
Bab34
Rupanya Estu hanya ingin menghentikan adegan yang terlihat romantis itu. Meskipun menurut Bagas itu biasa saja, sama seperti halnya pada adik sendiri, meminta bantuan agar dirinya sebagai kakak dibuatkan hidangan pagi.
"Jadi begini di belakangku?" ucap Estu tiba-tiba.
"Wo ho, tenang-tenang, Adek Kak Bagas yang manis, incaran para wanita. Duduk dulu, pagi-pagi itu jangan marah-marah, nanti cakepnya hilang." Bagas malah sengaja meledek adiknya.
"Kinasih, kemarin kan aku sudah bilang," ucap Estu tidak menggubris obrolan Bagas.
"Ayo ... bilang apa?" tanya Bagas ikut nimbrung. "Em ...apa dilarang lagi memberi minuman padaku?" Bagas menebak dan memang tepat.
"Kakak tahu bukan? Bahwa Kinasih istriku? Tidak seharusnya melayani selain dari suaminya."
"Siapa bilang Kinasih tidak boleh melayani yang lain? Kinasih itu menantu di rumah ini. Aku sebagai kakak boleh minta tolong dan Kinasih sebagai adik ipar harus hormat juga kepada keluarga suaminya. Iya kan?"
"Tapi tidak segitu juga, hampir tiap hari, tiap waktu kakak pulang, tiap waktu kakak butuh, seakan Kinasih istrinya."
Kedua adik kakak itu terus berdebat, tanpa mereka sadari Kanjeng Mami sudah berada di sana. Kanjeng Mami bingung mendebatkan hal apa kedua anak bujangnya ini.
"Ya udah, lain kali nggak deh," ucap Bagas, tapi dengan sedikit senyuman. Seakan masih sengaja ingin terus meledek adiknya.
"Lain kali, tapi sekarang udah berkali-kali, udah terlalu lama mengambil hakku." Estu tak ingin dipermainkan Kakaknya.
Bagas malah tertawa mendengar adiknya bersikap tegas terhadap sang istri. Dia teringat masa mereka kecil, Estu memang tidak mau mengalah dan selalu diberi hak lebih oleh orang tua mereka, mungkin karena anak bungsu.
Dan sebenarnya saat Estu besar pun dia seperti mendapatkan hak istimewa untuk memutuskan beberapa hal penting, anak bungsu tapi menjadi pemegang keputusan yang utama.
Bagas tidak iri dengan apa yang didapat oleh Estu, karena itu semua demi kebaikan keluarga juga. Bagas yang tidak sempat kuliah di luar negeri, otomatis kemampuannya kurang kompeten dari Estu.
Bukan Bagas tak ada kesempatan atau tak ingin sekolah ke luar negeri, akan tetapi saat itu perusahaan Papi sedang goyah Sehingga Bagas membantu dan berjuang keras untuk memulihkan perusahaan pada titik stabil setidaknya.
Maka untuk dia mengenyam pendidikan lebih lama, jadi terhambat. Hingga sampai saat ini Bagas malas untuk sekolah, yang penting bisa mengendalikan perusahaan dengan baik, sudah cukup puasa untuk pencapaian hidupnya.
Maka dia sangat mendukung penuh Estu, untuk mencapai segala apa pun yang diinginkannya, yang penting hasilnya kembali untuk kebaikan keluarga.
Kanjeng Mami bertepuk tangan, tapi bukan bertepuk seperti dalam pagelaran. Namun, bertepuk seperti seorang penjahat yang menyeringai. Mengerti bukan? posisi tepukan tangan berada di pinggir wajah dengan hanya tiga kali tepukan. Itu bukan hal jahat, mungkin seperti bertepuk bercanda juga. Karena melihat kedua anaknya yang berdebat, tapi malah terlihat mereka sebenarnya dua saudara yang sangat dekat dan akrab.
__ADS_1
Estu dan Bagas menoleh melihat wajah Kanjeng Mami yang sudah seram tatapannya.
"Begini ya, adik kakak pagi hari. Merebutkan apa?" tanya Kanjeng Mami dengan tetapan tegas.
Kini Estu dan Bagas saling memandang, mereka baru menyadari ada Kanjeng Mami di sana.
"Siapa yang kalian sebut menantu? Siapa yang berhak atas menantu tersebut? Menantu yang mana yang kalian rebutkan?" tanya Kanjeng Mami bertubi-tubi.
Seketika Kinasih jadi bergetar, jantung berdetak kencang, dia yang sudah mandi pagi sekali, tubuhnya merasa segar, kini seakan berkeringat dan kepanasan. Saking mengendalikan diri agar tidak merasa takut dengan teguran Kanjeng Mami.
"Eh ... malah pada diam. Sudah lama Mami tidak melihat pemandangan ini. Tadi Mami menyimak kalian memperebutkan menantu. Bagas kamu sudah punya pacar? Katakan pada Mami, biar pernikahan kalian bisa dilakukan bersama."
"Tidak Mi, kami hanya sedang bermain drama," ucap Bagas mencari alasan yang tepat.
"Sejak kapan kalian suka drama? Apalagi Estu yang tidak suka basa-basi, tidak suka pembahasan mengenai hal tidak penting "
Ya, benar kata Kanjeng Mami. Karakter Bagas itu lebih santai orangnya. Ketimbang Estu yang terlalu serius. Makanya Kanjeng Mami tidak percaya saat Bagas membuat alasan mereka hanya bermain drama.
