
Estu masih saja memperhatikan Kinasih yang sedang menelepon dengan kakaknya. Lama-lama diagram juga, perasaan Kalau dengannya Kinasih tidak pernah bercerita apapun. Yang dibahas hanyalah tentang hubungan mereka, sehingga terkadang Estu bete juga.
Estu melihat karyawan salon yang tadinya menangani Kinasih merapikan rambutnya yang sekarang sudah tergerai setelah di hair dryer, kini karyawan itu pergi. Estu memanfaatkan hal itu untuk menarik generasi ke belakang.
Namun, dia punya trik tersendiri.
"Mami aku mau ke toilet," ucap Estu berbisik pada Maminya.
"Emangnya kamu tidak tahu toiletnya di mana kamu kan pernah ke sini?" Kanjeng Mami sedang tanggung melakukan prepare perawatan, dia tidak bisa pergi mengantar Estu untuk ke.
Bahkan Kanjeng Mami tadinya mau meminta Keken, mimpi melihat calon menantunya itu pun sama sudah dieksekusi oleh karyawan salon. Kemudian Kanjeng Mami meminta Kinasih untuk mengantarnya, meskipun Kinasih juga belum selesai, kalau hanya mengantar mungkin sebentar. Sebab kebetulan Ses Jennie sedang tidak ada.
"Kinasih, tolong antar Estu ke toilet, ya. Mami lagi nggak bisa." Kanjeng Mami memerintahkan calon mantu untuk bagasnya.
Nasi yang melirik pada Estu dia tahu pasti ada sesuatu yang suaminya itu rencanakan. Akan tetapi generasi tidak bisa berbuat apa-apa, tak mungkin dia melawan Kanjeng Mami.
Apa berkata apa pun Kinasih beranjak dari tempat duduknya, bahkan tanpa mengajak Estu dia langsung ke belakang. Estu mengekor Kinasih dan dirasa waktunya sudah tepat, tidak ada orang melihat, besok langsung menarik Kinasih untuk segera ke lorong yang lebih dalam lagi. Estu tidak sabar ingin memberi pelajaran pada Kinasih.
Bangunan itu cukup besar, untuk menuju toilet memang ada beberapa lorong. Karena salon itu termasuk salon besar, bukan hanya untuk perawatan badan saja, atau mengurusi rambut seperti salon pada umumnya yang standar. Namun, salon tersebut itu adalah tempat merawat tubuh keseluruhan. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, perawatan kulit, hingga ada pelayanan dokter kecantikan bisa dilakukan di sana.
Bahkan untuk busana dan make up pun khusus ada di sana. Makanya tadi Kanjeng Mami membawa dus besar isinya adalah kebaya dari butik. Untuk nanti dicocokkan saat make up dan model pakaiannya, serta warna busana juga ngaruh untuk nanti make up-nya menggunakan tema apa.
"Apa sih Mas?" Tanya Kinasih. Dia tidak suka ditarik-tarik seperti itu.
"Kamu masih bisa bilang apa? Kamu nggak sadar sudah semakin dekat dengan Mas." Estu mengomel pada Kinasih.
Kinasih membela diri, maksudnya semakin dekat dengan Mas Bagas apa? Padahal hal itu wajar dilakukan sebagai adik, atau sebagai anggota keluarga. Karena memang Kinasih sudah dianggap menjadi keluarga. Apalagi Kanjeng Mami yang sekarang sudah tidak sering jutek dengannya.
Estu protes Kenapa Kinasih tidak menolak saja saat tadi dijemput oleh Mas Bagas. Dan saat tadi berpapasan di jalan raya, Kenapa juga Kinasih pura-pura tidak melihat. Jelas-jelas Estu memasang klakson.
"Mas kan tahu sendiri, aku seperti ini hanya untuk menyenangkan Kanjeng Mami. Mas bisa sabar nggak sih? Aku bisa mengambil hatinya Kanjeng Mami, kita bisa berterus terang dengan hubungan ini." Kinasih mengingatkan kembali tujuan mereka.
