Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Wejangan Jennie


__ADS_3

Pawang 54.


Kinasih mau keluar dari toilet tersebut Namun tiba-tiba jennie berteriak dari dalam.


"Pokoknya kalian hutang penjelasan padaku jangan ada yang keluar!" Teriak Jenny dari toilet pribadi.


Dan anehnya Estu beserta Kinasih menuruti mereka yang akan keluar dari toilet tersebut seketika berhenti dan mundur kembali. Ini mereka saling katakan, tentunya tatapan perang dingin.


Toilet itu bukan toilet inti tempat buang hajat, toilet sebelum masuk ke ruangan kecil untuk buang hajat masing-masing sebelumnya akan ada ruangan dengan kaca besar tempat cuci tangan atau merias merapikan diri. Nah, Estu dan Kinasih berada di sana bukan toilet pribadi. Maka terkadang orang yang mau kita lihat pun tidak akan sungkan karena masih bisa digunakan untuk tempat umum.


Kebetulan sekali area toilet itu sedang sepi, meskipun salon besar tapi bukan seperti sebesar mall yang pengunjungnya tiap hari ratusan bahkan ribuan. Makanya toilet itu sepi.


Jenny keluar dari toilet pribadinya, dia cuci tangan Kemudian mengelapnya pada tisu yang ada di sana.


"Mumpung ada masa Estu nya aku minta penjelasan," ucap Jennie.


Otomatis kening Estu mengkerut, penjelasan apa. Seakan dirinya memiliki salah kepada wanita jadi-jadian itu.


Jenni yang bawel, kemudian seakan mengintrogasi mereka. Pertama yang Jennie tanyakan adalah sedang apa Kinasih dan Estu berdua di ruangan itu.


Sepasang suami istri ini tidak langsung menjawab pertanyaan Jennie. Mereka merasa penting tak penting untuk menjawab. Apalagi bagi Estu.


Tapi bagi Kinasih dia memiliki hutang penjelasan kepada Jenny, saat tadi perawatan, karena Jennie melihat beberapa tanda merah di tubuhnya, sekitar leher dan dada.


"Habisnya, kalau dipikir Kinasih itu calonnya Mas Bagas, tapi kenapa berduaan sama Mas Estu di sini?


Tau nggak sih? Aku dari tadi merhatiin kalian, saat Mbak Kinasih teleponan sama Mas Bagas, lalu Mas Estu tatapannya tajam memerhatikan Mbak Kinasih. Lalu dari awal Mas Estu masuk, kayak noleh sana-sini, cari siapa hayo? Kalau bukan Kinasih.


Aku tahu tanda merah itu pasti perbuatan Mas Estu, kan?" papar Jenny, seakan-akan sedang mengintrogasi seorang penjahat.


Estu merasa semakin aneh saja, Kenapa juga jeni seakan ikut campur dengan ranah pribadinya.


"Apa ini maksudnya?" tanya Estu dia tak mengerti.


Jenny pun menjelaskan jikalau Estu merasa dicampuri urusan pribadinya, sebenarnya maksudnya Jennie bukan kayak gitu.


Hanya saja Jenni kaget saat melihat beberapa tanda merah di sekitar dada atau leher Kinasih. Perbuatan siapa kalau bukan salah satu dari keturunan Hestama? Kecuali Kinasih seberani itu, anak baru udah berani nakal dengan orang luar.

__ADS_1


Bukti lain sekarang saat Estu di toilet pun, jelas-jelas tanda merah itu terlihat, tapi Estu biasa saja.


"Nah, jadi yang ingin aku tanyakan, sebenarnya, yang pasangan itu Kinasih sama Mas Bagas atau Kinasih sama Mas Estu?


Ayo jelaskan, meskipun bukan urusanku, siapa tahu nanti aku bisa bantu ya kan? Pasti kalian semua masih merahasiakan dari Kanjeng Mami."


Mata Estu dan Kinasih sedikit melebar, mereka terbelalak, terkejut mendengar pernyataan dari Jenny. Kenapa bisa menebak tepat seperti itu?


"Nah, kalau bener, bahaya kan? Kalau makin banyak orang tahu, tapi untungnya aku bisa pandai jaga rahasia. Makanya ayo terus terang biar nanti aku pilihin baju buat Kinasih biar nggak pakai syal terus kayak orang kampung, sakit pakai syal pakai sweater kayak nenek-nenek Nggak sekalian aja pakai minyak gosok biar aroma neneknya tercium banget. Hiihi."


Kinasih dan Estu tak menyangka, Jennie bakal serempong itu dengan urusan mereka.


