
Pawang 60
Sarapan pun telah selesai, mereka semua kembali ke aktivitas masing-masing. Ketiga pria kembali ke kantor sedangkan Kinasih dan Kanjeng Mami ada di rumah untuk mempersiapkan pesta menyambut kedatangan Estu yang sudah sekian lama menghilang.
Kinasih menatap kepergian Estu dari jauh, dia ingin melakukan ritual seperti biasa mencium punggung tangan suaminya serta keningnya juga dicium oleh Estu sebelum berangkat ke kantor. Namun, hal itu kini hanya tinggal impian saja yang entah kapan akan dialami lagi.
Bagas memperhatikan itu, antara Kinasih yang menatap Estu dari kejauhan, atau pun Estu yang sepertinya bersikap dingin pada Kinasih.
Bahas merasa, sangat kasihan sekali rasanya melihat Kinasih yang mengharapkan Estu bersikap seperti biasanya.
"Estu sebentar!" seru Bagas. Menghentikan adiknya yang sudah hampir sampai di pintu ke luar.
"Ada apa?" Estu menoleh kepada kakaknya, dia tidak menghampiri hanya berhenti saja di dekat pintu itu.
Bagas mendekati adiknya lalu memutar ke belakang ke arah punggung Estu. Bagas memberi kode kepada kekasih untuk bersiap menghampiri mereka. Kinasih yang sedang ada di balik tangga yang lurus dengan pintu keluar, dia awalnya tidak mengerti diberi kode oleh Bagas dengan lambaian tangannya. Namu, akhirnya paham juga.
Perlahan Kinasih melangkahkan kakinya masih dengan tetapan ke arah Bagas. Lalu Bagas mengganggukan kepalanya pertanda apa yang dilakukan Kinasih sudah benar.
Kini bagas menepuk-nepuk punggung Estu terlebih dahulu, biar tidak terlihat bahwa dirinya sedang melakukan drama. Lanjut Bagas menuliskan sebuah huruf.
"Ada apa sih Kak?" tanya Estu heran.
Saat itu Estu belum memperhatikan Kinasih yang mendekat pada mereka. Estu hanya melihat generasi seperti sedang membersihkan debu-debu pada perabot rumah. Padahal sesuai perintah kakaknya pakai nasi perlahan akan mendekati mereka namun tidak dengan terang-terangan.
"Aku hanya rindu permainan zaman kita kecil. Coba tebak barusan aku nulis suruh apa?"
"Kita kan mau ke kantor Kak bisa mainannya nanti kan?" ucap Estu merasa tidak nyaman dengan lelucon kakaknya.
"Tidak, pokoknya aku ingin sekarang. Kamu tahu kan aku sering menangis karena kamu tidak menuruti perintah aku. Aku adalah kakakmu harus kau turuti," ucap Bagas menceritakan kebohongan.
Estu mengurutkan kening, dia sungguh tidak percaya jika kakaknya secanggih itu . "Benarkah?" tanya Estu meyakinkan.
"Tentu saja bena. Karena kamu adalah adik kesayanganku maka sesekali aku juga ingin bermanja padamu, ingin mengetes pedulimu terhadap aku sebagai kakak. Makanya aku seringkali menangis saat kau tidak menuruti keinginanku, di situ aku ingin tahu sejauh mana kau akan tega membiarkan aku nangis sendirian."
"Hergh! Sungguh tidak disangka memiliki Kakak selebar itu," ucap Estu. Namun, dirinya juga berkata diiringi tawa lirih.
Sebenarnya Estu geli juga, mendengar pengakuan dari sang kakak.
"Ok baiklah, coba ulangi nulis apa?" pinta Estu.
Kemudian Bagas mengulangi permainannya yang tadi, itu menulis atau menggambar sesuatu. Lalu Estu harus menebak apa yang ditulis oleh Bagas di punggungnya.
Jawaban pertama salah, halo Bagas menulis ulang di punggung. Dan ternyata tebakan kali ini benar.
Lalu permainan berikutnya. Bagas meminta adiknya untuk memejamkan mata namun tetap dengan berdiri tegak. Estu juga sempat menolak untuk menyudahi permainan karena mereka akan berangkat ke kantor.
Namun, akhirnya Estu menurut juga karena sang kakak memintanya dengan sangat. Estu yang awalnya menolak juga untuk memejamkan mata akhirnya luluh juga atas permintaan sang kakak.
Kali ini permainan menebak aroma.
