Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Lupa Rumah Sendiri


__ADS_3

Bab 23


**#


Waktu menunjukkan pukul dua siang. Kanjeng Mami dan Estu belum juga pulang. Kinasih bosan rasanya. Meskipun sejak tadi sudah ada kegiatan bersama pelayan lainnya.


"Ngapain bengong? Yuk kita rujakan di belakang," ajak Marni yang sudah memegang ulekan beserta bumbu di atasnya, yang belum halus.


"Emang boleh kita rujakan santai-santai gitu?" tanya Kinasih yang sedang duduk di dekat pintu dapur menuju taman belakang.


"Bolehlah. Siapa yang melarang? Kerjaan kita udah beres. Ayo!"


Kinasih ikut saja, terlebih tangannya juga ditarik agar segera ke taman belakang di sebuah gazebo yang cukup luas. Di sana sudah ada tiga pelayan lain.


Kinasih heran, karena para pekerja di sini seperti tidak ada beban. Mereka seperti di rumah sendiri, mau bercanda, mau makan-makan, mau apa pun bebas.


"Nanti kalau Kanjeng Mami pulang, Mas Bagas, terus yang lainnya mau makan bagaimana?" tanya Kinasih lagi.


"Makan ya tinggal makan. Nanti kami siapin, tapi kan ini belum waktunya," jawab salah satu pelayan yang lain di sana.


"Terus kalau ketahuan kita nyantai begini?" Kinasih masih merasa ketakutan.


"Ya nggak papa, mereka nggak bakal ngontrol di rumah segede ini. Mereka butuh kita nggak bakal cari kemana-mana. Kamu lihat tuh yang menggantung di tiang."


Kinasih melihat apa yang ditunjukkan oleh Marni.


"HP?"


"Bukan, lebih tepatnya HT, itu alat komunikasi yang digunakan di rumah ini. Ada di beberapa sudut, kalau HP itu lebih canggih. Tahu kan kalau HP?"


"Iya kalau HP saya tahu, makanya saya tanya itu kayak HP, tapi...,"


"Udah jangan dipikirin, bantu kupas ini," ucap Lili Menyela obrolan Kinasih dan Marni.


Mereka asik makan rujak, sesekali datang Pak satpam, sopir yang sedang tidak bertugas, pengurus kebun, mereka membawa satu mangkok rujak sendiri. Lalu kembali ke tempat kerjanya masing-masing.


Kinasih merasa ini tidak seperti yang dibayangkan, tidak setakut bagaimana menghadapi orang kaya sesungguhnya yang biasanya menyepelekan orang miskin, kejam, sombong, licik.


Akan tetapi, dengan dirinya menjadi pelayan saja itu sudah terbilang menakutkan sih. Bisa saja nanti ada salah sedikit, main pecat, siksa. Begitulah karakter Kinasih, selalu overthinking.


Kenapa juga Estu tidak terus terang kalau Kinasih itu istrinya. Sempat terbersit hal seperti itu oleh Kinasih, keluarga juga sepertinya baik, mereka seperti orang-orang yang bisa diajak berunding. Kenapa gak coba dibicarakan.


Mungkin suatu saat nanti Kinasih akan bicara pada Estu, untuk mengatakan yang benar tentang dirinya.

__ADS_1


Walau ada hal yang ditakutkan oleh Kinasih yaitu Kanjeng Mami yang berwajah judes.


***


Estu dan Kanjeng Mami sudah sampai rumah, turun dari mobil. Kanjeng Mami tertawa-tawa sambil berjalan memegang lengan Estu, seperti ada sesuatu yang menggembirakan.


Namun tidak dengan Estu, wajahnya muram. Entah kenapa. Apakah terlalu dipaksakan untuk mengingat masa lalunya? Atau dia teringat Kinasih yang belum disapanya sejak pagi?


"Ahaha, tadi kamu lucu sekali. Sama persis seperti waktu masih kecil. Lagi makan, eh ... pentolnya jatuh, hahaha." Mami Desi berkata sambil tertawa.


Mami Desi masih saja membahas kejadian tadi saat Estu dan dirinya makan.


Makanya sampai sekarang tetap saja tertawa. Saat tadi makan bakso dan pentolnya jatuh, sudah itu langsung makan es krim, persis sekali waktu Estu masih kecil.


Setiap kejadian dihubungkan oleh Mami Desi dari masa lalu Estu. Mami Desi pikir itu adalah awal pemulihan ingatan, padahal ini hanya kebetulan.


Saat tadi Estu sedang makan bakso Kenapa pentolnya jatuh? Karena terlalu licin untuk dipotong dengan sendok. Mereka makan tidak di meja, tapi mangkok yang di atas tangan. Jadi cukup kesulitan untuk memotong - motong. Namanya juga beli bakso di Mang-mang yang lewat.


Lalu Estu kepedesan, tukang baksonya malah kebetulan lupa membawa air minum. Lalu ada pedagang es krim keliling, langsung saja Estu membelinya karena daripada tidak minum sama sekali.


Saat itu Mami Desi memandang kelakuan Estu dengan senyum bahagia, ingatan Estu akan cepat pulih dengan melihat adegan yang mirip sekali saat anaknya itu TK.


"Kamu makan obat dulu, baru istirahat," ucap Kanjeng Mami yang sudah mengantar Estu ke kamarnya.


