Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Menantu Siapa?


__ADS_3

Bab42


Masih membicarakan karakter Kinasih yang Mami percaya sebagai wanita baik-baik dan tidak matre.


"Semoga tidak, feeling Mami nggak pernah salah. Udah beberapa hari dia di rumah kayak gitu aja kelakuannya. Nggak ada centil-centilnya atau bertingkah aneh, nggak kelihatan mau ngabisin uangnya Bagas."


Kinasih mendengar percakapan Kanjeng Mami dan karyawan salon, meskipun yang terakhir kali yang dia bahas malah Bagas, tapi Kinasih tidak peka. Maksud Kanjeng Mami apa hubungannya Kinasih yang menghabiskan uang Bagas? Sehingga Kinasih hanya diam saja.


Mungkin itu hanya obrolan kosong sekedar menghangatkan suasana, saat sedang fokus memanjakan diri di salon.


"Mantunya mau sekalian kita permak Mami? Sekalian di sini," tanya karyawan salon lagi


"Kapan-kapan, lah. Udah sore."


"Nggak papa Mami, perlahan. Kan tidak bisa sekaligus. Atau mau instan pakai krim-krim gitu? Biar kinclongnya cepet?"


"Eh jangan, tidak ada bagian dari keluarga Hestama yang wajahnya nanti kelihatan aneh saat tua."


"Makanya Kanjeng Mami, perawatannya harus bertahap dari sekarang. Mau nggak?"


"Ya udah sana, tanya anaknya. Mami pasrah aja, lagi enak nih. Jangan ngajak ngobrol terus. Gak berasa pijatannya."


Kemudian, karyawan salon yang tadi ngajak Mami ngobrol terus, pergi mendekati Kinasih yang duduk di kursi sofa set.


"Mbak. Namanya siapa ya?" tanya, karyawan yang ganteng tapi cantik.


Seperti biasa, kalau di salon tidak ada yang sepenuhnya pekerja wanita atau pria saja, tapi kadang malah kebanyakan karyawannya setengah wanita setengah pria.


"Kinasih, Mas." Kinasih menjawab pelan.


"Ya ampun eike cantik-cantik gini dibilang Mas. Yey ada-ada aja, sih."


"Eh, maaf salah nyebut ya? Hehe."


"Ya salah dong. Panggil ses, atau panggil Ike Jenny." Karyawan waria itu menjelaskan dengan lemah gemulai.


"Oh... Mas jenny, hehe. Maaf ya, Mas Jenny."


"Ya ampun.... Memangnya nama Jenny ada yang lekong? Akikah ini cantik kayak Jennie blackpink. Masih aja dipanggil Mas. Jahara deh, yey."


Jenny, menegur Kinasih dengan bahasa ala-ala banci, makin membuat Kinasih merasa geli, ingin tertawa. Tapi takut malah Jenny, tersinggung.


"Maaf ses Jenny, sekali lagi maaf ya." Kinasih kali ini meyebut dengan benar, dia melirik pada Kanjeng Mami. Takutnya kena teguran dan dapat lirikan mata tajam.


Namun, ternyata Kanjeng Mami tidak menggubris, dia menikmati pijatan di kaki, mata merem kepalanya merebah di punggung kursi.


Gimana mau nggak tawar jenny sekali lagi


"Tapi, saya mau diapain aja ya, Mbak Jenny."

__ADS_1


Jenny, sedikit mencibirkan bibirnya, bak terima dipanggil Mbak. Tapi masih mending daripada dipanggil Mas.


"Pokoknya kamu akan eike sulap. Lihat tuh Kanjeng Mami, udah hampir 60 tahun masih kayak Ibu muda. Kulit seger seperti itu mau nggak?"


"Tapi tidak diapa-apain kan?" tanya Kinasih, dia takut biasanya ke salon hanya untuk creambath saja, itu pun jarang. Karena kalau keramas bisa dilakukan di rumah.


Saat di kampung, Kinasih pernah ke salon, kalau cukur rambut atau lagi pengen gaya-gayaan creambath. Biar sedikit nyaman, karena sambil dipijat-pijat kepalanya.


"Ya tentunya diapa-apain dong, kalau nggak diapa-apain ya nggak bakal jadi apa-apa."