__ADS_1
"Penjelasanmu sama aja kayak Mas Bagas, kayaknya kamu sudah ketularan ya. Semakin kompak, seperti couple goal gitu?"
"Hihi, couple goal itu apa, Mas? Aku tahunya kalau goal itu, sepak bola." Kinasih malah meledek Estu yang sedang cemburu kepanasan.
Mengapa Estu juga bicaranya agak-agak sok gaul gitu, padahal ibarat kelahiran kedua Estu terlahir di desa. Karena habis hilang ingatan.
Ataukah perlahan-lahan secara tak sadar ingatan Estu kembali? Meskipun Estu adalah seorang pebisnis yang super sibuk, tapi dia juga bukan orang yang kaku dalam pengetahuan. Dia tahu hal-hal gaul entah dari mana, atau tidak sengaja membaca sebuah artikel. Ada juga kliennya yang masih muda dan dari berbagai kalangan.
Tidak semua klien Estu memiliki karakter yang kaku, banyak juga pemuda-pemuda gaul, om-om gaul, bahkan bapak-bapak yang masih gaul juga ada, mengikuti perkembangan zaman dari cara bicara, bertingkah.
Hingga Estu sebenarnya tahu istilah gaul, kemudian budaya pergaulan anak muda zaman sekarang seperti apa. Hanya saja Estu tidak mengikuti budaya tersebut. Karena karakternya memang tidak cocok, menurut Estu.
"Terus aku harus bagaimana Mas? Perasaan jadi serba salah. Kalau Mas nggak mau aku deket-deket sama Mas Bagas, ya harusnya Mas jujur sama Mami. Aku juga nggak mau kayak gini kok, meskipun Mas Bagas cakep, ganteng, gagah, pintar, dewasa, perhatian, penya... Emh...!"
Saat Kinasih sedang berlebihan memuji Bagas, Estu tak sabar lagi dengan kejengkelannya. Dia langsung ******* bibir Kinasih yang cerewet. Sebenarnya bukan karena Kinasih cerewet. Namun, Estu tidak suka kalau Kinasih terlalu memuji-muji Bagas.
Kinasih hampir saja lupa diri, dia sempat membalas beberapa serangan dari Estu, hingga keluar suara yang memalukan. Namun, karena Estu semakin brutal, dia dia menggiring Kinasih ke tembok hingga tangannya hampir bergerilya menjelajah tubuh Kinasih.
Estu kaget didorong seperti itu, "Maksudnya apa?" ucap Estu, sungguh heran terhadap istrinya. Bukan hanya semalam, saat ini pun dia seakan berperilaku dengan orang asing.
"Masih bertanya maksudku apa Mas?" kini Kinasih yang gantian bernada marah.
Estu tak mengerti, dari semalam seharusnya dirinya yang marah, tapi mengapa seakan Kinasih selalu bisa membalikkan keadaan.
Kinasih membetulkan terlebih dahulu syalnya yang jatuh. Kemudian mengusap bibirnya yang seakan masih basah karena kegiatan mereka tadi.
Estu yang ingin bicara ditahan oleh Kinasih, dengan menaruh jari telunjuk di bibirnya sendiri.
"Ssst... mau bicara apa lagi Mas? Oke kalau Mas merasa semalam aku yang salah, aku memang salah dan aku minta maaf. dan Kalau Mas mau mendengar permintaanku maka Mas harusnya ngerti, posisi kita itu bagaimana. Nanti keluarga mas sendiri yang malu kalau sampai terjadi apa-apa padaku."
Kinasih semalam juga sudah menjelaskan, bahwa kalau mereka kelabasan takut Kinasih langsung subur dan hamil. Keluarga Hestama akan kena malu juga.
__ADS_1
Mereka memang sudah menikah, tapi belum diketahui semua keluarga. Akan ada lagi masalah baru, mereka akan repot lagi menjelaskan, dikiranya Kinasih hamil di luar nikah.