Bagi Estu, basa-basi adalah buang-buang waktu, bersenda gurau menghilangkan kesempatan untuk menghasilkan sesuatu lebih bermanfaat.
Saat Kanjeng Mami masih belum menemukan jawaban yang membuat puas dirinya, Marni datang membawakan hidangan yang belum disajikan sisanya.
Marni adalah termasuk pelayanan lama di sana. Makanya sudah tidak sungkan lagi jika berurusan langsung dengan Kanjeng Mami, termasuk Kanjeng Papi, Estu dan Bagas.
"Ada apa?" tanya Kanjeng Mami saat Marni mengatakan izin berbicara.
Marni memintakan Kanjeng Mami untuk menjauh sebentar dari meja makan, kemudian Marni membisikan sesuatu.
"Beneran hanya itu?"
"Iya Kanjeng Mami, kemarin Mas Bagas bilang seperti itu. Jadi kenapa tidak kalau untuk latihan kepada Kinasih sebagai menantu di sini."
"Cuma seperti itu saja? Mereka susah sekali mengatakan tadi. Ya sudah kalau begitu. Apakah sudah selesai semua untuk sarapan pagi ini? Sebentar lagi kanjeng Papi turun."
"Sudah Kanjeng Mami, silakan. Sudah siap untuk dinikmati." Marni, sedikit melirik ke arah Kinasih.
Kanjeng Mami kembali ke meja makan, tiba-tiba mengusap-ngusap punggung Estu dengan gemas, kemudian mencium kedua pipinya.
__ADS_1
"Dasar anak Mami, kalian berdua udah besar tapi masih kayak anak kecilnya Mami. Menggemaskan sekali sih...."
Kemudian Kanjeng Mami beralih ke Bagas dan mencubit hidungnya. Serta ke-dua pipi bagas diciumnya juga dengan gemas.
"Dan ini lagi sang Kakak, si jail. Tidak pernah hilang jahilnya sejak kecil."
Kemudian Kinasih akan pergi karena merasa tugasnya sudah selesai dan keadaan di sana sepertinya sudah kondusif. Meski masih was-was dengan bisikan Marni pada Kanjeng Mami, dia mengatakan apa?
"Kinasih. Mau ke mana?" Seru Kanjeng Mami.
Kinasih yang sudah berjalan berapa langkah, dia tersenyum dengan getir, seketika berhenti. Wajahnya mendadak memerah, perlahan menoleh membalikkan badan, dia takut kena tegur Kanjeng Mami atau akan disidang. Karena sudah mengetahui bahwa dirinya adalah istri dari putra bungsunya.
Kinasih berpikir bahwa nanti setelah makan, Kanjeng Papi akan mengatakan sesuatu yang penting, yaitu tentang Estu yang sudah menikahi dirinya.
Kinasih masih mematung, dia melihat Kanjeng Mami yang sibuk menata piring buat suaminya, mulai dari menyiapkan sendok pada tempatnya, kain makan khusus buat Kanjeng Papi juga dan letak gelas yang harus sesuai.
Saat Kanjeng Mami terlihat sibuk, Kinasih melihat pada Estu dan Bagas bergantian. Dia meminta saran harus bagaimana.
Estu malah melihat pada Bagas, dia tidak tahu kenapa tiba-tiba Kanjeng Mami memanggil Kinasih, apakah mau diajak makan bareng saja?
Ini sempat terpikirkan, Kanjeng Mami tidak akan mengajak Kinasih, kalau bukan ada hal yang penting seperti diskusi tadi malam. Kinasih maka satu meja.
"Udah, duduk aja," ucap Bagas, berbicara tanpa suara. Namun dibarengi dengan kode tangan agar Kinasih duduk.
Kinasih mengikuti apa kata Bagas, lalu sedikit melirik pada Kanjeng Mami saat melewatinya. Karena Kanjeng Mami sedang berada di sisi paling ujung tempat Kanjeng Papi khusus, yang hanya ada satu kursi di sisi meja tersebut.
Kini Kinasih sudah duduk tepat dihadapan Bagas, paling sisi. Sedangkan Estu duduk di samping Bagas, sehingga dua tempat duduk di samping Kinasih masih kosong.
"Papi kalian sudah datang. Kinasih, kamu ikut makan juga, biasakan ikuti apa yang biasa kami lakukan di rumah ini," perintah Kanjeng Mami.
Kinasih duduk dengan tegang, bukan tenang. Terlebih saat mendengar harus membiasakan mengikuti kebiasaan yang mereka lakukan.
'Mba Marni, ini gara-gara mba Marni pasti. Yang udah bilang tentang aku dan Mas Estu. Seneng sih, Kanjeng Mami seperti tidak marah atau ada penolakan. Tapi tiba-tiba peduli, sangat aneh....'
__ADS_1
Kinasih bermonolog dalam hatinya. Tepatnya dia bukan senang karena Kanjeng Mami menerima dirinya. Akan tetapi, Kinasih takut setelah makan ada keputusan mengerikan, makanya Kinasih suruh duduk, makan bareng. Itu karena Kanjeng Papi akan memutuskan sesuatu tentang keberadaan Kinasih nanti setelah makan selesai, pastinya.
Bersambung....