__ADS_1
Posisi S2 berdiri tegak dengan menenteng jasnya di tangan yang sedikit diangkat sebatas perutnya. Sedangkan tangan yang satunya menenteng tas.
Bagas mengeluarkan beberapa aroma yang kebetulan dia miliki di kantong. Yang pertama kayu putih. Yang kedua sebuah parfum yang harus ditebak oleh Estu dengan mereknya.
Saat Estu sedang berpikir parfum apa yang dia cium barusan, Bagas melambai-lambaikan tangan lagi kepada Kinasih agar.
Setelah Kinasih mendekati tidak tahu harus melakukan apa. Dengan kode mereka berkomunikasi antara kakak dan adik ipar itu.
Bagas sengaja sedikit memundurkan parfumnya agar S2 mengikuti aroma tersebut agar lebih terasa harumnya tajam. Karena kalau jarak parfum tersebut agak jauh dari hidung S2 aromanya menipis.
Bagas meminta untuk Kinasih tepat berdiri di depan S2 namun harus menjaga tubuhnya agar tidak menyenggol.
"Ingat ya aku akan sedikit menggeser-geser parfum ini agar kau bisa menyesuaikan aromanya. Apapun yang terjadi jangan buka mata, ika tidak menuruti, maka aku akan sangat marah," ucap Bagas.
Pertama Bagas menggeserkan parfum itu lalu tangannya menyenggol pada area hidung Estu.
"Apa sih, Kak? Pelan dong, jangan sampai menyenggol hidungku." Es tuh protes karena kakaknya tidak bisa menjaga jarak tangan dengan hidungnya.
"Iya, maaf," ucap Bagas singkat. Agar adiknya segera tenang kembali.
Lalu rencana berikutnya Bagas terus menggoyangkan parfumnya sedikit menjauh sehingga es itu perlahan memajukan kepalanya sehingga sedikit membungkuk. Karena Bagas juga menggeser parfumnya agak ke bawah, sehingga bibir es itu kini bisa sejajar dengan ketinggi nasi.
"Ayo...!" Bagas memberi kode pada Kinasih agar segera menempelkan keningnya pada bibir Estu.
Gerakan itu sangat cepat, yang penting kening Kinasih sudah menempel di bibir Estu pertanda ritual setiap pagi tetap dilakukan oleh S2 walau dengan mata memejam.
"Kakak, lagi-lagi kau menyenggolku. Awas aja kalau parfumnya beracun, barusan kena bibirku." Restu protes lagi.
Lalu akhirnya Restu bisa menebak harum parfum itu beserta mereknya.
"Ok, ini yang terakhir. Aku janji, ini yang terakhir. Aku akan sentuh di bagian punggung tanganmu. Kamu harus menebak berapa jari yang aku tempelkan di sana."
"Iya, baiklah. Buruan!" ucap Restu masih dengan memejamkan.
Gini giliran Kinasih beraksi, dia mengecup tangan S2 cukup lama. Kemudian bergegas pergi menuju dapur. Di balik tembok dapur Kinasih masih sempat menoleh kepada kakak iparnya lalu mengacungkan jari jempol dengan senyum manis pertanda Kinasih mengucapkan terima kasih pada kakak ipar.
Bagas pun membalas reaksi Kinasih dengan senyuman bahagia bisa membantu adik iparnya.
"Yaudah yuk, berangkat!" Ajak Bagas Dia menarik lengan adiknya.
"Udah? Alhamdulillah.... Lagian kakak aneh-aneh aja ngajak bermain saat kita mau ke kantor." Estu menarik nafas lega, akhirnya dia terlepas dari permainan aneh sang Kakak.
"Kan sudah aku jelasin tadi, lagi pulang yang penting tidak terlambat ke kantor. Dan aku gini rasanya bahagia makasih adikku tersayang," ucap Bagas, bersikap manis pada Estu, agar adiknya itu tidak merasa aneh diajak bermain seperti barusan.
"Hayoh... ngapain senyum-senyum." Marni mengagetkan Kinasih.
"Ih, Mbak Marni, bikin kaget aja." Kinasih memukul lengan assiten rumah tangga keluarga Hestama.
"Lagian nitip-ngintip kayak gitu segala nanti bintitan loh," ucap Marni dia yang sedang memegang pisau sambil diacung-acungkan pada Kinasih saat berbicara. Membuat garasi semakin takut.
__ADS_1
"Nggak usah pakai kayak gini kali, kayak orang mau membunuh aja." Kinasih protes.