Padahal semalam yang disesalkan Estu adalah, dia sudah hampir sampai puncak kemudian didorong oleh Kinasih. Suasana itu menimbulkan perasaan kacau, gondok, kesal, marah campur aduk, tapi Estu harus tetap tahan. Karena dia juga sadar akan peringatan dari Kinasih. Namun, harapan Estu harusnya jangan seperti itu.
Ya, mereka semalam sudah berhubungan badan, terlena dengan sentuhan awal yang hanya sekedar *******, meraba hingga aktivitas semakin jauh melakukan hubungan sebagaimana suami istri semestinya.
Mereka sama-sama merasa tenang dalam bercinta, karena sudah menikah. Namun, di tengah permainan mereka, tiba-tiba Kinasih terbersit takut hamil. Dan merasa Estu belum bisa meyakinkan keluarga tentang status pernikahan mereka.
Bagaimana kalau pada akhirnya Kinasih ditelantarkan? Ketakutan ini sama halnya rasa takut saat dia mau menerima lamaran Estu saat di kampung.
Kinasih takut Estu sudah memiliki pasangan di kota, nanti bagaimana status pernikahannya. Namun, karena keyakinan Estu bisa mempertahankan hubungan mereka dan bisa melindungi bahwa mereka akan tetap bersama apa pun yang terjadi, maka Kinasih setuju untuk menikah.
Nyatanya saat ini malah Kanjeng Mami salah paham dengan keberadaan Kinasih. Mereka jadi mendapat masalah baru, untuk diselesaikan berikutnya, selain permasalahan inti.
Itulah yang menjadi bayangan Kinasih takut dia hamil, maka akan bertumpuk masalah. Status pernikahan Estu dan Kinasih saja belum diselesaikan dan diterima oleh keluarga Hestama ada lagi masalah perjodohan Kinasih dan Bagas. Nanti ada lagi tentang hamilnya Kinasih yang dianggap di luar nikah. Lalu, kalau Bagas yang disuruh bertanggung jawab bagaimana? Dikiranya anak yang dikandung Kinasih hasil hubungan dengan Bagas.
Semalam itu yang Kinasih risaukan dan tiba-tiba mendorong Estu yang sudah hampir berada di puncak. Bahkan Estu untuk melanjutkan sendiri saja kepuasan birahinya tidak bisa. Karena terlanjur dongkol, fantasinya berbeda jika harus melakukan sendiri.
"Aduh ... eike nggak kuat bo ..." tiba tiba Jenni yang sedari jauh sudah rempong berlari ke arah toilet, membuka pintu di mana Kinasih dan Estu berada di sana.
"Wow ... kalian ngapain di sini? Ah... udah, udah, minggir-minggir... eike nggak tahan." Jenny yang terkejut melihat Estu dan Kinasih satu ruangan dia tak peduli karena terlanjur ingin buang air kecil.
Kinasih panik, karena tiba-tiba Jennie masuk. Nanti daftar pertanyaan interogasi nambah lagi. Soalnya tadi saat dirinya akan melakukan perawatan, Jenny melihat banyak tanda merah di sekitar leher dan dada Kinasih.
Kinasih lupa tidak hati-hati, hingga tanda merah itu terlanjur dilihat oleh Jennie.
Otomatis Jenni yang rempong itu ngeledek Kinasih. Disangkanya perbuatan itu dengan Bagas, karena tahu bahwa calonnya adalah. Namun, Kinasih bilang sejujurnya bahwa itu bukan dilakukan oleh Bagas. Karena Kinasih juga takut nanti Bagas diledekin oleh Jenny, malah Bagas jadi tahu kalau di tubuh Kinasih banyak tanda merah. Nanti Bagas juga bertanya minta kejelasan.
Ah... jadi runyam. Yang tadi saja masih hutang penjelasan pada Jennie si rempong. Sekarang ada lagi bahan untuk di rempongin Jennie.
Bersambung....
__ADS_1