Jenny kesal. Kinasih susah banget mau dibikin cantik, banyak tanya dan rasa takut.


Kinasih malah jadi bingung, yang diucapkan Jenny itu apa?


"Kok diam? Salon semewah ini seprofesional ini masih diragukan? Kamu lihat tuh orang-orang yang masuk ke sini kinclong semua? Mau nggak? Kalau nggak mau nggak jadi masalah. Capek maksa-maksa orang yang nggak mau glow up."


"Iya, iya. Saya terserah ses Jenny aja."


"Ya udah, ayo ikut ke ruangan."


"Ruangan apa lagi-lagi?" Kinasih merasa takut masuk ke sebuah ruangan. Jangan-jangan...


Meskipun penampilan jenny seperti wanita, perilakunya juga lemah gemulai, tetap saja ada rasa takut, aslinya dia memiliki senjata. Ya, senjata yang bisa bikin anak itu.


"Ya ampun... eike nyerah deh, susah banget perempuan ini mau jadi cantik. Kanjeng Mami lihat nih mantunya, dikira Eike singa Mau nerkam?"


"Kinasih ikut aja apa kata Jenny," ucap Kanjeng Mami masih dengan posisi mata terpejam dan badan rileks merebah ke punggung kursi.


"Nah gitu dong, ayo," ucap Jennie sambil berjalan dengan pantatnya yang berlenggak-lenggok seperti bebek, tangannya bergoyang-goyang dengan jari yang begitu lentik.


***


"Mbak Sarah, pelayan yang tadi mana?" tanya Kemala, saat dia sudah selesai pesta-pesta dengan temannya di rooftop.


"Maksud Mbak Kemala siapa?" tanya Sarah


"Yang tadi itu, yang numpahin makanan sama minumanku," ucap Kemala.


"Oh ... Kinasih, dia ke kantor tadi siang ngantar makanan."


"Oh... ya udah. Kirain masih ada," ucap Kemala, iya langsung pergi bersama temannya.


Pukul Lima sore dia baru pulang, masih dengan menggunakan seragam sekolah. Mereka hanya diganti baju atasannya saja, bawahnya tetap rok abu-abu.


Sarah geleng-geleng kepala melihat kelakuan keponakan Keken, dia segera bergegas ke rooftop untuk membereskan bekas Kemala dan temannya berpesta.


"Belum jadi keluarga Kanjeng Papi aja udah belagu kayak gitu, bagaimana udah jadi keluarga? Padahal hanya tantenya aja yang berhubungan di sini," gerutu Sarah sambil merapikan sampah-sampah dan kotoran makanan yang membuat rooftop tidak nyaman dilihat.


Kemala memang orangnya jahil, mungkin lebih tepatnya karena salah pergaulan. Semenjak masuk ke jenjang pendidikan SMP, dia ikut ke Jakarta menemani Keken. Sehingga pergaulannya terpengaruh seperti karakter gadis metropolitan. Namun, meski begitu dari segi bahasa tidak terlalu berubah, masih mengikuti aturan keningratan.

__ADS_1


Ya, keluarga Keken juga keluarga ningrat. Namun, mereka lebih banyak bersosialisasi di daerah, yaitu di provinsi Jawa tengah. Sedangkan keluarga Hestama mengadu peruntungan di ibukota.


Tapi mereka rutin mengadakan pertemuan antar keluarga darah biru sebulan sekali, biasanya yang dari kota ke daerah, atau pun sebaliknya. Seperti bulan ini mendapat giliran pertemuan di adiknya Kanjeng Mami, yang tempatnya masih berada di Jakarta.


Kenapa pertemuannya sebulan sekali? Bukankah itu cukup padat? Kita tahu waktu sebulan itu tidak lama. Padahal mereka juga banyak kegiatan mengurus usahanya.


Untuk pertemuan keluarga ini terkadang para pria tidak ikut, karena mereka sibuk dengan usaha masing-masing. Namun, terkadang juga banyak yang ikut karena sebenarnya diwajibkan. Agar budaya ningrat mereka tidak luntur tergerus oleh zaman. Mereka memang masih ada ikatan darah seperti Keken dan Estu sebenarnya saudara kalau ditelusuri silsilah.


Akan tetapi masih terikat saudara jauh, sehingga Estu dan Keken masih boleh menikah.