Marni malah tertawa diprotes seperti itu, jelas aja Marni reflek mengacungkan pisaunya karena dia sedang mengiris-iris sayuran. Tapi melihat punggung Kinasih yang bersembunyi di balik tembok menuju dapur, Marni jadi penasaran lalu menghampiri Kinasih.
Marni belum puas meledekin Kinasih, dia melihat beberapa adegan saat Kinasih mencium tangan Estu dan keningnya ditempelkan di bibir Estu. Marni jadi ikut senyum-senyum meskipun belum tahu bagaimana ceritanya bisa seperti itu.
"Ayo dong cerita kok bisa kayak gitu? Kalau mau pamitan kan biasa aja, Kenapa Tuhan Estu harus menutup mata segala?" Mulai lagi Marni muncul sifat keponya.
"Pengen tau aja ih, Mbak Marni. Nanti dibuat bahan gosip seluruh chef di dapur ya? Atau bahkan seluruh karyawan di sini, sampai tukang kebun, Pak satpam. Ogah ah."
Kinasih memanyunkan bibirnya sambil bersedekap. Sebenarnya dia bercanda marah seperti itu, tapi males untuk dibuat gosipnya serius. Meskipun belum tentu Marni melakukan itu.
"Ih, jangan suka suudzon. Rahasia Tuhan Yesus sama kamu aja tetap rapi kok di sini," ucap Marni sambil menunjuk dadanya.
"Wah ... makasih Mbak..."
Kiansih!
Kinasih!
Marni dan Kinasih seketika menengok ke sumber suara, Kinasih yang tadinya akan memeluk Marni karena terlalu gemas telah menjaga rahasianya dengan baik, diurungkannya. Karena Kanjeng Mami memanggil.
"Aku pergi dulu ya." Kinasih berpamitan kepada Marni, tanpa menunggu jawaban dia langsung berlari menghampiri sumber suara.
Saat Kanjeng Mami memanggil Kinasih memang tidak tahu Mami Desi ada di mana. Namun, Kinasih tetap naik ke lantai dua. karena sependangaran dia suara kencing Mami Memang berasal dari sana.
Kinasih yang jarang sekali naik ke lantai dua, dia masih cukup kebingungan mencari ruangan-ruangan yang mungkin ada Kanjeng Mami di sana.
"Lagian kenapa sih memanggil tapi orangnya tidak kelihatan. aturan kalau memanggil jangan berada di dalam kamar, di dalam ruangan, atau tempat bersembunyi." Kinasih menggerutu, dia kesulitan mencari Kanjeng Mami.
Ada ruangan yang dikunci, ada juga yang tidak. Saat membuka ruangan yang ternyata tidak dikunci, Kinasih terkejut. Bukan ada apa-apa di sana, tapi kaget aja ternyata pintunya tidak dikunci takut dikira nggak sopan.
"Di sini! Kok malah muter-muter, sih." Sebuah suara menarik Kinasih untuk menoleh.
Ternyata Kanjeng Mami ada di ruang baca. Dia berdiri di depan pintu. Kenapa tadi bisa tidak kelihatan ya?
Kinasih tahu itu ruang baca karena pintunya tidak terbuat dari kayu. Dindingnya pun bukan tembok tapi kaca. Pokoknya ruangan itu seluruh bagian depannya berdinding kaca. Jadi terlihat buku-buku yang tertata rapi di dalam rak.
"Iya Mi, ada apa?" tanya Kinasih setelah berada di dekat mami Desi.
"Ayo ikut Mami, kamu jangan bergaul terus sama pelayan. Nanti kamu nggak ada waktu buat menyenangkan suamimu. Mulai saat ini kamu harus belaja." Kanjeng Mami memberi teguran kepada calon menantunya.
'Belajar? belajar apa? Apa sama buku-buku di sini harus aku pelajari?' Kinasih berkata dalam hatinya.
Karena Kanjeng Mami mau ngajakin asik ke ruang baca, otomatis generasi berpikir dirinya harus belajar tentang ilmu pengetahuan dan buku lainnya agar dirinya pintar. Padahal Kinasih paling malas untuk belajar teori-teori seperti itu. Kinasih lebih suka belajar yang langsung praktek.
"Nah, kita mulai dari dana." Kanjeng Mami menunjukkan sudut rak buku.
Kinasih yang masih kebingungan mengikuti saja apa kata Kanjeng Mami.
__ADS_1
Bersambung....