"Kenapa? Masih kangen ya? Duh... anaknya Mami," Kanjeng Mami memeluk Estu dengan erat, gemas.


Ternyata Estu sangat manis bagi Kanjeng Mami, sama seperti dulu selalu manja kepadanya. Padahal Estu menanyakan Mami Desi ke mana biar dia tenang mau bertemu Kinasih.


"Mami seperti biasa jam dua harus istirahat, jaga kesehatan. Nanti jam tiga Mami pasti bangun," jelas Kanjeng Mami sambil membuka pakaian kemeja Estu, untuk diganti dengan pakaian biasa.


"Mau mandi atau enggak? Mami sih, gak jadi masalah. Yang penting harus ganti baju karena kamu dari luar. Debu, kotor."


Estu menuruti saja apa kata Maminya, agar Mami Desi segera beristirahat. Estu masih meraba-raba bagaimana karakter Maminya saat dulu sebelum dia hilang ingatan.


Kalau saja Estu tahu karakter dirinya berkuasa di rumah itu, dia pasti bisa melakukan apa yang diinginkannya tanpa harus patuh kepada Mami Desi.


Kali ini Estu memang penurut karena dia merasa menjadi orang lain, merasa harus menghargai tuan rumah atau yang paling dituakan di situ adalah Mami Desi dan tentunya Papi Hestama. Namun, meskipun sudah hampir sehari Estu di rumah itu, dia belum bertemu dengan Papi Hestama dan itu tidak terpikirkan juga oleh Estu, karena sibuk dengan Maminya.


Karena Estu juga tidak ingat apa pun, dia merasa gak ada anggota keluarga lain, jadi Papi Hestama tidak Estu tanyakan, dia aja gak tahu siapa dirinya.


"Ya udah tidur ya, Mami ke kamar lagi." Kecup Kanjeng Mami pada kening Estu.


Estu yang sudah berbaring dengan selimut sampai dada, tak lama dia bangun kembali. Perlahan beranjak dari tempat tidurnya, menengok kanan dan kiri. Setelah berada di pintu, keadaan sepertinya aman.

__ADS_1


Kemudian Estu mencari ke seluruh ruangan keberadaan Kinasih. Di kamar manapun tidak ada, di depan, di dapur dan kini dia melihat pintu yang berada dekat dapur terbuka. Estu berjalan ke sana, tapi dari kejauhan sudah terlihat beberapa wanita sedang bercengkrama.


Sebuah pintu dengan dinding kaca yang besar, hingga terlihat pemandangan dari dapur tembus ke halaman belakang.


Estu melihat sekitar, seakan baru berada di rumah ini. Mungkin karena sebelumnya dia berada di kampung, sehingga melihat rumah sebesar ini cukup takjub. Juga dengan mewahnya rumah bak istana ini.


Apakah tidak akan pecah dinding-dinding kaca ini? Sempat terpikir seperti itu oleh Estu, padahal rumah itu dia yang menginginkan modelnya, biar terkesan lebih luas dan terang tapi tidak gerah.


"Ekhm!" Estu berdeham setelah cukup dekat dengan para wanita yang sedang bersenda gurau, kurang lebih ada enam atau tuju orang di sana.


"Eh tuan!" serempak mereka berdiri.


Ada yang masih memegang buah, ada yang sedang mencolek sambel rujak langsung dimasukkan mulut tanpa dikunyah, karena buru-buru berdiri. Ada yang mau mencolek tapi langsung dijatuhkan karena melihat Estu datang.


Estu hanya tersenyum saat mereka menyapa dirinya, belum tahu kebiasaan Estu yang dulu kalau di depan pelayan. Kenapa para pelayan seakan sangat sungkan kepada dirinya


"Kinasih," ucap Estu.


"I-Iya Mas, Eh, T- tuan." Kinasih bingung harus memanggil apa, serba salah. Hingga dia menjawab dengan gugup dan gagap.


Estu menghampiri Kinasih dan memegang tangannya, lalu mengajaknya pergi. Kinasih sempat menoleh ke arah para pelayan dia bingung, bukan malah senang diajak Estu seperti itu.


Kinasih takut mereka menyangka macam-macam. Bukankah ini sedang bersandiwara? Bahwa Kinasih adalah seorang pelayan, tapi malah Estu yang tidak menjaga sandiwaranya.


Perkiraan Kinasih benar, setelah kepergiannya, para pelayan saling pandang. Mereka merasa heran, Tuannya yang biasa tak pernah pergi ke beberapa ruangan kalau tidak terpaksa, kini menginjakkan kaki di taman belakang.


Estu dari kamar biasanya, langsung ke kantor, meja makan untuk sarapan, berenang pun jarang. Paling ke ruangan gym. Estu tidak pernah ingin mencari siapa pun hinga menyusuri seluruh ruangan.


Dan lagi, Estu paling tidak ingin disentuh apalagi menyentuh orang lain. Namun ini?


Para pelayan tahu, Estu sedang hilang ingatan. Namun, hilang ingatan ini sepertinya membawa perubahan besar bagi Estu. Perubahan yang membuat Estu terlihat lebih sederhana dan mau membaur.


"Tunjukkan kamarmu," ucap Estu, dirinya dan Kinasih masih dalam keadaan berjalan.


"Mau apa?" tanya Kinasih


"Aku pengen tahu biar bisa bertemu kamu. Di sini terlalu banyak kamar."


"Ini kan rumahmu?"


"Tapi aku lupa."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2