Makanya kenapa Kanjeng Mami menyetujui jika Bagas menyukai Kinasih, tak masalah. Asal orang baru dari luar darah biru, memiliki kesopanan yang bisa diakui oleh keluarga ningrat tersebut. Karena orang luar tersebut yang harus menyesuaikan ke keluarga darah biru. Bukan Ningrat yang terbawa budaya luar.


Jika orang luar yang terlalu keras, budaya modernnya terlalu mendominasi sudah pasti tidak akan direstui oleh keluarga Hestama atau keluarga darah biru yang lainnya.


Karena sangat sulit dirubah, pastinya akan meracuni budaya yang ada atau meskipun berubah karena cinta, karakter yang sudah terbentuk sampai usia dewasa tidak akan langgeng, mereka akan kembali ke karakter semula. Makanya dipilih-pilih juga untuk anggota keluarga ningrat memiliki jodoh dari luar atau keturunan berdarah biru.


Seburuk-buruknya keturunan darah, biru, mereka masih bisa menyesuaikan budaya leluhur, baik dari tingkah laku, kebiasaan dan berbahasa.


***


Pukul lima sore lewat sedikit, Estu dan Kanjeng Papi baru saja pulang. Mereka memang pulang telat karena ada pekerjaan yang sedikit lagi harus selesai, jadi terpaksa pulang telat yang seharusnya tepat waktu pukul 04.00. Akan tetapi karena mereka tidak akan ada acara lagi keluar, maka dilebihkan sedikit yang penting pekerjaan selesai.


Kebetulan Bagas juga dari perusahaan cabang pulang berpapasan dengan di halaman parkir rumah, mereka sama-sama turun dari mobil di halaman rumah itu.


Bagas, Kanjeng Papi dan Estu berjalan berbarengan. Tiga cowok berkharisma seakan seorang tokoh mafia yang keren mewah dan gagah. Namun, sayang sekali mereka bukanlah bintang film dan tidak ada orang yang melihatnya juga, betapa kerennya mereka saat jalan bertiga bersama mengenakan setelan jas hitam dan menenteng masing-masing tas kerja.


Saat membuka pintu, suasana rumah sepi. Hanya seorang pembantu yang sedang merapikan ruangan menyapa dengan sedikit membungkukkan badan


"Mbak. Ke mana Kinasih?" tanya Bagas yang malah menanyakan adik ipar terlebih dahulu.


Estu menyenggol lengan Bagas, yang mulai lagi isengnya. Apakah beneran Bagas akan menikung adiknya sendiri? Sesuai dugaan Estu, Bagas jadi ketagihan dilayani oleh Kinasih.


"Maaf Tuan, mbak Kinasih belum pulang," pelayan yang ada di sana.


"Apa? Kok bisa belum pulang?" Estu langsung menyela, tentu saja dia khawatir. Di kota Jakarta Kinasih mau ke mana? Dan ada apa sampai tidak ada di rumah sore begini?


"Saya tidak tahu Tuan." Pelayan berkata apa adanya.


"Tenang, dulu biar Papi telepon Mami," ucap Kanjeng Papi.


"Kakak, sih. Selalu ngandelin Kinasih terus. Mungkin dia capek, jadi kabur," tegur Estu malah menyalahkan kakaknya, tidak nyambung sama sekali.


"Apa hubungannya? Waktu kita berangkat, Kinasih kelihatan baik-baik aja kok." Bagas membela diri.


"Mi, di mana? Beneran kamu belum pulang dari tadi?" tanya Kanjeng Papi setelah sambungan teleponnya diterima oleh sang istri.


"Iya Pih, tadinya Mami hanya mau perawatan kuku. Eh... ternyata si Jennie, nih Pi. Malah, nawarin Kinasih buat perawatan. Ya udah deh, demi menantu Mama nggak jadi masalah."


"Maksud Mami menantu siapa? Untuk siapa?" Kanjeng Papi bingung, dia sedang membahas Kinasih malah istrinya membahas menantu.

__ADS_1


Bagas dan Estu saling berpandangan ingin segera tahu apa yang diperbincangkan papi dan maminya ditelepon. Karena mereka mendengar bahas-bahas menantu juga.


Bersambung


__ADS_2