Namun, yang tidak diketahui oleh Estu dan Kinasih, bahwa Jennie memang sudah dipercaya oleh Kanjeng Mami buat mengurus segala keperluan fashion dan MUA keluarga Hestama kalau ada acara. Makanya Jennie sudah merasa keluarga sendiri dengan Kanjeng Mami.


Jadi peka terhadap hal yang terjadi di keluarga itu. Ibarat Jenni sudah tahu alur keluarga Hestama. jadi kalau ada yang janggal bakal ketahuan.


***


"Kinasih lama banget sih?" tanya Kanjeng Mami pada Keken yang masih perawatan di sebelahnya.


"Mungkin sakit perut, Mi." sahut Keken.


Namun, tak lama generasi dan Estu sudah kembali dari toilet. Kanjeng Mami menegurnya Kenapa lama sekali. Kalau Kinasih sakit atau Estu ada yang kambuh bisa pulang dulu.


Kinasih menjelaskan tidak ada apa-apa yang terjadi padanya, tadi hanya sempat bingung saja ke toilet dan ketemu Jenny di sana Jadi mengobrol sebentar.


"Oh ya, Kanjeng Mami pakaiannya mau yang mana? Modern atau tradisional tanya Jenny." dia sudah mulai biasa lagi karakternya, tadi sudah mendengar penjelasan singkat dari Kinasih.


sehingga Jenny pun sangat hati-hati memberikan pelayanan kepada Kinasih di depan Maminya. Bagaian leher tersingkap, nanti kalau Kanjeng Mami tahu bisa ada rapat keluarga. Untuk membahas yang terjadi pada Kinasih.


"Rencana kita akan menggunakan dua model pakaian, Jen. saat syukuran di rumah kita menggunakan pakaian daerah, tapi nanti saat acara teman-teman kantor, kita menggunakan gaun modern atau gaun malam. Karena acaranya malam hari." Kanjeng Mami yang sedang sedang menggunakan masker, bicaranya agak tertahan. Takut maskernya retak.


"Ok kalau begitu, karena Kinasih sudah selesai aku coba beberapa gaun untuknya ya Mi." Jennie meminta izin.


"Boleh, boleh. biar cepet," ucap Kanjeng Mami.


"Ayo, Kinasih." Jennie mengajak Kinasih ke ruangan kostum.

__ADS_1


"Estu Mami minta tolong sekali lagi ya, bawain dusnya ke ruangan ikutin Jenny."


"Ya, Mi." Estu sudah sedikit bosan sebenarnya di sana, ditambah pertikaiannya dengan Kinasih tadi di toilet.


Namun, Estu masih mencoba menyebarkan diri. mengikuti Jenny ke sebuah ruangan.


"Di simpan di mana?" tanya Estu yang membawa kotak dus sepertinya agak keberatan.


Untungnya Estu sudah ada pengalaman saat di kampung, dia bekerja kasar. Sehingga sudah tidak masalah jika membawa dus seperti itu.


Coba kalau belum terbiasa, karena Estu dari dulu tidak pernah mengangkat barang-barang berat. Yang disentuhnya hanyalah bolpoin dan kertas-kertas saja.


"Oh iya, Mas ganteng, taro di situ aja." Jenny menunjuk sebuah sudut yang ada meja cukup besar, dengan jari lentiknya dan nada bicara yang centil.


"Aku pulang!" ucap Estu, setelah meletakkan dus tersebut.


Kinasih tidak merespon ucapan Estu, dia hanya menengok pada suaminya, saat memutar balik setelah meletakkan dus dan melangkah menuju pintu.


Tiba-tiba...


"Sebentar, Mas?"


Estu yang sudah memegang handle pintu terkejut, dengan seruan dari Kinasih.


Estu hanya berbalik, tapi tidak menghampiri Kinasih, karena Kinasih yang menghampirinya.


Kinasih melangkah dengan keningnya mengkerut, dia baru melihat saat ini. Kenapa tadi tidak melihatnya? Sedangkan sekarang terlihat jelas tanda itu di kerah Estu.


"Ini?" Kinasih memegang kerah Estu.


Estu menunduk pada kerah yang dipegang oleh Kinasih, dia terdiam sebentar tidak tahu mau menjelaskan apa.


"Milik siapa ini mas?" tanya Kinasih.


Sementara jennie yang memperhatikan itu dia menarik nafas dalam.


"Huft ... mulai lagi deh, perang dingin semakin dingin udah kaya es batu ditaro di kutub utara. Dinginnya dobel dobel." Jennie menggeleng.

__ADS_1


Memang kalau masalah hubungan itu rumit, kalau sedang diuji maka ujian itu ada terus.


Bersambung....


__ADS_2