan Keken dan Kinasih duduk terlebih dahulu. Nanti Estu akan melihat Keken duduk di mana, maka dia akan memilih tempat duduk sebelah Kinasih.


"Mau ke mana," tanya Kanjeng Papi.


"Ke belakang dulu sebentar, Pi," jawab Estu.


Tak lama Estu kembali lagi, dia melihat Kinasih duduk di sisi kiri sedangkan Keken di sisi kanan.


Tentunya Estu tidak akan memilih duduk sebelah Keken, tapi sebelah Kinasih yang masih kosong. Justru itu sengaja dilakukan.


Jika tadi Estu meminta Kinasih duduk di sebelahnya, Mami dan Papinya pasti merasa aneh. Kenapa meminta spesial seperti itu? Padahal calon istrinya adalah Keken. Estu harus bisa menjaga perasaan Keken.


"Kenapa nggak duduk di sana aja Estu?" tanya Mami, menunjuk pada sebelah Kinasih.


Bener dugaan Estu, mereka ingin Keken dan Estu berdampingan.


"Udah terlanjur Mi, di sini aja." Estu menjawab.


Entah itu alasan yang tepat atau tidak, yang pasti Estu sudah nyaman duduk di samping Kinasih.


Papi memberikan arahan untuk makan terlebih dahulu, doa dipimpin oleh Bagas dan selama makan tidak ada yang bersuara kecuali seadanya dari alat makan atau aktivitas makan biasa.


"Dan nanti setelah makan langsung ke ruang keluarga."


Di sela makan, Estu tak tenang. Dia melirik terus pada Kinasih. Soalnya istrinya itu sangat berbeda tampilannya.


Kemudian Estu pura-pura mau mengambil sambel di sebelah kirinya, dia mencondongkan badannya untuk mengambil sambal tersebut.


"Kamu cantik sekali sayang," bisik Estu karena Kinasih ada di sebelah kiri.


"Uhuk ... uhuk!"


Kinasih terbatuk, dia menutup mulutnya dan melirik kanan kiri, melihat sama orang. Dia takut batuknya mengganggu makan mereka, terutama Papi dan mami..


"Em ... m-maaf," ucap Kinasih lirih dan sedikit menunduk.


Estu yang masih mencondongkan badannya untuk mengambil sambal, tertawa sebentar. Karena tahu, Kinasih pasti sedang panik.


Kinasih sempat melototkan matanya pada Estu. Sungguh suaminya tega mengerjai Keken sampai seperti itu.


"Ekham."


Papi Hestama berdeham, membuat Kinasih semakin takut.


Bersambung...


 

__ADS_1


 


__ADS_2